
Keesokan hari, Amara sudah mau ke sekolah bersama Alvian. Nampaknya kehadiran Anika sudah membuat kemarahan bocah itu lenyap dalam sekejap mata, hanya saja dia selalu mewanti-wanti sang papa untuk tetap menjaga Anika agar tidak kabur lagi darinya.
Alvian mengatakan bahwa kali ini Anika tidak akan bisa pergi lagi dari mereka, Alvian akan mengikat gadis itu dengan erat.
Sesampainya di gerbang sekolah, Alvian membukakan pintu mobil untuk Amara dan Ratih. Dia meminta Ratih menunggu Amara di sekolah. Dia khawatir mengingat keadaan putrinya yang belum pulih seutuhnya.
Setelah Amara menyalami dan mencium tangannya, Alvian lekas pergi meninggalkan area sekolah. Hari ini dia akan mengurus berkas pernikahan ke kantor KUA, dia ingin secepatnya menikahi Anika agar status mereka jelas di mata hukum dan agama.
Setengah jam berlalu, mobil Alvian tiba di halaman kediamannya. Setelah mematikan mesin, dia bergegas turun dan memasuki rumah terburu-buru, dia langsung saja mendatangi kamar Anika tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Sesaat setelah pintu terbuka, Anika yang tengah berbaring di ranjang terperanjat dan menatap Alvian dengan mata membola. Hampir saja jantungnya copot karena kedatangan Alvian yang mendadak tanpa permisi.
"Mas, kenapa main nyelonong begitu? Bikin orang kaget saja," keluh Anika dengan bibir mengerucut.
"Hahaha... Maaf, habisnya sudah tidak sabar ingin bertemu calon istri." sahut Alvian terkekeh.
"Apaan sih? Pagi-pagi sudah membual." Anika kembali berbaring dan menarik selimut lalu menutupi tubuhnya. "Keluarlah! Aku mau tidur," imbuhnya seraya memicingkan mata perlahan.
"Masih pagi, kok malah tidur sih?" ujar Alvian, dia mengayunkan kaki dan memilih duduk di tepi ranjang.
"Ngantuk, semalam tidak bisa tidur." gumam Anika menjawab pertanyaan Alvian.
"Loh, kenapa tidak bilang sejak semalam? Tau gitu biar Mas temani," keluh Alvian.
"Ogah, ujung-ujungnya pasti nyari kesempatan dalam kesempitan." sindir Anika.
"Hehehe... Tapi kamu suka kan?" seloroh Alvian tertawa kecil.
"Tidak," geleng Anika.
__ADS_1
"Hmm... Ya sudah, kalau begitu tidur saja." Alvian yang merasa tidak enak hati langsung murung seketika itu juga. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi Anika.
Mendengar langkah Alvian yang semakin menjauh darinya, Anika memutar badan dan bertanya. "Mas mau kemana?"
"Entahlah," jawab Alvian sembari mengangkat bahu. Setelah mematut Anika sejenak, dia pun melanjutkan langkahnya.
"Mas..." sorak Anika, hal itu membuat langkah Alvian kembali terhenti.
"Hmm..." gumamnya dengan raut wajah datar seperti papan catur, dia menatap Anika sekilas lalu membuang muka.
"Kemarilah! Aku mau bicara," panggil Anika melambaikan tangan di udara.
"Nanti saja, Mas mau ke kamar sebentar." tolak Alvian secara halus.
Mendengar itu, air muka Anika mendadak berubah murung. "Ya sudah, pergi saja!" ujarnya, lalu memutar badan.
Anika sedikit merasa kecewa karena penolakan Alvian barusan, padahal dia ingin sekali meminta bantuan untuk menyelesaikan masalahnya. Akan tetapi sepertinya Anika salah menaruh harapan pada ayah satu anak itu.
Sadar akan perubahan sikap Anika yang begitu tiba-tiba, Alvian lantas mengukir senyum dan menggaruk kepala yang tidak gatal. Dia urung meninggalkan kamar dan kembali menghampiri gadis itu.
"Ish, manja sekali gadis satu ini. Bikin gemas saja," gumam Alvian tersenyum miring, dia pun berbaring di samping Anika dan masuk ke dalam selimut.
