
Pagi hari usai membersihkan diri, Anika duduk di depan meja rias sembari menyisir rambutnya yang masih basah. Seketika raut wajahnya berubah murung memikirkan statusnya yang kini sudah menjadi istri orang.
Tadi sebelum mandi, Anika baru saja mendapat telepon dari Tuti. Pelayan itu mengatakan bahwa Suherman baru saja pulang dari luar kota dan mencari keberadaannya. Pria paruh baya itu ingin membahas mengenai pernikahan Anika yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.
Seketika Anika nampak bingung memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada Suherman bahwa dirinya sudah menikah dengan Alvian, Anika takut sang ayah tidak merestui pernikahan mereka.
Saat Anika masih termangu dalam lamunannya, Alvian tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi hanya berbalut handuk di pinggangnya. Dia kemudian menghampiri Anika dan memeluknya dari belakang, Alvian mengulas senyum mematut wajah cantik istrinya melalui pantulan cermin.
"Mas..." desis Anika membalas tatapan Alvian, dia tampak ragu untuk mengatakannya.
"Hmm..." gumam Alvian seraya mengecup sisi telinga Anika dan mempererat pelukannya.
"Ayah sudah pulang dari luar kota. Apa Mas mau menemaniku bertemu beliau?" tanya Anika penuh harap, dia takut Alvian tidak bisa menepati janji.
"Tentu saja mau. Kemanapun kamu pergi, Mas tidak akan pernah membiarkan kamu sendirian." sahut Alvian dengan yakin.
Mendengar itu, Anika sontak tersenyum dan menoleh ke belakang. "Makasih ya Mas, aku pikir-"
"Tidak usah mikir macam-macam! Sekarang kamu itu istri Mas, Mas akan bertanggung jawab penuh atas diri kamu. Apapun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama-sama." terang Alvian.
Anika lantas terenyuh mendengar itu, lalu dia pun bangkit dari duduknya dan berbalik. Dia mengecup bibir Alvian dengan lembut kemudian memeluknya erat. "Makasih, aku janji akan menjadi istri yang baik untuk Mas."
"Tidak usah berjanji, buktikan saja jika itu memang benar!" sahut Alvian mengulum senyum.
Anika pun menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia mulai yakin kalau Alvian memang pria yang tepat untuknya. Dia berharap Alvian benar-benar bisa membantunya mengungkap kebusukan sang ibu tiri.
Lalu Anika menarik Alvian ke sisi ranjang dan memilih duduk di sana. Anika mulai menceritakan awal mula hidupnya dihancurkan dan bagaimana menderitanya dia saat kehilangan ibu kandungnya. Sebab itulah Anika lari dari rumah dan memilih tinggal sendirian di kontrakan kecil yang pernah dia tempati.
Anika juga menceritakan bahwa kecelakaan yang menimpanya tempo hari merupakan faktor kesengajaan. Semua itu ulah ibu tiri dan calon suaminya yang ternyata bersekongkol untuk mendapatkan harta sang ayah.
Anika juga mengatakan kalau dia memiliki bukti kuat tentang perselingkuhan mereka. Kedua manusia tidak tau malu itu sudah melakukan perzinahan di belakang sang ayah dan dirinya.
Setelah menceritakan semua itu, Anika terisak dan memeluk Alvian sangat erat. "Mas, tolong bantu aku mengungkap kebenaran! Aku tidak ingin Ayah dimanfaatkan terus-terusan oleh mereka. Mereka itu jahat Mas, mereka sudah mencelakai aku. Aku sempat berpikir bahwa kematian ibu tidak wajar, aku yakin wanita itulah penyebabnya."
__ADS_1
Alvian terdiam sejenak, dia sangat bersimpati mendengar cerita hidup Anika lalu mendekapnya erat. "Sssttt... Sudah, jangan menangis lagi! Mas janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya, percaya sama Mas!"
Anika mendongakkan kepala dan mematut Alvian dengan intens. "Janji," gumamnya memastikan.
"Iya sayang, Mas janji. Mas akan melakukan segala cara agar kamu bahagia." Alvian mengusap pucuk kepala Anika dan mengecupnya dengan sayang.
"Makasih ya Mas, makasih." lirih Anika berderai air mata.
