
Alvian berjongkok di hadapan Anika, dia tidak tega melihat Anika seperti itu. Ditariknya lengan Anika dan dipeluknya tubuh ringkih gadis itu dengan erat.
"Aku lelah Pak, bolehkah aku menyerah sampai di sini? Aku ingin pergi menyusul Ibu, aku ingin tidur di pelukannya." isak Anika sesenggukan. Ingusnya ikut mengalir bersama air mata yang tak sanggup lagi dia bendung.
"Sssttt... Apa yang kamu katakan?" sergah Alvian mengusap punggung Anika.
"Aku ingin mati saja, aku capek dengan sandiwara kehidupan ini. Tidak ada yang menginginkan aku, tidak ada yang menyayangiku. Semua orang yang aku sayangi meninggalkan aku begitu saja, mereka mengkhianati ku. Untuk apa aku hidup? Bahkan satu-satunya orang yang aku percaya mendinginkan aku seperti ini, dia membohongiku, dia tidak pernah mencintaiku." lirih Anika. Dia mendorong Alvian dan bangkit dari duduknya lalu berjalan dengan susah payah meninggalkan kamar mandi.
Sesampainya di kamar, Anika mengambil tas miliknya yang terletak di atas nakas lalu menyandangnya di bahu. Anika berjalan menuju pintu dengan kaki pincang yang masih terasa sangat sakit, tapi dia harus kuat menopang dirinya sendiri. Sudah tidak ada lagi tempat untuk berpegang, dia merasa sendiri dan kesepian.
"Anika, kamu mau kemana?" Alvian yang baru keluar dari kamar mandi langsung berlari menghadang langkah Anika, dia menyandarkan punggung di daun pintu.
"Maafkan aku karena sudah merepotkan Bapak berkali-kali, aku tidak bisa menumpang tinggal di rumah ini. Aku-"
"Tidak, kamu tidak boleh pergi. Bukankah tadi sudah aku beri penawaran padamu? Kamu sendiri yang bersikeras untuk pulang ke rumah ini, maka jangan harap bisa pergi dari sini!" tegas Alvian penuh penekanan, dia menatap Anika dengan tajam.
"Tadinya aku pikir-" Anika menghentikan ucapannya seketika, tatapannya nampak sayu.
"Aku pikir apa?" tanya Alvian mengerutkan kening.
"Tidak apa-apa, aku yang teledor. Anganku terlalu tinggi sehingga salah dalam menilai sesuatu, tolong biarkan aku pergi!" kata Anika, dia mencoba menggeser lengan Alvian tapi pria itu tidak beranjak sedikitpun.
"Sudah aku bilang, kamu tidak boleh pergi dari rumah ini!" tekan Alvian.
"Kenapa tidak boleh? Aku bukan siapa-siapa kamu Pak, kenapa menahan ku?" Anika tersulut emosi hingga meninggikan suaranya.
"Kamu ingin tau kenapa, iya?" Rahang Alvian menggeram dengan gigi bergemeletuk. Dia menoleh ke belakang dan lekas memutar anak kunci lalu menariknya dan membuangnya ke kolong tempat tidur.
"Pak, apa yang kamu lakukan?" Anika berjalan perlahan menuju tempat tidur dan berjongkok di sisi ranjang. Saat hendak mengulurkan tangan, tubuhnya tiba-tiba melayang di udara. Anika mendongak mendapati Alvian yang tengah mengangkat tubuhnya dan menjatuhkannya di kasur.
"Aww... Sakit tau Pak," keluh Anika dengan bibir mengerucut, dia mengusap pinggang yang terasa sedikit ngilu.
__ADS_1
"Itu belum seberapa, aku akan membuatmu merasakan sakit yang sebenarnya." gertak Alvian sambil merangkak menaiki tubuh Anika.
"P-Pak, kamu mau apa? Jangan macam-macam atau aku teriak!" ancam Anika dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Teriak saja, kamu pikir aku bodoh. Ini rumahku, tidak ada seorangpun yang bisa membantumu. Lagian kamar ini kedap suara, tidak akan ada yang tau meski kamu berteriak sekerasnya." Alvian tersenyum sumringah setelah mengatakan itu.
Mendengar itu, Anika sontak bergidik ngeri. "A-ampun Pak, aku minta maaf. Aku janji tidak akan pergi dari sini, tolong menjauh dulu dariku!" pinta Anika memohon, suaranya tiba-tiba melembut dan terdengar manja di telinga Alvian.
"Terlambat sayang, kamu sudah terlanjur menguji kesabaranku. Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah," ucap Alvian dengan tatapan tak biasa, dia menekan Anika seraya mengelus pipinya dengan lembut lalu menyentuh permukaan bibir Anika dengan ujung jarinya.
"P-Pak... Mmphh..." Alvian mengecup bibir Anika dan melu*matnya dengan lembut yang membuat Anika terdiam dengan mata melotot tajam.
"Lihat aku!" ucap Alvian setelah melepaskan pagutannya.
