
Pagi-pagi sekali Anika sudah bangun dan lekas membersihkan diri di kamar mandi. Usai mengenakan pakaian dan merapikan rambut di depan cermin, dia pun berlalu pergi menuju dapur. Meninggalkan Alvian yang masih setia mengorok seperti sapi yang baru disembelih.
Ya, pagi ini Anika ingin memasak untuk memanjakan lidah suami dan putrinya. Dia membuka sebuah platform resmi di ponsel miliknya dan melihat resep makanan baru di sana.
Anika sadar bahwa selama ini dia tidak terlalu pandai memasak, kali ini dia nampak serius ingin belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan putrinya.
Anika ingin Amara menjadikan dia satu-satunya wanita yang layak menjadi ibunya, dengan begitu tidak akan ada tempat lagi untuk wanita lain di hati bocah itu.
Meski Anika sadar bahwa hubungan darah lebih kental, apa salahnya dia mencoba terlebih dahulu? Lagian Amara tidak pernah bertemu dan merasakan kasih sayang ibu kandungnya, Anika rasa ini tidak akan terlalu sulit.
"Wow, wangi sekali. Tumben pagi-pagi begini sudah sibuk di dapur, ada angin apa nih?" seloroh Ratih sesaat setelah tiba di dapur, aroma masakan Anika yang sangat harum membuat cacing di perutnya berkelahi minta diisi.
"Hehe... Mbak bisa saja, ini lagi belajar. Barusan lihat resepnya di youtube," sahut Anika terkekeh, dia merasa malu pada Ratih yang jelas jauh lebih unggul darinya.
"Tidak usah malu, semua memang butuh proses. Intinya harus semangat," balas Ratih.
"Hmm..." angguk Anika mengulum senyum.
Selagi Anika tengah asik dengan makanan yang masih bertengger di atas kompor, Ratih pun membantunya menyiapkan piring dan menatanya di atas meja makan.
Wanita itu merasa senang melihat Anika yang mau berusaha keras menjadi yang terbaik.
"Mbak..." panggil Anika setelah Ratih kembali menghampirinya.
"Ya," sahut Ratih menghentikan aktivitasnya sejenak, dia pun berdiri tepat di sebelah Anika.
"Apa Mbak kenal sama ibunya Amara?" tanya Anika yang membuat Ratih tersentak kaget. Dia memang sudah sempat mendengar ini dari Alvian, tapi dia tidak menyangka Anika akan menanyakan ini langsung padanya.
"Iya, kenal. Kenapa memangnya?" jawab Ratih jujur.
"Tidak apa-apa, aku pikir Mbak tidak kenal. Berarti Mbak sudah lama dong ikut sama Mas Alvian?" balas Anika.
"Ya, jauh sebelum mereka menikah." ungkap Ratih.
__ADS_1
"Oh," Anika manggut-manggut pertanda mengerti maksud ucapan Ratih.
Seketika Ratih mengukir senyum mematut raut gusar Anika, dia tau istri Alvian itu tengah galau memikirkan masalah yang bisa saja menghancurkan keutuhan rumah tangga mereka yang baru seumur jagung.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Lira itu hanya masa lalu bagi Alvian, sekarang kamulah masa depannya. Lagian Alvian tidak akan pernah mau kembali pada wanita itu, dia tidak layak menjadi seorang istri maupun ibu." terang Ratih.
"Tapi bagaimana dengan Amara? Dia pasti akan sangat senang jika tau ibunya masih ada, aku takut wanita itu akan merebutnya dariku. Wanita itu jahat Mbak, dia sudah menghancurkan keluargaku, dia juga pernah berusaha menyingkirkan aku." ungkap Anika.
"Semua itu tidak akan pernah terjadi jika kamu menyayanginya dengan tulus. Amara menginginkan kamu jadi ibunya, bukan wanita itu. Sekarang berusahalah agar Amara semakin lengket sama kamu, dengan begitu dia tidak akan pernah terpengaruh pada ibu kandungnya." saran Ratih.
"Hmm... Mbak benar, aku akan memberikan perhatian lebih pada Amara. Bocah itu putriku, aku sangat menyayanginya." angguk Anika mengukir senyum.
