
"Mama... Papa..." pekik Amara saat menangkap kedatangan Anika dan Alvian yang baru saja tiba di ambang pintu. Bocah kecil itu berhamburan menyusul keduanya dan memeluk kaki mereka dengan erat.
Anika dan Alvian langsung berjongkok kemudian mencium pipi Amara bersamaan. "Mmuach..."
"Sayang Mama sudah pulang?" tanya Anika setelah mencium pipi gembul putrinya itu.
"Sudah dari tadi, Ma. Mama tidak lihat ini jam berapa? Lagian Mama dan Papa kemana saja sih? Kenapa jam segini baru pulang?" cerca Amara menggembungkan pipi. Dia merasa sedikit cemburu karena tidak diajak bepergian.
"Hehe... Jangan cemberut gitu dong, sayang. Tadi Mama sama Papa baru saja dari rumah Kakek," jawab Anika jujur.
"Kakek?" Amara menyipitkan mata mengulang kata itu. "Memangnya Amara masih punya Kakek ya, Ma? Bukankah kata Papa, Kakek sudah meninggal? Apa Kakek hidup lagi?" tanya bocah itu dengan polos, hal itu sontak mengundang tawa Anika dan Alvian, keduanya terkekeh sampai terpingkal-pingkal.
"Hahaha... Tidak sayang, bukan begitu konsepnya. Mana mungkin orang meninggal bisa hidup lagi, hantu dong berarti." Alvian tertawa lepas melihat kepolosan putrinya kemudian mengacak rambut Amara gemas.
"Maksud Mama, Kakek Amara yang satu lagi, Ayahnya Mama." ungkap Anika menjelaskan.
"Ish, Mama sama Papa jahat deh. Kenapa tidak membawa Amara ke sana? Amara kan juga ingin bertemu Kakek," ucap bocah itu dengan bibir mengerucut lalu melipat tangan di dada.
"Belum saatnya sayang, tunggu urusan Kakek selesai dulu ya. Nanti pasti Mama bawa, Kakek katanya juga ingin bertemu Amara," terang Anika.
"Benar?" Amara mencoba memastikan.
"Iya benar," angguk Anika.
"Janji?" Amara memastikannya lagi.
"Iya sayang, Mama janji. Nanti kalau Kakek sudah tidak sibuk, kita akan ke sana dan menginap. Amara mau kan?" bujuk Anika.
"Yeay, Amara mau Ma, mau banget." bocah itu meloncat kegirangan seperti tengah mendapat hadiah istimewa.
Bagaimana tidak, selama ini dia tidak pernah melihat langsung bagaimana rupa sang kakek yang pernah diceritakan Alvian padanya. Kini setelah mendengar ucapan Anika, tentu saja dia merasa sangat senang.
...****************...
"Lira..." panggil Suherman sesaat setelah menginjakkan kaki di lantai kamar. Dia berjalan tegap menuju sofa dan membiarkan pintu kamar tetap terbuka lalu duduk dengan kaki terlipat dan tangan terbentang di kepala sofa.
"Iya Mas, ada apa?" tanya Lira seraya mendekati Suherman. Dia hendak duduk namun pria paruh baya itu dengan cepat mencegahnya.
"Di sana saja!" seru Suherman. Jangankan berdekatan dengan Lira, melihatnya saja pria itu sudah jijik.
__ADS_1
"Aku tidak ingin berbasa-basi lebih lama, sekarang tolong dengarkan aku baik-baik!" tegas Suherman.
Lira yang penasaran sontak mengernyit mematut Suherman dengan tatapan kebingungan, selain itu dia juga penasaran dengan apa yang ingin dikatakan suaminya itu.
Namun seketika garis bibir Lira terangkat naik saat menangkap kedatangan Andre yang sudah berdiri di ambang pintu. Lira yakin bahwa Suherman ingin membahas mengenai harta warisan yang akan dia terima.
"Mas mau aku buatkan kopi?" tawar Lira dengan penuh semangat, sangat manis seperti eskrim yang begitu nikmat untuk dijilat.
Suherman yang melihat itu tiba-tiba tersenyum getir, terlalu manis sehingga membuat Suherman mabuk kepayang sampai terlupa bahwa dia memiliki seorang anak yang lebih membutuhkan kasih sayang.
Selama ini dia terlalu bodoh dibutakan akan cinta, mulut manis dan kecantikan rusa betina itu. Harusnya dari awal dia sadar bahwa wanita itu hanya mengincar hartanya saja.
"Tidak usah, aku sudah kenyang. Makan bersama anak dan menantuku ternyata sangat menyenangkan." jawab Suherman gamblang, Lira lagi-lagi mengernyit kebingungan.
"Menantuku tampan, kan? Anika benar-benar beruntung mendapatkan suami seperti Alvian." imbuh Suherman mengukir senyum lebar. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Lira mendengar itu.
"Mmm... Anika memang beruntung," Lira mengangguk lemah dengan raut wajah sedikit kesal. Bisa-bisanya Suherman berkata seperti itu di depannya. Andai ambisinya sudah terwujud, dia tidak akan sudi menundukkan kepala di hadapan suaminya itu.
