
Taman dengan tatanan yang indah, hembusan angin yang begitu lembut serta cuaca cerah, begitu menghanyutkan setiap insan untuk menikmatinya.
Kursi-kursi taman yang berjajar rapi selalu penuh diakhir pekan dengan orang-orang yang menghabiskan waktu untuk beristirahat melepas penat dari kesibukan dan keriuhan kota dan pekerjaan.
Tak jauh berbeda dengan Zoya yang duduk santai di kursi taman memperhatikan anak-anak berlarian dengan bahagia sambil sesekali melirik keseruan dua rekan yang tak jauh darinya, mereka sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Zoya Agata wanita muda berusia 28 tahun yang sudah 7 bulan lamanya bekerja di Korea,
sendiri, jauh dari keluarga.
Semua ia lakukan semata-mata untuk kebahagiaan keluarganya.
Agar orang-orang yang sangat ia cintai hidup dengan layak dan jauh dari kekurangan.
Cintanya pada keluarga begitu besar hingga ia melupakan kebahagiaannya sendiri.
Zoya menarik nafas panjang kala rasa sesak menghimpit dadanya.
Rindu,
ya Zoya sangat merindukan kedua anaknya, ia rindu keluarganya. Melihat anak-anak tertawa dengan orang tuanya membuat Zoya tersenyum getir.
Ia harus pergi sejauh ini untuk masa depan anaknya, meski ia tidak bisa melihat tumbuh kembang mereka.
Lamunan Zoya buyar saat suara manja Ayumi terdengar memanggilnya "kak," seru Yumi melambaikan tangan. "kemarilah mari makan bersama," tapi ia hanya menggeleng dan mengisyaratkan jika dirinya tidak ingin makan.
Ayumi dan Roni adalah rekan Zoya, mereka bertemu saat pertama kali Zoya tiba di apartemen.
Mereka bekerja di perusahaan yang sama, karena sikap hangat Zoya pada mereka membuat hubungan yang terjalin lebih dari teman, kini Zoya bukan sekedar teman bagi Ayumi dan Roni, ia sudah seperti kakak bagi mereka.
"Permisi, bolehkah aku duduk disini?" Suara bariton seorang pria membuat Zoya terkejut.
"tentu, silahkan." Setelah mempersilahkan pria asing itu duduk, ia mengalihkan pandangan pada area permainan anak.
Cukup lama, sampai pria itu memulai obrolan.
"apakah kamu bekerja di perusahaan X?" tersenyum hangat menatap Zoya.
Sedikit terkejut tapi dengan cepat Zoya mengubah raut wajahnya. "ya, bagaimana anda tahu?"
Pria itu terkekeh melihat wajah curiga Zoya," "Perkenalkan, aku Min Jihyo." mengulurkan tangan pada Zoya, namun tidak lekas disambut olehnya.
" aku bukan orang jahat. anda lihat ini," aku abdi negara. ucapnya menunjukan tanda pengenal sambil tersenyum tipis.
Sepertinya dia bisa membaca pikiran ku. batin Zoya sedikit menyunggingkan bibir.
__ADS_1
"itu membuat ku lega." Zoya mengangkat sebelah alis sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"aku sering melihat mu pulang bekerja jadi aku tahu." Zoya mengangguk paham, karena sebenarnya ia pun tidak asing dengan pria didepannya, mungkin mereka pernah bertemu tapi ia tidak bisa mengingat dimana.
"aku Zoya." Mengulurkan tangan pada Jihyo dan dengan cepat disambut oleh Jihyo dengan antusias.
" apa kita teman sekarang?"
"tentu"
Min Jihyo sesekali melirik Zoya yang masih diam, sedikit canggung untuk memulai obrolan. Mereka seperti kehabisan kata-kata untuk saling bicara.
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa mereka sadari hari sudah semakin sore tapi masih belum ada obrolan setelah perkenalan tadi.
Zoya beranjak dari duduknya saat Ayumi mengisyaratkan untuk pulang.
