
Usai memandikan Amara, Anika memakaikan seragam dan membantu menyiapkan perlengkapan sekolah lainnya.
Kemudian menyisir rambut panjang bocah itu dan mengikatnya sesuai keinginan Amara. Terakhir, Anika memasangkan sepatu Amara lalu keduanya berlalu pergi meninggalkan kamar.
Setelah mendudukkan Amara di kursi meja makan, Anika pun mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang dia masak tadi lalu menyuapi Amara dengan tangannya sendiri.
Ya, mulai hari ini Anika ingin belajar mengurus keluarganya dengan baik. Dengan begitu, dia tidak akan takut lagi jika sewaktu-waktu Lira datang merecoki kehidupan rumah tangganya. Dia akan mengikat Amara dan Alvian agar tetap berada di sisinya.
Setelah selesai menyuapi Amara, Anika menaruh piring kotor di tempat cucian piring lalu membilas tangannya hingga bersih. Dia kemudian mengambil kotak makan dan menyiapkan bekal untuk Amara lalu menyimpannya ke dalam tas bocah itu.
"Amara pergi dulu ya, Ma. Jangan lupa bilang sama Papa apa yang Amara katakan tadi!" ucap bocah itu seraya berpamitan, dia memeluk pinggang Anika lalu menyalami dan mencium punggung tangan sang mama.
Anika yang mendengar itu hanya bisa tersenyum sembari mencubit hidung Amara gemas. "Hmm... Nanti Mama bilangin," sahutnya, setelah itu mencium pipi Amara di setiap sisinya.
Lalu Anika berpesan pada Ratih untuk tidak meninggalkan Amara sendirian. Anika takut Lira nekat mendatangi sekolah putrinya dan membuat onar di sana. Bagaimanapun bocah itu tidak tau menahu tentang siapa ibunya dan dimana keberadaannya.
Setelah Amara dan Ratih memasuki mobil, Anika kembali masuk ke dalam dan berjalan menuju kamar. Sudah jam tujuh lewat, barangkali Alvian sudah bangun. Anika ingin melihatnya dan mengajaknya sarapan bersama.
Sesaat setelah pintu terbuka, alangkah kesalnya Anika mendapati suaminya yang masih tertidur pulas. Anika menggembungkan pipi dengan tangan mengepal kuat. Ingin sekali dia mencubiti kulit suaminya itu agar lekas bangun dari tidurnya.
"Astaga Mas, sudah jam berapa ini? Kenapa masih molor?"
Anika kemudian berjalan menghampiri ranjang dan menarik selimut yang membungkus tubuh polos Alvian.
"Ya ampun," seketika mata Anika terbelalak menyaksikan tongkat pusaka Alvian yang tengah berdiri tegak. Ingin marah tapi rasanya kekuatan Anika sudah tidak ada, dia justru tertawa terpingkal-pingkal dan segera menutup benda itu.
"Dasar aneh, tidur kok telanjang bulat begini. Untung Amara tidak sempat masuk," keluh Anika memijat dahi. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan nyeleneh suaminya itu.
Saat Anika hendak melangkah pergi, Alvian membuka mata perlahan dan menggenggam pergelangan tangan istrinya itu dengan kuat. "Mau kemana?"
Anika sontak terkejut dan menoleh ke arah Alvian. "Bangun juga ternyata, kirain mau tidur sampai besok." sindir Anika.
"Hehe... Kalau tidurnya bareng kamu, Mas tidak akan menolak." kata Alvian enteng.
"Ish, maunya." ketus Anika mengulum senyum.
"Sini, peluk Mas dulu!" pinta Alvian sembari menarik tangan Anika.
"Apaan sih, Mas? Jangan bertingkah pagi-pagi begini!" keluh Anika yang tengah berusaha menjauhkan diri, akan tetapi tarikan Alvian malah membuat tubuhnya jatuh di atas dada berbulu suaminya itu.
__ADS_1
"Mas..." rengek Anika dengan bibir mencebik lalu menggigit ujung dada Alvian saking kesalnya.
"Mmm... Lebih kuat lagi, sayang!" gumam Alvian dengan gigi bergemeletuk. Bukannya sakit, gigitan Anika malah membuat gairahnya terpancing.
Ya, sebenarnya Alvian sudah bangun sejak satu jam yang lalu, namun karena benda miliknya tidak mau diajak kompromi, dia pun memutuskan untuk tetap berbaring menunggu Anika mendatanginya.
"Sekali lagi ya, Mas ingin." desis Alvian dengan suara yang nyaris tak terdengar. Gemuruh detak jantung berpacu kencang dengan aliran darah yang sudah mentok hingga ubun-ubun, Alvian tidak sanggup menahannya lebih lama lagi.
