Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
30. Malu-malu Tapi Mau


__ADS_3

Usai menyiapkan makanan dan menatanya di atas meja, Anika meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar. Namun sayang Alvian sudah tidak ada lagi di kamar itu.


Anika mengernyit dan memperhatikan setiap sudut kamar dengan tatapan bingung lalu berjalan menuju kamar mandi, tetap saja batang hidung Alvian tidak nampak di matanya.


Karena tidak menemukan Alvian di mana-mana, Anika memutuskan keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar Alvian. Tangannya mulai berkeringat sebab takut memasuki kamar tersebut.


Akan tetapi Anika harus memberanikan diri karena tadi Alvian sendiri yang mengatakan lapar padanya.


Anika pun menekan kenop pintu dan mendorongnya perlahan, dia melangkah masuk dan kembali menutup pintu.


"M-mas..." panggil Anika gugup. Sepuluh jarinya saling meremas satu sama lain, bahkan kakinya mendadak gemetaran saking canggungnya.


Karena tidak ada sahutan sama sekali, Anika kemudian memilih duduk di sisi ranjang. Dia yakin kalau Alvian tengah berada di kamar mandi.


Sekitar sepuluh menit berlalu, pintu kamar mandi terdengar berderit. Anika meluruskan badan dan menatap lekat pada sosok Alvian yang baru saja selesai membersihkan diri, tubuh atletisnya menganga dan tertutup handuk di bagian pinggang.


Seketika Anika mengerjap sembari menelan liur dengan susah payah lalu membuang pandangannya ke arah lain.


Alvian yang menyadari kehadiran Anika lantas berjalan mendekatinya.


"Kenapa? Masa' sama suami sendiri takut?" goda Alvian mengulum senyum, dia sangat gemas melihat raut wajah Anika.


"Ti-tidak, aku tidak takut." jawab Anika terbata kemudian memberanikan diri menatap Alvian yang tengah berjongkok di hadapannya. "Cepat pakai bajunya, aku sudah masak buat Mas." imbuhnya.


Alvian mengangguk pelan. "Hmm... Kamu masak sendiri?" tanyanya.


"Iya," angguk Anika pelan.


"Memangnya kamu bisa masak?" tanya Alvian seakan tak percaya.


"Tidak, aku hanya masak asal-asalan saja. Kalau Mas mau makan silahkan, kalau tidak juga tidak apa-apa. Kalau begitu aku keluar dulu,"


Anika merasa sedikit kecewa mendengar ucapan Alvian barusan, dia segera bangkit dari duduknya. Namun saat hendak melangkah pergi, Alvian dengan sigap menggenggam pergelangan tangannya.


"Jangan merajuk gitu dong, Mas kan cuma bercanda." ucap Alvian, dia lekas berdiri dan menarik Anika ke pelukannya.


Alvian mendekap Anika di dadanya sembari mengusap kepala istrinya itu lalu mencium pucuk kepalanya dengan sayang. "Asal kamu yang masak, Mas akan makan. Enak tidak enak itu urusan belakangan, intinya terima kasih karena sudah mau melayani Mas."


"Hmm..." gumam Anika dengan sedikit anggukan lalu mendongakkan kepalanya. Tatapan keduanya bertemu untuk sesaat sebelum Anika membuang pandangannya kembali.

__ADS_1


"Kenapa? Apa wajah Mas terlihat menakutkan?" tanya Alvian, kemudian menangkup tangan di pipi Anika. Gadis itu hanya menggeleng sebagai jawaban.


Alvian yang gemas lantas memiringkan kepala dan mengecup bibir Anika dengan lembut. Mata Anika seketika membola mendapatkan ciuman mesra dari suaminya.


Tidak hanya mengecup bibir Anika, Alvian kemudian melu*matnya dengan penuh perasaan. Detak jantung Anika tiba-tiba bergemuruh kencang dengan dada kembang kempis menahan sesak. Dia pun membuka mulut dan mencoba mengimbangi permainan suaminya.


Alvian yang merasa mendapat perlawanan kemudian meremas tengkuk Anika pelan dan semakin memperdalam permainannya, keduanya asik berbagi liur dan sesekali membelit lidah.


"Mas..."


Anika menarik diri dengan cepat dan memeluk Alvian seeratnya, wajahnya tenggelam di dada bidang suaminya yang memiliki bulu-bulu halus nan menggoda.


"Hahaha... Kenapa sayang?" Alvian tiba-tiba terkekeh melihat tingkah Anika yang menggemaskan, dia pun mencubit pipi Anika geram.


"Mas membuatku ngilu," gumam Anika dengan suara tertahan. Bulu kuduknya berdiri tegak saat menikmati sentuhan Alvian.


"Hehehe... Pengen ya?" seloroh Alvian menahan tawa.


