Amara Ingin Punya Mama

Amara Ingin Punya Mama
29. Belajar Membiasakan Diri


__ADS_3

"Bi Ratih, ayo cepat!" seru Amara saat keduanya baru saja memasuki rumah. Bocah itu berlarian menuju kamar Alvian, dia sudah tidak sabar ingin mendengar kabar baik yang tadi diceritakan Ratih padanya.


Ya, pagi-pagi sekali Alvian sudah curhat pada Ratih. Dia mengatakan ingin menikahi Anika secepatnya, dia tidak akan mengulur-ngulur waktu untuk menjadikan Anika miliknya.


Hal itulah yang disampaikan Ratih pada Amara saat pulang dari sekolah barusan. Bocah itu ingin tau apakah Alvian dan Anika sudah menikah atau belum, dia ingin mendengarnya langsung dari mulut sang papa.


Akan tetapi, Amara tiba-tiba cemberut saat tak melihat Alvian di kamarnya. Apakah pria itu tidak ada di rumah? "Papa tidak ada Bi," keluhnya dengan bibir mengerucut. Seisi kamar dan kamar mandi sudah dia telusuri tapi tak menemukan Alvian di mana-mana.


Ratih sontak tersenyum dan menggendong Amara di bahunya. "Mobil Papa ada kok di luar. Mungkin Papa lagi istirahat di kamar Mama. Amara jangan ganggu dulu ya, biarkan mereka berdua menghabiskan waktu bersama." ucap Ratih memberi pengertian.


"Tapi Bi-"


"Tidak ada tapi tapi, katanya tidak ingin kehilangan Mama lagi." selang Ratih mencubit gemas pipi Amara.


Amara menggeleng sekilas lalu mengangguk perlahan. Sepertinya dia mulai mengerti maksud ucapan Ratih.


"Anak pintar, gitu dong. Sekarang Amara sama bibi saja ya, kita mandi dulu, habis itu makan lalu bobok siang." ajak Ratih.


Lagi-lagi Amara mengangguk pelan dan memeluk tengkuk Ratih dengan erat.


Ya, Ratih memang sudah seperti ibu kandung bagi Amara. Hanya saja bocah itu tidak tertarik untuk menjadikan Ratih sebagai ibunya. Dia menyayangi Ratih sama seperti dia menyayangi Anika, akan tetapi sosok Anika lebih mendominasi di hati bocah itu.


Kemudian keduanya masuk ke kamar Amara. Ratih melepaskan pakaian seragam bocah itu dan membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi, Ratih memakaikan pakaian Amara dan menyisir rambutnya. Setelah itu dia menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.


"Bi, kalau Mama sama Papa sudah menikah, apa itu artinya Amara boleh punya dedek?" tanya bocah itu dengan polos. Ratih yang tengah memasak sontak terkekeh mendengar celetukan gadis kecil itu, dia tidak mengerti darimana Amara tau masalah orang dewasa seperti ini.


"Siapa yang bilang sama Amara?" tanya Ratih menautkan alis.


"Tidak ada, tapi teman-teman di sekolah bilangnya seperti itu. Kalau kita punya Papa sama Mama, itu artinya kita akan punya dedek bayi sebentar lagi. Apa itu benar?" wajah Amara nampak serius menanyakan itu.

__ADS_1


"Berdoa saja, kalau Tuhan mengizinkan, tidak ada yang tidak mungkin. Intinya Amara harus jadi anak baik agar permintaan Amara dikabulkan sama Tuhan." jawab Ratih menjelaskan.


"Emm... Amara janji tidak akan nakal lagi." ucap bocah itu. Ratih hanya bisa tersenyum melihat kepolosan bocah ingusan itu.


Selesai memasak, Ratih menata masakannya di atas meja makan. Dia mengisi piring dengan nasi dan lauk seadanya lalu menyuapi Amara sampai kenyang. Setelah itu Ratih membawa Amara ke kamar dan menidurkannya.


Di kamar sebelah, Alvian baru saja tersentak dari tidurnya. Mata yang tadinya sipit tiba-tiba membulat mendapati Anika yang masih tertidur pulas di dadanya.


Alvian sontak tersenyum, dia tidak sadar sudah tertidur cukup lama. Dia kemudian mendekap Anika dengan erat sambil mencium pucuk kepala istrinya itu.


Semua terasa seperti mimpi, Alvian masih belum percaya sepenuhnya bahwa kini statusnya sudah berubah menjadi seorang suami.


Suami untuk gadis pecicilan yang kadang sangat menjengkelkan, namun sifat bawaan Anika itulah yang membuat Alvian menyayanginya.


