Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
31. Enak, Mas


__ADS_3

Malam hari, Alvian dan Anika keluar dari kamar Amara setelah menidurkan gadis kecil itu. Keduanya kemudian memasuki kamar dan bersiap-siap untuk tidur.


"M-mas, boleh aku tidur di kamar sebelah saja?" tanya Anika gugup, dia masih belum terbiasa tidur sekamar dengan Alvian. Dia rasanya tidak siap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Tidak boleh," sahut Alvian cepat, lalu menarik Anika ke ranjang, membaringkannya dan memeluknya erat.


Seketika Anika bergeming untuk beberapa saat, menikmati hangatnya pelukan Alvian yang tengah asik menjelajahi lekuk pinggangnya. Anika merasa sekujur tubuhnya tiba-tiba merinding ketakutan.


"Jangan takut, pelan-pelan kamu akan terbiasa dengan ini." bisik Alvian di telinga Anika. Dia mendaratkan ciuman ciuman kecil di telinga dan rahang istrinya, hal itu membuat Anika semakin canggung, tubuhnya mendadak gemetaran.


"Geli Mas," desis Anika dengan suara tertahan, pipinya memerah mengatakan itu.


"Mas ingin sayang, boleh kan?" pinta Alvian, dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menyentuh Anika. Dia ingin mengakhiri puasa panjangnya dan menghabiskan malam ini dengan indah.


Malam dimana sepasang suami istri akan saling memberi dan berbagi, melepaskan rasa yang selama ini tertahan, membawa Anika terbang melayang menggapai syurga dunia.


"Tapi Mas, a-aku..."


Belum sempat Anika menyelesaikan ucapannya, Alvian lekas beringsut dan mengukung Anika di bawah dadanya. Alvian mengecup kening, mata, hidung dan berakhir di bibir Anika. Tidak hanya mengecupnya, Alvian kemudian mengesapnya dengan lembut. Anika terperangah dan membulatkan mata lebar-lebar.


"M-mas..." gumam Anika dengan susah payah. Dia benar-benar takut dan mencengkeram lengan Alvian kuat. Sayang Alvian tidak mau melepaskannya, dia malah semakin memperdalam ciumannya, membuat Anika mende*sah sambil menutup mata perlahan.


Alvian sangat candu pada bibir Anika, dia melu*matnya rakus dan dengan leluasa membelit lidah istrinya. Dia bahkan tak segan menelan liur yang sudah membaur jadi satu.


"Tolong terima Mas, sayang! Jangan buat Mas gila menahan ini lebih lama!" gumam Alvian setelah melepaskan tautan bibir mereka, Alvian mematut dalam-dalam manik mata Anika dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Lagi-lagi Anika hanya diam dan memandang Alvian dengan intim. Apakah sudah saatnya Anika memberikan apa yang seharusnya menjadi milik Alvian?


Anika sedikit ragu, dia takut Suherman tidak akan menerima Alvian sebagai menantunya. Tapi di sisi lain, Anika juga tidak bisa membohongi perasaannya, dia ingin menjadi milik Alvian seutuhnya.


"Apapun yang terjadi setelah ini, Mas janji kan tidak akan meninggalkan aku? Aku takut Mas berubah pikiran setelah bertemu Ayah nanti. Aku tau Ayah tidak akan menerima pernikahan ini dengan mudah," ucap Anika lirih.


Alvian yang mendengar itu lantas tersenyum dan mencubit pipi Anika gemas. "Bukankah dari awal sudah Mas katakan, Mas tidak akan pernah menyakiti apalagi meninggalkan kamu. Mas juga sudah berjanji untuk membantu kamu kan, apa Mas terlihat seperti pembohong?"


"Tidak," geleng Anika mematut mata Alvian, dia tidak melihat kebohongan di sana.


"Lalu?" Alvian mengerutkan kening.

__ADS_1


"Maaf, aku cuma-"


"Lihat mata, Mas!" Alvian menangkup tangan di pipi Anika. "Mas bukan anak kecil yang suka berjanji lalu mengingkarinya begitu saja. Mas ini sudah tua, apa untungnya berbohong sama istri sendiri?"


"Hmm... Mas memang sudah tua," Anika tiba-tiba terkekeh dan lekas menutup mulut.


Alvian yang melihat itu tampak geram, dia mendekati telinga Anika dan menggigitnya gemas.


"Awh... Sakit, Mas." keluh Anika dengan bibir mengerucut.


"Makanya jangan nakal, masa' suami sendiri diketawain." gerutu Alvian dengan tatapan menyala.


"Tapi memang kenyataannya kan Mas, Mas duluan yang bilang." balas Anika mengulum senyum.


"Iya, tapi tidak usah diperjelas. Mas sadar kok," Alvian merungut kesal dan memilih menjauh dari Anika.


"Mas mau kemana?" panggil Anika saat Alvian hendak turun dari ranjang.


"Tidur di luar," jawab Alvian asal.


Anika yang mendengar itu dengan cepat bangkit dari pembaringan, dia menarik tangan Alvian dan memeluknya dari belakang. "Jangan pergi, tidur di sini saja bareng aku." gumamnya.


"Loh, tadi katanya ingin. Apa secepat itu pikiran Mas berubah?" Anika memasukkan tangannya ke baju Alvian dan menyentuh perut hingga dada suaminya dengan lembut.


