Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
36. Siasat


__ADS_3

"Aku tidak mau tau, Rio. Apapun caranya, kamu harus merebut anak sialan itu dari Alvian! Mereka tidak boleh bersama,"


"Jangan gila kamu, Lira. Mereka sudah menikah, untuk apa aku merebut Anika darinya?"


"Terserah, aku tidak peduli. Pokoknya Anika dan Alvian harus berpisah!"


"Astaga, kamu kenapa sih sebenarnya? Bukankah bagus jika Anika sudah menikah dengan pria itu? Ini akan memudahkan kita untuk mengambil semua aset milik Suherman."


"Aku memang ingin menguasai semua harta ini, tapi aku tidak rela Anika bahagia bersama Alvian. Aku tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi,"


Setelah berbicara panjang lebar dengan Rio melalui sambungan telepon, Lira mematikan ponselnya secara sepihak. Dia melempar benda pipih itu ke kasur dan berteriak untuk melepaskan kemarahan.


Ya, sejak bertemu Alvian siang tadi, Lira tiba-tiba berubah seperti orang kesurupan. Dari tadi kerjaannya marah terus dan merutuki Anika yang tidak tau apa-apa.


Wanita itu tidak rela melihat anak tirinya bahagia bersama sang mantan suami. Apalagi tadi dia sempat melihat mobil yang dikemudikan Alvian, dia pikir hidup mantan suaminya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


Bukan Lira namanya jika dia tidak bisa mendapatkan semua yang dia inginkan.


Dulu, dia meninggalkan Alvian dan putrinya hanya demi ambisinya yang ingin hidup serba berkecukupan bersama Suherman. Dia juga berhasil menyingkirkan ibu kandung Anika agar bisa menjadi satu-satunya istri konglomerat itu.


Kini, dia harus bisa mengambil alih semua aset yang akan jatuh ke tangan Anika. Dia juga ingin mengambil Alvian dari tangan anak sambungnya itu.


Setelah hatinya cukup tenang, Lira kembali meraih ponsel miliknya dan lekas menghubungi seseorang. Dia tidak bisa menunggu lama, dia harus bergerak cepat agar tidak ada kata terlambat.


"Temui aku besok pagi pukul delapan, nanti aku share lokasinya!"


"Baik, Bos."


Seketika wajah Lira nampak sumringah dengan senyuman licik yang terurai, baginya tidak ada yang mustahil karena uanglah yang berbicara. Dia hanya tinggal duduk manis menunggu puncak pencapaiannya.

__ADS_1


"Mas Alvian, hahaha..." tawa Lira pecah kala mengingat wajah tampan mantan suaminya yang tidak berubah dari dulu, Alvian bahkan terlihat lebih menggoda di usia yang semakin matang.


...****************...


"Apa Amara sudah tidur?" tanya Alvian pada Anika yang baru saja masuk ke kamar mereka.


"Hmm... Sudah barusan," angguk Anika, lalu memilih masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.


Ya, tadi Amara sempat rewel karena giginya mendadak ngilu sehabis makan eskrim. Bocah itu terus saja menangis karena takut giginya copot.


Beruntung Anika sangat pandai menghadapi Amara. Dia berusaha membujuk bocah itu dengan berbagai macam cara agar tak menangis lagi. Berkat ketelatenan dan kesabaran Anika, Amara pun akhirnya tertidur dengan pulas.


Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Anika keluar dari kamar mandi. Dia mengganti pakaian dengan baju tidur, setelah itu merebahkan diri di samping Alvian yang masih berkutat dengan laptop yang dia taruh di atas bantal.


Ya, sudah cukup lama Alvian tidak mengunjungi restoran pusat maupun cabang. Malam ini dia mendapat beberapa email masuk dari pengelola restoran yang ada di luar kota. Mau tidak mau, dia terpaksa membalasnya lebih dulu dan meminta tolong pada Anika untuk mengurus Amara.


"Masih lama?" gumam Anika mematut Alvian yang masih fokus menatap layar laptopnya.


"Hmm... Aku tidur duluan ya, ngantuk." Anika kemudian merubah posisi tidurnya, dia membelakangi Alvian dan menarik selimut lalu menutup mata perlahan.


