Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
39. Mengirim Bukti


__ADS_3

"Gila kamu, Mas. Pinggang aku rasanya mau copot nih, pegal tau." keluh Anika sesaat setelah selesai membersihkan diri.


Gara-gara Alvian, dia harus mandi dua kali pagi ini. Untung saja tadi dia sudah sempat memasak, kini buat berjalan saja dia rasanya tidak sanggup.


"Hehe... Tapi kamu suka kan, sayang?" seloroh Alvian tertawa kecil, dia sangat puas karena sudah berhasil membuat Anika menjerit berulang kali.


"Suka sih suka, tapi sekarang aku tidak kuat lagi untuk berjalan. Mas tanggung jawab dong, gendong kek." pinta Anika dengan manja.


Alvian yang mendengar itu lantas terkekeh dan membungkukkan punggung. Dia mencium pucuk kepala Anika yang tengah duduk di depan meja rias. "Mau gendong depan atau belakang?" tawarnya.


"Terserah Mas saja," sahut Anika mengulas senyum.


Alvian kemudian berjongkok di lantai dengan posisi memunggungi Anika. Wanita itu tersenyum sumringah dan dengan cepat memanjat punggung Alvian lalu memeluk tengkuk suaminya itu dengan erat.


"Dasar manja!" umpat Alvian menahan tawa.


"Biarin," jawab Anika santai.


Alvian pun bangkit dari jongkoknya dan berjalan meninggalkan kamar. Anika yang berada di gendongannya seketika tertawa terbahak-bahak.


Awalnya dia hanya ingin menguji Alvian, akan tetapi suaminya itu malah mengindahkan permintaannya tanpa penolakan. Tentu saja Anika sangat senang, menurutnya Alvian pandai sekali mengambil hatinya.


Sesampainya di ruang makan, Alvian menarik kursi dan mendudukkan Anika di sana. Melihat sarapan yang sudah terhidang di atas meja, Alvian pun dengan cepat mengisi piringnya dengan makanan.


"Suapi dong, Mas!" pinta Anika yang kembali bertingkah manja di depan Alvian.


Tidak hanya itu, dia bahkan tanpa ragu meninggalkan kursi yang dia duduki dan berpindah ke pangkuan Alvian. Dia pun tidak segan mengalungkan tangan di tengkuk suaminya itu.


"Ada apa nih? Kok tiba-tiba jadi manja begini?" Alvian mengerutkan kening bingung, dia pikir Anika tengah merencanakan sesuatu di belakangnya.


"Ya sudah kalau tidak boleh," Anika hendak menjauh tapi Alvian dengan sigap mengapit pinggangnya.


"Jangan marah dong, sayang! Mas kan cuma nanya," jelas Alvian merasa tidak enak hati.


"Siapa juga yang marah?" sahut Anika datar seperti meja yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Tidak ingin berdebat karena permasalahan sepele barusan, Alvian kemudian memeluk pinggang Anika dengan sebelah tangan. Sedangkan tangan lainnya dengan cepat meraih sendok dan mulai menyuapi Anika.


Alvian menyuap makanan yang ada di piringnya bergantian, dari mulut Anika kemudian berpindah ke mulutnya lalu Anika lagi. Begitulah seterusnya sampai perut keduanya benar-benar kenyang.


"Aghhkk..." saking kenyangnya, Anika sampai bersendawa di telinga Alvian.


"Astaga sayang, tidak sopan ih." omel Alvian.


"Maaf Mas, itu namanya reflek." kata Anika enteng.


"Reflek sih reflek, apa tidak bisa mulutnya sedikit ditutup?" ucap Alvian.


"Yaelah Mas, masa' gitu doang diomelin? Lagian di sini cuma ada kita berdua kok, kenapa musti jaim segala?" Anika mengerucutkan bibir, dia merasa Alvian terlalu berlebihan menegur dirinya.


Lalu Anika bangkit dari pangkuan Alvian dan lekas mengambil air putih yang ada di atas meja. Setelah menyeruputnya, Anika pun berlalu pergi tanpa sepatah katapun.


Alvian yang melihat itu seketika mengerutkan kening. Apa Anika marah? Tapi kan maksudnya baik.


"Sayang, tunggu!" panggil Alvian selepas meneguk air putih dan berlari kecil menyusul Anika yang sudah tiba di halaman depan.


Anika memilih duduk di bangku taman sembari menikmati cerahnya sinar mentari pagi.


