
"Bi, apa Mama Anika tidak akan pernah kembali pada kita? Kenapa, Bi? Apa salah Amara sama Mama?" cerca bocah itu kepada Ratih. Dia menatap wanita itu dengan tatapan sayu dan netra berbinar mengandung air mata sambil duduk berjuntai di tepi brankar.
Meski saat di sekolah kemarin dia berusaha keras menjauh dari Anika, tapi dari lubuk hati yang terdalam dia sebenarnya sangat merindukan gadis itu. Amara ingin memeluknya tapi kemarahan di hatinya jauh lebih besar dari pada rasa rindunya, sebab itulah dia memilih pergi.
"Kemarin Amara ketemu Mama di sekolah, Mama bersama seorang pria dan anak kecil. Apa anak itu putra Mama? Mama menyayangi dia dan memilih pergi meninggalkan Amara, iya kan Bi?" lirih bocah itu menerka-nerka.
Ratih yang mendengar pertanyaan itu langsung tergagap dengan raut memucat, bibirnya kelu untuk berbicara.
Apa yang harus dia katakan pada Amara? Dia sendiri tidak tau apakah Anika akan kembali atau tidak, dia juga tidak tau siapa anak itu. Dia pun kembali teringat dengan ucapan Alvian semalam, rasanya tidak mungkin Anika kembali karena gadis itu akan segera menikah dengan pria yang dia cintai.
"Amara berdoa saja ya, minta sama Tuhan agar Mama Anika kembali lagi ke rumah!" ucap Ratih sesuai apa yang ada di benaknya. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada bocah itu, itu hanya akan membuat Amara semakin terpuruk.
"Kalau begitu-"
"Ayo, kita pulang sekarang!" ajak Alvian sesaat setelah tiba di ruangan Amara. Dia baru saja menyelesaikan administrasi setelah dokter mengizinkan putrinya untuk pulang. Amara yang tadinya hendak bicara, seketika terdiam melihat kedatangan sang papa lalu membuang muka.
"Sini, Amara gendong sama Papa ya!" Alvian menghampiri brankar yang diduduki Amara dan mengulurkan tangannya hendak menggendong sang putri, tapi bocah itu malah menghindar dan mengulurkan tangannya ke arah Ratih.
"Bi, Amara gendong sama Bibi saja ya!" pintanya.
Seketika Alvian terkejut mendengar ucapan Amara itu. Dia pikir kemarahan putrinya sudah mereda tapi ternyata Amara masih saja menganggapnya seperti seorang penjahat.
Alvian benar-benar tidak tau bagaimana cara menyikapi masalah ini, otaknya serasa beku, dia tidak sanggup lagi untuk berpikir.
"Ya sudah, Amara sama Bi Ratih, biar Papa yang bawain tasnya." ucap Alvian, dia terpaksa mengalah dan mengikuti keinginan putrinya.
Setelah bocah itu berada di gendongan Ratih, Alvian bergegas mengambil tas dan menentengnya lalu meninggalkan ruangan itu beriringan.
Sesampainya di dalam mobil, Amara lagi-lagi hanya ingin bersama Ratih. Jangankan berbicara pada Alvian, menatapnya saja Amara sangat enggan.
__ADS_1
Alvian pun mencoba mengerti dan lekas menyalakan mesin mobil lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Sekitar pukul sepuluh pagi mobil yang dikendarai Alvian sudah tiba di halaman rumah. Setelah menurunkan tas dan menaruhnya ke dalam, dia pun memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan pada siapapun.
Ya, Alvian rasanya tidak sanggup diperlakukan seperti orang asing oleh putrinya sendiri, hatinya benar-benar hancur dan perih bak dihujam seribu belati.
Kemana Amara yang dulu sangat ceria dan manja terhadapnya? Semua itu menghilang begitu saja bak ditelan bumi. Alvian merasa gagal menjadi seorang ayah, menuruti keinginan putrinya saja dia tidak mampu.
Akhirnya Alvian memilih menenangkan diri di restoran. Dia masuk ke ruangan dan mengunci pintu karena tidak ingin diganggu.
Disaat bersamaan, Anika memasuki kamar Suherman dengan mengendap-endap. Dia sengaja masuk secara diam-diam untuk menaruh sesuatu di sela-sela buku yang tersusun di rak.