"Apaan sih, Mas? Tidak usah membahas itu!" keluh Anika menjauhkan diri, bibirnya seketika mengerucut.


"Kenapa tidak boleh? Bukankah kita berdua sudah resmi menjadi suami istri?" tanya Alvian mengerutkan kening.


"Hmm... Tapi kan-"


"Tidak, a-aku..."


"Mas sayang sama kamu, Mas cinta sama kamu, Nika. Mas tidak mungkin menikahi kamu tanpa sebab yang jelas." ungkap Alvian meyakinkan Anika tentang perasaannya.


"Bohong," sanggah Anika mendongakkan kepala lalu mematut manik mata Alvian dengan intim.


"Tidak sayang, Mas tidak bohong. Setelah lima tahun sendiri, hanya kamu yang mampu mengetuk hati Mas. Selama ini banyak wanita cantik yang ingin menggantikan posisi mamanya Amara tapi Mas tidak tertarik sama mereka." jelas Alvian mengungkapkan kebenaran.


"Bohong lagi kan," tuduh Anika menyipitkan mata.


"Astaga sayang, lihat mata Mas! Apa Mas terlihat seperti seorang pembohong?" keluh Alvian yang sudah kehabisan kata-kata, kemudian menjauhkan diri dari Anika dan berjalan menuju lemari.


Alvian mengambil pakaian dan mengenakannya terburu-buru. Sementara Anika masih mematung di tempatnya berdiri.


Setelah Alvian merapikan pakaian dan menyisir rambut, dia berjalan menuju pintu tanpa mempedulikan Anika yang tengah memandanginya.

__ADS_1


"Mas, tunggu!" seru Anika lalu berlari kecil menyusul Alvian dan memeluk lengannya. Alvian hanya bisa tersenyum dan melanjutkan langkahnya, lalu diikuti Anika yang berjalan di sampingnya.


Setibanya di meja makan, Alvian langsung duduk di kursinya. Sedangkan Anika sendiri dengan cepat mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang dia masak tadi lalu menaruhnya di hadapan Alvian. "Ini, makanlah!"


"Terima kasih," ucap Alvian mengukir senyum.


Setelah Anika mengisi piring untuk dirinya sendiri, dia pun ikut duduk di samping Alvian. Keduanya mulai menyantap makanan itu dengan lahap.


"Mmm... Enak," sanjung Alvian memuji masakan istrinya, dia pun makan dengan lahap.


"Bohong," sanggah Anika mengerucutkan bibir.


Alvian mengernyit mendengar itu, dia menoleh ke arah Anika lalu menarik hidungnya gemas. "Dibilang enak katanya bohong, dibilang tidak enak pasti ngamuk." sindirnya dengan gigi bergemeletuk.


"Makanya jujur," sergah Anika.


"Ya Tuhan," Alvian menghela nafas berat dan mengusap wajah dengan kasar. Dia bingung harus berkata apa. "Ya sudah, rasanya tidak enak." imbuhnya, lalu melanjutkan makan dengan nikmat.


"Mas..."


Anika meninggikan suara dan menatap Alvian dengan tatapan tajam. Seketika suapan Alvian pun terhenti, sendok yang dia pakai untuk makan tertahan di ujung bibir.


"Awh..."


Tiba-tiba Alvian meringis saat jari-jari Anika mendarat di perutnya. "Sakit sayang," keluh Alvian dengan tatapan mengabur, setetes butiran bening tiba-tiba jatuh di sudut matanya.


"Sini, tidak usah dimakan!" ketus Anika menarik piring Alvian. Bibirnya mencebik dengan mata memerah menahan amarah.


Alvian yang melihat itu nampak bingung dengan mata menyipit. "Loh, kenapa diambil? Mas belum kenyang, sayang." keluh Alvian dengan tatapan mengiba.


"Makan di restoran saja, di sana semua masakannya enak." tukas Anika.


"Tuh kan, baru juga dibilangin, ujung-ujungnya pasti marah, bikin Mas serba salah saja." kesal Alvian, dia hendak pergi namun Anika dengan cepat meraih tangannya.


"Ya sudah, habisin dulu nasinya." kembali Anika menyodorkan piring tadi ke hadapan Alvian.


Alvian pun diam sejenak, beberapa detik kemudian dia tersenyum mematut Anika. "Malas ah, tapi kalau disuapin Mas mau banget."


"Makan sendiri saja Mas, kok jadi manja kayak Amara gini sih." keluh Anika.

__ADS_1


"Apa salahnya manja sama istri sendiri? Memangnya kamu mau punya suami yang dingin dan kaku?" tanya Alvian mengulum senyum.


Anika dengan cepat menggelengkan kepala setelah mendengar itu. "Tidak," gumamnya, lalu dia pun mengambil piring Alvian dan mulai menyuapinya.


__ADS_2