
"Sial, rumah macam apa ini?" umpat Lira sesaat setelah tiba di lokasi perumahan yang diberikan Suherman untuknya.
Dia memandangi pekarangan rumah itu dengan seksama. Rumput-rumput sudah meninggi, kumuh dan bau, banyak sampah berserakan di mana-mana.
Ya, sepertinya rumah tersebut sudah lama tidak ditempati. Suram seperti rumah-rumah yang ada di film horor.
Lira pikir Suherman akan memberinya rumah mewah bernilai miliaran rupiah, tapi ternyata hanya gubuk reyot yang sama sekali tidak sesuai dengan keinginannya.
Karena tidak suka dengan rumah itu, Lira pun mendongkol saking kesalnya. Dia tidak bisa seperti ini, setelah melakukan segala cara, dia harus tetap mendapatkan apa yang dia inginkan.
Kemudian Lira mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas. Dia mencoba menghubungi Rio, pria muda yang menjadi selingkuhannya.
Saat sambungan telepon itu terhubung, Lira meminta Rio menjemputnya ke tempat itu. Dia tidak mau menempati rumah kecil dan kumuh itu.
Akan tetapi, Rio justru menolak permintaannya dan menyalahkan Lira atas semua yang sudah terjadi. Dia sendiri harus kehilangan rumahnya karena baru saja disita oleh perusahaan Suherman. Tidak hanya rumah, bahkan kendaraan dan beberapa aset lain juga ikut diambil alih.
Sekarang hidupnya hancur berantakan karena terlena dengan rayuan maut Lira, dia tidak menyangka bahwa semuanya akan berakhir seperti ini. Satu-satunya yang tersisa hanya apartemen yang pernah dia beli dari hasil kerja kerasnya sendiri.
"Brengsek, kalian semua benar-benar tidak punya hati." umpat Lira melepaskan kekesalannya. Dia berteriak histeris seperti orang kesurupan dan membanting ponselnya ke tanah.
"Suherman, aku tidak akan membiarkanmu bahagia di atas penderitaanku. Aku akan menghancurkan mu melebihi ini, aku tidak akan tinggal diam atas semua penghinaan ini." pekik Lira terduduk lesu di tanah, dia mengacak rambutnya frustasi.
Di kediaman Alvian...
"Mas..." panggil Anika.
"Hmm... Kenapa sayang?" gumam Alvian yang tengah asik memainkan iPhone miliknya.
Anika menghampiri Alvian yang tengah duduk di sofa lalu menjatuhkan diri di atas pangkuan suaminya itu. Anika mengalungkan tangan di tengkuk Alvian dan menatapnya dengan intim.
"Ada apa sayang? Tumben manja begini?" seloroh Alvian mengulas senyum. Dia menaruh gawai miliknya di atas sofa dan memeluk pinggang Anika dengan erat.
"Kok ngomongnya gitu sih? Apa aku tidak boleh seperti ini?" keluh Anika dengan bibir mengerucut.
"Loh, kok jadi ngambek gini? Mas kan cuma nanya," desis Alvian mengerutkan kening.
__ADS_1
"Nanya sih nanya, tapi kesannya seakan tidak suka melihatku seperti ini." Anika ingin menjauh tapi Alvian malah semakin mempererat pelukannya.
"Sudah, jangan bodoh jadi orang. Buang jauh-jauh pikiran aneh itu!" dengus Alvian lalu mencium kening Anika dengan sayang. Anika lantas tersenyum dan mengecup pipi Alvian dengan lembut.
Sesaat setelah suasana hatinya membaik, Anika kemudian menceritakan apa yang ingin dia katakan pada Alvian.
Ya, beberapa saat yang lalu dia baru saja mendapat telepon dari Suherman. Pria paruh baya itu sudah mengatakan semuanya pada Anika.
Sekarang masalah Lira sudah selesai dan Anika tidak perlu takut lagi untuk sering-sering pulang ke rumahnya.
Suherman juga berharap agar Anika mau tinggal di rumah itu dan membawa Alvian serta Amara bersamanya. Hal itulah yang ingin Anika bahas dengan Alvian.
"Bagaimana menurut Mas?" tanya Anika setelah berbicara panjang lebar.
Alvian tidak langsung menjawab, dia terdiam beberapa saat memikirkan bagaimana cara menolak agar Anika tidak tersinggung.
