
Sudah malam tapi Anika tidak kunjung keluar dari kamar. Alvian mulai panik memikirkan keadaan istrinya itu, dia takut Anika bertindak aneh di dalam sana.
Karena takut Amara tau tentang apa yang terjadi sebenarnya, Alvian pun meminta Ratih membawa putrinya jalan-jalan ke luar. Dia menyodorkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus dan meminta Ratih mengajak Amara berbelanja di supermarket.
Ya, sore tadi Alvian sempat curhat pada Ratih. Dia menceritakan semuanya pada wanita itu, dia juga mengatakan bahwa saat ini dia tidak peduli lagi pada mantan istrinya. Dia akan membantu Anika menyingkirkan wanita licik itu dari kehidupan Suherman.
Alvian tau persis bagaimana watak mantan istrinya, wanita itu terlalu berambisi untuk hidup enak sehingga menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Buktinya wanita ulat itu tega meninggalkan Amara disaat bocah itu masih sangat membutuhkan kasih sayang dari sosok seorang ibu.
Setelah Ratih dan Amara meninggalkan rumah, Alvian lekas berjalan menuju pintu kamar yang ditempati Anika. Mau tidak mau dia terpaksa mendobrak pintu itu, dia tidak bisa menunggu lagi. Mereka berdua harus bicara untuk meluruskan masalah ini.
Braak...
Braak...
Braak...
Dalam hantaman ketiga, pintu akhirnya terbuka. Meski pundak Alvian terasa sakit tapi dia sama sekali tidak peduli, dia hanya ingin melihat istrinya dan berbicara dari hati ke hati.
Saat Alvian melangkahkan kaki memasuki kamar, sorot matanya langsung tertuju pada ranjang.
Ya, Anika tampaknya masih setia meratapi kesedihannya. Dia bergelung di dalam selimut dengan tubuh meringkuk seperti seekor kukang.
Tanpa pikir panjang, Alvian pun mengangkat tubuh ringkih Anika beserta selimut yang menutupi sekujur tubuhnya kemudian membawa istrinya itu ke kamar mereka.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku!" bentak Anika dari dalam selimut, tatapannya menggelap karena tidak bisa melihat apa-apa. Dia meronta-ronta sembari memukul apa saja yang bisa dipukulinya.
"Iya, nanti Mas turunkan. Sekarang diam dulu!" sergah Alvian datar lalu melanjutkan langkahnya dengan cepat.
Beruntung dia memiliki istri bertubuh kecil mungil sehingga Alvian sama sekali tidak kesulitan mengangkat tubuh istrinya.
Setibanya di kamar, Alvian menutup pintu dengan punggung. Sebelah tangannya meraba anak kunci yang menggantung dan memutarnya dengan cepat, lalu dia pun membawa Anika ke ranjang dan membaringkan istrinya itu pelan-pelan.
Saat tubuhnya menyentuh permukaan kasur, Anika bergegas menyingkirkan selimut yang membuat nafasnya sesak. "Kamu mau membunuhku?" ketus Anika setelah berhasil membebaskan diri, matanya memerah menatap Alvian penuh amarah. Bahkan dadanya kembang kempis mengatur nafas.
Alvian yang mendengar itu lantas tersenyum dan geleng-geleng kepala dibuatnya. Dia pun memilih duduk di sisi ranjang dan mencengkeram lengan Anika pelan. "Apa suamimu ini terlihat seperti seorang pembunuh?" tanyanya dengan suara melembut.
"Iya," tukas Anika acuh tak acuh, dia ingin menjauh tapi Alvian malah menariknya dengan cepat.
__ADS_1
Alvian membawa istrinya itu ke dalam dekapan dadanya dan memeluknya dengan erat. Anika benar-benar kesulitan menjauhkan diri. "Sudah, jangan marah lagi!" bujuk Alvian sembari mengusap lengan Anika lembut dan mencium pucuk kepalanya dengan sayang.
"Lepasin aku!" pinta Anika meninggikan suara.
"Tidak mau, Mas ingin seperti ini saja sampai kamu memaafkan Mas." ucap Alvian.
Meski sebenarnya dia tidak merasa melakukan kesalahan, intinya Alvian lebih memilih mengalah dan meminta maaf atas apa yang tidak dia lakukan.
"Tapi aku sesak Mas, aku tidak bisa bernafas." keluh Anika mengerucutkan bibir.
"Mau Mas kasih nafas buatan?" tawar Alvian mengulum senyum.
"Tidak mau," tolak Anika menggelengkan kepala.
"Kenapa tidak mau? Bukankah rasanya enak?" seloroh Alvian menahan tawa.
"Sudahlah Mas, jangan bercanda terus! Aku ini sedang marah, aku malas bicara sama Mas." geram Anika mendongakkan kepala.
Seketika pandangan keduanya bertemu, Alvian mematut manik mata Anika dengan penuh cinta sedangkan Anika membalasnya dengan tatapan tajam.
