
"Nika, kamu sebenarnya kenapa? Kalau ada masalah, tolong bicarakan baik-baik! Kalau seperti ini, Mas jadi bingung." tanya Alvian setelah tiba di kamar, dia duduk di tepi ranjang sambil mengusap rambut istrinya pelan.
Alvian mulai pusing melihat tingkah Anika yang jauh berbeda dari biasa. Dia sendiri tidak tau kesalahan apa yang sudah dia perbuat pada istrinya itu.
"Pergi Mas, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" usir Anika sambil menyingkirkan tangan Alvian dari kepalanya. Entah kenapa dia merasa malas melihat muka suaminya.
"Kamu yakin mau mengusir Mas dari sini?" tanya Alvian memastikan sambil mengerutkan kening. Ini benar-benar diluar dugaannya.
"Iya, pergi saja kemanapun yang kamu inginkan! Aku tidak peduli," sahut Anika ketus tanpa ragu, lalu beranjak dan memunggungi Alvian.
Alvian seketika tersenyum getir. "Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, Mas akan pergi." ucap Alvian merasa kecewa, kepalanya mengangguk lemah. Dia pun memilih bangkit dari duduknya, dia mulai lelah dan kesulitan memahami perubahan sikap Anika yang begitu tiba-tiba.
Dia tidak menyangka bahwa Anika bisa setega ini padanya. Alvian juga sadar akan posisinya yang tidak layak berada di rumah itu.
"Kalau begitu Mas pulang dulu, Mas juga akan membawa Amara ke rumah. Jika kamu ingin sendiri, maka tenangkan lah hatimu terlebih dahulu! Maaf kalau Mas punya salah yang disengaja maupun tidak."
Setelah mengatakan semua itu, dengan berat hati Alvian pun meninggalkan Anika dan berjalan menuju kamar Amara. Dia mengetuk pintu dan memanggil putrinya lalu mengajaknya pulang ke rumah.
Amara yang tadinya masih kesal pada Anika, menurut saja saat Alvian menggenggam tangan mungilnya dan berjalan menuju teras. Dia pun tidak banyak bicara dan hanya diam saat meninggalkan rumah itu.
Setelah mobil Alvian menghilang dari gerbang, Anika meluapkan tangisan sejadi-jadinya. Dia sedih harus berpisah dengan Alvian, tapi dia juga kesal mengingat apa yang Lira katakan pagi tadi.
Sebenarnya Anika tidak ingin seperti ini. Dia sendiri bingung kenapa harus membesar-besarkan masalah tanpa berani bertanya langsung tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Setibanya di rumah, Alvian meminta Ratih menemani Amara di kamar bocah itu. Dia pun masuk ke kamarnya dan memilih berbaring dengan pikiran kacau tak menentu.
Andai Anika mau mengatakan apa yang terjadi padanya, Alvian tentu tidak perlu pulang tanpa membawa Anika bersamanya. Akan tetapi, ini merupakan keinginan Anika sendiri, Alvian tidak bisa memaksakan kehendaknya.
Hanya saja sampai detik ini Alvian masih bingung memikirkan perubahan yang terjadi pada istrinya.
Sebenarnya apa yang telah terjadi sepeninggal Alvian? Kenapa Anika menjadi tidak berperasaan seperti ini?
Padahal sebelum meninggalkan kediaman Suherman pagi tadi, Anika nampak biasa-biasa saja. Dia malah berat melepas kepergian Alvian.
__ADS_1
Alvian pun merasa tidak melakukan kesalahan meski sekecil biji bayam sekalipun. Ini benar-benar aneh, kepala Alvian seketika ingin pecah dibuatnya.
Lama termenung dalam pemikiran yang bercabang sampai kemana-mana, Alvian pun akhirnya tertidur dengan kedua tangan terlipat di atas kepala.
Tidak hanya lelah fisik, dia juga lelah hati memikirkan istrinya.
Di kediaman Suherman, Anika tengah termenung di sisi kolam renang sembari mematut genangan air yang terlihat sangat tenang.
Hatinya mencelos, perasaannya tiba-tiba menjadi tidak tenang memikirkan suaminya.
"Apa ini benar?" batin Anika dalam ketidakberdayaan.
Anika merasa sangat kehilangan walau baru beberapa jam saja tidak melihat suaminya.
Ya, Anika tidak biasa seperti ini. Dia tidak bisa jauh-jauh dari Alvian. Semenjak menikah, dia tidak pernah berjauhan kecuali saat Alvian mengunjungi restoran.
