Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
17. Dilema


__ADS_3

"Anika, kamu darimana saja? Kenapa lama sekali?" tanya Rio sesaat setelah Anika tiba di parkiran, keningnya mengernyit menanyakan itu.


"M-maaf, tadi toiletnya antri." jawab Anika berbohong, kemudian memasuki mobil terburu-buru. Raut wajahnya nampak panik dengan jantung yang masih berdebar-debar setelah mendengar ucapan Alvian tadi.


Rasanya Anika tidak ingin mempercayai kata-kata itu, tapi entah kenapa perasaannya tiba-tiba menjadi tidak karuan. Bahkan sosok Rio saja terlihat seperti orang asing di matanya.


Setelah Rio duduk di bangku kemudi, dia pun menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Seketika mobil mewah itu melesat pergi meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Anika hanya diam dengan pikiran yang tengah melayang entah kemana. Matanya menatap jalanan tapi hatinya masih tertinggal di rumah sakit.


Anika benar-benar bingung memikirkan ini, dia tiba-tiba dilema diantara dua pilihan yang begitu sulit.


Ya, Rio memang cinta pertama di hati Anika. Dia mulai menyukai pria itu sejak mereka berdua masih duduk di bangku SMP.


Akan tetapi, cinta itu ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Rio tidak pernah melihat dirinya apalagi mendekatinya.

__ADS_1


Kala itu Rio merupakan sosok pria idaman di sekolah mereka. Banyak gadis cantik yang tertarik padanya sehingga pria itu menjadi sombong dan angkuh.


Anika juga bingung saat mengetahui bahwa keluarga Rio sudah datang melamarnya. Beberapa tahun tidak pulang ke rumah, banyak perubahan yang dia temui, dia sendiri tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.


Tidak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Rio tiba di depan kantor KUA. Pria itu mematikan mesin mobil dan turun setelahnya. Sedangkan Anika sendiri masih bergeming di tempat duduk dengan tatapan kosong.


"Ayo, turun! Kenapa malah bengong?" seru Rio sesaat setelah membukakan pintu untuk Anika.


Anika terperanjat kaget mendengar suara pria itu, dia pun mengerjap dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Anika mendadak gelagapan dan menatap Rio dengan intens.


"Aku hanya lelah," alibi Anika yang tidak tau harus menjawab apa. Dia sendiri tidak mengerti kenapa sikapnya tiba-tiba berubah.


Lalu Anika turun dari mobil dan menutup pintu dengan cepat, kemudian mengikuti langkah Rio memasuki kantor tersebut.


Sesampainya di dalam, keduanya langsung duduk di depan seorang petugas KUA. Hari ini mereka berdua harus menjalani beberapa prosedur yang sudah menjadi aturan saat sepasang manusia hendak meresmikan hubungan mereka. Anika dan Rio sendiri harus mengikuti peraturan tersebut.

__ADS_1


Diwaktu bersamaan, Alvian duduk di sisi brankar sesaat setelah memasuki ruangan Amara, bocah itu membuang muka saat menangkap kedatangan Alvian barusan.


Meski tidak ada cedera serius di tubuhnya, tapi luka di hatinya lebih perih daripada luka yang terdapat di kening dan lututnya. Amara kehilangan kepercayaan pada Alvian dan memilih mengabaikannya.


"Sayang..." lirih Alvian, dia meraih tangan mungil Amara dan menggenggamnya erat, namun bocah itu dengan cepat menarik tangannya tanpa berucap sepatah katapun.


Dia tidak ingin Alvian menyentuhnya, dia juga tidak ingin siapapun mendekatinya. Amara mendadak berubah seratus delapan puluh derajat setelah Alvian gagal membawa Anika pulang ke rumahnya.


"Amara..." panggil Alvian dengan tatapan sendu, dia rasanya tidak sanggup melihat putri semata wayangnya seperti ini. Alvian sudah berusaha menuruti keinginan Amara, tapi apa yang bisa dia lakukan jika Anika sendiri yang tidak mau menerimanya.


Alvian tidak mungkin memaksakan kehendaknya. Alvian tau cinta tidak bisa dipaksakan, itu sama saja dengan menghancurkan masa depan seseorang.


Apalagi Anika dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia mencintai pria itu, mana mungkin Alvian tega memisahkan cinta mereka berdua.


Semakin Alvian mengingat ucapan Anika, semakin sesak pula dadanya. Alvian seperti berada di ujung jurang yang siap menelan tubuhnya mentah-mentah. Apalagi melihat putrinya yang kini seakan tidak mau menganggapnya, ini benar-benar menyakitkan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2