
Pukul sepuluh pagi mobil milik Alvian sudah tiba di depan gerbang. Setelah Munir membukakan pagar, Alvian langsung masuk dan berhenti sejenak di dekat penjaga itu. "Amara ada di rumah kan?" tanyanya.
"Maaf Pak, Non Amara belum pulang. Tadi bocah itu ngeyel pengen ke sekolah, terpaksa Ratih menungguinya di sana." jawab Munir.
"Astaga Amara," Alvian mengusap wajah dan menghela nafas berat. "Anak itu benar-benar keras kepala, padahal keningnya masih terluka." imbuh Alvian geleng-geleng kepala lalu memarkirkan mobil di garasi.
Setelah mematikan mesin, Alvian langsung turun dan membukakan pintu untuk Anika. Alvian membantunya turun dan memapahnya ke rumah, mereka berdua memasuki kamar yang ditempati Anika tempo hari.
"Istirahatlah dulu, nanti aku pesankan makanan untukmu." ucap Alvian setelah membaringkan Anika di kasur.
"Bapak mau kemana?" tanya Anika menahan pergelangan tangan Alvian. Dia mematutnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mau mandi dan tidur, aku lelah setelah begadang semalaman hanya untuk nungguin orang yang tidak jelas sepertimu." jawab Alvian datar.
"Tidak jelas?" Anika menautkan alis bingung.
"Hmm..." gumam Alvian mengangguk pelan. "Sekarang lepaskan aku!" imbuhnya.
"Tidak mau," geleng Anika dengan bibir mengerucut. Dia malah menarik Alvian sampai terjatuh, separuh badan Alvian tiba-tiba bertengger di atas dadanya. Anika lantas mengalungkan tangannya di tengkuk Alvian.
"Deg..."
Mendadak jantung Alvian bergemuruh kencang dengan aliran darah yang menyumbat pembuluh otak. Nafasnya kian memburu melihat dada Anika yang bergerak kembang kempis, ditambah bibir merah basahnya nan menggoda.
"Jangan aneh-aneh, Nika!" ucap Alvian dengan nafas tersengal kemudian menyingkirkan tangan Anika yang melingkar di tengkuknya, dia mencoba menjauh.
Melihat sikap Alvian yang berubah dingin, Anika pun tersenyum getir dan memutar tubuhnya ke samping. Dia merasa bodoh mengharapkan Alvian kembali lagi seperti sebelumnya.
"Pergilah, biarkan aku sendiri!" lirih Anika dengan bahu bergetar. Dia merasa Alvian sudah tidak lagi menginginkan dirinya.
Secepat itukah Alvian berubah? Padahal baru beberapa hari lalu Alvian mengatakan cinta dan memohon agar Anika membatalkan pernikahan.
Kenapa sekarang Alvian seakan sudah tidak menginginkan dia lagi? Apa ucapan Alvian waktu itu tidak benar? Apa Anika salah mengambil kesimpulan?
__ADS_1
Ya, Anika yakin dia salah. Dia berpikir, mungkin saja Alvian mengatakan itu hanya untuk menahannya agar tidak menikah dengan orang lain. Bukan karena cinta melainkan hanya demi Amara.
Setelah Alvian meninggalkan kamar, Anika meraung sejadi-jadinya. Untuk apa dia kembali ke sana kalau si muka tembok itu malah bersikap sedingin ini padanya? Anika benar-benar marah.
Siang hari, Anika sudah tiba di rumah bersama Ratih. Alvian yang menyadari kedatangan putrinya langsung keluar dari kamar dan berlari kecil menyambutnya.
Akan tetapi, Amara malah memalingkan muka dan berjalan lurus menuju kamar.
"Sayang, tunggu sebentar!" panggil Alvian. Amara diam sejenak di ambang pintu tanpa mau menatap sang papa.
Lalu Alvian berjongkok di hadapan Amara dan menangkup tangan di pipi putrinya itu, tatapannya nampak sendu. "Maafin Papa ya Nak, cukup mendiamkan Papa seperti ini!" ucapnya.
Amara tidak menyahut. Setelah menyingkirkan tangan Alvian dari pipinya, dia melipat tangan di dada dan memutar manik matanya ke arah lain.
"Papa ada hadiah buat Amara, Papa yakin Amara pasti suka." imbuh Alvian mengulas senyum.
"Amara tidak butuh hadiah apa-apa," jawab bocah itu membuka suara, nada bicaranya terdengar jutek dengan pipi menggembung.
"Lihat dulu sayang, masa' belum apa-apa sudah bilang tidak butuh. Nanti Amara nyesel loh," bujuk Alvian seraya mengusap pucuk kepala putrinya dengan sayang.
"Iya, Papa tau. Sekarang ikut Papa dulu ya, Papa yakin Amara pasti senang setelah ini." terang Alvian, dia kemudian menggendong Amara dan melangkah menuju kamar Anika.