Tidak pernah terpikir di benak Alvian untuk mengakhiri kesendiriannya. Dia yang tadinya sudah putus asa menjalin hubungan, akhirnya takluk di tangan gadis muda secantik Anika.


"Aaaaakhgg..." Anika tiba-tiba menggeliat, mulutnya menganga lebar saat menguap. Dia sama sekali belum sadar akan posisinya yang tengah menindih sebagian tubuh Alvian. Dia malah semakin mempererat pelukannya, memagut Alvian layaknya sebuah guling.


"Nika, bangun sayang. Ini sudah jam tiga, Mas lapar." desis Alvian di telinga istrinya itu.


"Sayang, ayo bangun! Mas benar-benar lapar, Mas ingin makan sama kamu." desak Alvian, dia mengecup bibir Anika dan melu*matnya. Sontak Anika terbangun saat merasakan sesak di dadanya.


Seketika mata Anika membola melihat Alvian yang begitu dekat dengan dirinya. "Ma-mas..." Anika hendak menjauh tapi Alvian dengan cepat menahan pinggangnya.


"Lepas Mas, a-aku..." Anika mendadak gelagapan, dia tidak bisa menyembunyikan kecanggungan yang menusuk relung hatinya.


"Mas..." lirih Anika dengan tatapan memelas, dia mulai gemetaran saat tangan Alvian mengusap nakal pinggang rampingnya.


"Apa?" tanya Alvian enteng sembari tersenyum kecil.


"A-aku..." Anika benar-benar kesulitan berkata-kata, raut mukanya mendadak terlihat pucat.

__ADS_1


"Aku kenapa?" tanya Alvian lagi dengan seringai nakal di bibirnya.


"A-aku, aku kebelet pipis Mas. Ya, aku mau pipis." alibi Anika mencari-cari alasan.


"Belum diapa-apain kok sudah mau pipis saja sih?" Alvian mengulum senyum, dia benar-benar gemas melihat ekspresi wajah imut istrinya.


"Mas, aku serius. Ini sudah di ujung," rengek Anika dengan manja. Alvian yang mendengar itu akhirnya mengalah dan memilih melepaskan Anika.


Gadis itu beringsut dengan cepat, lalu melompat dari kasur dan berlari ke kamar mandi.


Ya, dia memang sudah tidak bisa menahan nyeri di ari-arinya. Kantong kemihnya menyempit tatkala gugup bersentuhan dengan suaminya.


Anika merasa seperti orang bodoh jika sudah berdekatan dengan Alvian, kewarasan otaknya terkadang hilang timbul menahan rasa gugup.


Padahal sebelumnya mereka sudah pernah melakukan sesuatu yang cukup intim, tapi kenapa setelah sah semuanya jadi semakin menakutkan bagi Anika?


Usai membuang apa yang seharusnya dia buang, Anika mencuci wajah dan keluar dari kamar mandi.


Alvian sendiri sudah bangkit dari pembaringan dan duduk di tepi ranjang. "Sayang, Mas lapar." ucapnya.


"Mmm..." angguk Anika, lalu meninggalkan kamar lebih dulu.


Anika pun memasuki dapur, dia ingin menyiapkan makanan untuk Alvian.


"Nyonya Alvian sudah bangun?" sapa Ratih mengulum senyum. Anika terkejut dan berbalik, dia mendapati Ratih yang sepertinya baru keluar dari kamar Amara.


"M-mbak," gumam Anika sedikit gugup, dia merasa tidak enak hati dipanggil dengan sebutan nyonya Alvian.


"Santai saja Anika, tidak usah gugup begitu. Aku dan Alvian sudah seperti kakak adik, tidak ada rahasia diantara kami berdua." Ratih menghampiri Anika dan membantunya menyiapkan makanan.


Anika memaksakan diri untuk tersenyum lalu melanjutkan pekerjaan. Sambil memasak, keduanya nampak asik berbincang-bincang, membicarakan hal kecil mengenai kehidupan Alvian di masa lalu.

__ADS_1


Ratih pun menceritakan semuanya pada Anika, tidak ada yang dia tutupi sedikitpun. Dia juga ikut bahagia menyambut pernikahan Alvian dan gadis itu. Terlebih saat tau bahwa mereka berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri, dia turut senang karena Amara sudah memiliki mama baru pengganti wanita jahat yang sudah meninggalkan Alvian dan putri kecilnya.


Seketika Anika menatap lekat pada Ratih, dia pikir selama ini Alvian hanya mengada-ada saat menceritakan kisah masa lalunya. Sekarang Anika mulai mengerti, ternyata Alvian memang korban dari keegoisan seorang wanita.


__ADS_2