
Setelah semuanya berkumpul, Suherman langsung mengatakan tujuannya memanggil mereka semua. Dia menjelaskan bahwa sudah saatnya Anika mendapatkan haknya sebagai pewaris tunggal atas semua aset yang dia miliki.
Awalnya Anika tidak percaya pada perkataan sang ayah tapi setelah Andre mengeluarkan dokumen yang dibawanya, Anika pun menatap Suherman dengan bingung.
"Apa Ayah tidak salah? Bukankah Ayah masih punya istri? Kenapa semuanya harus diberikan padaku? Bukannya istri Ayah juga berhak atas harta yang Ayah miliki?" cerca Anika dengan sederet pertanyaan yang membuat Suherman terkekeh.
Suherman tau persis bahwa putrinya tidak tamak dengan harta, akan tetapi Suherman sudah mengambil keputusan maka tidak ada seorangpun yang bisa menentangnya.
Bahkan jika Anika menolak, dia lebih baik menyumbangkan beberapa bagian asetnya kepada orang-orang yang membutuhkan daripada harus memberikan sepersen pun pada Lira istrinya.
"Katakan berapa yang kamu inginkan, selebihnya akan Ayah sumbangkan ke beberapa panti asuhan dan panti jompo yang ada di kota ini." ucap Suherman.
"Apa Ayah yakin tidak akan memberikan sepersen pun pada istri Ayah itu? Bukankah Ayah sangat mencintainya?" kata Anika dengan nada sedikit menyindir. Suherman pun tersenyum kecut dibuatnya.
"Pengkhianat tetaplah pengkhianat, dia tidak akan mendapatkan apa-apa setelah semua yang dia lakukan di belakang Ayah." sahut Suherman, kemudian meminta Andre menyelesaikan semuanya sesegera mungkin.
Anika pun diminta menandatangani beberapa dokumen penting itu sesuai keinginan Suherman.
"Beres, sekarang semuanya sudah jatuh ke tangan Anika." ucap Andre setelah dokumen dokumen itu ditandatangani oleh Suherman dan Anika.
Ya, Andre sudah mempersiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari sesuai apa yang sudah disepakati Suherman dan istrinya beberapa tahun yang lalu. Awalnya Andre pikir akan ada perubahan setelah Suherman memiliki istri baru tapi pada kenyataannya semua itu akan tetap jatuh ke tangan Anika.
Karena semuanya sudah clear, Suherman kemudian mengajak mereka semua makan bersama. Sebelumnya dia sudah meminta Tuti memasak untuk menyambut kedatangan menantunya.
Sesampainya di meja makan, Suherman duduk di bangkunya, Anika dan Alvian duduk bersebelahan sedangkan Andre duduk di hadapan keduanya.
Sambil menyantap makanannya, Suherman mulai bertanya tentang kehidupan Alvian. Dia ingin tau dimana menantunya itu bertemu dengan Anika dan alasan apa yang membuat mereka berdua menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.
Saat Alvian ingin menjelaskan, Lira tiba-tiba muncul dan tercengang melihat Alvian yang kembali mendatangi rumah suaminya. Dia pun berlagak santai agar Suherman tidak curiga akan hubungan mereka di masa lalu. Menurut Lira, Suherman tidak boleh tau sebelum misinya tercapai.
Akan tetapi, kehadiran Lira malah ditolak mentah-mentah oleh Suherman. Dia menyuruh istrinya itu menunggu di kamar karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
Tentunya Lira terpaksa menurut, dia berpikir Suherman sudah menentukan jatahnya sesaat setelah menyadari keberadaan Andre. Lira tau persis bahwa Andre merupakan pengacara keluarga itu.
Setelah kepergian Lira, Suherman kembali melanjutkan pertanyaannya. Dia masih ingin mengobrol dengan anak menantunya sebelum menyelesaikan urusannya dengan sang istri.
"Maaf Ayah, mungkin ini akan sedikit mengejutkan di telinga Ayah." selang Anika sebelum Alvian sempat bersuara.
__ADS_1
"Maksud kamu?" Suherman mengerutkan kening bingung.
"Sebenarnya Mas Alvian seorang duda, Mas Alvian memiliki putri kecil yang baru berusia lima setengah tahun. Mas Alvian sama seperti Ayah, kalian sama-sama korban dari kelicikan seorang wanita. Wanita yang tidak tau diri, tidak punya hati dan perasaan."
"Wanita itu meninggalkan Mas Alvian saat putrinya baru berusia enam bulan, iblis betina itu pergi saat kondisi Mas Alvian dalam keadaan terpuruk. Saat itu Mas Alvian baru saja kehilangan perusahaan, semua aset dan bahkan kehilangan ayahnya. Tapi wanita itu malah meninggalkannya hanya demi hidup enak bersama pria lain." terang Anika dengan gamblang.
Alvian yang mendengar itu hanya diam sambil menundukkan pandangan. Dia siap jika Suherman harus memakinya karena tidak terima dengan keadaan. Dia bisa mengerti jika Suherman tidak mau merestui hubungan mereka, tapi apapun itu Alvian tidak akan menyerah karena dia benar-benar mencintai Anika dari lubuk hatinya yang terdalam.
