
"Amara, buka pintunya Nak! Mama mau bicara," panggil Anika dari balik pintu kamar yang dikunci dari dalam.
Ya, Amara yang tadinya merasa sedih kemudian masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dia tidak percaya Anika bisa membentaknya seperti tadi, Amara pikir Anika sudah tidak menyayanginya lagi seperti biasa.
Apalagi Amara juga bingung setelah mendengar pengakuan Lira tadi. Dia yang tidak tau apa-apa tentu saja merasa aneh dengan situasi ini.
Apa benar wanita tadi adalah ibu kandungnya? Tapi kenapa dia baru datang sekarang setelah sekian lama menghilang?
Amara sangat sedih dan memilih berbaring di atas ranjang, air matanya terus menetes mengingat kejadian barusan.
Saat ini dia tidak ingin melihat Anika, dia tidak mau membukakan pintu sampai Alvian kembali dari restoran. Dia akan mencari jawaban dari sang papa.
"Amara sayang, Mama mohon Nak, tolong buka pintunya!" lirih Anika merasa putus asa. Dia tau sudah melakukan kesalahan yang tidak dia sengaja, akan tetapi ketidaksengajaan itu malah membuat Amara menjauh darinya.
Karena Amara tidak kunjung membukakan pintu untuknya, Anika pun memilih pergi dari tempat itu. Dengan langkah gontai dia pun memasuki kamar dan menekuk kakinya di sisi ranjang.
Anika sendiri tidak pernah menginginkan ini terjadi, dia sudah berusaha menjauhkan Amara dari siluman kera itu tapi usahanya malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Dia takut Amara marah dan membencinya setelah tau bahwa ibu kandungnya masih ada. Anika tidak ingin Amara memilih wanita itu, bagaimanapun Anika sangat menyayangi bocah itu.
Sekitar pukul tiga, Alvian sudah tiba di kediaman Suherman. Rencananya sore ini dia ingin mengajak istri dan putrinya jalan-jalan lalu pulang ke rumah mereka.
Alvian tidak enak hati terlalu lama menginap di rumah mertuanya itu. Dia merasa kurang leluasa melakukan pergerakan, ada rasa malu dan canggung saat dia ingin dekat-dekat dengan istrinya sendiri.
Akan tetapi, kepulangan Alvian malah disambut dengan tatapan sendu oleh Anika. Wanita itu tengah berbaring di tempat tidur dengan mata berkaca-kaca mematut Alvian.
Tentu saja pemandangan itu membuat Alvian heran, dia menyipitkan mata sambil melangkah menghampiri Anika dan menekuk kakinya di tepi ranjang.
"Nika, kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" tanya Alvian seraya menempelkan punggung tangannya di kening Anika.
Anika tidak menjawab, dia hanya diam sambil memeluk tubuhnya sendiri. Dia sempat kepikiran dengan ucapan Lira tadi.
__ADS_1
Apa benar mereka berdua bertemu di restoran? Lalu apa yang mereka lakukan di sana? Apa Alvian kembali luluh pada mantan istrinya itu?
Anika tidak tau entah kenapa pikirannya tidak bisa diajak kompromi.
Cemburu?
Tentu saja, istri mana yang tidak akan cemburu jika mengetahui bahwa suaminya diam-diam bertemu dengan wanita yang sangat dia benci.
"Sayang, kenapa diam saja? Apa yang terjadi?" tanya Alvian lagi sambil menyeka cairan bening yang tiba-tiba jatuh di sudut mata Anika.
Anika menggeser tubuhnya dan menyingkirkan tangan Alvian dari wajahnya. Dengan mata menyala tajam, Anika mematut Alvian dari ujung rambut hingga pinggang lalu membuka suara. "Apa kamu bahagia, Mas?"
Mendengar itu, Alvian pun mengerutkan kening bingung. "Tentu saja bahagia, memangnya kenapa?" tanya Alvian balik.
Seketika Anika mengukir senyum getir, dadanya mendadak ngilu mendengar pengakuan suaminya itu. Apa Alvian benar-benar bahagia setelah berduaan dengan mantan istrinya.
