
Pukul dua siang akad nikah sudah selesai digelar di kantor tersebut. Kini Alvian dan Anika sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
Acara dilangsungkan seadanya dengan dua orang saksi yang merupakan petugas KUA dan beberapa karyawan lain. Semua prosesi wajib berlangsung lancar dan khidmat, Alvian mengucap ijab hanya dalam satu tarikan nafas saja.
Alvian kemudian memasangkan cincin kawin yang sempat dia beli sebelum pulang tadi. Alvian mengecup kening Anika dengan sayang, Anika membalasnya dengan menjabat tangan Alvian dan menciumnya.
Meski ijab kabul barusan diadakan dengan cara dadakan, tapi Alvian berhasil menikahi Anika secara resmi. Tentu saja hal itu tidak luput dari bantuan seorang teman lama yang bekerja di kantor itu. Untuk surat nikah akan menyusul dalam waktu beberapa hari ke depan.
Usai mendapatkan surat nikah sementara yang dikeluarkan oleh pihak KUA, Alvian menjabat tangan satu persatu dari mereka yang sudah ikut andil mewujudkan niat baiknya. Mau tidak mau Anika pun ikut melakukan hal yang sama kemudian keduanya berpamitan dan meninggalkan gedung itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Anika hanya diam menatap jalanan yang mereka lalui. Mata gadis itu fokus menghadap depan sedangkan tangannya asik memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Ini seperti mimpi bagi Anika. Pernikahan yang tadinya akan digelar dengan meriah bersama cinta pertamanya, kini berakhir menyedihkan dengan pria yang berbeda. Anika tidak tau harus sedih atau bahagia dengan status barunya. Dia nampak galau dengan pikiran yang melayang entah kemana.
Sadar akan perubahan mimik muka Anika, Alvian tiba-tiba menepikan mobilnya di pinggir jalan. Anika tersadar dari lamunannya dan memutar leher ke arah Alvian. "Kenapa berhenti?"
Alvian menghela nafas berat dan mematut Anika dengan intim. "Harusnya aku yang bertanya padamu. Kamu kenapa? Sepertinya pernikahan ini terlalu memberatkan bagimu. Apa aku salah menikahi mu?"
Pertanyaan itu sontak membuat Anika terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa.
Diamnya Anika itu justru membuat Alvian mengambil kesimpulan sendiri. Dia merasa Anika tidak bahagia menjadi istrinya. "Ya sudah, tidak usah dipikirkan!" Alvian kembali menginjak pedal gas, dia memilih diam dan fokus pada stir yang dikemudikannya.
Tidak lama, sampailah mereka berdua di kediaman Alvian. Pria itu turun setelah memarkirkan mobil dan membukakan pintu untuk Anika, lalu keduanya memasuki rumah beriringan.
__ADS_1
Sesampainya di dalam, Anika menghentikan langkahnya. Dia bingung harus memasuki kamar yang mana.
Alvian yang merasakan keanehan lantas berhenti dan menatap Anika dengan intens. "Kamu boleh kembali ke kamarmu, aku tidak akan memaksamu untuk tinggal satu kamar denganku." ucap Alvian datar, kemudian meninggalkan Anika yang masih mematung di tempatnya berdiri.
Anika mencoba meraih punggung Alvian tapi dia hanya bisa mencengkeram udara. Alvian sudah keburu menjauh darinya, Anika bahkan kesulitan untuk memanggilnya.
Ya, Anika nampak seperti orang linglung. Dia sendiri bingung memikirkan sikapnya yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit pendiam.
Dia mengakui bahwa dia sendiri yang ingin menikah dengan Alvian, tapi kenapa hatinya tiba-tiba merasa ragu dengan keputusan yang sudah dia ambil?
Pelan-pelan Anika melangkah menghampiri pintu kamar Alvian. Tangannya nampak bergetar, namun dia berusaha memberanikan diri menekan kenop pintu.
Sesaat setelah pintu terbuka, Anika menjulurkan kepalanya terlebih dahulu. Betapa terkejutnya dia saat mendapati Alvian yang tengah membuka celana. Sedangkan tubuh bagian atasnya sudah polos tanpa berbalut apa-apa.
Tubuh itu nampak begitu indah, sangat menggoda. Alvian memiliki dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus, perutnya membentuk kotak-kotak kecil seperti roti sobek.