Seketika Suherman menatap Alvian dengan intens, begitu juga dengan Andre yang sebenarnya tidak terlalu terkejut mendengar penjelasan Anika. Dari awal dia sudah menebak bahwa usia Alvian jauh lebih tua dari keponakannya.
"Benar begitu?" tanya Suherman memastikan menatap lekat pada Alvian.
"Iya, semua yang dikatakan Anika itu benar." angguk Alvian membenarkan.
"Heh, cinta itu memang buta. Tidak ayah, tidak anak, keduanya sama saja." timpal Andre mengulas senyum.
"Apa maksudmu?" tanya Suherman mengeratkan rahang.
"Apa perlu dijelaskan lagi? Aku rasa Abang sudah pasti tau jawabannya." jawab Andre memberi teka teki.
"Kebiasaan," keluh Suherman mendengus kesal.
"Apa kamu yakin?" tanya Suherman memastikan.
"Sangat yakin," tegas Anika.
"Ya sudah, kalau begitu tidak ada alasan lagi bagi Ayah untuk menolak hubungan kalian. Tapi kenapa kalian tidak membawa putri kecil itu ke sini?" tanya Suherman penasaran.
"Belum saatnya, Anika tidak mau Amara bertemu dengan rusa betina itu." jawab Anika spontan.
"Loh, apa hubungannya?" Suherman kembali mengerutkan kening bingung.
"Karena istri Ayah itu adalah ibu kandung Amara. Dia lah iblis yang sudah meninggalkan Mas Alvian dan putrinya. Dia bahkan tidak sekalipun memiliki niat untuk datang melihat perkembangan putrinya, ibu macam apa itu?" ungkap Anika tersenyum getir.
Seketika Suherman dan Andre tersedak mendengar penuturan Anika, keduanya sangat terkejut mengetahui kenyataan ini.
"Astaga, ternyata dunia ini sangat sempit." cetus Andre geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Anika, apa yang kamu lakukan Nak?" Suherman mengusap wajah kasar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia tidak habis pikir atas keputusan Anika yang terlalu nekat menikahi mantan suami dari ibu sambungnya sendiri.
"Memangnya apa yang salah, Ayah? Toh mereka berdua sudah lama berpisah, lagian Anika juga baru tau saat pertama kali membawa Mas Alvian ke rumah ini. Mas Alvian menceritakan semuanya saat kami tiba di rumah."
"Tolong jangan salahkan suami Anika, Mas Alvian juga tidak tau menahu akan hal ini. Kami berdua sama-sama terkejut, lalu apakah Anika harus meninggalkan suami Anika hanya karena masa lalunya?"
"Tidak Ayah, Anika tidak sanggup berpisah dengan Mas Alvian. Tidak ada pria sebaik dan setulus Mas Alvian di dunia ini. Hanya dia yang mau menerima Anika apa adanya,"
Suherman lantas terdiam mendengar ucapan Anika. Dia memang tidak bisa mempercayai ini sepenuhnya, akan tetapi dia juga tidak mungkin memisahkan mereka berdua.
Anika sudah memilih maka Suherman tidak memiliki kekuatan untuk menentang. Apalagi Suherman sangat mengerti bahwa semua itu bukan kesalahan Alvian, melainkan istrinya yang terlalu tamak dengan harta.
Kini Suherman paham kenapa Lira mau menikah dengannya, bukan cinta melainkan obsesi akan harta yang dia miliki.
"Ya sudah, sekarang kalian pulang saja dulu. Ayah harus menyelesaikan masalah ini secepatnya." ucap Suherman.
"Baiklah, Ayah harus berhati-hati. Salah-salah dia bisa saja mencelakai Ayah, Anika tidak mau Ayah terluka." Anika memeluk Suherman setelah mengatakan itu lalu mencium pipi sang ayah dengan sayang. Suherman pun melakukan hal yang sama pada putrinya.
"Kami pamit pulang dulu," timpal Alvian menyalami sang ayah mertua.
"Tolong jaga Anika dengan baik, Ayah mempercayakan Anika padamu. Jangan sampai menyakitinya walau hanya seujung kuku!" pesan Suherman pada Alvian.
"Aku sangat mencintai Anika, aku tidak akan mungkin menyakitinya." tegas Alvian.
"Mmm..." angguk Suherman mengulas senyum.
Setelah berpamitan pada Suherman dan Andre, Anika dan Alvian meninggalkan rumah itu dengan perasaan lega. Keduanya saling melempar senyum setelah mendapat restu dari Suherman.
"Senang?" tanya Anika sesaat setelah keduanya masuk ke dalam mobil.
"Sedikit," sahut Alvian sembari menyalakan mesin mobil.
"Kenapa? Apa karena tidak bisa berduaan dengan mantan istri?" sindir Anika menajamkan tatapan.
"Apaan sih, sayang? Jangan aneh-aneh, siapa juga yang ingin berduaan sama dia?" keluh Alvian.
"Barangkali saja begitu," Anika membuang pandangan ke arah lain.
__ADS_1
"Hanya orang bodoh yang berpikir seperti itu," Alvian kemudian menginjak pedal gas dan melesat pergi meninggalkan gerbang.