"Kenapa sayang? Pertanyaannya kenapa jadi aneh begitu?" imbuh Alvian karena Anika hanya diam tanpa menjawab.
"Nika, kamu kenapa sih? Apa yang terjadi denganmu? Jangan buat Mas bingung dong, sayang!" keluh Alvian sembari mengusap wajah kasar, helaan nafasnya terdengar berat memikirkan apa yang terjadi pada Anika sebenarnya.
Tidak biasanya Anika bersikap aneh begini padanya, ini seperti bukan Anika yang dia kenal sebelumnya.
"Aku lelah Mas, biarkan aku istirahat sejenak!" ketus Anika sembari meraih bantal dan menutup wajahnya hingga tak terlihat lagi oleh Alvian.
Anika ingin menenangkan dirinya barang sejenak, dia masih belum bisa mencerna semuanya dengan sempurna.
Melihat Anika yang seperti itu, Alvian pun memilih bangkit dari duduknya. Dia tidak ingin memaksa Anika untuk bicara, biarlah istrinya istirahat jika memang belum mau mengatakan apa-apa padanya.
Lalu Alvian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, seharian ini dia benar-benar lelah setelah memeriksa keuangan restoran dan mengunjungi distributor bahan langganannya.
Niat yang tadinya ingin mengajak Anika keluar pun pupus begitu saja, mana mungkin dia berani mengutarakan keinginannya setelah melihat Anika yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Alvian keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggang. Namun tiba-tiba keningnya mengernyit saat mendapati kasur yang sudah kosong.
Kemana Anika? Bukankah tadi katanya ingin istirahat? Semakin kesini Alvian semakin bingung melihat tingkah aneh istrinya itu.
Alvian kemudian membuka pintu lemari dengan cepat. Setelah mengambil pakaian, dia pun mengenakannya terburu-buru. Dia bahkan tidak sempat menyisir rambut dan memilih meninggalkan kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Namun saat hendak menuruni anak tangga, sudut mata Alvian tidak sengaja menangkap keberadaan Anika yang tengah berdiri di balkon.
Alvian urung menuruni tangga dan memutar langkahnya ke arah balkon. Dia semakin bingung saat menyaksikan air mata Anika yang terus saja menetes saat berdiri di tepi pagar pembatas.
Tanpa pikir panjang, Alvian pun meraih lengan Anika dan menariknya ke pelukan dada. Alvian mendekapnya erat sambil mengusap kepala Anika lembut.
"Jangan begini, Nika! Kalau ada apa-apa tolong katakan sama Mas, untuk apa menyembunyikan semuanya sendirian?" lirih Alvian yang ikut merasa sedih melihat keadaan istrinya.
Bukannya bicara, Anika malah terisak di dada Alvian. Dia pun memukuli dada suaminya itu dengan membabi buta.
Sadar akan sesuatu yang dipikirkan oleh istrinya, Alvian pun memilih diam menikmati pukulan yang dilayangkan Anika. Biarlah dia menahan rasa sakit agar Anika bisa melepaskan beban itu dari hatinya.
"Aku benci kamu, Mas. Aku benci," isak Anika dengan suara yang tak beraturan. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan saat merasakan hangatnya pelukan Alvian.
"Ya, lalu apa lagi?" desis Alvian yang terus saja mengusap kepala Anika dengan penuh kasih sayang.
"Aku benci kamu, Mas. Kamu jahat," imbuh Anika sesenggukan. Dada Alvian sampai basah dibuatnya.
"Hmm... Lalu?" Alvian masih saja memancing Anika agar mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya.
"A-aku..." Anika terbata-bata saat ingin mengatakan sesuatu pada Alvian, dadanya sangat sesak mengingat ucapan siluman ular tadi.
"Aku apa?" tanya Alvian sembari mengangkat dagu Anika, tatapan keduanya bertemu untuk beberapa saat sebelum akhirnya Anika memutus kontak mata mereka.
"Pokoknya aku benci kamu," kesal Anika lalu mendorong Alvian dan berlari memasuki kamar. Alvian hanya bisa mengelus dada melihat keanehan istrinya.
__ADS_1