
Malam hari, Anika dan Alvian hanya makan berdua saja di meja makan. Sementara Suherman dan Amara meninggalkan rumah sejak sore tadi, keduanya mengunjungi mall untuk membeli apa saja yang diinginkan bocah itu.
Sesuai janji Suherman tadi, dia pun membelikan beberapa pakaian renang untuk Amara. Setelah itu membeli pakaian tidur, sendal, aksesoris, beberapa mainan dan boneka.
Setelah mendapatkan semua yang Amara inginkan, Suherman pun mengajak Amara makan malam di sebuah restoran. Tanpa Suherman sadari, tenyata restoran yang mereka kunjungi tersebut tak lain adalah restoran milik Alvian.
Suherman mengerutkan kening saat seorang satpam menyambut kedatangan Amara dengan ramah, apalagi saat satpam itu memanggil Amara dengan sebutan nona kecil.
Tak berhenti di sana, saat mereka sudah duduk pun para pelayan menyambut mereka dengan sangat istimewa. Suherman menatap pelayan itu dengan raut bingung lalu beralih mematut Amara yang terlihat sangat santai.
"Amara..." panggil Suherman setelah para pelayan itu meninggalkan meja mereka.
"Iya Kek," sahut bocah itu.
"Apa Amara kenal sama mereka? Kenapa mereka semua menundukkan kepala di depan Amara? Apa Amara sering makan di sini?" tanya Suherman penasaran.
"Tentu saja sering, Kek." sahut Amara enteng sambil memainkan boneka yang dibelikan Suherman untuknya.
"Oh, berarti sudah langganan dong." balas Suherman.
"Ya, begitulah kira-kira." angguk Amara membenarkan.
Tidak berselang lama, beberapa pelayan menghampiri mereka berdua sembari membawa beberapa menu makanan yang tadi sudah dipesan. Keduanya mulai makan dengan lahap, apalagi Amara yang terlihat begitu bersemangat hingga mulutnya belepotan.
"Hehehe... Pelan-pelan dong sayang, mulutnya jadi kotor itu." Suherman terkekeh melihat tingkah menggemaskan bocah itu, dia pun mengambil tisu dan menyeka bibir Amara.
"Habis makanannya enak sekali, Amara suka." sahut bocah itu lalu melanjutkan makannya.
"Oh, berarti lain kali kita makan di sini lagi ya." ucap Suherman.
"Kenapa harus lain kali, Kek? Tiap hari juga boleh," jawab Amara gamblang dengan senyuman yang sangat manis.
Sontak Suherman mengerutkan dahi mendengar itu. Apa Amara tidak bosan jika setiap hari makan di sana? Lagian harga makanan di tempat itu cukup menguras dompet, sesuai dengan rasa yang disuguhkan.
Usai makan dan menyantap eskrim kesukaannya, Amara pun meninggalkan meja barang sejenak. Dia berjalan menuju kasir dan berbicara dengan seorang gadis yang bertanggung jawab di meja itu.
Dari kejauhan Suherman hanya bisa geleng-geleng kepala, dia penasaran dengan apa yang dilakukan Amara di sana.
__ADS_1
Mengingat hari yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Suherman pun memilih bangkit dari duduknya. Dia melangkah menyusul Amara dan mengeluarkan dompet dari saku celana.
"Berapa semuanya, Dek?" tanya Suherman yang hendak membayar tagihan.
"Maaf Tuan, semuanya sudah dibayar." sahut gadis itu dengan ramah.
"Sudah dibayar?" Suherman lagi-lagi mengerutkan kening bingung. Siapa yang membayar tagihannya? Tidak mungkin Amara kan? Bocah itu bahkan tidak membawa uang sepersen pun.
"Adek yakin? Tapi siapa yang membayarnya?" tanya Suherman heran.
"Ayo Kek, pulang yuk!" timpal Amara sembari menggenggam tangan Suherman lalu menariknya keluar.
"Tunggu sayang, Kakek belum membayar makanannya." Suherman menahan langkahnya di ambang pintu.
"Apa Kakek tidak dengar yang dikatakan kasir tadi? Semuanya sudah dibayar Kek, masa' Kakek harus bayar lagi?" Amara menahan tawa dan kembali menarik tangan Suherman.
Sesampainya di mobil, keduanya masuk dan duduk berdampingan di bangku depan. Suherman pun melajukan mobil itu dengan pikiran yang masih tertinggal di restoran.
Sepanjang perjalanan, kening Suherman terus saja mengkerut memikirkan keanehan tadi. Sedangkan Amara sendiri sudah masuk ke alam mimpi.
Sesampainya di rumah, Suherman turun lebih dulu dan menggendong Amara tanpa membangunkannya. Dia membawa Amara masuk dan disambut oleh Alvian yang tengah duduk di ruang tengah.
Sepeninggal Alvian, Suherman pun duduk di sofa. Tidak lama, Anika datang membawakan secangkir kopi untuk Alvian. "Ayah sudah pulang?" tanyanya mendapati Suherman yang terperangah dengan kening mengernyit.