Dia pun berbalik dengan cepat dan kembali menutup pintu, dengan muka memerah dia berlari memasuki kamarnya. Dia kesulitan mengatur detak jantung yang masih berdegup sangat kencang.
Sementara Alvian sendiri nampak mengernyit dengan sedikit senyum menghiasi bibirnya. Dia merasa lucu melihat tingkah laku Anika, bisa-bisanya gadis itu ketakutan melihat suaminya sendiri. Apa Alvian terlihat sangat aneh?
Penasaran dengan reaksi Anika itu, Alvian urung memasuki kamar mandi. Dengan tubuh yang hanya dibalut celana pendek sepaha, Alvian berjalan meninggalkan kamar. Dia pun melangkah menuju kamar yang ditempati Anika dan membuka pintu tanpa mengetuknya.
Anika yang mendengar suara pintu berderit lantas terkejut dan mematung di tempatnya berdiri. Matanya membulat sempurna menyaksikan tubuh proporsional Alvian yang mengganggu penglihatannya.
__ADS_1
Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu membuat Anika tiba-tiba merasa kehausan, tenggorokannya mendadak kering dengan pipi merona merah menahan rasa malu. "Ma-mas..." Anika meneguk liur dengan susah payah, dia kesusahan berbicara.
Alvian yang melihat itu seketika mengulas senyum licik, tatapannya sangat tajam. Dia memasuki kamar dan menutup pintu dengan bantuan punggung kemudian berjalan tegap menghampiri Anika.
Gadis itu semakin terlihat gugup, dia perlahan termundur hingga bagian belakang lututnya membentur tepi ranjang. Dia pun terhenyak di sisi kasur dengan mata membola dan bibir gemetaran. "Ma-mas..." Anika tidak tau harus berkata apa, dia tertegun mematut wajah Alvian yang semakin dekat dengan dirinya.
Tanpa berucap sepatah katapun, Alvian mengikis jarak diantara mereka dan membungkukkan punggung. Dia menumpukan kedua tangannya di setiap sisi tubuh Anika lalu menekannya dengan dada.
Anika langsung terjatuh ke belakang, dadanya kembang kempis saat merasakan tekanan yang menindih tubuhnya. Hembusan nafas Alvian yang hangat membuat mata Anika terpejam perlahan, dia pasrah jika harus melayani Alvian detik ini juga. Dia tau konsekuensi menjadi seorang istri, apalagi hari ini adalah hari pertama mereka resmi menjadi suami istri.
Melihat Anika yang sudah pasrah di bawah kungkungannya, Alvian lantas tersenyum dan mengecup kening Anika dengan sayang. Lama bibirnya menempel di sana hingga akhirnya Alvian beralih mengecup bibir Anika dan sedikit melu*matnya.
Anika menikmati setiap ******* bibir Alvian dengan jantung yang tak bisa dikondisikan, sekujur tubuhnya merinding. Alvian membuat otaknya mendadak tidak waras. Dia pun mencengkeram tengkuk Alvian kuat dan meremas rambutnya. Sedikit desa*han kecil lolos dari mulutnya.
Sadar akan reaksi Anika yang sudah terbawa dalam permainannya, Alvian lantas menghentikan aksinya dan kembali mengecup kening Anika.
Gadis itu membuka mata perlahan dan mematut Alvian dengan tatapan yang sulit diartikan. Deru nafasnya kian memburu menatap manik mata Alvian dan beralih mematut dadanya.
Anika ingin sekali menyentuhnya tapi dia tidak berani melakukannya. Menjadi istri Alvian tidak serta merta membuatnya memiliki nyali yang cukup untuk menguasai Alvian sepenuhnya. Dia gugup dan canggung berada di situasi seperti ini.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Alvian lembut sambil mengelus pipi Anika dengan ruas jarinya.
"Ti-tidak ada," Anika mengerjap dan membuang pandangannya ke arah lain. Seperti seekor kucing yang tertangkap basah membuka tudung nasi, pipi Anika tiba-tiba memerah dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
Alvian sangat gemas melihat ekspresi istrinya, dia pun menggigit bibir monyong itu lalu menjatuhkan kepalanya di leher Anika.
Alvian memeluknya erat dan mulai memejamkan mata sambil mengendus leher jenjang Anika. Gadis itu tiba-tiba menautkan alis bingung. Dia pikir Alvian akan menunaikan tanggung jawabnya ternyata Anika salah menafsirkan. Alvian malah mendengkur dalam pelukannya.