Ya, Anika tidak bisa menunggu lagi. Dia harus tau dengan siapa ibu tirinya bermain serong. Dia yakin wanita itu akan melakukannya lagi dan lagi, apalagi Suherman baru saja berangkat ke luar kota untuk beberapa hari.
"Apa yang kamu lakukan di sini, hah?" Anika terperanjat saat mendengar suara ibu tirinya yang sudah berdiri di ambang pintu. Air muka Anika seketika memucat dengan tangan gemetaran, beruntung dia sudah menjauh dari rak.
Akan tetapi, tatapan wanita itu nampak tajam seperti kucing liar, dia memperhatikan gerak gerik Anika dengan seksama yang membuatnya sedikit curiga.
Sebenarnya Anika sangat malas menatap wajah wanita itu. Banyak sekali kepalsuan yang tersirat dari raut wajahnya. Namun untuk sementara waktu Anika harus bersabar dan bermain cantik di hadapannya, dia tidak boleh gegabah agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Sesampainya di kamar, Anika dengan cepat mengunci pintu. Dia bersandar di daun pintu sembari mengusap dada yang masih berdetak kencang. Bersyukur sekali Anika tidak ketahuan telah menaruh kamera tersembunyi di kamar itu.
"Huft..." Anika menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar.
Setelah suasana hatinya membaik, Anika berpindah ke sofa. Dia mengambil laptop yang ada di meja dan menaruhnya di atas paha. Anika membukanya perlahan dan membiarkan laptop itu menyala.
Ya, dari layar laptop itu dia bisa melihat jelas bagaimana situasi di kamar Suherman. Anika sudah menghubungkan kamera pengintai itu dengan laptopnya, kini dia tinggal menunggu apa yang akan terjadi di kamar itu.
Setelah menunggu hingga satu jam lebih, Anika tampak mendengus karena tak kunjung melihat apa-apa. Dia mulai kesal dan lelah lalu memutuskan berbaring di sofa.
__ADS_1
Tidak lama berselang, ponsel Anika pun berdering. Dengan malas dia menggapai benda pipih yang terletak di atas meja itu dan menggeser tombol hijau.
"Hmm..." gumam Anika setelah panggilan itu terhubung.
"Anika, maaf ya. Aku mungkin akan sedikit terlambat, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Ya, tidak apa-apa." jawab Anika santai.
"Syukurlah, dua jam lagi aku tiba di sana. Dandan yang cantik ya, i love you."
"Ehm..." gumam Anika tanpa menjawab apa-apa kemudian memutus sambungan telepon itu sepihak.
Setelah menaruh gawai itu di atas meja, Anika terperanjat saat tak sengaja melihat layar laptop yang masih menyala. Dengan jantung berdetak kencang dan mata terbelalak, dia langsung duduk dan menatap laptop itu dengan seksama.
Rasanya sangat sulit dipercaya, tapi pada kenyataannya mata Anika melihat jelas siapa yang datang ke kamar itu.
Tidak hanya duduk di tepi ranjang, pria itu bahkan mulai berbaring setelah membuka pakaian dan terjadilah hal yang seharusnya tidak dilakukan.
Seketika bola mata Anika seperti ingin keluar dari tempatnya, dia benar-benar tidak menyangka akan melihat ini dengan jelas. Bukan dirinya saja yang dikhianati tapi sang ayah juga mendapat perlakuan yang sama dari istri mudanya.
Hancur, Anika benar-benar hancur menyaksikan kelakuan dua manusia tidak tau diri itu. Berani sekali mereka berdua berbuat mesum di rumahnya dan berlagak seolah-olah sudah menjadi ibu dan calon suami yang paling baik di mata Suherman.
Kecewa?
Ya, Anika sangat kecewa hingga air matanya tak sanggup lagi dibendung. Akan tetapi, dia juga bersyukur karena mengetahui kebusukan calon suaminya sebelum pernikahan dilangsungkan.
Dengan tangan gemetaran, Anika menyapu jejak air mata di pipinya kasar lalu mengcopy video tersebut dan menyimpannya di flashdisk. Tak lupa pula dia mengirimkan video itu ke ponsel miliknya. Suherman harus melihat ini agar percaya bahwa istrinya bukanlah wanita baik-baik.
"Sial, ada kamera tersembunyi."
__ADS_1
"Hah?"
Dua manusia yang tengah bergumul itu lantas menghentikan aktivitas mereka. Pria itu bergegas memungut pakaian yang berserakan di lantai dan mengenakannya dengan cepat.