Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
24. Kesabaran Yang Diuji


__ADS_3

Pagi hari Anika memaksakan diri untuk keluar dari rumah sakit. Meski kakinya masih ngilu karena mengalami keretakan tulang, tapi dia tidak ingin melanjutkan perawatan di rumah sakit itu lebih lama, dia sangsi Rio dan ibu tirinya mengetahui keberadaannya. Dia belum siap bertemu mereka dalam kondisi seperti ini.


"Ayo, dokter terpaksa mengizinkanmu pulang. Aku juga sudah menebus obat dan membayar administrasi, kamu tidak perlu memikirkan semua itu!" ucap Alvian sesaat setelah tiba di ruangan. Dia kemudian memasukkan obat yang dia tebus tadi ke dalam tas Anika.


Ya, semalam Alvian mengurungkan niatnya meninggalkan rumah sakit. Dia terpaksa tinggal karena tidak tega membiarkan Anika sendirian, dia juga bingung karena tak seorangpun keluarga Anika yang datang menjenguknya.


"Terima kasih," ujar Anika dengan suara serak.


"Tidak masalah, ayo, aku akan mengantarmu pulang!" Alvian membantu Anika turun dari brankar, setibanya di bawah Anika malah memeluknya dengan erat.


"Aku tidak mau pulang," desis Anika berbisik di telinga Alvian.


Seketika Alvian bergeming merasakan hembusan nafas Anika yang begitu hangat. Darahnya berdesir dengan jantung berdetak kencang. Entah apa yang diinginkan gadis itu sebenarnya, dia benar-benar menguji emosi Alvian berulang kali.


"Lalu kamu mau kemana? Ingat Anika, kamu sudah bertunangan, sebentar lagi kamu akan menikah. Jangan bertindak bodoh! Apa kamu tidak kasihan dengan calon suamimu? Apa yang akan dia pikirkan kalau kamu menghilang dari rumah?" terang Alvian kehabisan kata-kata, dia tidak mengerti bagaimana cara meyakinkan gadis keras kepala itu.


Anika menjauhkan diri setelah mendengar itu, dia menatap manik mata Alvian dengan intim. "Aku tidak akan menikah dengan pria itu," tegas Anika penuh percaya diri.


Sontak Alvian terperanjat dengan mata membulat sempurna, dia benar-benar terkejut mendengar pengakuan Anika itu. "Kenapa? Bukankah kamu sangat mencintainya?" Alvian mengerutkan kening bingung.


Anika tidak langsung menjawab, dia hanya menggeleng dengan bibir mengerucut lalu melemparkan diri ke pelukan Alvian.


"Tolong bawa aku bersamamu, nanti akan aku ceritakan apa yang terjadi sebenarnya." gumam Anika meremas tengkuk Alvian kuat. Alvian yang mendapat sentuhan itu tiba-tiba merinding dan menghela nafas berat.


Entahlah, jika tidak mengingat posisi mereka di rumah sakit, ingin sekali Alvian membanting gadis itu ke brankar dan menelannya bulat-bulat. Berani sekali dia membangkitkan gairah yang sudah lama mati di diri Alvian.


"Ya sudah, kalau begitu biar aku carikan kontrakan saja untukmu." jawab Alvian, lalu mendorong ketiak Anika agar menjauh darinya. Dia tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman jika ada yang melihat mereka berpelukan. Sayang gadis itu malah semakin membelit Alvian dengan erat.

__ADS_1


"Aku tidak mau tinggal di kontrakan," tolak Anika menggelengkan kepala.


Hal itu lantas membuat otak Alvian meradang seperti ingin pecah, ingin sekali dia mencekik Anika detik ini juga saking jengkelnya. "Hei, gadis idiot, cukup bertele-tele di depanku. Aku sudah berbaik hati membantumu, jangan menyulitkanku dengan kebodohanmu yang hakiki!" kesal Alvian mengepalkan tinju.


"Aku tidak bodoh," tukas Anika meninggikan suara.


"Tidak bodoh apanya? Kamu memang bodoh, otakmu itu sepertinya sudah miring akibat terjatuh kemarin. Sebaiknya periksakan dirimu ke rumah sakit jiwa!" kesal Alvian yang sudah kehabisan kata-kata.


"Aaaa..." Alvian tiba-tiba menjerit saat Anika menggigit daun telinganya.


"Dasar gadis gila!" umpat Alvian, dia mendorong Anika dengan kasar hingga pelukan gadis itu terlepas.


