
Di dalam kamar .....
Zoya tengah duduk bersandar memijat pelipisnya perlahan.
Kepalanya terasa pusing tapi bukan karena dia sakit, Zoya pusing dengan keadaan. Bagaimana tidak, yang terjadi beberapa hari ini membuat hidupnya berubah.
Kebiasaannya pun ikut berubah, jika dia biasa bekerja seharian hingga larut malam kini dia hanya berdiam diri di dalam rumah dan tidak melakukan apapun.
Ditambah perasaan khawatir dalam hati karena suaminya sudah lebih dari satu minggu tidak bisa dihubungi.
Satu-satunya orang yang bisa dia hubungi hanya adik perempuannya itu pun jika sang adik tidak sedang bekerja.
.....
Zoya akan beranjak keluar kamar, tapi langkahnya terhenti karena mendengar dering ponsel.
Mas Vino: sayang, maaf aku baru sempat menghubungi mu, seminggu ini aku sedang sakit dan tidak bisa kemana-mana, aku bahkan tidak bisa menghubungi mu karena rasanya sangat sakit sekali. aku tidak mau membuat mu khawatir. aku sudah lebih baik sekarang. bagaimana kabar mu sayang...
Zoya : astaga mas... kamu benar-benar membuat aku khawatir sekali. aku sudah berusaha menghubungi mu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. aku baik-baik, apa mas sudah ke dokter?
Mas Vino : aku sudah ke dokter tempo hari, dan dokter bilang aku harus ke sana lagi, tapi uang ku tidak cukup sayang, ada banyak potongan karena aku tidak masuk kerja lebih dari satu Minggu.
Zoya : kenapa mas tidak bilang sejak kemarin, aku akan mengirimkan uang sekarang, dan mas harus pergi ke dokter lagi. apa anak-anak tahu mas sedang sakit?
Mas Vino : aku tidak menemui mereka sayang, mereka akan menangis saat tahu aku sakit, tapi mereka baik-baik saja. Sayang aku baru saja minum obat dan mata ku sangat mengantuk, aku ingin tidur sekarang. love you...
Zoya : baiklah mas istirahat lah, aku akan keluar dan mengirim uang untuk mu. jaga kesehatan mu. I love you too ❤️
Zoya sedikit bernafas lega, dia tahu benar kebiasaan suaminya, jika dia sedang sakit jangankan menyentuh ponsel melirik ponselnya saja tidak mau.
pantas tidak bisa dihubungi, kebiasaan mu memang tidak pernah berubah mas... batin Zoya.
Zoya meraih dompet lalu memasukkannya kedalam tas kecil miliknya.
Zoya tadinya ingin meminta izin pada Jihyo, tapi bos nya itu masih tertidur pulas jadi Zoya mengurungkan niatnya.
aku akan kembali secepat mungkin, gumamnya.
__ADS_1
Dengan terburu-buru Zoya meninggalkan rumah, tidak lupa mencatat jalan dan nomor rumah. Tidak lucu jika nanti Zoya tidak bisa kembali pulang karena tersesat.
Menggunakan aplikasi penunjuk arah Zoya berangkat mencari mesin ATM terdekat.
Sebenarnya tidak terlalu jauh hanya saja saat ini Zoya berjalan kaki jadi membutuhkan waktu yang cukup lama.
Sejak tinggal di Korea Zoya sudah sangat terbiasa pergi kemanapun berjalan kaki atau naik kendaraan umum. Jadi bukan masalah baginya jika berjalan agak jauh.
Aahhh akhirnya sampai juga... Zoya meraih dompetnya.
Bruuukk...
Zoya baru akan melangkah masuk sampai tiba-tiba ia terjatuh karena ditabrak seseorang.
Aahhh.... Zoya meringis kesakitan.
"maaf nona. aku tidak sengaja." Pria itu membantu Zoya berdiri dan mengambil topi Zoya yang jatuh.
"tidak masalah."
" tunggu nona.. ini topi mu.."
"nona, tangan mu terluka.."
"ini hanya luka kecil tidak masalah...maaf, aku permisi dulu.."
Pria itu masih diam menatap Zoya yang berjalan menjauh. "manis sekali..." gumamnya.
Lima menit berlalu kini Zoya sudah selesai menggunakan mesin ATM.
aku harus segera pulang...
.....
Di Rumah ....
Zoya membuka pintu dengan hati-hati, berharap Jihyo belum bangun dari tidurnya. Tapi ternyata dia salah Jihyo sudah bangun dan terlihat dari raut wajahnya, Jihyo sedang panik bercampur emosi.
__ADS_1
"Zoya....." Seru Jihyo. Dia berjalan cepat menghampiri Zoya lalu memeluknya erat.
"kamu dari mana, aku panik mencari mu." Zoya menepuk-nepuk punggung Jihyo, dia terlalu erat memeluk tubuh kecilnya.
"kamu ingin membunuh ku," Ketus Zoya "aku tidak bisa bernafas."
Jihyo melepas pelukannya, Menatap tajam pada Zoya "kemana kamu pergi?"
" aku baru saja mengirim uang untuk suamiku, dia sedang sakit." Jihyo menyeringai dan menggelengkan kepala.
Tidak habis pikir pada wanita dihadapannya ini, dia dengan sangat mudah memberikan hasil kerja kerasnya pada suami yang sudah mengkhianatinya.
Meski Zoya belum tahu, apa Zoya tidak bisa merasakan jika suaminya sudah bermain api dibelakangnya.
"jangan pernah pergi tanpa memberitahu ku sebelumnya." ucapnya dengan sangat tegas.
"iya...." Zoya hanya menunduk Jihyo berhak marah, karena ini rumahnya dan seharusnya dia meminta izin dulu sebelum pergi.
Jihyo melihat Zoya dari atas sampai bawah, sebenarnya dia tidak tega setegas itu pada Zoya. tapi dia tidak ingin sampai Zoya pergi dari hidupnya.
Jihyo melihat luka pada tangan Zoya, " bagaimana kamu bisa terluka?"
"tadi aku terjatuh, tidak apa ini hanya luka kecil." Zoya tersenyum lalu membawa Jihyo untuk duduk di sofa.
"kamu sudah lebih baik?" Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Jihyo. "sedikit hangat."
"Zoya bisakah kamu berjanji?"
"apa...?"
"jangan pergi dari ku ..." Zoya mengangguk tanpa mengatakan apapun.
Memangnya siapa yang mau menghabiskan tabungan untuk membayar pembatalan kontrak, tentu saja aku tidak pergi sampai kontrak kerja ku habis. batin Zoya.
Kini Jihyo sibuk mengobati luka ditangan Zoya, luka kecil sebenarnya tapi Jihyo terlalu berlebihan padanya.
...****************...
__ADS_1
Next......