Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
34. Kecewa


__ADS_3

Alvian memacu laju mobil yang dikendarainya dengan kecepatan tinggi. Tampaknya suasana hati ayah satu anak itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Tentu saja perubahan sikapnya itu membuat Anika curiga, namun wanita itu tidak berani bertanya mengingat kondisi jalanan yang cukup ramai. Dia tidak ingin memecah konsentrasi Alvian yang masih fokus dengan stir.


Sesampainya di halaman kediamannya, seperti biasa Alvian membukakan pintu mobil untuk Anika lalu keduanya memasuki rumah berbarengan.


Kemudian Alvian lekas masuk ke dalam kamar, Anika pun menyusulnya dan membantu Alvian melepaskan kemeja yang melekat di tubuhnya. "Mas..."


"Hmm..." gumam Alvian menatap lekat pada Anika.


"Mas kenapa? Apa Mas marah karena ucapan Ayah tadi?" tanya Anika ingin tau. Dia pikir Alvian tersinggung mengingat sikap Suherman yang tidak mengenakkan hati.


"Tidak, Mas tidak apa-apa." geleng Alvian.


"Lalu?" Anika menautkan alis bingung, mencoba mencari kejujuran di mata Alvian.


Seketika Alvian memutus kontak mata dengan Anika kemudian memilih berbaring di kasur dengan tubuh separuh telanjang. Dia mengusap wajah dengan kasar, setelah itu menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Mas..." lirih Anika dengan tatapan sendu, dia pun menghampiri ranjang dan ikut berbaring di samping Alvian. Anika menumpukan dagunya di dada berbulu suaminya itu, sebelah tangannya bermain-main di ujung dada Alvian. "Ada apa, Mas? Aku pikir Mas sedang memikirkan sesuatu,"


Kembali Alvian mematut Anika dengan intim kemudian mendekapnya erat dan mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang. Alvian ragu bagaimana cara menceritakan semua ini pada Anika.


"Kenapa dunia ini terlalu sempit?" tanya Alvian lirih sembari mengusap kepala Anika.


"Maksud Mas?" Anika lagi-lagi menautkan alis, dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Alvian.


"Sebenarnya..." Alvian menghentikan ucapannya, dia benar-benar bingung bagaimana cara memulainya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa, Mas?" selang Anika penasaran.


Alvian terdiam sejenak memikirkan sesuatu yang bisa saja terjadi setelah ini. Dia takut kasih sayang Anika pada Amara akan hilang jika tau bahwa wanita yang dia benci itu ternyata merupakan ibu kandungnya Amara, wanita yang sudah melahirkan putrinya dan meninggalkan bocah itu di usia yang masih sangat kecil.


Alvian tidak ingin Anika menjadikan Amara sebagai alat untuk membalaskan sakit hatinya pada Lira, wanita yang sudah melakukan banyak kecurangan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Lira itu mantan istri Mas, dia ibu kandungnya Amara. Wanita yang telah meninggalkan kami karena tidak sanggup hidup dalam kemiskinan." ungkap Alvian gamblang, bagaimanapun Anika harus tau tentang ini.


"Apa?" Anika terperanjat kaget dengan mata membulat sempurna, seketika dia pun menjauhkan diri dari Alvian.


Alvian yang melihat perubahan drastis pada raut muka Anika seketika tersenyum getir, dia yakin Anika tidak bisa menerima kenyataan ini dengan mudah.


Baru saja Alvian hendak menghampiri Anika, istrinya itu sudah keburu pergi meninggalkan kamar. Anika berlari terburu-buru dan memilih masuk ke kamar sebelah.


Ya, Anika memang tidak bisa menerima ini begitu saja. Dia benar-benar syok mengetahui siapa Lira sebenarnya. Benar kata Alvian, kenapa dunia ini terlalu sempit? Kenapa ibu tirinya harus mantan istri suaminya?


Setelah mengunci pintu, Anika menghempaskan tubuhnya di kasur, tangisannya pecah seketika itu juga. Setelah semua yang dilakukan Lira padanya, akankah dia sanggup menatap Amara dengan kasih sayang seperti biasanya? Rasanya ini terlalu sulit untuk dipahami.