Anika bergeming mematut manik mata Alvian, dadanya kembang kempis menahan sesak ulah sentuhan Alvian barusan.
"Aku tau dari tadi kamu sengaja memancingku, aku juga tau tujuanmu memanasi Amara tadi. Kamu ingin jawaban dariku, kan? Maka nikmati jawaban ini tanpa perlawanan, aku akan menjadikanmu milikku. Setelah ini kamu tidak akan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku lagi."
Setelah mengatakan itu, wajah Alvian menghilang dari pandangan Anika. Pria itu tenggelam di leher Anika dan memberikan kecupan kecupan kecil di sana, Anika sontak terdiam dengan mata terpejam. Sedikit lenguhan kecil lolos dari mulutnya saat Alvian menghisap kulit lehernya, meninggalkan jejak kepemilikan berwarna merah keunguan.
Pelan-pelan tangan Alvian bergerak menaikkan baju yang melekat di tubuh Anika. Dia mengecup perut rata gadis itu dan mengecup batok kelapa Anika yang sudah terpampang di depan matanya.
"Aughh..." de*sah Anika spontan, sekujur tubuhnya merinding, kulitnya mendadak kesat seperti kulit ayam. "Jangan diteruskan, Pak. Cukup!" gumam Anika dengan nafas kian memburu. Dia tidak kuat menahan rasa ngilu akibat sentuhan yang dilayangkan Alvian di titik-titik sensitif miliknya, dia takut tidak bisa mengendalikan diri. Begini saja sudah membuatnya kehilangan akal sehat.
Alvian yang mendengar itu lantas menghentikan aksinya sejenak, dia mematut Anika yang masih setia memejamkan mata. Dia pun mengesap bibir merekah gadis itu dengan penuh perasaan.
"Menikahlah denganku, jadilah istriku dan ibu untuk Amara. Aku janji tidak akan pernah menyakitimu, lupakan pria itu dan lihat aku, belajarlah mencintaiku!" desis Alvian penuh harap.
Anika yang mendengar itu membuka mata perlahan dan mematut Alvian dengan intim.
Sambil menunggu jawaban Anika, Alvian kembali turun dan membuka pengaman yang melekat di dada Anika. Gadis itu bergerak cepat hendak menutup dadanya tapi Alvian tak kalah sigap menahan tangannya.
__ADS_1
Alvian mengerjap sambil meneguk ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering menyaksikan puncak dada Anika yang terlihat sangat manis seperti permen yupi.
"Aughh..." kembali Anika mende*sah saat Alvian menghisap benda kecil di ujung dadanya. Alvian mengitarinya dengan lidah dan menggigitnya sesekali.
"I-iya, aku mau. Sekarang tolong hentikan, aku tidak kuat. Ini geli sekali Pak," de*sah Anika dengan tatapan tak biasa, pipinya memerah seketika itu juga.
"Mas, bukan Pak." ucap Alvian yang masih bergelayut di dada Anika.
"Hmm... Iya, Mas." angguk Anika cepat.
Seketika Alvian mengusir senyum dan menggigit puncak dada Anika gemas.
"Aughh... Mas, sudah!" pekik Anika mengangkat pinggang, dia benar-benar tidak tahan dengan permainan Alvian.
"Nanggung sayang, lanjut saja ya!" goda Alvian mengulum senyum.
"Lanjut apanya?" Anika memelototi Alvian, dia tidak mengerti maksud pria itu.
"Itu," Alvian mengulum senyum, dia sendiri tidak mengerti cara mengatakannya.
"Itu apa?" Anika menautkan alis bingung.
"Loh, masa' gak ngerti sih. Mau dipraktekkan langsung?" tawar Alvian, dia semakin turun dan mengecup inti Anika dari balik celana yang masih menutup pandangannya.
"Aaaa... Jangan, Mas! Tidak boleh," geleng Anika menjerit kecil, lalu mengatup kedua pahanya dan menjauh dari Alvian.
"Hahaha... Kenapa takut begitu? Katanya mau jadi istri Mas, sekarang atau besok sama saja kan?" Alvian terkekeh melihat reaksi Anika yang tak biasa, sangat menggemaskan di matanya. Rasanya Alvian ingin sekali mengunyah gadis itu mentah-mentah.
"Cukup Mas, jangan buat aku marah. Kamu sudah bertindak terlalu jauh, aku-"
"Aku apa? Orang kamu nya juga suka kok, kenapa cuma nyalahin Mas?" seloroh Alvian, lalu meraih tangan Anika dan memeluknya erat. Anika mencoba melawan tapi tiba-tiba kakinya terasa ngilu. Dia terpaksa pasrah dan membiarkan Alvian tenggelam di dadanya. "Diam saja, biarkan Mas tidur sebentar di sini. Semalam Mas kurang tidur gara-gara jagain kamu." imbuh Alvian.
__ADS_1
"Oh, jadi nyesal jagain aku." keluh Anika.
"Tidak, siapa yang nyesal. Disuruh jagain tiap malam juga boleh." sahut Alvian mempererat pelukannya.