Namun saat Anika kehilangan keseimbangan, Alvian dengan cepat menangkap pinggangnya. Beruntung Anika dengan cepat mengalungkan tangannya di tengkuk Alvian hingga dia pun tidak jadi terjatuh.


Seketika suasana ruangan mendadak hening, baik Alvian dan Anika tiba-tiba terdiam dengan tatapan tak biasa. Manik mata keduanya seakan tengah berbicara dari hati ke hati.


Saat keduanya tersadar, Alvian dengan cepat meluruskan posisi berdiri Anika, namun tiba-tiba matanya membola saat Anika memagut bibirnya dan melu*matnya lembut.


Alvian tidak kuat menahan debaran debaran jantung yang bergemuruh dengan kencang. Berasa ngilu hingga menjalar ke sekujur tubuhnya.


Alvian yang terbawa suasana seketika mencengkeram tengkuk Anika kasar dan membalas lu*matannya dengan nafas memburu, dia tidak bisa melepaskannya dan menyelami rongga mulut Anika sampai dalam. Keduanya asik membelit lidah hingga suara decapan mereka menggema memenuhi seisi ruangan.


"Kreek..."


Pintu tiba-tiba terbuka, Alvian dan Anika lantas terkejut dan menyelesaikan aktivitas mereka dengan cepat. Pipi keduanya mendadak memerah, nampak sekali bahwa keduanya terlihat salah tingkah.


"Maaf, saya ingin membersihkan ruangan ini." ucap seorang perawat pada keduanya.

__ADS_1


"Oh ya, silahkan! Kami baru saja mau pergi," jawab Alvian cepat, lalu menggenggam tangan Anika dan membawanya ke luar.


Alvian hanya diam menatap koridor yang mereka lalui, tidak dengan Anika yang nampak tersenyum sembari mencuri-curi pandang ke arah Alvian yang berjalan di sampingnya.


Entah kenapa Anika merasa sangat nyaman dan aman berada di sisi pria satu anak itu, dia pun tanpa ragu memeluk lengan Alvian sambil berjalan dengan kaki sedikit pincang.


Sesampainya di parkiran, Alvian membukakan pintu dan membantu Anika duduk di bangku depan. Setelah meluruskan duduk Anika dan memasangkan sabuk pengaman, dia menutup pintu dan masuk lewat pintu sebelah.


"Mau aku antar ke rumahmu atau ke kontrakan?" tawar Alvian setelah duduk di bangku kemudi dan menyalakan mesin mobil.


"Tidak dua-duanya," geleng Anika tanpa melihat Alvian.


"Anika..." Alvian menatap tajam pada gadis itu dengan badan sedikit miring.


"Sudah aku bilang, aku tidak mau pulang ataupun ke kontrakan. Aku mau ke rumah Bapak, aku mau bertemu putriku." bentak Anika, dia memutar leher ke arah Alvian dengan mata berkaca-kaca. Satu butiran kristal nampak jatuh di sudut matanya.


"Siapa putrimu?" lirih Alvian dengan suara merendah, matanya menatap Anika dengan sendu.


"Amara, dia putriku." setelah mengatakan itu, Anika kembali membuang pandangan ke arah kaca samping.


Alvian yang mendengar itu tiba-tiba menitikkan air mata. Apakah ini adalah satu-satunya cara agar Amara tidak lagi memusuhinya?


Tapi bagaimana jika nanti Anika meninggalkan mereka lagi? Bukankah hal itu akan semakin menyakiti Amara?


Setelah mempertimbangkan permintaan Anika masak-masak. Alvian pun terpaksa membawa Anika ke rumahnya. Paling tidak untuk saat ini kehadiran Anika bisa membantunya berbaikan kembali dengan putri semata wayangnya.


Setelah ini Alvian akan mencari cara agar Anika tidak lagi meninggalkan mereka. Nanam saham dulu tidak masalah asal Anika tidak akan pergi lagi dari hidupnya.

__ADS_1


Dia sebenarnya juga sudah terlanjur sayang pada gadis itu. Meski menjengkelkan tapi Anika mampu membuat jantungnya berdebar-debar setiap waktu.


Terkadang Alvian merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Bisa-bisanya dia menyukai anak kemarin sore yang memiliki umur terpaut cukup jauh. Tapi mau diapakan lagi, hatinya yakin memilih gadis pecicilan itu sebagai istrinya.


__ADS_2