"Capek Mas, lagian aku ingin makan nasi bukan makan itu." tolak Anika dengan polos.
"Sebentar saja sayang, masa' kamu tega sih lihat suami menderita begini? Kepala Mas sakit loh," ucap Alvian memasang tampang memelas.
"Tapi semalam kan sudah, Mas. Masa' mintanya tiap menit gini sih?" keluh Anika dengan bibir mengerucut.
"Karena kamu tuh enak, sayang. Bawaannya pengen lagi dan lagi, memangnya kamu tidak suka?" kini giliran Alvian yang memajukan bibir.
Mendengar itu, Anika sontak tersipu malu dan menyembunyikan wajah di belahan ketiak Alvian.
Jujur, sebenarnya Anika sangat suka dengan permainan Alvian. Suaminya itu sangat pandai membuatnya mencapai kli*maks, raganya seakan dibawa angin dan melayang-layang di udara.
Setelah cukup lama menyembunyikan wajahnya, Anika kemudian mendongak dan mematut Alvian dengan intim. "Mas..."
"Tadi sebelum berangkat sekolah, Amara nitip pesan buat Mas." ucap Anika.
"Pesan apa, sayang?" Alvian mengerutkan kening penasaran.
Anika diam sejenak dan mencoba mengatur nafas. Setelah dirasa cukup tenang, dia pun berkata. "Amara pengen punya adek bayi,"
Alvian seketika melongo mendengar ucapannya istrinya itu. "Benarkah?"
"Hmm... Dia sendiri yang bilang begitu, katanya tolong sampaikan sama Papa." terang Anika.
"Hehe... Anak pintar," batin Alvian tertawa puas dalam hati. Kalau Amara sudah meminta, Anika pasti tidak akan tega menolaknya. Dan jelas hal ini sangat menguntungkan baginya.
"Lalu bagaimana menurut kamu?" tanya Alvian meminta pendapat Anika.
"Entahlah, aku tidak berani menjanjikan ini pada Amara. Iya kalau aku bisa mewujudkannya, kalau tidak... Amara pasti akan sangat kecewa." lirih Anika, raut mukanya mendadak berubah sendu.
"Loh, ngomong apa sih?" Alvian yang merasa tidak senang langsung beringsut dari pembaringan. Setelah menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, Alvian pun menarik Anika dan mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya-"
"Sssttt..." Alvian menaruh telunjuknya di bibir Anika.
"Tidak usah berpikir aneh-aneh, sekarang jalani saja kehidupan ini seperti air yang mengalir. Kalau Tuhan berkehendak, pasti akan tiba saatnya, kamu akan mengandung anak Mas." imbuh Alvian.
"Kalau tidak? Apa Mas akan-"
"Tidak akan, Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu. Ada atau tidaknya anak, kita akan tetap bersama hingga menua nanti." selang Alvian.
"Janji?" Anika mencoba memastikan.
"Iya janji, tapi-"
"Tapi apa, Mas?" seketika tatapan Anika dipenuhi kabut yang menghitam. Dia sangsi Alvian akan mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan hati.
"Tapi-"
"Tapi apa, Mas?" desak Anika penasaran.
"Tapi, Mas ingin kita membuatnya sekarang." ungkap Alvian terkekeh lalu membungkam bibir Anika dan melu*matnya dengan penuh kelembutan.
Anika yang merasa kesal lantas terdiam seperti patung yang tak bernyawa. Hampir saja jantungnya copot memikirkan kemungkinan yang ingin dikatakan Alvian padanya.
"Hehe... Jangan marah sayang, Mas cuma bercanda." bujuk Alvian, lalu mencium kening, mata, hidung dan bibir Anika bergantian.
Tidak berhenti sampai di sana, Alvian kemudian membaringkan Anika di sampingnya. Dia pun beranjak dan mengukung tubuh istrinya itu.
Seperti biasa, Alvian akan memulainya dengan ciuman ciuman kecil yang membuat Anika tak sanggup menahan desa*hannya.
Berawal dari leher, dada, perut dan berakhir di inti Anika. Tempat ternyaman dan merupakan candu bagi Alvian, dia sangat suka dengan rasa dan aromanya.
"Aaughh... Mas.." de*sah Anika menggigit bibir.
Sesaat setelah Anika menikmati pelepasan yang pertama, Alvian pun dengan cepat menerobos liang surga milik istrinya itu.
Keduanya mulai berpacu seiring gerakan berirama yang Alvian peragakan di atas tubuh Anika.
Tidak hanya itu, kali ini Alvian bahkan dengan enteng meminta Anika mengambil alih posisi. Dia ingin Anika yang berkuasa atas dirinya.
__ADS_1