Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
40. Pulang


__ADS_3

Di lokasi proyek, Suherman tampak terkejut setelah menonton video yang dikirimkan Anika ke ponselnya. Di sana jelas terlihat bahwa Lira dan Rio tengah asik melakukan hubungan suami istri di kamarnya.


Pria paruh baya itu seketika terduduk lesu di lantai bangunan sebuah hotel yang baru jadi sekitar enam puluh persen, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Lira akan mengkhianatinya seperti ini.


Selama ini dia pikir Lira merupakan wanita baik-baik. Sebab itulah dia menikahi wanita itu.


Ya, sekitar lima tahun yang lalu Suherman bertemu dengan Lira di sebuah acara penting perusahaan. Suherman terkesima melihat kecantikan ibu satu anak itu sehingga pada akhirnya menjadikan Lira sebagai istri keduanya.


Sebenarnya bukan Suherman yang berselingkuh dengan Lira kala itu. Dia hanya dijadikan batu loncatan setelah Lira berpisah dengan pria yang membawanya pergi meninggalkan Alvian.


Lira sempat tinggal di rumah selingkuhannya, akan tetapi dia kalah telak dari istri pertama selingkuhannya itu. Hingga pada akhirnya, Lira memutuskan untuk pergi karena tidak sanggup melawan kekuasaan yang dimiliki wanita itu.


"Dasar wanita tidak tau diri! Kurang apa aku padamu selama ini? Aku bahkan lebih percaya padamu daripada putriku sendiri. Berani sekali kamu mengkhianati ku bersama anak ingusan itu." batin Suherman berbicara dalam hati.


Dia lantas berdiri dan meninggalkan proyek tanpa berpamitan. Dia pun meminta sang sopir mengantarnya pulang ke kediamannya.


Kali ini Suherman tidak akan mungkin mempercayai ucapan Lira, semua bukti sudah jelas menunjukkan bahwa istrinya berkhianat. Suherman tidak akan memaafkannya begitu saja.


Sesampainya di rumah, Suherman langsung turun tanpa menunggu sang sopir membukakan pintu mobil untuknya. Dia berjalan masuk dan bertanya pada Tuti yang tengah asik membersihkan ruang tengah.


Sayang langkah Suherman seketika terhenti ketika Tuti mengatakan bahwa istrinya sedang tidak ada di rumah. Wanita itu meninggalkan rumah sejak pukul sembilan pagi tadi bersama Rio sang kekasih gelap.


Mendengar Tuti menyebut nama pria itu, jantung Suherman tiba-tiba bergemuruh kencang seiring darah yang menggelegak hingga ubun-ubun. Tidak salah lagi, kini dia semakin yakin bahwa istrinya memiliki hubungan khusus dengan pria itu.


Harusnya dia lebih berhati-hati sejak awal, apalagi Lira sendiri yang mengatur pernikahan Anika dengan pria itu. Makin kesini Suherman semakin curiga, dia yakin ada konspirasi yang direncanakan Lira dan Rio di belakangnya.


Kemudian Suherman meninggalkan ruang tengah terburu-buru, dia menaiki anak tangga dan masuk ke kamar. Tuti yang melihat itu sontak terdiam menatap punggung Suherman yang kini sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Sesampainya di ruangan yang sangat luas dan megah itu, Suherman mengirai seprai yang terpasang di tempat tidur hingga terlepas lalu membuangnya sembarangan.


Kepalanya serasa ingin pecah mengingat pergulatan panas yang dilakukan istrinya bersama pria lain. Dia rasanya ingin menghancurkan kamar itu untuk menghilangkan bayang-bayang yang masih menari di ingatannya.


Kemudian Suherman menghempaskan bokongnya di sofa, dia pun mengeluarkan telepon genggam miliknya dari saku celana.


"Iya, Pak." jawab seorang pria dari ujung sana.


"Cabut semua saham SK Group dari perusahaan Wiguna dan jangan lupa tarik semua fasilitas tanpa terkecuali. Pastikan tidak akan ada satupun perusahaan yang mau bekerja sama dengan perusahaan itu!"


Setelah mengatakan itu, Suherman mematikan sambungan telepon secara sepihak lalu kembali menghubungi seseorang.


