Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
11. Tidak Ingin Kehilangan


__ADS_3

"Tok Tok Tok..."


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, Alvian yang mendengar itu lekas bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri pintu lalu membukanya. Dia pun mengerutkan kening saat menangkap kedatangan kasir restoran yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Permisi Pak, ini ada titipan buat Bapak." kasir itu menyodorkan kertas yang sudah dilipat dengan sangat rapi ke arah Alvian.


"Apa ini?" tanya Alvian penasaran seraya mengambil alih kertas itu.


"Maaf Pak, saya tidak tau apa isinya. Tadi Nona yang datang bersama Amara menitipkan ini pada saya. Kalau begitu saya permisi." ucap kasir itu, lalu berbalik dan meninggalkan Alvian yang masih mematung di tempatnya berdiri.


Alvian membuka lipatan kertas itu secara perlahan sambil menutup pintu dan kembali ke kursinya. Dia menyandarkan punggung pada sandaran kursi dan mulai membawa goresan tinta yang dituliskan Anika untuknya.


"Sebelumnya aku minta maaf karena pergi tanpa berpamitan pada Bapak dan juga Amara. Aku tau ini salah, tapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku sayang sama Amara, aku juga sudah menganggapnya seperti putriku sendiri. Hanya saja permintaannya terlalu berat untukku, aku tidak mungkin menikah dengan Bapak. Diantara kita tidak ada hubungan apa-apa selain majikan dan pengasuh."


"Banyak luka yang aku pendam selama bertahun-tahun lamanya, aku tidak ingin nasibku berakhir seperti ibu yang harus meregang nyawa karena pengkhianatan yang dilakukan ayah. Menikah tanpa cinta membuat ibuku banyak menderita, aku tidak mau menikah tanpa didasari cinta, aku trauma menyaksikan penderitaan yang dialami ibu."


"Sekali lagi tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud meninggalkan Amara dalam keadaan seperti ini. Ini sebenarnya berat untukku, aku juga tidak mau berpisah dengannya. Kehadiran Amara mampu menjadi penawar untuk luka yang aku derita selama ini, dia seperti malaikat kecil yang memberiku semangat untuk bertahan dalam kesendirian ini."


"Akan tetapi, masih banyak urusan yang harus aku selesaikan di luar sana. Aku berharap Bapak bisa menemukan wanita yang tepat menjadi ibu sambung untuk Amara. Bapak orang baik dan Amara juga gadis yang sangat manis, akan ada wanita baik-baik yang siap menggantikan posisiku."

__ADS_1


"Oh ya, aku juga minta maaf karena ciuman malam itu. Aku benar-benar terpaksa melakukannya, tapi jujur saja aku suka dengan bibir Bapak. Rasanya sangat manis, mungkin karena itu merupakan pengalaman pertama bagiku. Entahlah, aku pikir aku akan gila setiap kali memikirkannya. Jaga diri Bapak dan Amara baik-baik, semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang berbeda. Salam, Anika."


Setelah membaca semua isi yang tertulis di kertas itu, mata Alvian mendadak berkabut seperti awan hitam yang akan segera menurunkan tetesan air hujan. Dia merasa tidak rela melepaskan gadis pecicilan itu, kehadiran Anika mampu menumbuhkan semangat baru di hidupnya.


Anika tidak hanya mampu mengambil hati Amara dan mencurahkan kasih sayang seorang ibu pada putrinya, tapi Anika juga mampu membangkitkan senyuman yang sudah lama menghilang dari kehidupan Alvian.


Entahlah, Alvian sendiri tidak tau bagaimana perasaannya dan apa yang dia rasakan untuk Anika. Yang dia tau, dia merasa nyaman berada di sisi gadis itu.


Alvian juga tidak bisa menyalahkan Anika atas kepergiannya, Alvian mengerti bagaimana perasaan gadis itu. Tidak mudah menjadi Anika yang harus terjebak atas keinginan Amara yang sangat terobsesi untuk memiliki seorang ibu.


