
"Mbak, terima kasih karena sudah membawaku ke rumah sakit ini. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika Mbak tidak datang tepat waktu, aku benar-benar berhutang budi sama Mbak. Sekarang Mbak lebih baik pulang saja, aku tidak apa-apa, aku tidak ingin siapapun mengetahui tentang keberadaan ku saat ini. Kalau ada yang bertanya mengenai aku, katakan saja seperti yang aku katakan tadi!" ucap Anika pada Tuti, pelayan kepercayaan Suherman yang sudah mengabdikan diri sejak almarhumah ibu Anika masih hidup. Dia merupakan pelayan kesayangan wanita itu.
"Baik Non, tapi Non mau kemana setelah ini? Kondisi Non masih lemah," tanya Tuti mengangguk setuju.
"Mbak tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri dengan baik. Aku bukan orang lemah seperti yang mereka pikirkan selama ini. Biarkan aku menghilang terlebih dahulu, aku akan kembali saat waktunya sudah tiba." jawab Anika dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, tapi Non harus hati-hati ya. Mereka tidak mungkin diam saja saat tau bahwa Non tiba-tiba menghilang dari rumah." ucap Tuti.
"Hmm... Aku mengerti," Anika mengangguk lemah, lehernya masih terasa sakit akibat kecelakaan tadi.
Setelah Tuti pamit meninggalkan ruangan, Anika dengan cepat meraih iPhone miliknya yang masih berada di dalam tas. Beruntung tas itu tidak terjatuh saat Anika dilarikan ke rumah sakit tadi, di sana ada salinan rekaman yang sudah dia copy.
Akan tetapi, sekarang Anika malah kebingungan harus kemana dalam kondisi seperti ini. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Suherman yang merupakan ayah kandungnya sendiri.
Anika tidak mungkin pulang ke rumah itu dalam kondisi seperti ini, itu sama saja mengantarkan nyawa ke kandang singa.
Mau tidak mau, Anika terpaksa meminta bantuan pada Alvian. Hanya pria itu satu-satunya yang bisa Anika percaya untuk saat ini. Meski terkadang Alvian sangat menjengkelkan, tapi Anika yakin ayah satu anak itu merupakan orang baik.
Anika kemudian menekan tombol darurat yang ada di atas kepalanya. Karena tidak memiliki nomor kontak Alvian, dia terpaksa meminta bantuan pada perawat.
Tidak berselang lama, seorang perawat cantik berpakaian serba putih datang memasuki ruangannya. Perawat itu menanyakan keluhan Anika tapi gadis itu malah menggeleng lemah. Dia tidak membutuhkan penanganan medis tapi dia membutuhkan bantuan lain.
Anika pun menjelaskan semuanya pada perawat itu. Berhubung baru-baru ini Amara juga dirawat di rumah sakit yang sama, otomatis bagian administrasi masih menyimpan data orang tua pasien. Anika meminta perawat itu menghubungi Alvian agar datang menemuinya di rumah sakit, Anika beralasan bahwa Alvian adalah kakaknya.
Setelah perawat itu mengiyakan permintaannya, Anika mengerjap dan menghela nafas lega. Dia berharap Alvian tidak marah karena penolakannya dan mau menemuinya.
...****************...
"Permisi Sus, pasien bernama Anika ada di ruangan mana ya?" tanya Alvian pada seorang perawat yang tak sengaja berpapasan dengannya.
__ADS_1
Ya, tadi saat dalam perjalanan pulang dari restoran, Alvian tiba-tiba menerima telepon dari rumah sakit. Tanpa pikir panjang, dia pun memutar stir ke arah berlawanan, dia benar-benar khawatir setelah mendengar penjelasan dari perawat di telepon tadi.
"Lantai dua, ruang VIP no 105." jawab perawat itu, kebetulan dia sendiri yang tadi menghubungi Alvian sesuai permintaan Anika.
"Baik Sus, kalau begitu terima kasih." Alvian menangkup tangan di depan dada, lalu berlarian menuju lift yang cukup jauh dari pandangannya.
Setelah berhasil memasuki lift dan berhenti di lantai dua, Alvian berhamburan mencari ruangan 105 seperti yang dikatakan perawat di bawah tadi. Dia melewati beberapa ruangan sebelum akhirnya menangkap nomor 105 yang menempel di daun pintu.
Ya, tanpa mengetuk terlebih dahulu, Alvian langsung saja mendorong pintu kaca itu hingga terbuka lebar. Tatapan matanya mengarah pada Anika yang juga tengah melihat ke arahnya. Gadis itu terbaring lemah di atas brankar dengan tatapan sendu tanpa pergerakan.