"Apa salah Mas sama kamu, Nika? Kenapa kamu jadi seperti ini? Jika Mas salah, Mas minta maaf. Tidak bisakah kita bicara baik-baik?" lirih Alvian dengan tatapan berkabut lalu menangkup tangan di pipi Anika.
Anika yang melihat itu seketika menundukkan kepala. "Aku benci dia, wanita itu sangat jahat." desis Anika dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Iya, Mas tau itu. Dia memang jahat, dia bahkan tega meninggalkan Amara hanya demi mengejar kepuasan dunia." angguk Alvian membenarkan.
"Tapi kan-"
"Sayang, lihat Mas!" Alvian meraih dagu Anika dan mengangkatnya, tatapan keduanya kembali bertemu pandang.
"Apa kamu cemburu?" tanya Alvian menerka-nerka.
"Tidak," geleng Anika dengan cepat, dia tidak mau Alvian besar kepala jika dia mengatakan yang sebenarnya.
Ya, meski Anika sudah berusaha menepis perasaannya, tetap saja dia merasa cemburu mengingat hubungan mereka di masa lalu. Apalagi ada Amara di tengah-tengah mereka, bisa saja hubungan mereka membaik jika wanita itu kembali masuk ke dalam kehidupan Alvian.
"Bohong, Mas tau kamu cemburu." desak Alvian.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak cemburu." kesal Anika menatap Alvian dengan tajam.
"Benarkah? Tapi mata kamu mengatakan iya," kata Alvian.
"Dibilang tidak ya tidak, jangan maksa dong Mas!" ketus Anika dengan mata merah menyala.
"Hmm... Apa itu artinya Mas boleh dekat-dekat lagi sama dia?" tanya Alvian menggoda Anika.
"Mas..." Anika meninggikan suara dan memukul dada Alvian dengan kuat.
"Loh, kok marah? Katanya tidak cemburu," Alvian lantas tersenyum dan mendekap Anika dengan erat.
"Kamu bodoh atau gimana sih, Mas? Istri mana yang tidak cemburu jika suaminya kembali bernostalgia dengan mantan istrinya, lalu aku harus bagaimana? Apa kamu akan mencampakkan aku? Jahat kamu Mas," Anika mencoba menarik diri dari pelukan Alvian tapi suaminya itu malah semakin mempererat pelukannya.
"Hehe... Jangan marah dong, sayang! Mas hanya bercanda," Alvian tiba-tiba terkekeh sembari mengacak rambut Anika gemas.
"Dengar Mas ya! Apapun yang terjadi, sekarang kamulah istri Mas satu satunya. Tidak ada tempat lagi untuk wanita lain di hati Mas. Sejak wanita itu memutuskan meninggalkan Mas dan Amara, sejak itu pula pintu hati Mas tertutup untuk dia." terang Alvian.
Mendengar itu, Anika lantas mengulum senyum dan menengadah mematut muka Alvian. "Yakin?" gumamnya.
"Tentu saja yakin. Wanita itu hanya masa lalu bagi Mas sedangkan kamu, kamu adalah masa depan Mas. Mas hanya ingin menghabiskan sisa hidup Mas bersama kamu dan anak-anak kita nanti. Percaya sama Mas, Mas hanya mencintai kamu seorang." ungkap Alvian.
"Lalu bagaimana dengan Amara? Dia pasti akan meminta Mas membawa wanita itu pulang ke rumah ini, bukankah Amara sangat ingin memiliki ibu?" lirih Anika.
"Amara sudah memiliki ibu, kamulah ibunya. Dia hanya menginginkan kamu," jelas Alvian.
"Beda lah Mas, aku hanya ibu sambung sedangkan-"
"Sudah, tidak usah memikirkan itu. Selagi kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk Amara, dia tidak akan pernah merasa kekurangan. Sekarang tugas kamu menjadi sedikit lebih berat, kamu tidak mau kan kehilangan Amara?" ucap Alvian.
"Tidak," geleng Anika cepat. Meski Amara hanya anak sambung, namun Anika sudah menganggap bocah itu seperti putri kandungnya sendiri. Anika sangat menyayangi gadis kecil itu.
"Nah, makanya jangan ngambek lagi! Tadi Amara nyariin kamu, ada yang ingin dia tunjukkan sama kamu." desis Alvian.
"Tunjukkin apa, Mas?" Anika menautkan alis.
"Nanti saja tanya sama anaknya langsung. Mas yakin kamu pasti suka,"
__ADS_1
"Hmm..." angguk Anika mengukir senyum lebar lalu memeluk Alvian dengan erat.
Sekarang hatinya sedikit lega setelah mendengar penuturan Alvian, dia pikir suaminya masih memiliki perasaan pada wanita itu tapi ternyata dia salah menduga. Alvian sama sekali tidak menginginkan wanita itu lagi.