Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
47. Wanita Tidak Tau Malu


__ADS_3

Pagi hari, Lira sudah tiba di apartemen milik Rio. Wanita itu tidak bisa diam saja setelah semua yang terjadi padanya.


Satu-satunya harapan Lira saat ini hanyalah pria itu, berharap dia bisa menumpang tinggal di tempat Rio sampai menemukan cara untuk melawan Suherman.


Ya, Lira ingin menuntut haknya sebagai mantan istri. Dia tidak mau semua usahanya selama ini berakhir sia-sia.


Lima tahun dia menjadi istri Suherman, bagaimana mungkin dia tidak mendapatkan apa-apa?


Akan tetapi, kedatangannya di apartemen itu malah mendapatkan kejutan tak terduga dari Rio. Pria itu ternyata menyimpan seorang wanita di kamar.


Lira yang terkejut spontan melempari tempat tidur dengan barang yang dia raih dari meja. Rio yang baru keluar dari kamar mandi tentu saja tidak senang melihat tingkah wanita itu.


"Berhenti, Lira! Apa yang kau lakukan di sini?" bentak Rio sembari mencengkeram pergelangan tangan Lira kuat. Wanita itu meringis kesakitan, tapi Rio sama sekali tidak bersimpati padanya.


Rio menarik tangan Lira dan membawanya ke luar lalu mendorongnya hingga tersungkur di kaki sofa.


"Brengsek kau, Rio. Apa yang kau lakukan dengan wanita itu?" berang Lira dengan muka memerah dan mata menyala berapi-api. Dia sangat marah karena merasa dimanfaatkan oleh pria itu.


Mendengar umpatan yang keluar dari mulut Lira, Rio seketika tersenyum sinis dan berjongkok di hadapan wanita itu. "Bukan aku yang brengsek, tapi kau. Kau lah yang sudah menjebak ku dalam permainan busuk mu itu, kau pikir aku benar-benar tertarik padamu hah? Dasar tidak tau diri, karena ulah mu aku harus kehilangan semuanya." Rio tak kalah marah dan mencengkeram rahang Lira sekuat tenaga.


Lira yang merasa kesakitan sontak terpekik dan memohon agar Rio melepaskannya, sayangnya pria itu sudah terlanjur murka dan ingin melampiaskannya pada wanita sialan itu.


Andai saja dia lebih bijak dalam mengambil keputusan, tentu saja semua ini tidak akan terjadi. Dia tidak mungkin kehilangan perusahaan dan aset yang dia miliki.

__ADS_1


Bertahun-tahun ayahnya mengabdikan diri pada Suherman, namun pada akhirnya semua itu berujung menyedihkan hanya karena godaan maut Lira yang tanpa malu menjual tubuhnya.


Tidak masalah jika dia tidak bisa mendapatkan Anika, tapi setidaknya dia masih bisa menyelamatkan perusahaan.


Kini semua itu sudah hilang lenyap sehingga kebenciannya pada Lira semakin menjadi-jadi. Harusnya dia tidak perlu menurut saat Lira menggodanya pertama kali.


"Pergi dari sini sebelum aku bertindak lebih kasar padamu!" usir Rio dengan tatapan tajam mematikan.


"Rio, tolong jangan lakukan ini padaku! Hubungan kita sudah sejauh ini, aku tidak tau harus kemana, aku tidak punya siapa-siapa lagi, hanya kamu yang bisa membantuku." mohon Lira, berharap Rio mau menampungnya di tempat itu.


"Heh, hubungan apa yang kau maksud? Dari awal hubungan kita hanya sebatas rekan kerja semata, apa yang kau harapkan dariku? Jika bukan karena Anika, aku tidak akan sudi menyentuhmu." terang Rio dengan senyuman licik. Kali ini dia tidak akan tergoda lagi dengan rayuan busuk wanita itu, wanita yang sudah menghancurkan hidupnya.


"Rio, tolong mengertilah! Kita pasti bisa mendapatkan semuanya kembali, biarkan aku tinggal bersamamu!" Lira masih saja berharap agar Rio memberinya kesempatan.


