
Tepat pukul sepuluh pagi mobil yang dikemudikan Alvian tiba di depan gerbang kediaman Suherman. Pria itu lantas mengerutkan kening memandangi pekarangan depan rumah yang sangat elit itu. Alvian tidak menyangka bahwa istrinya ternyata berasal dari keluarga yang sangat berada.
Setelah seorang penjaga membukakan pagar, Alvian menginjak pedal gas memasuki area rumah yang sangat luas itu.
"Sayang, ini benar rumah kamu?" tanya Alvian memastikan sesaat setelah mematikan mesin mobil. Sebelumnya dia tidak pernah bertanya mengenai ini, dia benar-benar tidak tau tentang kehidupan Anika.
"Bukan Mas, ini rumah Ayah." sahut Anika merendah, dia merasa tidak pantas menyombongkan diri. Menurutnya tidak ada yang patut dibanggakan karena kenyataannya memang bukan dia yang membangun rumah semegah itu.
"Sama saja sayang, kamu kan anaknya." balas Alvian, dia sedikit minder setelah mengetahui fakta yang sebenarnya. Dia merasa tidak pantas menjadi suami dari seorang pewaris tunggal keturunan Suherman.
Lagian selama ini Anika tidak pernah mengungkap jati dirinya pada Alvian, Alvian pikir Anika tidak sehebat ini.
"Sudahlah Mas, kamu tidak perlu berlebihan. Meski rumah Ayah sangat mewah, aku tetap lebih nyaman berada di rumah Mas karena di sanalah tempatku yang sesungguhnya." kata Anika.
"Yakin?" Alvian mengerutkan kening sembari mematut Anika dengan intim.
"Tentu saja yakin," angguk Anika mengukir senyum.
Seketika seringai tipis melengkung di sudut bibir Alvian, dia merasa senang mendengar jawaban Anika yang membuatnya sangat bangga.
Lalu Alvian turun dari mobil dan lekas membukakan pintu untuk Anika. Setelah Anika turun, keduanya saling menggenggam dan berjalan memasuki rumah mewah itu.
"Ingat janji Mas ya. Apapun yang terjadi di dalam sana, Mas tidak boleh meninggalkan aku." ucap Anika mewanti-wanti, dia takut Alvian tidak sanggup menghadapi kemarahan Suherman nantinya.
"Hmm..." angguk Alvian dengan penuh keyakinan.
Sesampainya di dalam, kedatangan Anika langsung disambut oleh Tuti. Pelayan itu tampak senang melihat kedatangan Anika, hanya saja dia sedikit bingung menatap Alvian yang masih menggenggam tangan Anika dengan erat. "Non..." sapanya.
"Ayah mana, Mbak?" tanya Anika sopan lalu membawa Alvian duduk di ruang tengah.
"Ada Non, Bapak lagi di kamar. Mbak panggilin dulu ya,"
Tuti lekas berjalan meninggalkan ruang tengah, dia menaiki anak tangga menuju kamar Suherman yang berada di lantai dua.
Sementara Tuti tengah memanggil Suherman, Anika meninggalkan Alvian barang sejenak. Dia memasuki dapur dan membuatkan minuman untuk suaminya. Dia tidak boleh lengah, bisa saja ada siasat buruk yang direncanakan ibu tirinya jika membiarkan orang lain membuatkan minuman untuk mereka.
__ADS_1
"Ini Mas, minum dulu!" ucap Anika sembari menaruh minuman yang baru saja dia buat tadi di atas meja.
"Loh, kok kamu yang buatin?" Alvian mengerutkan kening.
"Tidak apa-apa, bukankah sudah menjadi tugasku untuk melayani Mas." sahut Anika gamblang.
"Bisa saja kamu. Sayang posisi kita sedang tidak berada di rumah," desis Alvian tersenyum nakal.
"Memangnya kenapa kalau kita tidak di rumah?" Anika menautkan alis bingung.
"Hehe... Pengen ngasih hadiah," Alvian tiba-tiba terkekeh dan menarik Anika ke pelukannya.
"Hihi... Pasti mikir jorok, kan?" tuding Anika menahan tawa.
"He'eh... Tau saja kamu," ungkap Alvian seraya mencubit hidung Anika gemas. Keduanya sontak tertawa terbahak-bahak.
Akan tetapi, tawa keduanya tidak bisa bertahan lama. Anika dan Alvian seketika terdiam saat menangkap kedatangan Suherman dan istrinya yang baru turun dari anak tangga.
Alvian tiba-tiba tersentak dan membulatkan mata lebar-lebar. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
Alvian tersadar dan dengan cepat melepaskan genggamannya. "M-maaf sayang, Mas tidak sengaja." gumamnya.
Sementara itu, wanita yang berdiri di samping Suherman sontak terdiam mematut Alvian dan Anika. Dia ikut terkejut melihat kehadiran Alvian di rumah suaminya, hanya saja dia tidak bisa memperlihatkan keterkejutannya di hadapan semua orang. Dia tidak ingin masa lalunya diketahui oleh Anika dan Suherman.