Bukannya Alvian tidak mau tinggal di rumah mertuanya, akan tetapi Alvian ingin membangun rumah tangganya sendiri sesuai kemampuan yang dia miliki.
Dia tidak ingin dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab.
"Mas tidak akan pernah melarang kamu untuk pulang ke rumah Ayah. Kamu bebas mau ke sana kapanpun yang kamu inginkan. Tapi untuk tinggal, Mas rasa itu tidak mungkin." ucap Alvian dengan sangat hati-hati untuk menjaga perasaan Anika.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Anika menautkan alis.
"Sayang, Mas ini suami kamu. Mas ingin kita berdua berdiri di atas kaki kita sendiri. Mas tau kamu punya segalanya, kamu pewaris tunggal semua aset milik Ayah. Tapi kamu jangan sampai lupa bahwa kamu itu adalah seorang istri. Bukankah tempatnya istri itu di sisi suaminya?" jelas Alvian.
"Iya, Mas benar." angguk Anika pelan.
"Nah, kalau begitu nurut ya. Kita akan tetap tinggal di rumah ini. Jika kamu ingin menginap di rumah Ayah, Mas tidak keberatan. Yang penting wanita itu tidak ada lagi di sana." imbuh Alvian.
"Ya sudah, terserah Mas saja." angguk Anika lesu.
Meski sedikit kecewa, tapi Anika bisa mengerti maksud suaminya. Memang seharusnya seperti itu kan? Seorang istri harus berada di sisi suaminya dalam keadaan apapun dan bagaimanapun.
"Sudah, jangan sedih. Besok kita ke sana dan menginap," ucap Alvian mengulas senyum, dia memeluk Anika erat seraya mencium pucuk kepalanya. Anika hanya mengangguk sambil bergelayut di tengkuk Alvian.
__ADS_1
...****************...
Keesokan hari, Anika nampak bersemangat menyiapkan beberapa pasang pakaian ganti untuk Alvian yang akan dia bawa ke rumah Suherman kemudian membereskan pakaian Amara.
Meski tidak bisa tinggal di rumahnya, setidaknya Anika senang karena Alvian mau diajak menginap di sana.
"Ma, kenapa pakaian Amara dimasukkan ke dalam tas? Kita mau kemana, Ma?" tanya Amara penasaran dengan mata menyipit dan alis bertautan.
"Kita mau pergi ke rumah kakek, Amara mau ikut apa tinggal sama Bi Ratih?" jawab Anika menggoda bocah itu.
"Yeay, kita mau ke rumah kakek? Amara ikut Ma, Amara ikut." seru bocah itu dengan lantang. Dia sangat antusias karena ingin sekali bertemu dengan sang kakek.
Setelah Anika selesai menyiapkan pakaian Amara, keduanya meninggalkan kamar dan menaruh tas kecil milik bocah itu di sofa.
Baru saja Anika hendak memanggil Alvian ke kamar, pria itu sudah lebih dulu muncul dengan pakaian kasual yang melekat di tubuhnya.
Anika mengulas senyum mematut suaminya dan melangkah mendekatinya. "Tampan," sanjung Anika tersipu malu.
"Hihi, benarkah?" Alvian tiba-tiba terkekeh dan mencubit hidung Anika gemas. "Sudah siap?" imbuhnya seraya merangkul pundak Anika.
"Sudah," angguk Anika cepat dan memeluk pinggang Alvian erat. Keduanya melangkah menghampiri Amara yang tengah berpamitan pada Ratih.
Setelah keduanya ikut pamit, mereka pun meninggalkan rumah dan masuk ke dalam mobil. Anika duduk di bangku depan tepat di samping Alvian, Amara pun memilih duduk di pangkuan sang mama.
"Kami pergi dulu, hati-hati di rumah!" seru Alvian pada Ratih yang masih berdiri di samping mobil.
"Iya, kalian juga hati-hati." sahut Ratih.
"Dah Bibi," sorak Amara kegirangan.
"Dah sayang," jawab Ratih mengulas senyum.
"Kami pergi dulu ya, Mbak." sambung Anika sembari melambaikan tangan.
"Iya, bersenang-senanglah." balas Ratih sambil melambaikan tangan ke arah mereka bertiga.
__ADS_1
Alvian kemudian menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Dalam hitungan detik saja mobil itu sudah menghilang dari pandangan Ratih.