"Hmm... Baru saja," angguk Suherman dengan punggung tersandar di sandaran sofa.
"Ayah mau kopi?" tanya Anika lagi.
"Tidak usah sayang, Ayah masih kenyang. Tadi ngajakin Amara makan di restoran," jawab Suherman.
"Maafin Anika ya, Yah. Pasti Ayah kerepotan ulah Amara." ucap Anika merasa tidak enak hati lalu memilih duduk di samping Suherman.
"Tidak apa-apa, Ayah tidak keberatan sama sekali. Hanya saja Ayah sedikit bingung," sahut Suherman yang masih saja memikirkan kejadian di restoran tadi. Dia penasaran siapa orang yang sudah melunasi tagihannya.
"Bingung kenapa, Yah?" tanya Anika menautkan alis.
"Itu..."
__ADS_1
Suherman menghela nafas berat lalu menjelaskan semua yang terjadi di restoran tadi, dia merasa seperti orang bodoh yang masih saja mencari jawaban akan teka teki itu.
Seumur-umur belum pernah dia dibandari makan seperti tadi, dia tidak tau siapa orang yang sudah melakukan itu padanya.
"Memangnya Ayah makan di restoran mana?" tanya Anika mencari tau.
"Aduh, Ayah lupa nama restorannya. Restoran itu ada di jalan Perintis, tidak jauh dari mall." jelas Suherman sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Hahaha..." seketika Anika terkekeh mendengar penuturan Suherman, dia pikir sang ayah sudah masuk ke dalam jebakan Amara. Pintar sekali bocah itu, bisa-bisanya dia membuat seorang Suherman kebingungan seperti ini.
"Loh, kenapa kamu tertawa? Apanya yang lucu?" Suherman pun mengernyit mematut Anika yang bersandar di lengannya.
"Ayah, Ayah..." Anika geleng-geleng kepala sambil menjauhkan diri dari Suherman. "Restoran itu milik Mas Alvian, Yah. Wajar saja pelayan di sana menyambut kalian dengan sangat istimewa. Lagian mana mungkin kasir itu berani mengambil uang Ayah, itu pasti kerjaannya Amara, Ayah sudah dikerjai oleh bocah itu." terang Anika tertawa terbahak-bahak.
"Apa?" Suherman yang mendengar itu terperanjat dengan mata membulat sempurna.
"Iya Ayah, restoran itu hasil kerja keras Mas Alvian selama ini. Dia juga memiliki beberapa restoran cabang di luar kota." imbuh Anika.
"Astaga, jadi Amara yang melakukan itu pada Ayah? Pantas saja tadi dia berbisik-bisik di meja kasir. Dasar bocah nakal, awas saja nanti!" geram Suherman yang ikut terkekeh menyadari kebodohannya yang hakiki.
Seorang pengusaha sukses dan pintar sepertinya ternyata bisa kalah sama bocah ingusan yang baru berusia seumur jagung.
"Hmm... Begitulah dia, sangat menggemaskan." ucap Anika mengganti tawanya dengan senyuman. Suherman yang melihat itu kemudian menarik Anika ke dalam dekapannya.
"Apa kamu bahagia?" tanya Suherman lirih, hatinya terenyuh melihat senyuman manis putrinya yang sudah lama tidak tampak di matanya.
"Hmm... Tentu saja Anika bahagia, Mas Alvian sangat baik dan bertanggung jawab. Anika sayang sama mereka berdua," ungkap Anika gamblang.
"Syukurlah, Ayah ikut senang mendengarnya." Suherman mengusap lengan Anika dan mengecup pucuk kepala putrinya dengan sayang.
Tidak lama, Alvian pun tiba di tengah-tengah mereka. Suherman yang penasaran dengan kehidupan Alvian, kemudian mulai bertanya tentang bisnis yang ditekuni menantunya itu.
Mereka bertiga berbincang-bincang sampai tengah malam. Alvian dengan leluasa menceritakan awal mula dirinya menggeluti bisnis itu.
Alvian juga mengungkapkan bahwa sebelumnya dia memiliki sebuah perusahaan yang akhirnya hancur karena sebuah kesalahan. Dari situlah asal mula kehidupannya berantakan hingga Lira meninggalkannya dan Amara.
Alvian membangun kembali kehidupannya sembari mengasuh Amara yang masih sangat kecil. Beruntung ada Ratih yang selalu setia berada di sampingnya meski pada saat itu mereka hanya bisa makan nasi dengan tahu dan tempe.
__ADS_1
Berkat kegigihan Alvian, kini semuanya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. Walau tidak sekaya Suherman, setidaknya Alvian mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya dan Amara.
Dia juga sanggup memenuhi tanggung jawabnya pada Anika, dia tidak akan membiarkan istrinya itu merasa kekurangan. Dia tidak ingin Anika meninggalkannya seperti yang dilakukan mantan istrinya dulu. Hanya maut lah yang akan memisahkan mereka berdua.