"Tidak akan, aku tidak mau lagi berurusan denganmu. Pergilah sebelum setan di kepalaku muncul!" Rio bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Dia pun membukanya dan mempersilahkan Lira untuk pergi.


Kini Lira tidak tau lagi harus kemana melangkahkan kakinya. Sudah tidak ada lagi tempatnya bertengger untuk menopang hidup.


Menyesal?


Tidak, dia bukan wanita seperti itu. Dalam hidup, tidak ada istilah menyesal dalam dirinya. Meski Suherman dan Rio sudah mencampakkannya, dia masih sangat berambisi meraih keinginannya.


"Alvian, ya, Alvian." gumam Lira sesaat setelah memasuki sebuah taksi. Dia pun mencoba mencari tau dimana tempat tinggal mantan suaminya itu.

__ADS_1


Seketika Lira mengulas senyum licik. Tidak apa jika dia tidak bisa bersama Suherman ataupun Rio. Kali ini dia harus bisa mengambil hati Alvian kembali, bagaimanapun mereka memiliki seorang putri yang tak lain adalah Amara. Lira yakin Alvian mau menerimanya mengingat ada bocah itu diantara mereka.


Seketika wajah yang tadinya lusuh dan kusut, kini berubah memancarkan senyuman misterius. Kali ini dia harus bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia akan merebut Alvian dari Anika, siapa suruh mantan anak tirinya itu menentangnya.


Dengan semangat empat lima, dia pun meminta sang sopir mengantarnya ke alamat yang baru saja dia dapatkan dari mbah goggle. Dia sudah sempat mencari tau tentang kehidupan Alvian saat pertama kali melihat pria itu di kediaman Suherman.


Di waktu bersamaan, Alvian pamit meninggalkan rumah mentuanya. Dia harus ke restoran untuk memeriksa pembukuan bulan ini. Begitu juga dengan Suherman yang ikut pamit karena harus ke kantor menyelesaikan pekerjaan. Hanya tinggal Anika saja bersama Amara di rumah itu.


Sekitar pukul sepuluh, Alvian sudah tiba di restoran. Saat menginjakkan kaki di ruangan, alangkah terkejutnya dia saat menangkap keberadaan Lira yang tengah duduk manis di sofa.


Ya, wanita itu mengelabui satpam serta beberapa orang pelayan yang bekerja di tempat itu. Dia mengatakan bahwa dia adalah istrinya Alvian.


Tentu saja mereka semua tidak berani melarang Lira untuk masuk ke ruangan pemilik restoran itu. Mereka memang tau bahwa Alvian sudah menikah lagi, akan tetapi tidak seorangpun yang tau siapa istri Alvian karena sampai detik ini pria itu tidak pernah mengenalkan Anika pada mereka semua.


"Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang memberimu izin untuk masuk ke ruanganku?" berang Alvian dengan suara meninggi, dia menatap Lira dengan tajam dan penuh kebencian.


"Jangan galak-galak gitu dong Mas, masa' kedatanganku disambut dengan muka masam begitu?" Lira mengukir senyum dan bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kaki menghampiri Alvian.


Tentu saja Alvian tidak suka melihat wanita itu mendekatinya. Alvian langsung menjauh dan membuka pintu lebar-lebar. "Keluarlah, aku tidak punya waktu untuk melayanimu!" usir Alvian tanpa banyak basa-basi.


"Sebentar saja, Mas. Aku hanya ingin bicara empat mata denganmu." ucap Lira yang sama sekali tidak mau menuruti perintah Alvian. Dia yakin Alvian akan luluh jika dia bersikap sedikit lembut di depannya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, keluar atau aku akan bertindak kasar padamu!" sergah Alvian, dia pun meraih pergelangan tangan Lira dan menyentaknya dengan kasar lalu mendorong wanita itu ke luar.

__ADS_1


"Mas..." pekik Lira saat tubuhnya terseret dan membentur sudut meja.


"Ingat, antara kau dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jauhi aku dan keluargaku!" Alvian menutup pintu dan menguncinya dengan cepat, lalu menghubungi satpam dan memintanya mengusir Lira dari restoran itu.


__ADS_2