"Mas..." Anika sontak menggeliat kala Alvian memeluk dirinya dan meraba bagian dadanya. Sekujur tubuhnya merinding merasakan sentuhan tangan pria itu.
"Sssttt... Jangan bergerak, diam dan nikmati saja!" ujar Alvian berbisik, wajahnya mulai tenggelam di telinga Anika lalu turun ke lehernya.
"Geli Mas, cukup!" keluh Anika, lalu menendang selimut hingga tubuh keduanya ternganga.
Lagi-lagi Alvian hanya bisa tersenyum melihat ketakutan di diri Anika. Jelas wanita itu tidak memiliki pengalaman sehingga pipinya memerah bak kepiting rebus.
__ADS_1
"Ayolah Nika, Mas ingin sekali memilikimu." gumam Alvian dengan nafas tercekat di tenggorokan, dia rasanya sudah tidak tahan ingin menjelajahi tubuh gadis yang berada di pelukannya itu.
Lima tahun menduda tentunya bukan waktu yang singkat buat Alvian, gairahnya selalu memuncak kala berada di sisi gadis itu.
"Jangan gila Mas, aku tidak akan pernah melakukan itu sebelum resmi menjadi istrimu." jawab Anika tegas dengan sedikit penekanan. Matanya menatap tajam pada Alvian yang juga tengah mematut wajahnya dengan intim.
"Kalau begitu ikut Mas! Kita akan menikah hari ini juga." ajak Alvian tanpa berbasa-basi, intinya Anika harus menikah dengannya secepat mungkin. Lama-lama dia bisa gila jika hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh. Sebagai laki-laki normal tentu saja hal itu begitu menyiksa bagi Alvian.
"Hari ini?" Anika nampak terkejut mengulangi kata itu. Dia tidak habis pikir Alvian begitu ngebet ingin menikahi dirinya secepat ini. "Mas yakin?" imbuhnya memastikan.
"Hmm... Yakin seribu persen," angguk Alvian tanpa ragu sedikitpun, dia sudah sangat siap menerima Anika lahir dan batin.
"Tapi Mas, Ayah-"
"Kita akan ke rumah kamu setelah menikah nanti dan meminta restu pada Ayah dan Ibumu, intinya kita menikah dulu ya." bujuk Alvian meyakinkan Anika.
Sejenak Anika bergeming menelaah kata-kata Alvian barusan. Apa mungkin dia sanggup menikah tanpa restu dari Suherman?
Akan tetapi, Anika merasa ini adalah jalan terbaik untuk membatalkan pernikahannya dengan Rio. Anika yakin pria bajingan dan wanita iblis itu masih memiliki siasat lain untuk menjebaknya dan menguasai seluruh harta kekayaan Suherman.
"Baiklah, kita menikah hari ini. Tapi aku mau Mas berjanji dulu untuk menerimaku sepenuh hati, Mas juga harus janji membantuku menyingkirkan wanita ular itu. Aku tidak ingin dia menguasai semua aset Ayah, dia berselingkuh dari Ayah. Aku tidak bisa membiarkan Ayah tertipu lagi olehnya." ungkap Anika.
"Tidak masalah, apapun akan Mas lakukan demi kamu. Kita akan menghadapi masalah ini bersama-sama." kata Alvian mengangguk setuju.
Setelah hatinya benar-benar yakin, Anika memeluk Alvian dengan erat lalu menjauh dan turun dari ranjang. Dia langsung bersiap-siap dan mengenakan pakaian yang sopan.
Tidak apa-apa menikah dengan duda anak satu, intinya Alvian jauh lebih baik daripada Rio. Dia juga tidak masalah menikah tanpa resepsi asal Alvian benar-benar mampu menepati janji.
Setengah jam kemudian, keduanya meninggalkan rumah dan langsung menuju kantor KUA. Meski tanpa persiapan, Alvian yakin seorang sahabat akan membantunya mengurus pernikahan mendadak ini.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju KUA, keduanya hanya diam dalam pemikiran masing-masing. Anika larut memikirkan cara memberitahu Suherman nantinya, sedangkan Alvian hanya fokus dengan stir dan menatap lurus jalanan yang dia lalui. Tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka berdua.