"Aaah..." Alvian mengusap wajahnya kasar lalu mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus dia lakukan? Anika pasti membencinya dan juga Amara, bagaimanapun Alvian tau persis bahwa Anika sangat tidak menyukai mantan istrinya itu.


Tidak ingin berlarut-larut dalam masalah ini, Alvian dengan cepat bangun dari duduknya. Dia berjalan menuju lemari dan mengambil kaos oblong lalu mengenakannya. Setelah itu dia melangkah meninggalkan kamar, dia harus segera meluruskan masalah ini dengan Anika.


Sesampainya di depan pintu yang tertutup rapat, Alvian menekan kenop perlahan. Sayang pintu tidak bisa dibuka karena dikunci dari dalam. "Sayang, tolong buka pintunya! Mas mau bicara," seru Alvian sembari mengetuk daun pintu.


Seketika hening menerpa karena tidak ada sahutan dari dalam sana. Anika yang mendengar suara Alvian malah menutup telinga dengan bantal, dia belum siap bertemu maupun berbicara dengan suaminya itu.


"Nika, tolong sayang, buka pintunya!" lirih Alvian dengan suara bergetar. Akan tetapi Anika sama sekali tidak mau membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Apa salah Mas sama kamu? Kenapa kamu jadi seperti ini? Tolong jangan sangkut pautkan masalah wanita itu dengan hubungan kita! Bicaralah sayang, jangan menghukum Mas seperti ini!" Alvian tersandar lesu di daun pintu, dia tidak mengerti bagaimana cara meyakinkan Anika agar mau bicara dengannya.


"Papa..."


Alvian tersentak kaget saat menangkap kedatangan Amara yang tengah berlari ke arahnya. Dia pun dengan cepat menyapu jejak air mata di pipinya, dia tidak mau Amara sedih melihat wajahnya yang dirundung kekecewaan.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Alvian menyusul Amara dan mengangkat tubuh mungil itu ke gendongannya.


"Papa kenapa? Kok wajahnya sedih begini?" tanya bocah itu sembari mematut muka Alvian.


"Tidak, Papa tidak sedih. Nih lihat!" Alvian mengukir senyum lebar menampakkan barisan giginya yang sangat rapi.


"Hehe... Tampan sekali," sanjung Amara terkekeh. " Oh ya, Mama mana, Pa?" imbuh gadis kecil itu dengan kepala celingak celinguk ke kiri dan ke kanan.


Alvian lantas terdiam untuk beberapa saat, dia bingung harus menjawab apa. "Mama lagi tidur, Amara sama Papa dulu ya." alibi Alvian mencari alasan, dia tidak ingin Amara tau apa yang terjadi sebenarnya.


"Tapi Amara mau ketemu Mama, Pa. Amara ingin menunjukkan sesuatu sama Mama." ucap bocah itu.


"Memangnya Amara mau nunjukin apa sama Mama? Boleh Papa lihat?" tanya Alvian mencoba mengalihkan perhatian Amara lalu membawa putrinya itu ke kamar.


Setibanya di kamar, Alvian mendudukkan Amara di sisi ranjang berkarakter hello kitty kesukaan Amara lalu dia pun berjongkok dan membuka sepatu serta kaos kaki yang dikenakan putrinya.


"Makasih ya, Pa." ucap Amara tersenyum sumringah kemudian melepaskan tas yang tersandang di punggungnya. Dia pun mengeluarkan buku gambar miliknya dan memperlihatkan hasil lukisannya dengan bangga.


"Tadi ada tugas menggambar dari Bu Guru, Amara bikin gambar kita bertiga. Ini Papa, ini Amara dan ini Mama. Bagus gak, Pa?" ucap bocah itu seraya menunjuk satu persatu gambar orang yang dia lukis.


Seketika pandangan Alvian mengabut memperhatikan hasil gambar yang dibuat putrinya. Hatinya terenyuh seiring pemikiran kacau yang membelenggu di benaknya.

__ADS_1


Jujur dia sangat senang melihat Amara yang begitu menyayangi Anika. Akan tetapi, Alvian juga sedih memikirkan bagaimana reaksi Anika nantinya saat melihat ini.


Alvian merasa Anika tidak akan lagi bisa memperlakukan Amara seperti biasanya, Alvian benar-benar bingung memikirkan ini.


__ADS_2