"Loh, jangan tidur dulu sayang! Ini dikit lagi kok," kata Alvian menoleh ke arah Anika.


"Ngantuk, Mas. Mas lanjutin saja!" sahut Anika dengan suara tertahan.


Mendengar itu, Alvian pun dengan cepat memindahkan laptopnya ke atas nakas. Dia beringsut dan memeluk Anika dari belakang. "Jangan tidur dulu, sayang! Mas ingin," desis Alvian tepat di telinga Anika.


Dia pun mencium daun telinga Anika dan menggigitnya pelan. Seketika Anika mende*sah kecil sembari menggerakkan sepasang bahu, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri karena kelakuan nakal suaminya. "Mas..." Anika pun berbalik dan memeluk tengkuk Alvian erat.


"Hahaha..." Alvian lantas terkekeh melihat reaksi Anika yang menggemaskan.

__ADS_1


Kesal karena Alvian menertawakan dirinya, Anika segera menjauhkan tangannya dan mematut Alvian dengan intim lalu menggigit bibir bawah Alvian geram.


"Awh..." Alvian meringis dengan mata mendadak memerah dan berair. Beruntung yang menggigitnya adalah Anika, jika tidak sudah dia gampar siapapun yang berani menyakitinya.


"Aaaaah..." Anika tiba-tiba menjerit saat Alvian menggigit balik bibirnya. Hanya saja gigitan Alvian terasa lebih lembut dari yang dilakukan Anika. Kemudian Alvian melu*matnya rakus dan memaksa Anika membuka mulut. Alvian kian masuk semakin dalam dan mengulum lidah Anika bak permen.


Puas memagut bibir, Alvian lantas turun dari ranjang dan menarik kaki Anika hingga menggantung di tepi kasur. Dalam hitungan detik saja, dia berhasil melucuti pakaian yang melekat di tubuh Anika sampai polos. Mata Alvian tiba-tiba membola mematut dua pegunungan milik Anika dan satu lembah bersemak yang terpampang di depan matanya.


Anika yang menyadari tatapan nakal Alvian dengan cepat menekuk kaki dan mengapit kedua pahanya. Dia malu diperhatikan Alvian seperti itu.


"Buka dong, sayang!" pinta Alvian dengan nafas tercekat di tenggorokan.


Anika menggelengkan kepala sembari mencebik bibir. "Malu, Mas." desisnya.


"Malu sama siapa? Mas ini suami kamu loh," keluh Alvian mengerutkan kening.


Anika yang menyadari itu akhirnya menurut, dia kembali membuka belahan pahanya hingga menampakkan bagian intinya yang berwarna merah muda.


Seketika Alvian meneguk ludah dengan susah payah lalu membungkukkan punggung.


"Aaughh..." de*sah Anika saat Alvian mencium intinya dan menjilatnya dengan rakus. Anika menggeliat geli seraya menggigit bibir dan meremas rambut Alvian kasar.


"Aaughh... Mmm... Enak, Mas..." racau Anika merasakan nikmatnya sensasi yang dimainkan Alvian. Sekujur tubuhnya menggelinjang saat sesuatu mengalir dari intinya.


Tak kuasa menahan gejolak hasrat yang sudah berkecamuk di jiwanya, Alvian dengan cepat melepaskan hisapannya. Dia melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya dan mengarahkan pusaka miliknya ke liang surga milik Anika.


"Aakhh..." Alvian mengerang saat sebatang pusakanya memasuki milik Anika.


"Aaughh..." de*sah Anika memicingkan mata.

__ADS_1


Keduanya mulai berpacu mengejar pencapaian. Alvian dengan semangat menggerakkan pinggul menusuk-nusuk inti Anika tanpa jeda. Sesekali dia mengesap bibir Anika dan beralih menghisap pucuk dada istrinya seperti bayi yang tengah kehausan.


Setelah cukup lama berpacu dengan berbagai macam gaya bercinta, Alvian akhirnya tumbang setelah menyemprotkan benih cintanya di dalam diri Anika. Keduanya terbaring lemas dengan posisi saling berpelukan, tubuh mereka terasa bergetah dibanjiri keringat yang mengalir.


__ADS_2