Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
45. Amara Sayang Kakek


__ADS_3

"Mama... Papa... Coba lihat, Amara digendong sama siapa?" seru bocah itu dengan suara menggelegar. Dia tengah berada di gendongan Suherman yang kini sudah sangat lekat dengan dirinya.


Ya, setelah mengobrol dengan Suherman panjang lebar, akhirnya Amara jatuh hati pada kakeknya itu. Dia merasa seperti terlahir kembali saat menemukan sosok seorang kakek yang tampan dan penyayang.


"Amara, jangan gitu dong Nak. Kamu itu berat, kasihan kakek." sahut Alvian merasa tidak enak hati. Dia pun mendekat dan ingin mengambil Amara dari gendongan Suherman, akan tetapi Amara malah menolak dan memeluk tengkuk sang kakek dengan erat.


"Sudah, tidak apa-apa. Amara tidak berat kok," timpal Suherman sambil mendekap tubuh mungil itu.


"Tapi, Yah-"


"Mas, biarkan saja! Kapan lagi Ayah direcoki oleh Amara, jarang-jarang loh Ayah dapat mainan bagus seperti itu." selang Anika memotong ucapan Alvian.


"Tapi, sayang-"


"Mas..." Anika lagi-lagi memotong ucapan Salman dan menggenggam tangan suaminya erat.


"Ayo, ikut aku ke kamar. Biarkan Amara bersama kakeknya dulu!" ajak Anika menarik Alvian menuju anak tangga.


"Hahaha... Pergilah!" seru Amara tertawa terbahak-bahak, dia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama sang kakek yang sangat dia rindukan selama ini.


Ya, Amara sangat suka pada Suherman. Selama ini dia tidak tau bagaimana rasanya disayang oleh seorang kakek yang kata Alvian sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Saat tau bahwa dia masih mempunyai satu kakek, tidak terbilang betapa bahagianya dia.


Apalagi Suherman memperlakukannya dengan baik meski dia sendiri tau bahwa Amara merupakan cucu sambungnya sekaligus putri dari wanita yang sudah mengkhianatinya.


Namun semua itu tidak mampu mengubah apa-apa, Amara tetaplah gadis kecil yang tidak tau menahu masalah yang sudah terjadi diantara dia, Lira, Anika dan Alvian.


Biarkan saja Amara berpikir bahwa Suherman memang kakeknya, dengan begitu semua akan berjalan seperti air yang mengalir. Lagian Amara tidak perlu tau tentang kenyataan sebenarnya.


"Kek, Amara mau mengelilingi rumah ini. Kakek temani Amara ya!" pinta bocah itu dengan manja.


"Iya boleh, ayo kita mulai dari taman dulu ya!" sahut Suherman tanpa penolakan. Dia pun sangat antusias seakan mendapat semangat baru di dalam hidupnya.


"Yeay, Kakek baik deh. Amara sayang Kakek," bocah itu tidak sungkan mencium pipi Suherman saking senangnya.


"Hihihi... Anak manis," Suherman mencubit pipi gembul Amara dan balas mencium pipinya.


Lalu Suherman membawa Amara ke taman depan, Amara meminta turun dan berlarian menikmati pemandangan indah yang tertangkap oleh sorot matanya.

__ADS_1


"Amara, jangan lari-lari begitu, nanti jatuh!" seru Suherman mengikuti kemana saja Amara melangkahkan kakinya.


"Tenang saja Kek, Amara tidak akan jatuh. Lagian kalaupun jatuh, Amara tidak akan menangis. Amara itu kuat, kata Papa tidak boleh cengeng." sahutnya dengan polos yang membuat Suherman geleng-geleng kepala.


Kini Suherman semakin yakin bahwa Alvian merupakan pria yang tepat untuk putrinya. Alvian bisa mendidik Amara dan menjadikannya anak kuat diusia sekecil ini. Suherman salut mengingat usaha Alvian yang berhasil membesarkan Amara sendirian.


Tidak mudah bagi seorang pria menjalani hidup tanpa sosok seorang wanita di sampingnya, apalagi saat usia Amara masih terlalu kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


Betapa bodohnya Suherman karena sudah tertipu oleh sampul dan mulut manis Lira selama ini, dia bahkan sudah menghancurkan perasaan putrinya saat pertama kali membawa Lira pulang ke rumah itu.


Dia juga merasa bersalah terhadap almarhumah istrinya. Jika saja waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan mau melakukan kesalahan itu.


Rumah tangganya hancur hanya karena kasihan pada cerita pilu Lira yang mengatakan bahwa dia telah dicampakkan oleh suaminya yang kejam dan berselingkuh di belakangnya.


Pada kenyataannya bukan Alvian yang berkhianat, tapi Lira sendiri yang terlalu tamak akan harta sehingga lupa pada kodratnya sebagai seorang ibu.


"Kakek..." panggil Amara yang sudah tiba di pinggir kolam renang.


"I-iya sayang, ada apa?" tanya Suherman tegagap setelah tersadar dari lamunannya.


"Kakek kenapa? Apa Kakek sakit? Muka Kakek kenapa sedih begitu? Apa Amara menyulitkan Kakek?" cerca bocah itu dengan pertanyaan beruntun sambil mematut Suherman dengan intens.


"Tidak sayang, Kakek tidak apa-apa." alibi Suherman, dia tidak mau merusak suasana hati Amara yang tengah berbahagia bersama dirinya.