Anika berpikir mungkin Suherman akan lebih percaya pada Lira ketimbang dirinya. Dari awal pria paruh baya itu sudah dibutakan oleh kecantikan mantan istri Alvian.


Sebesar apapun kebenaran, akan kalah karena mata hati Suherman yang sudah tertutup rapat. Dia lebih percaya pada istri yang baru lima tahun dinikahinya dibanding darah dagingnya sendiri.


Lama termangu dalam pemikirannya, Anika tersentak saat Alvian tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Pria itu merangkul lengan Anika dan mendekapnya erat. "Maafin Mas ya, Mas salah."


Anika mengerjap dan mendongakkan kepala. "Tidak apa-apa, aku tidak marah."


"Lalu?" Alvian menatap lekat manik mata Anika, ada kesedihan yang dia lihat di sana.


"Aku kepikiran sama Ayah," ungkap Anika.


"Mau ke sana lagi?" tawar Alvian.

__ADS_1


Anika sontak menggeleng mendengar itu. "Tidak perlu, Ayah tidak akan percaya padaku."


Alvian diam sejenak, sebenarnya dia juga malas menginjakkan kaki di rumah itu.


"Oh ya, katanya kamu punya bukti perselingkuhan Lira dan calon suamimu itu." ucap Alvian.


"Mantan namanya Mas, bukan calon. Ngomong tuh yang benar bisa tidak?" kesal Anika menajamkan tatapan.


"Haha... Iya, maksud Mas itu." Alvian terkekeh melihat raut muka masam istrinya yang menggemaskan.


"Dasar tidak punya hati! Istri sendiri malah dikatain punya calon suami. Apa aku harus kembali padanya? Iya, aku harus-"


"Ngomong apa sih, sayang?" potong Alvian seraya membungkam mulut Anika dengan telapak tangan.


"Awas saja kalau berani macam-macam!" imbuh Alvian dengan nada mengancam.


Anika yang mendengar itu lantas mengulum senyum. "Makanya kalau bicara tuh dipikirkan dulu!" kemudian Anika menjauhkan diri dan melangkah masuk ke dalam rumah. Dia teringat dengan ucapan Alvian tadi.


Ya, bukankah Anika memiliki bukti rekaman yang dia ambil tempo hari?


Anika baru menyadarinya. Kenapa tidak dia kirimkan saja video itu kepada sang ayah? Dengan begitu Suherman akan tau seberapa busuknya Lira yang dia agung-agungkan selama ini.


Anika mengukir senyum licik saat kakinya menginjak lantai kamar. Dia lekas berjalan mengambil iPhone miliknya yang terletak di atas nakas.


Sebelum mengirim salinan rekaman tersebut, Anika memutuskan untuk menelepon Suherman terlebih dahulu. Dia ingin memastikan bahwa sang ayah lah yang memegang ponsel. Dia tidak ingin salah langkah, kalau Lira yang membukanya, itu tidak akan baik.


Beruntung Suherman sendiri lah yang menjawab panggilan itu, dia mengatakan bahwa dirinya sedang berada di lokasi sebuah proyek. Anika pun mematikan sambungan telepon itu dan segera mengirim video yang sudah dia siapkan.


"Aku harap Ayah bisa membuka mata lebar-lebar. Beginilah kelakuan istri tercinta Ayah itu saat Ayah tidak sedang di rumah." Anika pun mengirim pesan itu untuk meyakinkan sang ayah. Berharap kali ini Suherman percaya padanya.


Sembari menunggu Suherman membalas pesannya, Anika kemudian membaringkan diri di kasur. Dia ingin meregangkan otot sejenak sambil mengotak-atik layar iPhone miliknya.


"Lagi ngapain? Kok senyum-senyum begitu?" tanya Alvian yang baru tiba di kamar. Keningnya mengernyit mematut Anika yang terlihat mencurigakan.


"Lagi chatting sama mantan," jawab Anika enteng sambil mengulum senyum.

__ADS_1


"Nika..." Alvian lantas meninggikan suara mendengar jawaban istrinya. Karena kesal dia pun merampas ponsel Anika dan berjalan menjauhinya.


Anika yang terkejut hanya bisa melongo menatap Alvian yang tengah menekuk kaki di sofa. Alvian pun memeriksa ponsel istrinya dan memblokir beberapa kontak pria yang ada di sana, tidak terkecuali nomor Rio yang masih disimpan Anika hingga detik ini.


__ADS_2