"Ya, Anika sangat beruntung. Mereka berdua pasangan yang serasi, mereka juga saling mencintai. Anika diperlakukan seperti seorang ratu oleh suaminya itu. Sebagai Ibu, kamu pasti senang kan melihat putrimu bahagia?" sindir Suherman dengan senyum mengejek. Dia belum cukup puas melihat raut kekesalan di wajah istrinya.
"Tentu saja aku senang, Anika putriku dan aku sangat menyayanginya." angguk Lira dengan senyum sejuta misteri. Andre yang melihat itu bahkan ingin tertawa keras, tapi tidak mungkin mengingat raut serius di wajah Suherman.
"Tentu saja, aku menyayangi Anika melebihi putriku sendiri." angguk Lira cepat. Dia tidak sadar bahwa pertanyaan demi pertanyaan yang dilayangkan suaminya merupakan jebakan batman yang akan menghancurkan dirinya sendiri.
"Hmm... Aku sangat salut padamu, hanya ada satu dari seribu wanita yang memiliki sikap penyayang sepertimu. Maka dari itu, sekarang aku ingin menyampaikan sesuatu padamu!" Suherman mengedipkan mata ke arah Andre, pria itupun mengangguk cepat dan berjalan menghampirinya.
Lalu Andre duduk di samping Suherman dan mengeluarkan dokumen yang sudah dia siapkan.
"Lira..." seru Suherman dengan lantang.
"Iya, Mas." sahut Lira cepat, dia sudah tidak sabar ingin mendengar berapa persen warisan yang akan dia terima.
Sepuluh, dua puluh, tiga puluh atau lima puluh persen? Dia berharap setidaknya lima puluh persen, itu menurutnya sangat adil. Dia dan Anika harus mendapatkan bagian yang sama.
"Lira Sudrajat binti Eko Sudrajat, aku suamimu Suherman, menalakmu detik ini juga. Mulai hari ini kau bukan lagi istriku!" ucap Suherman lantang dengan suara menggelegar.
Duarr...
Bak disambar petir di siang bolong, Lira tersentak kaget dengan mata membulat dan mulut menganga lebar. Sekujur tubuhnya tiba-tiba bergetar, dunia seakan berhenti berputar detik ini juga.
__ADS_1
"M-mas, apa yang kamu katakan?" seru Lira, dia tidak bisa mempercayai ini sepenuhnya.
"Bukankah sudah jelas?" Suherman hanya tersenyum sembari memutar leher ke arah Andre. "Bagaimana Pak pengacara? Kamu dengan kan apa yang aku katakan barusan?"
"Hmm... Aku mendengarnya," angguk Andre.
"Sekarang urusan perceraian ini aku serahkan padamu, lebih cepat lebih baik." ucap Suherman pada Andre.
"Dan kau, kemasi barangmu dan pergilah dari rumah ini. Aku sudah menyiapkan rumah baru untukmu. Anggap saja itu merupakan sedekah dariku,"
Suherman langsung bangkit dari duduknya setelah mengatakan itu, dia sudah muak melihat wajah istrinya yang menjijikkan itu. Sampai detik ini gambaran video panas itu masih menari-nari di benaknya, tidak ada seorang pria pun yang rela memaafkan istri pengkhianat sepertinya.
"Mas, tunggu! Ini tidak adil, apa salahku padamu? Aku tidak mau bercerai, aku-"
Lira menahan tangan Suherman, namun pria itu dengan cepat menepisnya. Dia tidak sudi bersentuhan dengan wanita murahan itu.
"Pergilah, jangan sampai aku bertindak kasar padamu!" sergah Suherman melayangkan tatapan tajam membunuh.
"Tidak Mas, aku tidak mau bercerai!" pekik Lira bersikukuh agar Suherman menarik kata-katanya kembali.
"Keputusanku sudah bulat, pergi dan terima sedekah dariku! Atau-"
"Atau apa, Mas?" selang Lira berderai air mata.
"Atau aku akan menjebloskanmu ke dalam penjara!" imbuh Suherman dengan nada mengancam.
"Mas, kamu jangan gila. Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa, kenapa kamu jadi kejam seperti ini?" bentak Lira meninggikan suara.
"Kejam?" Suherman mengernyit mematut wajah menjijikkan itu. "Jika aku kejam, aku akan membunuhmu detik ini juga. Manusia picik sepertimu tidak pantas hidup di dunia ini. Jangan pikir aku tidak tau kelakuan busukmu di belakangku." geram Suherman, dia pun mencengkeram rahang Lira dengan kasar.
"M-mas, sakit." rintih Lira.
"Sakit?" Suherman tertawa terbahak-bahak. "Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang ditanggung putriku. Kau ingin menyingkirkan dia, kan? Maka langkahi dulu mayatku jika kamu bisa!" gertak Suherman, kemudian mendorong Lira hingga tersungkur di lantai. Dia pun berlalu pergi meninggalkan kamar itu.
Lira menjerit sejadi-jadinya seperti orang gila kesurupan, air matanya menetes tapi tatapannya sangat tajam menakutkan. Dia tidak bisa menerima penghinaan ini begitu saja.
"Heh... Kasihan sekali, ternyata karma itu nyata adanya." ejek Andre menahan tawa. Dia pun meninggalkan sebuah sertifikat rumah yang disedekahkan Suherman untuk Lira. "Ambil ini dan pergilah dari rumah ini sebelum Abangku benar-benar murka!"
Andre pun melenggang pergi sambil bersiul kegirangan.
__ADS_1