
"Brengsek kalian semua. Awas saja, aku tidak akan berhenti sampai kalian merasakan apa yang aku rasakan!" sorak Lira saat tubuhnya dibuang ke jalanan oleh dua orang satpam yang diperintahkan Alvian mengusirnya.
Lira tersungkur di atas trotoar, kedua lututnya tergores sehingga sulit baginya untuk berdiri. Meskipun begitu, ambisinya untuk masuk ke dalam hidup Alvian sama sekali tidak surut.
Dia malah semakin tertantang untuk menghancurkan hidup Anika yang saat ini menggantikan posisinya. Dia tidak akan menyerah sampai Anika berpisah dengan Alvian.
Seperti yang dilakukan Suherman padanya, dia juga akan membuat Anika terbuang dari hidup Alvian. Cepat atau lambat, dia yakin pasti bisa melakukan itu.
Dengan sisa uang yang masih ada di ATM miliknya, Lira pun memutuskan untuk membayar orang. Dia tidak akan berhenti sampai semua musuhnya mendapatkan balasan yang setimpal.
Setelah berhasil menghubungi seseorang, Lira kemudian menyetop taksi yang tengah lalu lalang di hadapannya. Setelah duduk di bangku belakang, dia pun meminta sang sopir mengantarnya ke rumah Suherman.
Tidak butuh waktu lama, dalam hitungan menit saja taksi itu sudah tiba di depan gerbang kediaman mewah Suherman. Lira turun dan berjalan menghampiri pagar. "Buka gerbangnya!" perintah Lira kepada petugas itu.
"Maaf, Anda tidak diizinkan masuk." jawab satpam itu tegas.
"Heh, kau hanya seorang kacung. Apa hakmu melarang ku masuk? Apa kau sudah lupa siapa aku?" kesal Lira dengan nada mengancam.
"Anda benar, aku memang kacung, tapi ini semua perintah dari Tuan, kalau begitu silahkan pergi!" usir satpam itu. Dia harus menjalani tugasnya sebagaimana yang diperintahkan Suherman padanya.
"Brengsek, kau-"
Ucapan Lira seketika terpotong saat sudut matanya menangkap keberadaan bocah perempuan yang tengah asik bermain di halaman rumah.
Lira mematutnya dengan intim, darahnya tiba-tiba berdesir menyaksikan betapa miripnya gadis itu dengan Alvian.
Ya, selama ini wanita itu tidak pernah mencari tau bagaimana keadaan putrinya. Bahkan seperti apa rupa anak itu dia sendiri tidak tau.
Dia terlalu sibuk menikmati kemewahan yang diberikan Suherman padanya. Jangankan untuk melihat, mengingatnya saja dia tidak pernah.
Namun kini dia merasa seperti diangkat ke atas awan putih, dia seakan ketiban durian runtuh. Dia sangat yakin bahwa bocah itu adalah putrinya, bayi perempuan yang dulu dia tinggalkan saat masih berusia enam bulan.
"Amara, kenapa main di luar sayang? Ayo, masuk!" panggil Anika yang sudah berdiri di pintu utama.
__ADS_1
"Iya, Ma." sahut bocah itu. Saat dia hendak berjalan menghampiri Anika, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang tengah menyorakinya.
Bukan Anika, tapi suara itu terdengar sangat asing di telinganya.
Ya, Lira semakin yakin saat mendengar Anika memanggil nama bocah itu.
Amara kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik. Sorot matanya tertuju pada pagar besi setinggi kurang lebih dua setengah meter yang terbentang di tengah mereka.
Seorang perempuan nampak tersenyum kepadanya dengan tangan menjulur melewati sela-sela pagar.
Amara menyipitkan mata, dia tidak tau siapa wanita itu. Wajahnya sangat asing, Amara belum pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya.
"Amara, sini Nak! Ini Mama, ini Mama Amara." ungkap Lira dengan senyum selebar daun talas. Dia sangat yakin Amara akan menerimanya, dengan begitu tidak akan sulit baginya untuk kembali ke kehidupan Alvian.
"Mama?" Amara mengulangi kata itu lalu memutar leher ke arah Anika.