"Hehehe... Kenapa musti bertanya? Tentu saja boleh, ini kan rumah Amara juga." sahut Suherman terkekeh melihat kepolosan bocah itu.


"Benarkah? Yeay, Amara mau berenang Kek. Kakek temani Amara ya, soalnya Amara tidak bisa berenang." ungkap bocah itu jujur. Selama ini Alvian terlalu sibuk membangun bisnisnya sehingga jarang sekali mengajak Amara berlibur bahkan sekedar untuk berenang.


"Hmm... Ayo, tapi buka bajunya dulu ya!" angguk Suherman yang lagi-lagi tidak bisa menolak ajakan Amara.


"Duh, kenapa harus buka baju segala Kek? Malu tau," keluh Amara dengan bibir mengerucut.


"Hehehe... Maksud Kakek bukan polosan, tapi pakai pakaian dalaman saja untuk kali ini. Nanti Kakek belikan pakaian renang buat Amara," jelas Suherman.


"Oh, Amara pikir... Eh, Kakek mau belikan Amara pakaian renang?" tanya Amara mengulangi perkataan Suherman.


"Iya, Amara tidak mau?" jawab Suherman mengerutkan kening.


"Mau dong Kek, Kakek baik deh. Coba dari dulu Amara tau bahwa Amara masih punya Kakek, pasti Amara akan sangat bahagia." balas bocah itu, seketika hati Suherman mencelos mendengar penuturan Amara itu.

__ADS_1


Suherman merasa terenyuh, betapa sulitnya Alvian menghadapi Amara selama ini. Dia yang baru mengenal Amara saja sudah kewalahan menjawab pertanyaan bocah itu.


Lalu bagaimana dengan Alvian? Pasti dia selalu kesulitan menghadapi putrinya. Suherman tidak bisa membayangkan bagaimana perihnya hati Alvian saat Amara menanyakan tentang keberadaan ibunya.


Setelah Suherman membantu Amara membuka pakaian, dia pun melompat turun ke dalam kolam lalu menggendong Amara sembari mengajarinya berenang.


Bocah itu nampak sangat antusias dan berteriak kegirangan dengan kaki dan tangan berkecimpung seperti kodok.


"Jangan lepaskan Amara, Kek. Amara takut tenggelam," seru bocah itu, suaranya yang lengking terdengar jelas sampai ke kamar Anika.


Dari kamar sana Alvian tersentak kaget dan berlari menuju balkon. Wajah yang tadinya pucat, seketika mengulas senyum saat menangkap keberadaan putrinya yang tengah asik berenang bersama Suherman.


Hati Alvian mencelos menyaksikan pemandangan itu, dia bisa melihat betapa bahagianya Amara menikmati momen kecil seperti itu.


Dia merasa gagal menjadi seorang ayah, selama ini dia tidak sempat meluangkan waktu mengajak Amara bermain. Waktunya hanya terfokus pada usaha dan bisnis yang ditekuninya sehingga lupa membawa Amara berlibur.


"Jangan sedih dong Mas, harusnya Mas senang melihat Amara bisa tertawa selepas itu." ucap Anika sembari memeluk Alvian dari belakang. Anika menumpukan dagunya di pundak Alvian dan mendekapnya erat.


"Bagaimana tidak sedih? Amara terlihat sangat bahagia bersama Ayah, Mas merasa-"


"Tidak usah memikirkan yang sudah terjadi. Sekarang Amara tidak hanya memiliki kamu seorang, ada aku dan Ayah yang juga sangat menyayanginya. Amara tidak akan kekurangan kasih sayang lagi." bisik Anika.


Mendengar itu, Alvian pun berbalik dan bergantian memeluk Anika lalu mencium keningnya. "Terima kasih karena sudah mau menerima kami di hidup kalian, Mas-"


"Ngomong apa sih? Jangan lebay begitu!" potong Anika sembari mencubit pipi Alvian gemas lalu mengecup bibirnya sekilas. "Sudah, aku mau mandi dulu!"


Saat Anika hendak melangkah pergi, Alvian dengan cepat menahan tangannya. "Kenapa buru-buru begitu? Lanjutin dulu!" goda Alvian mengedipkan sebelah mata ke arah Anika.


"Hihi... Malas," sahut Anika terkekeh lalu menarik tangannya dan berlari memasuki kamar.


"Nika..." Alvian yang merasa geram kemudian berhamburan menyusul Anika.


Sesaat setelah berhasil menangkap istrinya, Alvian pun mendorong Anika hingga terjatuh di atas ranjang. "Aaaa..."


Alvian mengukungnya dengan tatapan mesum, tanpa aba-aba dia pun mulai mendaratkan ciuman ciuman kecil di wajah Anika dan berakhir di bibirnya. Alvian mengesapnya rakus sambil menahan tangan Anika agar tidak memberontak.


"Berani menggoda, harus berani pula menanggung akibatnya!" geram Alvian yang sudah dikuasai nafsu memburu mematut dada Anika yang kembang kempis menahan sesak.


"Aakhh... Mas..." pekik Anika saat Alvian menggigit benda kenyal yang masih terbungkus di dalam pakaian yang melekat di tubuh Anika.

__ADS_1


Perlahan satu persatu pakaian Anika terbang bebas entah kemana, Alvian pun melakukan hal yang sama hingga tubuh keduanya benar-benar polos.


Tidak lama, suara de*sahan pun mulai terdengar saat Alvian memasuki Anika dan berpacu mengejar puncak kepuasan.


__ADS_2