" Jihyo, aku harus pulang sekarang."
" baiklah hati-hati dijalan, sampai jumpa lagi." Jihyo melambaikan tangan pada Zoya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zoya...
wanita dengan penampilan yang sederhana dan terlihat dingin, meski begitu ia adalah orang yang perhatian dan hangat.
"Jihyo," singkat Zoya
"teman kakak? tampan sekali ya,"
"baru saja kita berteman,"
"aaiishh Kakak ini, bagaimana kakak mudah percaya pada orang asing, ini di negara orang kak..."
Ssstt
Zoya menghentikan celoteh Ayumi. "Yumi, meski aku mengenalnya baru saja, tapi aku percaya dia bukan orang jahat,"
"hhmm baiklah" Ayumi memeluk Zoya "kakak selalu menganggap semua orang adalah orang baik,"
"yah begitulah kak Zoya," sahut Roni "sampai kakak lupa jika tidak semua orang punya hati yang tulus sepertinya,"
"tidak juga," sahut Zoya mengedikkan bahu.
Mereka kembali hanyut dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Pikiran Zoya menerawang jauh memikirkan Vino suaminya, sudah beberapa hari Zoya kesulitan menghubungi pria yang sudah 7 tahun mengisi hari-harinya.
ini sudah 2 hari aku tidak bisa menghubungi mu mas, ada apa dengan mu. Batin Zoya penuh tanya.
Selama ini meski sesibuk apapun, mereka akan selalu berusaha untuk saling menghubungi, tapi entah apa yang terjadi beberapa hari belakangan Vino semakin sulit dihubungi.
Zoya bukan tipe orang yang mudah berbagi masalah pada orang lain, ia lebih memilih menyimpan semuanya sendiri.
Meski terkadang begitu berat tapi Zoya berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Meyakini jika orang lain bukan benar-benar peduli dengan kesulitan yang ia alami, mereka hanya sekedar basa basi lalu tidak peduli. Tapi meski begitu Zoya selalu bersikap baik pada siapapun, terlepas mereka bersikap buruk padanya.
Tiba di apartemen Zoya memilih langsung masuk dalam unitnya, tentu saja hal itu sangat biasa bagi Ayumi dan Roni.
Memang seperti itulah Zoya, tidak banyak bicara dan terlihat acuh, tapi sebenarnya dia memperhatikan segalanya dan peduli pada apapun.
Huuftt
helaan nafas panjang terdengar jelas dalam kamarnya. Meletakan begitu saja ponsel dan tas disembarang tempat lalu merebahkan diri diatas kasur.
"hari libur yang membosankan" gumamnya.
"sebaiknya aku tidur sekarang karena tidak ada yang bisa aku lakukan lagi." mencoba memejamkan mata agar segera tidur.
Malam semakin larut, namun kantuk masih belum menghampiri penghuni kamar apartemen itu, Zoya masih berguling-guling diatas kasur tapi tidak juga bisa tertidur.
Tapi entah mengapa tiba-tiba wajah Min Jihyo terlintas dalam benaknya.
"Jihyo, sepertinya wajah pria itu sangat tidak asing, dimana aku pernah bertemu dengannya," beranjak dari tempat tidur.
"aaiihh.... bahkan aku tidak bisa mengingat sama sekali, tapi aku yakin pernah melihatnya." gumam Zoya mengetuk-ngetuk meja nakas, lalu berjalan menuju balkon kamarnya, menatap jalanan kota yang semakin malam justru semakin ramai.
Seperti enggan untuk meninggalkan gemerlapnya dunia malam.
Entah sampai pukul berapa ia berada di balkon, sampai kantuk membuatnya perlahan berjalan masuk dan merebahkan diri hingga terlelap.
...****************...
Next....
Cerita ini tercipta dari magernya author, mohon maaf jika kata2 yang author gunakan masih berantakan,
berikan masukan yang membangun dan membuat author semangat menulis...
Terima kasih...
__ADS_1
Salam hangat dari author....