"Tidak, Mama Amara ada di sini. Kamu pasti penipu, kamu orang jahat ya?" bocah itu menautkan alis saat kembali menoleh ke arah Lira.
"Tidak sayang, Mama bukan penipu. Ini Mama Amara, wanita yang sudah melahirkan Amara ke dunia ini. Amara jangan percaya sama dia, dia itu-"
"Kau..."
Anika membulatkan mata dengan sempurna saat menangkap keberadaan Lira, dia tidak menyangka bahwa wanita licik itulah yang ada di balik gerbang.
"Amara, ayo masuk!" Anika meraih tangan mungil bocah itu dan menariknya menuju pintu masuk.
"Amara, tunggu sayang! Jangan percaya sama dia, dia itu jahat. Dia bukan Mama Amara, Mama Amara di sini Nak." sorak Lira yang sengaja mengacaukan pikiran putrinya.
Amara yang kebingungan kemudian menarik tangannya dari genggaman Anika, dia mematut Anika dengan tajam memikirkan segudang pertanyaan yang tengah berputar-putar di benaknya.
"Amara..." sergah Anika sedikit tersulut emosi. Dia takut Amara lebih mempercayai wanita setengah ular itu.
"Ma, apa yang dia katakan? Dia bilang dialah mamanya Amara," tanya bocah itu dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Nanti Mama jelaskan di dalam, sekarang ikut Mama masuk dulu!" ajak Anika yang kembali meraih pergelangan tangan Amara.
"Tapi, Ma-"
"Amara..." bentak Anika terbawa suasana.
Amara yang selama ini tidak pernah dibentak merasa sedih dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka Anika bisa sekasar itu pada dirinya.
"Mama jahat," pekik bocah itu, dia pun menarik paksa tangannya dan berlari memasuki rumah.
Melihat Amara seperti itu, Anika sontak terpaku dengan perasaan bersalah, dia tau caranya sedikit keras. Akan tetapi, dia melakukan itu hanya demi kebaikan Amara, dia tidak ingin Amara terjebak dalam permainan licik iblis betina itu.
"Hahaha... Lihat apa kau lakukan? Tunggu saja, aku tidak akan membiarkanmu menggantikan posisiku." Lira tertawa terbahak-bahak mengejek Anika yang sebentar lagi akan berakhir seperti dirinya.
"Pak, tolong usir wanita itu dari sini!" perintah Anika pada satpam yang masih berdiri di seberang Lira. Dia tidak ingin melayani wanita itu, Anika tau persis apa yang diinginkan rusa betina itu.
"Baik, Nona." angguk pria itu.
"Tidak masalah, aku memang ingin pergi dari sini. Tapi ingat, aku akan mengambil Amara dan Mas Alvian dari tanganmu. Tunggu saja!"
Lira masih tetap tertawa melihat raut muka Anika yang sangat menyedihkan. Dia sengaja memancing emosi ibu sambung Amara agar terbawa dalam permainannya.
"Oh ya, ternyata Mas Alvian masih sama seperti dulu. Wanginya tidak berubah, kami baru saja bertemu di restoran. Hehe... Kasihan sekali nasibmu, pada akhirnya mereka berdua akan kembali padaku."
Setelah mengatakan semua itu, Lira tersenyum penuh kemenangan. Dia pun berlalu pergi sebelum satpam mengusirnya.
"Tidak mungkin, aku tau suamiku bukan pria seperti itu." batin Anika meyakinkan dirinya sendiri. Dia tidak boleh terpancing, dia percaya pada Alvian meski hatinya perih mendengar penuturan siluman itu.
Setelah Lira benar-benar menghilang dari pandangannya, Anika pun berhamburan memasuki rumah, menyusul Amara yang dia tau tengah merajuk karena ucapannya yang sedikit kasar tadi.
Anika tidak bermaksud memarahi ataupun membentak Amara, dia hanya tidak ingin putrinya berurusan dengan wanita itu.
Meski pada kenyataannya Lira adalah ibu kandung Amara, tapi kasih sayang yang dia curahkan jauh lebih besar dari seorang ibu yang melahirkan anaknya.
__ADS_1
Anika takut Amara akan berubah setelah mengetahui kebenaran ini. Dia tidak ingin kehilangan Amara maupun Alvian. Anika sangat menyayangi keduanya.