Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
44. Cemburu Tanda Cinta


__ADS_3

Sore hari mobil Alvian tiba di halaman rumah mewah milik Suherman. Setelah mematikan mesin, dia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Anika.


Alvian menggendong Amara lebih dulu dan menurunkannya di samping mobil lalu mengulurkan tangan pada Anika. Wanita itu menyambutnya sambil tersenyum dan turun menyusul putrinya.


"Ini rumah Mama?" tanya Amara dengan mata membulat seperti buah anggur, bocah itu menganga dengan kepala celingak celinguk memandangi setiap sisi yang bisa ditangkap oleh netranya.


"Iya, tepatnya rumah kakek. Kenapa sayang? Amara tidak suka ya?" angguk Anika membenarkan lalu menanyakan pendapat putrinya.


"Suka Ma, Amara suka sekali. Rumahnya besar dan bagus, pasti di dalamnya sangat indah." sahut Amara yang sudah tidak sabar ingin menjelajahi istana megah itu. Dia pun berhamburan memasuki rumah lebih dulu tanpa menghiraukan Anika dan Alvian yang tengah sibuk menurunkan tas yang mereka bawa.


"Amara..." seru Alvian, namun bocah itu sudah keburu menghilang dari pandangannya.


Anika yang melihat itu lantas tersenyum sembari geleng-geleng kepala. "Biarkan saja, Mas!" ucapnya.


"Tidak sopan sayang, masa' main nyelonong begitu?" kata Alvian merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Mas, namanya juga anak kecil. Mungkin Amara sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakeknya," selang Anika tersenyum kecil.


"Kakek?" Alvian mengerutkan kening mengulangi kata itu. "Harusnya Ayah, kan?" imbuhnya dengan raut muka kebingungan.


"Ayah?" kini giliran Anika yang mengernyit mematut Alvian dengan intens.


"Hmm... Bukankah Ayah kamu itu suaminya Lira? Itu artinya Amara harus memanggilnya Ayah dan kamu Kakaknya, hahaha..." Alvian lantas terkekeh setelah mengatakan itu.


"Apaan sih, Mas? Tidak lucu tau," Anika mengerucutkan bibir sambil mencubit lengan Alvian.


"Hahaha... Yang bilang lucu siapa? Mas cuma ngomong sesuai fakta," sahut Alvian yang masih saja tertawa di hadapan Anika.


"Tau ah, terserah Mas saja!" Anika yang merasa jengkel kemudian berlalu pergi meninggalkan Alvian.


"Nika, sayang, kok malah ngambek sih? Mas kan cuma bercanda," keluh Alvian lalu berlarian menyusul Anika sembari menenteng dua tas kecil yang ada di tangannya.


Di dalam rumah, Amara berlarian menyisir setiap sudut rumah yang menurutnya sangat luas seperti lapangan bola. Dia bahkan sampai kebingungan saking banyaknya ruangan yang dia lewati.


"Wow... Besar sekali," gumam Amara plangak plongok menatap setiap sudut yang dia jelajahi lalu berlari menaiki anak tangga.

__ADS_1


Bruuk...


Amara yang tidak berhati-hati tanpa sengaja menabrak Suherman yang baru saja ingin turun ke lantai bawah. Pria paruh baya itu menatap heran pada Amara yang tidak dia kenali, begitu juga dengan bocah itu yang tiba-tiba diam sambil menundukkan kepala. "Ma-maaf, Amara tidak sengaja." ucapnya dengan suara bergetar ketakutan.


Suherman yang melihat itu lantas tersenyum dan mengusap kepala bocah itu dengan lembut. "Tidak apa-apa," sahutnya.


Amara kemudian memberanikan diri mendongakkan kepala dan mematut Suherman dengan intim. "Apa Bapak Ayahnya Mama?" tanyanya sambil meremas ujung baju yang dia kenakan. Dia sangat gugup sebab takut Suherman akan memarahinya.


"Mama?" Suherman mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Amara. "Memangnya siapa Mama kamu?" imbuhnya penasaran.


"Mama Anika," jawab Amara dengan polos karena selama yang dia tau mamanya hanyalah Anika seorang.


"Oh, jadi kamu yang namanya Amara?" Suherman balik bertanya sambil menekuk kakinya di lantai, dia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan bocah itu.


"Iya, aku Amara. Anaknya Papa Alvian dan Mama Anika." angguk Amara membenarkan.


Mendengar itu, Suherman tiba-tiba terdiam untuk beberapa saat. Dia menatap lekat wajah imut Amara yang sama sekali tidak ada kemiripan dengan mantan istrinya.


Menurut Suherman Amara lebih mirip dengan Alvian dan ada kesamaan dengan Anika waktu kecil, sedikit cerewet namun sangat menggemaskan.


Amara yang tadinya harus memanggil Suherman ayah, kini malah beralih memanggilnya dengan sebutan kakek. Suherman rasanya ingin tertawa menghadapi situasi ini.