Setelah masakannya matang, Anika meminta tolong pada Ratih untuk menyajikannya di atas meja. Anika sendiri lekas meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamar Amara.
Baru saja pintu terbuka, Anika lantas tersenyum melihat Amara yang sudah duduk di atas tempat tidur. Pandangan bocah itu terlihat linglung dengan mulut menguap beberapa kali.
"Putri Mama sudah bangun?" sapa Anika lalu menghampiri Amara dan duduk di tepi ranjang.
"Mama..." seru Amara lantang dan memeluk Anika dengan erat.
"Mama jahat ih," Amara lantas menjauh sembari melipat tangan di dada, bibirnya mencebik karena kesal mendengar ejekan Anika.
"Hehe... Ngambek," goda Anika mencubit kecil hidung Amara sampai memerah seperti badut.
"Sakit Mama," keluh Amara membuang muka.
"Hihi... Kalau digigit bagaimana? Mau ya?" Anika tidak hentinya menggoda Amara, dia senang sekali melihat muka manyun bocah itu.
"Jangan dong Ma, nambah sakit nanti." tolak Amara yang kembali mematut Anika kesal.
"Hehe... Ya sudah, kalau begitu tidak jadi. Sekarang Amara mandi dulu ya!" ajak Anika.
"Hmm... Tapi mandiin ya, Ma." pinta Amara dengan air muka memelas.
__ADS_1
"Boleh, ayo cepat!"
Anika merentangkan kedua tangannya, Amara pun masuk ke dalam pelukannya.
Kemudian Anika menggendong bocah itu dan membawanya ke kamar mandi.
Di dalam sana, Anika membukakan pakaian Amara satu persatu hingga benar-benar polos tanpa sehelai benang pun. Bocah itu tertunduk malu dan lekas menutupi area segitiganya. "Mama ih, malu tau Ma." keluhnya.
"Haha..." Anika sontak tertawa terbahak-bahak, ekspresi Amara nampak begitu lucu di matanya. "Masa' sama Mama sendiri malu sih? Apa Mama ini orang lain?"
"Tidak," geleng Anika.
"Lalu?" Anika menautkan alis menatap lekat pada Amara.
Bocah itu tiba-tiba mengulas senyum dan memeluk Anika dengan erat. "Amara sayang Mama, Mama jangan pergi lagi ya!" desisnya.
"Asal Amara patuh dan menurut, Mama tidak akan pernah meninggalkan Amara. Amara janji ya, apapun yang terjadi, jangan sampai Amara melupakan Mama!" seketika bening kristal jatuh di sudut mata Anika, dia takut Amara berubah haluan jika Lira kembali hadir dalam kehidupan bocah itu.
"Iya, Amara janji. Amara akan jadi anak yang baik dan penurut, tapi ada hadiahnya kan Ma?" tawar bocah itu.
"Hadiah?" Anika mengernyit, dia sama sekali tidak mengerti hadiah apa yang dimaksud bocah ingusan itu. "Memangnya Amara mau hadiah apa dari Mama?"
"Dedek bayi, hehehe..." bocah itu tertawa cekikikan setelah mengatakan itu.
"Apa?" Anika lantas terkejut dengan mata membulat sempurna. "Dedek bayi?" ulang Anika dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Ini cukup mengejutkan bagi Anika. Secara pernikahannya baru berjalan beberapa hari saja tapi Amara dengan enteng meminta bayi padanya. Apa bocah itu pikir membuat bayi sama dengan membuat bakwan? Sekali adon langsung jadi.
Entahlah, Anika sedikit gugup karena ragu harus menjawab apa.
"Kok diam saja sih, Ma? Mama tidak mau ya bikinin adek bayi buat Amara? Teman-teman di sekolah Amara semuanya punya adek loh Ma, masa' Amara tidak boleh?" bocah itu mengerucutkan bibir mengatakan itu.
"Bukannya tidak boleh, sayang. Semua itu tergantung rejeki kita, Tuhan lah yang mengatur semuanya. Amara berdoa saja agar Tuhan mengabulkan permintaan Amara dengan cepat!"
__ADS_1
Mendengar itu, Amara kembali tersenyum dan mencium pipi Anika dengan sayang. Setidaknya Anika tidak menolak untuk memberinya seorang adek bayi.