"Ayah..." sapa Anika yang masih tetap duduk di sisi Alvian, dia tidak mau berdiri karena jijik melihat wanita ular yang berdiri di samping Suherman.
"Anika... Kamu kemana saja, Nak? Kata ibu-"
"Ibu Anika sudah tenang di atas sana, Anika tidak punya ibu lagi selain dia." potong Anika.
"Sayang, jangan bicara begitu! Bagaimanapun, dia ini adalah-"
"Maaf Ayah, Anika pulang bukan untuk berdebat. Anika ke sini karena ingin mengatakan pada Ayah bahwa Anika tidak mau menikah dengan Rio. Anika membatalkan pernikahan itu dan sekarang Anika sudah menikah dengan orang lain." Anika diam sejenak dan menoleh ke arah Alvian.
"Apa maksud kamu?" Suherman meninggikan suara, dia sangat terkejut mendengar pengakuan Anika lalu memilih duduk berhadap-hadapan.
__ADS_1
"Anika tidak sudi menikah dengan bajingan dan pengkhianat itu. Cukup Ayah saja yang tertipu dengan kecantikan istri muda Ayah, Anika tidak sebodoh Ayah." ungkapnya membuat Suherman bingung dan marah.
"Anika, apa yang kamu bicarakan? Apa salah Ibu padamu? Kenapa kamu selalu saja menyudutkan Ibu, Nak?" timpal wanita yang kini ikut duduk di sebelah Suherman, seketika raut mukanya tampak sedih.
"Dasar wanita munafik, wanita murahan tidak tau malu!" umpat Anika menatap tajam pada wanita itu.
"Cukup Anika!" bentak Suherman meninggikan suara dengan sebelah tangan terangkat naik. Sepertinya dia ingin menampar wajah Anika karena sudah berani memaki istrinya.
"Kenapa berhenti, Ayah? Ayo, pukul!" tantang Anika tanpa gentar sedikitpun.
"Dasar anak keras kepala, harusnya kamu bersyukur memiliki Ibu seperti dia. Apa kurangnya dia padamu? Dia menyayangimu seperti putrinya sendiri," sergah Suherman.
"Sayang?" Anika tersenyum kecut. "Asal Ayah tau saja, wanita siluman itu tidak pernah menyayangi Anika maupun Ayah. Dia itu iblis Ayah, dia tidak sebaik yang Ayah pikirkan." tukas Anika yang sudah tidak sabar ingin membuka borok sang ibu tiri.
"Cukup Anika, jangan memancing kemarahan Ayah!" berang Suherman.
"Biarkan saja Mas, aku memang tidak sebaik yang Mas pikirkan. Anika benar, seharusnya kita tidak usah-"
"Tidak Lira, jangan dengarkan ucapan Anika. Dia itu hanya-"
"Hanya apa Ayah?" Anika memotong perkataan Suherman. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Ayah. Apa yang Ayah harapkan dari wanita licik itu? Dia berselingkuh di belakang Ayah, dia tidur dengan Rio. Dia juga yang mencelakai aku, dia mendorongku dari tangga. Buka mata Ayah, dia dan Rio bersekongkol untuk mengeruk harta Ayah. Sadar Ayah!" ungkap Anika.
"Diam Anika, atau-"
Suherman bangkit dari duduknya dan menyentak tangan Anika dengan kuat. Melihat istrinya dikasari, Alvian pun dengan cepat menarik Anika ke pelukannya. "Maaf Tuan, Anika memang putrimu, tapi sekarang wanita ini sudah sah menjadi istriku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya, tidak terkecuali dengan Anda apalagi wanita itu." tegas Alvian penuh penekanan. Dia menatap Suherman dan istrinya bergantian.
Mendengar penuturan Alvian, Suherman lantas terdiam seketika itu juga. Dia melepaskan tangan Anika begitu saja. Sedangkan Lira yang mendengar itu tiba-tiba terhenyak dengan tatapan gelap tak percaya.
"Sebenarnya tujuan kami datang ke sini untuk meminta restu pada Anda. Tapi sepertinya kedatangan kami salah, ternyata Anda tidak sehebat yang aku pikirkan." Alvian mendekap Anika dengan erat sambil mengusap lengannya.
"Awalnya aku kira Anika hanya salah paham pada ibunya. Tapi setelah melihat siapa sosok itu, aku sangat yakin bahwa yang dikatakan Anika itu benar adanya. Anda memang bodoh karena lebih percaya pada wanita munafik itu. Mana mungkin dia menyayangi Anika, anak kandungnya saja diterlantarkan olehnya hanya demi harta. Buka mata Anda, jangan sampai Anda menyesal setelah semuanya terlambat!" terang Alvian.
Setelah mengatakan itu, Alvian menggenggam tangan Anika erat. "Ayo sayang, kita pulang!" Alvian pun menarik Anika meninggalkan ruangan itu.
Sesaat setelah Alvian dan Anika menghilang, Suherman terhenyak di sofa. Semua ucapan Anika tadi kembali bergema memenuhi otaknya.
__ADS_1