Sesaat setelah membuka pintu, Alvian menurunkan Amara dan menunjuk ranjang yang ditiduri Anika. "Itu, Amara lihat sendiri siapa itu." ucap Alvian.
Amara sontak membulatkan mata dan mendongak menatap Alvian lalu memutar leher ke arah ranjang. "Mama?" gumamnya dengan mata berbinar menahan cairan yang menggenang.
"Iya, itu Mama. Sekarang Mama sudah pulang, Mama tidak akan pernah pergi lagi." jelas Alvian yakin.
"Mama..." Amara melangkah perlahan menghampiri ranjang, air matanya menetes kala mematut wajah Anika yang tengah terlelap.
"Ma..." lirih bocah itu, kemudian merangkak menaiki tempat tidur dan memeluk Anika berderai air mata. "Mama..." isak bocah itu, dia sampai sesenggukan tak bisa mengendalikan diri.
Anika yang merasa terusik sontak terbangun dan membuka mata perlahan. Samar-samar wajah Amara mulai terlihat jelas di matanya. "Amara..." gumamnya.
__ADS_1
"Mama..." bocah itu menaiki tubuh Anika dan memeluknya dengan erat. "Mama pulang? Mama tidak akan pergi lagi kan?" raung bocah itu di dada Anika.
Gadis itu ikut menangis dan mendekap Amara sambil membelai rambutnya, lalu menatap Alvian yang hanya mematung di dekat pintu. Seketika mata Anika membesar memelototi Alvian yang tadi sudah membuatnya sangat kesal.
"Mama tidak bisa lama-lama di sini, Papa jahat. Papa ngusir Mama, katanya Mama tidak boleh tinggal lagi di rumah ini." bohong Anika memanasi Amara. Dia sengaja menjelekkan Alvian agar Amara memarahinya.
Alvian yang mendengar itu sontak terkejut dan membuka mata lebar-lebar. Kurang ajar sekali gadis itu, bisa-bisanya dia memfitnah Alvian di depan putrinya sendiri. Rahang Alvian tiba-tiba menggeram dengan gigi bergemeletuk.
Sedangkan Amara yang mendengar itu langsung menjauh dari Anika. Dia melompat turun dari ranjang dan berlari menghampiri Alvian lalu memukuli sang papa membabi buta. "Papa jahat, kenapa ngusir Mama? Kalau Papa tidak suka sama Mama, lebih baik Papa pergi saja." berang Amara yang terus saja memukul Alvian, bahkan bocah itu tidak ragu menggigit tangan sang papa untuk melampiaskan kemarahan.
Sekuat hati Alvian mencoba menahan rasa sakit karena tajamnya gigi Amara, dia hanya bisa pasrah sambil mematut Anika dengan tajam. Sementara Anika sendiri nampak tersenyum dan menjulurkan lidah ke arah Alvian.
"Cukup sayang, jangan begitu! Kasihan Papa," seru Anika yang sudah bersandar di kepala ranjang.
Amara menghentikan aksinya sejenak dan memutar leher ke arah Anika. "Amara bantuin Mama dong, Mama kebelet pipis. Kaki Mama sakit," lirih gadis itu sembari meringis kesakitan.
Amara yang kasihan langsung berlari menghampiri Anika dan membantunya turun dari tempat tidur.
Akan tetapi, Anika malah menjatuhkan diri di lantai dan menjerit seolah-olah merasakan sakit yang teramat sangat. "Huu... Mama memang tidak berguna. Pantas saja Papa ngusir Mama, mana mungkin Papa mau mengurus wanita cacat seperti Mama. Mama mau pergi saja dari sini," alibi Anika berpura-pura meratap di hadapan Amara, raut wajahnya nampak begitu menyedihkan.
"Tidak Ma, Mama tidak boleh pergi." larang Amara lalu menoleh ke arah Alvian. "Pa, kenapa diam saja? Cepat bantuin Mama!" pekiknya.
"I-iya," Alvian yang terkejut langsung tergagap dan mendekati keduanya.
Mau tidak mau, Alvian terpaksa menggendong Anika dan membawanya ke kamar mandi.
Setelah menurunkan Anika, Alvian berbalik namun langkahnya terhenti saat Anika tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Cukup Nika, sudah cukup menguji kesabaranku!" sergah Alvian meninggikan suara. Dia masih sangat kesal karena fitnahan yang dilontarkan Anika tadi.
"Apanya yang cukup?" Anika ikut meninggikan suara dan melepaskan pelukannya.
Alvian lantas berbalik dan mematut Anika dengan intim, dia benar-benar tidak mengerti dengan kelakuan konyol gadis itu.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Anika merosot di lantai, dia meraung sambil menutup wajah dengan sepuluh jari.