"Datanglah ke rumah, sudah saatnya semua asetku berpindah ke tangan Anika. Dia sudah menikah, semua syarat sudah terpenuhi."


Lagi-lagi Suherman dengan entengnya memberi perintah pada orang-orang kepercayaannya.


Awalnya Suherman menghubungi direktur perusahaan dan memintanya menyelesaikan perusahaan Wiguna Group yang tak lain adalah milik orang tua Rio. Selama ini perusahaan itu mampu bertahan tidak lain tidak bukan hanya karena campur tangan Suherman di dalamnya.


Suherman tidak ingin salah lagi dalam mengambil keputusan. Dia harus menyelamatkan semuanya sebelum terlambat. Bisa saja Lira dan Rio merencanakan sesuatu yang buruk untuk mengambil alih harta kekayaannya.


Terakhir Suherman menghubungi Anika secepatnya. Dia meminta putrinya itu untuk pulang dan datang bersama menantunya. Dia belum sempat mengenal suami putrinya itu, bahkan belum memberikan restu untuk pernikahan mereka.


Pukul dua siang mobil Alvian memasuki gerbang kediaman mewah Suherman. Tidak berselang lama, mobil lain ikut menyusul dan parkir bersebelahan.


"Om Andre..." sapa Anika sesaat setelah turun dari mobil. Dia menyalami pria itu dan mencium tangannya dengan sopan.


Ya, Andre merupakan pengacara keluarga yang tadi dihubungi Suherman. Tidak hanya pengacara semata, Andre ternyata juga memiliki ikatan darah dengan mendiang ibu Anika. Sebab itulah Suherman sangat mempercayai pria itu.

__ADS_1


"Apa dia suamimu?" tanya Andre mematut Alvian yang kini sudah berdiri di samping Anika.


"Iya, Om." angguk Anika lalu mengenalkan Alvian pada omnya itu.


"Alvian, Om." sapa pria satu anak itu sembari mengulurkan tangan.


Andre menyambutnya dan tersenyum sedikit mengejek. "Tampan sih, tapi sepertinya ketuaan." selorohnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Ya, begitulah Andre. Dia tidak akan segan-segan menilai sesuatu sesuai fakta yang dia lihat.


"Tidak apa-apa tua, yang penting sayang sama Anika." Anika mengerucutkan bibir karena kesal mendengar celetukan omnya itu.


Andre yang melihat itu sontak terkekeh dan mengacak rambut Anika gemas. Dari cara Anika berbicara, dia bisa menyimpulkan bahwa Anika sangat bahagia bersama Alvian. Setidaknya dia cukup lega karena Anika berada di tangan pria yang tepat.


"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Andre sembari melangkah lebih dulu. Anika lantas memeluk lengan Alvian dan membawanya memasuki rumah.


"Pak Andre, Nona, Tuan, silahkan masuk! Bapak sudah menunggu di ruangan pribadinya," ucap Tuti menyambut kedatangan mereka bertiga.


"Oke, terima kasih." sahut Andre, dia melanjutkan langkahnya menuju ruangan pribadi milik Suherman.


Bukannya mengikuti Andre, Anika malah mematung di hadapan Tuti. Raut wajahnya nampak sedikit kebingungan, dia penasaran alasan apa yang membuat sang ayah mengundangnya untuk datang.


Apa semua ini karena video yang dia kirim tadi? Apa Suherman tidak percaya padanya? Entahlah, hanya Suherman dan Tuhan saja yang tau jawabannya.


"Apa yang terjadi Tuti? Kenapa Ayah meminta kami untuk datang?" tanya Anika mencari tau.


"Aku juga tidak tau Nona, Bapak tidak mengatakan apa-apa padaku. Dari cara Bapak bersikap, sepertinya ada masalah yang tidak aku ketahui." jawab Tuti menggelengkan kepala, dia benar-benar tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


Karena tidak berhasil mendapatkan jawaban, Anika kemudian menarik tangan Alvian dan membawanya menyusul Andre yang sudah lebih dulu tiba di ruangan Suherman. "Ayo, Mas!" ajaknya.


Alvian yang tidak tau apa-apa menurut saja saat Anika menyeretnya seperti seekor kambing peliharaan.


__ADS_2