Ya, mau tidak mau Suherman harus ikhlas menerima itu. Anika sudah menentukan pilihan hatinya, Suherman hanya bisa mendoakan agar Anika bahagia bersama suaminya.


"Kamu benar, Bapak memang Ayah dari Mama Anika. Kalau begitu jangan manggil Bapak, tapi Kakek." ucap Suherman sembari tersenyum kecil dan mencubit hidung Amara gemas.


"Kakek?" ucap Amara, kemudian melemparkan tubuh kecilnya ke pelukan Suherman. "Yeay, ternyata Amara punya Kakek." serunya dengan lantang. Saking lantangnya suara Amara sampai terdengar ke lantai satu.


Suherman tiba-tiba terkekeh melihat tingkah bocah itu lalu memeluknya erat.


Di bawah sana, Anika memilih duduk di ruang tengah dengan air muka kusut seperti kain yang belum disetrika. Entah kenapa emosinya sedikit tersulut saat mendengar Alvian membahas tentang mantan istrinya.


Anika sangat membenci wanita itu, dia sangat senang saat mengetahui bahwa Suherman sudah menceraikannya dan mengusirnya dari rumah. Namun moodnya tiba-tiba rusak saat Alvian kembali menyebut nama itu.


Anika tau bahwa suaminya tidak lagi mencintai wanita itu, akan tetapi tetap saja Anika tidak suka mendengar Alvian membahas tentangnya.

__ADS_1


Anika ingin melupakan semua kenangan pahit yang sudah diciptakan wanita itu, dia ingin membuka lembaran baru bersama ayah dan keluarga kecilnya.


"Sayang, kenapa Mas malah ditinggal sendirian?" seru Alvian sesaat setelah tiba di ruang tengah. Dia menaruh tas yang ada di tangannya di atas sofa lalu duduk di samping Anika.


Bukannya menyahut Anika malah membuang muka dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut. Dia masih kesal dan tidak mau bicara dengan Alvian.


"Nika, maafin Mas ya. Mas cuma bercanda kok tadi. Masa' diambil hati sih?" imbuhnya merasa bersalah sembari merangkul pundak Anika dan mengusapnya pelan. Dia tidak ingin orang-orang di rumah itu melihat mereka seperti ini, dia tidak mau terjadi kesalahan pahaman diantara mereka.


"Mbak Tuti, tolong buatin minum ya!" seru Anika pada pelayan yang tengah asik menyiapkan makan malam di dapur, dia sengaja berpura-pura tidak mendengar agar Alvian semakin merasa bersalah terhadapnya.


"Ya sudah kalau mau kamu seperti ini." Alvian menjauhkan diri dari Anika lalu menyambar satu tas yang tadi dia bawa. Dia pun memilih pergi karena sama sekali tidak dihiraukan oleh istrinya.


Melihat Alvian berjalan menuju pintu utama, Anika pun dengan cepat menyusulnya. "Kamu mau kemana, Mas?" soraknya saat tiba di teras rumah.


"Kamu dan Amara saja yang nginap, Mas mau pulang." jawab Alvian yang terus saja melangkah menjauhi Anika.


"Mas, jangan pulang dong! Katanya mau nginap di sini," Anika berhamburan mengejar Alvian lalu menghadang langkahnya sembari merentangkan tangan.


"Ngapain berpose seperti itu?" tanya Alvian setelah menghentikan langkahnya, dia mengernyit mematut Anika dengan intim. Ingin tertawa tapi takut Anika malah semakin kesal padanya.


"Mas tidak boleh pergi!" tegas Anika dengan penuh penekanan.


"Kenapa? Lagian untuk apa Mas di sini? Ini rumah kamu, Mas hanya tamu. Jika tuan rumah saja tidak menginginkan kehadiran Mas, lalu untuk apa Mas tetap di sini? Kamu pikir enak dianggap asing oleh istri sendiri? Lebih baik Mas pulang dan tidur di rumah," gerutu Alvian sambil melanjutkan langkahnya.


"Mas..." Anika menarik baju Alvian dan memeluknya erat. "Jangan pulang, Mas! Aku tidak bisa tidur kalau tidak ada Mas di sampingku." ungkapnya yang membuat Alvian terkekeh.


"Hahaha... Makanya jangan sok cuek sama suami," selang Alvian sambil mendekap Anika dengan erat.


"Habisnya Mas itu ngeselin, masa' datang-datang malah bahas wanita itu. Aku tidak suka," ujar Anika.


"Oh, jadi ceritanya kamu cemburu." kembali Alvian tertawa yang membuat Anika semakin jengkel.


"Iya, puas kamu." geram Anika mendongakkan kepala dan menatap Alvian tajam.


"Hehehe... Dasar bodoh!" Alvian mengacak rambut Anika lalu mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang. Alvian senang karena itu artinya Anika takut kehilangan dirinya.

__ADS_1


"Sudah, ayo masuk!" ajak Alvian, tanpa aba-aba dia pun menggendong Anika memasuki rumah. Anika menurut saja dan mengalungkan tangan di tengkuk Alvian.


__ADS_2