"Anika..." seru Alvian dengan nafas terengah, detak jantungnya tiba-tiba berpacu dengan aliran darah yang menjalar sangat cepat.
"Pak," lirih Anika dengan mata berkaca. Entah kenapa dia ingin sekali menangis setelah melihat kedatangan Alvian, tapi dia pun mencoba menahannya sekuat hati.
Setelah menutup pintu, Alvian berjalan mendekati Anika. Manik matanya sempat bergerak kesana kemari tapi tak melihat siapa-siapa di sana. Alvian pikir akan ada calon suami Anika yang menemaninya.
Lalu Alvian berdiri di samping brankar dan mematut Anika dengan intim, hatinya tiba-tiba mencelos melihat air muka Anika yang menyimpan banyak kesedihan.
Anika menggeleng lemah, dia hanya menangis sambil meraih tangan Alvian dan menggenggamnya dengan erat.
Alvian sendiri nampak kebingungan dengan kening mengernyit lalu memberanikan diri menyentuh pucuk kepala Anika.
Disitulah tangisan Anika semakin menjadi-jadi. Dia merasa tidak pantas mendapat perhatian seperti itu dari pria yang sudah dia tolak mentah-mentah. Dia merasa bodoh karena meninggalkan Alvian demi laki-laki bajingan yang sudah menyakitinya sampai seperti ini.
"Maafkan aku, Pak. Aku benar-benar minta maaf," lirih Anika terisak.
"Sssttt... Apa yang kamu katakan? Kamu tidak salah," selang Alvian menenangkan Anika, kemudian menyeka jejak air mata di pipi gadis itu.
Bukannya mereda, Anika malah semakin terisak hingga sesenggukan. Dia pikir Alvian akan memarahinya, ternyata tidak sama sekali. Alvian justru bersikap sangat lembut padanya.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis lagi!" Alvian mengusap kepala Anika seperti yang selalu dia lakukan pada Amara saat menangis.
Sejenak Anika terdiam menikmati sentuhan tangan Alvian, kali ini dia merasa sangat nyaman di sisi pria itu. Tidak lama kemudian, dia pun membuka suara. "Tolong bawa aku pergi dari sini, aku mohon!" pintanya dengan tatapan memelas.
Alvian yang mendengar itu sontak menjauhkan tangannya dan termundur satu langkah. Permintaan itu terasa berat baginya, dia tidak ingin Amara semakin kecewa jika membawa Anika pulang ke rumah, ujung-ujungnya gadis itu akan meninggalkan mereka lagi.
"Maaf, aku tidak bisa." ucap Alvian membuang muka, dia tidak sanggup menatap wajah gadis itu.
Anika tiba-tiba tersenyum getir, sudah dia duga bahwa Alvian akan menolaknya setelah apa yang terjadi diantara mereka.
"Bukan apa-apa, aku tidak ingin Amara semakin terluka. Dia terlalu berharap padamu sehingga kini dia bahkan membenci ayah kandungnya sendiri. Dia sudah terlalu menderita kehilanganmu, aku tidak tega memberi harapan palsu lagi padanya. Sebentar lagi kamu akan menikah, Amara tidak akan sanggup menerima ini." jelas Alvian.
"Lalu bagaimana dengan Bapak? Apa Bapak sanggup?" tanya Anika dengan tatapan tak biasa.
"Entahlah, aku sepertinya sudah mati rasa." jawab Alvian mengangkat bahu.
"Kenapa? Apa karena cinta Bapak ditolak?" tanya Anika lagi.
"Aku tidak tau," geleng Alvian.
"Apa itu artinya kesempatanku sudah tidak ada lagi?" Anika menautkan alis.
"Apa yang kamu katakan, Anika? Ingat, sebentar lagi kamu akan menikah, lebih baik fokus saja pada pernikahanmu!" selang Alvian yang sudah kewalahan menjawab pertanyaan Anika. "Ya sudah, aku pulang dulu, semoga cepat sembuh." Alvian pun berjalan menuju pintu.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku!" seru Anika menggapai-gapai Alvian dengan tangan, dia berusaha bergerak dan turun dari brankar tapi...
"Bug..."
"Aaaa..."
__ADS_1
Anika menjerit saat tubuhnya ambruk di lantai, kepalanya membentur besi brankar dan mengeluarkan sedikit darah.
Alvian yang mendengar suara dentuman keras itu langsung berbalik dan membulatkan mata lebar, dia pun berlari mengejar Anika dan terhenyak di lantai saking paniknya. Dibawanya Anika ke dekapan dadanya dan dipeluknya erat.