"Bukan begitu caranya berterima kasih," selang Alvian mengulum senyum.
"Lalu?" Anika menautkan alis bingung.
"Masa' hal begituan harus diajarin sih, pasti kamu sudah tau caranya." seloroh Alvian tersenyum nakal.
"Mas..." rengek Anika seraya mencubit ujung dada Alvian dan menariknya gemas.
"Aakhh... Jangan dicubit, sayang! Dengan cara lain bisa, kan?" de*sah Alvian menggoda Anika.
"Apaan sih, Mas?" Anika sedikit menjauh sembari mengerucutkan bibir.
Kemudian Alvian mengenakan pakaian itu dan merapikan rambutnya di depan cermin.
Tidak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Anika yang mendengar itu langsung berdiri dan melangkah menuju pintu lalu membukanya.
"Mama..." pekik Amara lantang, lalu berhamburan memeluk pinggang Anika.
"Sayang, anak Mama sudah bangun?" ucap Anika, dia kemudian berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Amara lalu memeluknya dengan sayang.
"Sudah dong Ma, Amara juga sudah mandi. Amara wangi kan, Ma?" celetuk gadis kecil itu sembari tersenyum sumringah.
"Iya sayang, anak Mama sangat wangi dan cantik." angguk Anika lalu mencium pipi Amara di setiap sisinya. Alvian yang melihat pemandangan itu lantas tersenyum dan menghampiri mereka berdua.
"Papa tidak dipeluk?" kata Alvian memanyunkan bibir.
__ADS_1
"Pa..." Amara mematut Alvian sekilas lalu melepaskan pelukannya dari Anika dan beralih memeluk sang papa.
"Hehehe... Amara sudah tidak marah lagi sama Papa?" tanya Alvian memastikan.
"Tidak," geleng Amara cepat.
Alvian kembali tersenyum mendengar itu, dia menggendong Amara di bahunya lalu menggenggam tangan Anika dengan tangan lainnya. Mereka bertiga meninggalkan kamar dan berjalan menuju meja makan.
Setelah mendudukkan Amara di kursi, Alvian dan Anika ikut duduk bersama Ratih yang sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu. Mereka berempat mulai menyantap sarapan yang sudah terhidang di atas meja.
Usai sarapan, Alvian mengatakan pada Ratih agar menemani Amara di sekolah. Dia dan Anika harus pergi untuk menemui seseorang, Alvian tidak bisa menceritakan siapa yang ingin dia temui.
Setelah Ratih menyetujui permintaannya, Alvian pamit lebih dulu. Beruntung Amara mau mengerti, yang terpenting baginya Anika tidak boleh pergi lagi dari kehidupannya.
"Papa sama Mama pergi dulu ya, nanti Amara ke sekolahnya diantar Pak Munir saja. Amara tidak apa-apa kan?" ucap Alvian.
"Iya Pa, tapi pulangnya harus sama Mama ya!" jawab Amara.
"Iya sayang, Mama janji tidak akan pergi lagi. Sekarang Mama akan tinggal di rumah ini selamanya." timpal Anika, kemudian mencium pipi Amara dengan sayang.
Amara yang mendengar itu lantas tersenyum dan tertawa kegirangan.
Lalu Alvian dan Anika meninggalkan rumah lebih dulu. Mereka berdua memasuki mobil dan melesat pergi menyusuri jalan raya.
Sepanjang perjalanan, Anika nampak termenung dalam pemikirannya sendiri. Raganya saja yang berada di mobil itu tapi pikirannya tengah melayang entah kemana.
Ada rasa takut, khawatir dan cemas saat dirinya memikirkan akan bertemu kembali dengan sang ibu tiri, wanita yang sangat dia benci sepanjang hidupnya.
"Mikirin apa?" tanya Alvian saat menyadari perubahan raut wajah istrinya.
Anika terperanjat dan menoleh ke arah Alvian, dia menatapnya dengan intim. "Aku takut, Mas."
"Tidak usah takut, sekarang ada Mas. Kamu tidak sendirian lagi," ucap Alvian menenangkan Anika.
__ADS_1
"Mmm..." angguk Anika, lalu memeluk lengan Alvian dan menyandarkan kepalanya di sana.