Mendadak perasaan Anika berubah menjadi tidak tenang. Bagaimana tidak, jika dibiarkan seperti ini, tentu saja Lira akan tertawa melihat hubungan mereka yang tidak baik-baik saja.
Dengan pemikiran buruk yang tiba-tiba hinggap di benaknya, Anika berhamburan dari sisi kolam dan berlarian memasuki rumah. Dengan pakaian ala kadarnya, dia pun menyambar kunci mobil yang terletak di atas lemari pajang.
Anika kemudian bergegas mengayunkan kaki menuju garasi mobil. Sebuah sedan mewah keluar dari sana dan melaju meninggalkan gerbang.
Tidak butuh waktu lama, kurang dari setengah jam mobil yang dikemudikan Anika sudah terparkir di halaman rumah Alvian.
Anika turun terburu-buru setelah mematikan mesin lalu berlari kecil memasuki rumah.
Melihat keadaan rumah yang sangat sepi, kepala Anika celingak celinguk ke sisi kiri dan kanan sembari memutar tubuhnya. Tidak ada seorangpun yang dia lihat sehingga rasa bersalah pun muncul di hatinya.
Apa Alvian belum pulang ke rumah? Kenapa suasana rumah itu sangat hening layaknya pemakaman umum?
Anika yang merasa panik sontak berhamburan memasuki kamar, seketika kakinya terasa lemah saat mendapati Alvian yang masih tertidur lelap di atas ranjang.
Anika yang melihat itu langsung menyentuh dada sembari menghembuskan nafas lega. Beruntung semua tidak seperti yang dia pikirkan.
__ADS_1
Pelan-pelan Anika melangkahkan kaki menuju ranjang, hatinya mencelos mematut wajah lelap suaminya yang nampak begitu sendu. Anika bisa melihat ada guratan kesedihan di wajah tampan itu.
"Maafkan aku, Mas." lirih Anika sembari menekuk kaki di sisi ranjang, dia pun mengelus pipi Alvian lembut menandakan bahwa dia sangat sayang pada suaminya itu.
Anika menyesal menuruti ego, pada kenyataannya dia tidak bisa berjauhan dari Alvian.
Kemudian Anika menaiki ranjang dan berbaring di atas tubuh Alvian. Dia memeluknya seperti seekor katak.
Merasa ada yang menindih tubuhnya, Alvian tiba-tiba tersentak dan membuka mata perlahan. Seketika dia pun tersenyum getir dan kembali memejamkan mata. "Bahkan dalam mimpi pun hanya kamu yang terlihat di mata Mas," gumam Alvian melanjutkan tidurnya kembali.
Ya, Alvian tidak menyadari bahwa yang dia lihat barusan benar-benar istrinya. Dia merasa sedang memimpikan Anika karena rasa rindunya yang sangat besar.
Anika yang mendengar itu mendadak terkekeh sambil menutup mulut dengan cepat. Dia merasa lucu mendengar igauan Alvian.
"Mas, ini bukan mimpi. Ini benar-benar aku, aku pulang Mas." desis Anika tepat di daun telinga Alvian, kali ini Alvian menggeliat geli saat merasakan hangatnya hembusan nafas Anika.
"Aakhh..."
Alvian tiba-tiba mende*sah kala sekujur tubuhnya merinding dengan bulu-bulu halus yang berdiri di permukaan kulit.
Dadanya mendadak sesak seiring detak jantung yang berdegup semakin kencang. Dia merasa mimpi ini sangat nyata, dia bahkan bisa merasakan ada yang bergerak dari dirinya.
"Uukhh..."
Tanpa sadar, Alvian memeluk Anika erat dan bergumam. "Mas rindu kamu, sayang. Kenapa kamu jahat sekali sama Mas? Apa salah Mas sama kamu?"
Mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Alvian, hati Anika terenyuh seiring kelopak mata yang berkaca-kaca menahan butir-butir kristal yang hendak jatuh.
"Maafin aku, Mas. Aku yang salah," lirih Anika menangisi kebodohannya di dada Alvian.
Dia menyesal sempat mencurigai Alvian tanpa bukti yang jelas, padahal dia sendiri tau betul bahwa Alvian sangat mencintainya.
Mana mungkin Alvian mau kembali lagi bersama wanita yang pernah meninggalkan luka di hatinya. Alvian tidak akan sebodoh itu.
__ADS_1