Alvian hanya perlu mencari cara untuk meyakinkan Amara saat menyadari bahwa Anika sudah tak ada lagi bersama mereka.


Dengan pandangan mengabur menahan genangan air yang memenuhi mata, Alvian meremas kertas itu dan membuangnya ke dalam tong sampah. Dia tidak ingin Amara mengetahui alasan kepergian Anika yang bisa saja menghancurkan hati putrinya itu.


Sekitar pukul tiga sore, Amara bangun dari tidurnya dan reflek memanggil sang mama yang kini entah dimana rimbanya. Alvian yang mendengar itu lekas berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri ranjang.


"Amara sudah bangun? Sini, gendong sama Papa dulu!" ucap Alvian seraya menekuk kaki di sisi ranjang.


"Tidak mau, Amara maunya sama Mama saja." sahut bocah itu mencebik bibir, dia tidak mau sama Alvian dan hanya ingin bersama Anika.

__ADS_1


Seketika raut muka Alvian berubah sendu dengan mata memerah menahan rasa yang entah. Apa yang akan terjadi jika Amara tau bahwa Anika sudah pergi meninggalkan mereka? Ini benar-benar berat buat Alvian, dia seakan terjebak di tengah padang pasir tanpa tau kemana arah yang hendak dia tuju.


Alvian mengusap wajah kasar lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Mama tidak ada di sini, Mama sudah pergi." ungkap Alvian memberi pengertian.


Bagaimanapun dia harus mengatakan yang sebenarnya pada Amara, dia tidak ingin berbohong yang nantinya akan mengundang kebohongan lagi dan lagi. Semakin banyak berbohong, tentunya akan semakin menyakitkan untuk putrinya.


"Papa bohong, Mama tidak mungkin pergi." cetus Amara menatap tajam pada Alvian, dia marah mendengar pengakuan sang papa.


"Tidak sayang, Papa tidak bohong. Mama tidak bisa lagi tinggal bersama kita, Mama punya banyak urusan di luar sana." jelas Alvian membenarkan ucapannya, kali ini suaranya terdengar bergetar karena tidak sanggup menatap wajah putrinya yang dirundung kekecewaan mendalam. Dia pun mengangkat tubuh Amara dan memeluknya erat.


"Huuu... Papa jahat, kenapa Papa membiarkan Mama pergi? Amara mau sama Mama, Pa. Amara tidak mau Mama pergi, hiks..." tangisan bocah itu pecah seiring kepergian Anika yang tidak tau entah kemana. Alvian berusaha menenangkan sambil mengusap pucuk kepala Amara.


"Amara, dengar Papa ya Nak! Amara harus ikhlas, Mama bukan milik kita. Mama punya kehidupan sendiri, kita tidak punya hak untuk menahan Mama di sini." bujuk Alvian dengan suara tercekat di tenggorokan, tubuhnya tiba-tiba lemas menghadapi situasi sulit ini.


Alvian kehilangan akal mencari kata-kata yang mudah dipahami oleh Amara. Dia tau anak seusia Amara belum bisa mencerna ucapannya dengan mudah. Butuh kesabaran untuk memberi pemahaman pada putrinya itu.


"Pa, kita cari Mama ya. Amara tidak mau kehilangan Mama, kita harus menemukan Mama dan membawanya pulang. Ayo, Pa!" ajak Amara sembari menjauh dari dekapan Alvian dan melompat turun dari kasur, lalu menarik tangan Alvian sekuat tenaga.


"Tapi sayang-"

__ADS_1


"Ayo, Pa! Kita harus menemukan Mama secepatnya," potong Amara yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anika.


Melihat harapan yang begitu besar di diri Amara, Alvian pun terpaksa mengangguk menuruti kehendak putrinya. Setidaknya Alvian sudah berusaha, bertemu atau tidak hanya Tuhan yang tau jawabannya.


__ADS_2