Seketika Alvian menghela nafas berat, bulu kuduknya berdiri menikmati sentuhan lembut tangan Anika.


"Jangan memancing Nika, Mas bisa saja membuat kamu menangis setelah ini." gertak Alvian dengan gigi bergemeletuk.


"Mmm... Silahkan, aku siap." tantang Anika.


"Kamu yakin?" Alvian memutar leher, tanpa disengaja bibir mereka berdua kembali bertemu dan Alvian pun memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.


Setelah mengesap bibir Anika, Alvian lekas berdiri dan berbalik dengan cepat. Satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya mulai berjatuhan di lantai. Anika yang melihat itu mendadak diam seperti sebuah patung.


Dia merasa gugup, seumur-umur baru kali ini Anika melihat penampakan benda keramat yang menggantung di bawah perut Alvian. Ukurannya lumayan besar diatas rata-rata. Panjang, keras dan berurat. Anika sampai melongo dan geleng-geleng kepala dibuatnya.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Alvian, kemudian merangkak di tepi ranjang dan kembali mengukung Anika di bawah dadanya.

__ADS_1


Pelan-pelan tangan Alvian mulai bergerak menyentuh permukaan dada Anika, dia membuka satu persatu kancing piyama istrinya hingga terlepas seluruhnya.


Saat tubuh Anika hanya menyisakan pengaman bagian dalam, Alvian mengerjap dan mengatur nafas dengan cepat. Rasanya dia sudah tidak sabar menjelajahi bukit-bukit itu dan masuk ke goa milik Anika.


"Aaughh..." de*sah Anika saat bibir Alvian sudah menempel di puncak dadanya. Alvian mengisap benda bulat kecil itu dan menggigitnya sesekali, bahkan meremasnya dengan gairah yang kian memuncak.


Setiap gerakan dan sentuhan yang dilayangkan Alvian membuat Anika melenguh dan menggeliat sembari menggigit bibir, Anika tidak kuat menahan gejolak hasrat yang ikut berkecamuk di jiwanya.


Tidak kuat berlama-lama, Alvian lantas turun dan melucuti satu satunya pengaman yang tertinggal di tubuh Anika. Rasanya Alvian ingin mati berdiri melihat segitiga milik istrinya yang sangat bersih dan montok. Bulu-bulu halus di atasnya membuat Alvian merasa sangat haus, dia pun meneguk ludah dengan susah payah.


"Aaughh... Mas..." pekik Anika, sekujur tubuhnya gemetaran ketika lidah Alvian bermain-main di intinya. Anika menggigit jari telunjuk, sedangkan tangan yang lain meremas rambut Alvian dengan kasar.


"Apa ini, Mas? Aku tidak kuat," imbuh Anika dengan nafas tercekat di tenggorokan. Dadanya kembang kempis menahan sesak, rasanya seperti tersengat aliran listrik dan menjalar hingga ubun-ubun.


Alvian mendongak sejenak dan mengukir senyum nakal, permukaan bibirnya nampak basah terkena cairan milik Anika yang baru saja keluar dari goa hangat milik istrinya.


"Itu belum seberapa sayang, rasanya akan lebih nikmat jika kita berdua sudah menyatu." ucap Alvian mengulum senyum. Pipi Anika langsung memerah mendengar itu, dia tidak berani berbicara dan memilih pasrah menunggu permainan Alvian selanjutnya.


Alvian kemudian memposisikan dirinya di tengah paha Anika, dia menahan lutut istrinya dan perlahan mendekati liang surga Anika yang masih basah.


"Awh... Pelan-pelan Mas, sakit." rengek Anika mencengkeram lengan Alvian kuat.


"Tahan dong sayang, namanya juga masih baru. Nanti sakitnya akan hilang dengan sendirinya." ucap Alvian. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas Anika dan kembali mengesap bibir merekah istrinya dengan penuh kelembutan.


Sambil melu*mat bibir Anika, Alvian kembali menekan inti istrinya itu. Kali ini Alvian sedikit memaksa sehingga Anika tiba-tiba menjerit dan menggigit bibirnya spontan. Namun gigitan itu terasa seperti petasan yang membuat Alvian meledak-ledak.


"Mas... Sakit," rengek Anika menitikkan air mata. Alvian mengecup kening Anika dan lanjut mengecup matanya.


"Sudah masuk, tidak akan sakit lagi." gumam Alvian, dia pun mulai bergerak mengikuti irama permainannya.


"Aaughh... Mas... Enak..." racau Anika yang mulai terbawa dalam permainan Alvian.


"Kan sudah Mas bilang, tidak akan sakit kalau kita berdua sudah menyatu."


"Yah, aku suka ini. Lebih cepat, Mas!" pinta Anika, dia sudah tidak malu lagi meminta Alvian menggempur miliknya. Tentu saja Alvian sangat suka mendengar permintaan istrinya, dia pun menekan goa Anika bertubi-tubi tanpa henti.


Setelah hampir satu jam, Anika menjerit entah untuk yang keberapa kali. Tubuhnya melemah dipenuhi keringat, Alvian pun menyusul beberapa menit kemudian.

__ADS_1


Akhirnya sepasang suami istri itu terbaring lemah dengan nafas tersengal dan mata yang sangat sulit untuk dibuka. Alvian membelit Anika erat dan kembali mengecup keningnya lalu turun ke bibirnya.


__ADS_2