Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
22. Terjatuh


__ADS_3

Anika menyambar sebuah tas selempang yang terletak di atas nakas lalu dengan cepat memasukkan iPhone miliknya ke dalam sana. Setelah mengambil kunci mobil, dia pun lekas berlari meninggalkan kamar.


Siapa sangka saat hendak menuruni anak tangga, sudut mata Anika menangkap kemunculan sang calon suami yang baru saja keluar dari kamar Suherman.


Anika mematut pria itu dengan tatapan tajam, tangannya mengepal kuat dengan sudut bibir sedikit terangkat. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan menjijikkan pria itu, ternyata pernikahan yang dia idamkan hanya sebuah permainan di mata bajingan tidak tau diri itu.


Seenaknya manusia tidak punya malu itu berbagi kenikmatan dengan sang ibu tiri di rumahnya sendiri, lalu Anika mau dijadikan apa oleh mereka? Dia tidak akan pernah sudi menjadi istri dari pria seperti itu.


Anika juga tidak akan membiarkan Rio dan ibu tirinya menang dengan begitu mudah. Dia akan membongkar semua kelakuan busuk mereka di hadapan Suherman agar keduanya mendapatkan hukuman yang setimpal.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Rio sembari berjalan menghampiri Anika, air mukanya nampak santai tanpa rasa berdosa sedikitpun. Lalu pria itu mencoba meraih tangan Anika tapi gadis itu dengan cepat menepisnya dan menghindar.


"Bukankah pekerjaanmu lebih penting dariku? Kalau begitu lanjutkan saja, aku akan pergi dari rumah ini sampai Ayah kembali dari luar kota. Dan ingat, aku tidak akan pernah menikah dengan bajingan sepertimu." tegas Anika penuh penekanan.


"Sayang, kamu kenapa sih?" Rio mengerutkan kening dan kembali meraih tangan Anika namun gadis itu dengan cepat mendorong dadanya dengan kasar.

__ADS_1


"Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan kotor mu itu! Aku jijik padamu, kau dan wanita itu sama saja, pengkhianat dan biadab, tidak tau diri." umpat Anika meninggikan nada bicara, matanya memerah dan berkaca mengatakan semua itu.


"Kau..." Rio hendak melayangkan tangannya ke wajah Anika tapi tertahan saat gadis itu menitikkan air mata.


"Kenapa berhenti? Ayo, pukul aku!" tantang Anika tanpa gentar sedikitpun, suaranya tiba-tiba serak menahan tangisan yang sulit ditahan.


"Cukup Anika, jangan-"


"Jangan apa, hah? Kau itu memang bajingan, kau pikir aku ini bodoh? Aku memang mencintaimu tapi itu dulu, sekarang kau itu tidak lebih dari seorang pecundang di mataku. Aku tidak mau menikah denganmu, aku juga akan membongkar kebusukan kalian pada Ayah." teriak Anika lantang, dia tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Sekujur tubuhnya bergetar menahan rasa sakit yang teramat sangat.


Anika yang mendengar itu lantas menoleh ke arah wanita itu, air mukanya nampak panik. Dia tau wanita itu tidak akan membiarkannya lepas dengan mudah.


Lalu Anika berinisiatif untuk melarikan diri dari wanita itu, dia menuruni anak tangga terburu-buru tapi di pertengahan tiba-tiba punggungnya seperti terdorong hingga keseimbangannya berkurang. Anika pun terpeleset dan terguling sampai dasar tangga.


"Aaaa..." teriakan Anika menggema memenuhi seisi rumah, namun sayang tidak ada seorangpun yang mendengar selain dua manusia licik itu.

__ADS_1


Tubuh Anika terasa remuk dan hancur, pandangannya tiba-tiba mengabur seperti tengah terombang-ambing di lautan luas hingga akhirnya penglihatannya gelap sempurna. Dia terkapar tak sadarkan diri.


"Apa yang kau lakukan?" Rio nampak pucat dan panik. Dia tidak menyangka wanitanya akan bertindak senekad itu. Dia kemudian berlari menuruni anak tangga dan berniat membantu Anika, tapi di pertengahan tangga wanita itu dengan cepat mencegahnya.


"Jangan bodoh Rio, sini ikut aku!" wanita itu meraih pergelangan tangan Rio dan menariknya ke kamar.


"Tunggu, kita harus membantunya. Dia bisa mati jika dibiarkan seperti itu," Rio menahan langkahnya dan berbalik.


"Apa kau sudah gila? Biarkan saja dia mati, itu akan lebih baik untuk kita." sergah wanita itu.


"Tapi Li-"


"Cukup Rio! Apa kau ingin perbuatan kita diketahui oleh Suherman? Kau dan aku tidak akan mendapatkan apa-apa nanti, mungkin saja dia akan menjebloskan kita ke penjara." kesal wanita itu.


Rio tiba-tiba terdiam mendengar itu dan memutar leher ke arah wanitanya seperti seekor anak kucing yang penurut, lalu keduanya memilih masuk ke kamar seolah-olah mereka berdua tidak mengetahui apa-apa tentang kecelakaan barusan. Penghuni rumah akan berpikir bahwa Anika terjatuh sendiri dari atas sana.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, seorang pelayan menemukan Anika dan lekas membantunya. Anika yang masih pingsan segera dibawa ke rumah sakit dengan bantuan taksi online.


__ADS_2