Amygdala "Penyembuh Luka"

Amygdala "Penyembuh Luka"
Aku membutuhkan mu...


__ADS_3

Jihyo sudah duduk menunggu Zoya di meja makan.


Rencananya berjalan dengan lancar, meski dia mendapatkan kenyataan jika Zoya menghindarinya karena ia seorang idol.


Tidak sia-sia Jihyo mendatangi CEO perusahaan tempat Zoya bekerja, kini wanita yang dia inginkan sudah ada bersamanya.


Zoya berjalan perlahan mendekati meja makan, masih ada rasa yang mengganjal dalam hatinya.


Zoya takut kehadirannya membuat Jihyo akan mendapatkan banyak masalah.


"Zoya, kemarilah..." Terlihat jelas Jihyo sangat bersemangat. Zoya duduk disamping Jihyo.


Mereka mulai makan, Zoya masih menunduk diam, sedangkan Jihyo makan dengan tidak mengalihkan pandangan dari Zoya.


Sampai makan malam usai, masih belum ada obrolan.


Zoya bangkit dari duduknya, ia akan membersihkan meja makan, tapi tangannya dicekal Jihyo.


"jangan mengerjakan apapun, biarkan saja. ikutlah dengan ku." Jihyo menarik lembut tangan Zoya.


"tapi...kenapa aku asisten mu kan?"


"Zoya..."


baiklah... kamu adalah bos ku sekarang dan kamu tidak suka dibantah. gumam Zoya.


"jangan menggerutu dibelakang ku Zoya, aku tahu!!" Jihyo mengangkat dagu Zoya dengan lembut, bukan marah dia justru tersenyum.


"temani aku nonton..." Zoya duduk di sofa yang sangat nyaman, sedangkan Jihyo mulai menyalakan layar monitor yang sangat besar.


Perlahan lampu menjadi redup, sumber cahaya hanya dari layar monitor didepan mereka.


"kamu suka film horor?"


Hhmm...


"Oke..." Jihyo duduk disamping Zoya, dengan senyum mengembang.


Zoya baru menyadari jika disana sudah tersedia beberapa botol minuman dan makanan ringan.


"siapa yang menyiapkan semua ini? sebenarnya di rumah ini ada siapa saja," batin Zoya


Film sudah dimulai, Jihyo dengan santai menonton.


Zoya perlahan memberikan diri, untuk bertanya pada Jihyo.


"tuan boleh aku bertanya?" Mendengar ia dipanggil tuan oleh Zoya, Jihyo mengalihkan pandangan.


"kamu bilang apa tadi? tuan?"

__ADS_1


"iya ..."


"coba katakan lagi!"


" tu..tuan..." Tubuh Zoya seketika ditarik kedalam dekapan Jihyo.


Zoya melebarkan mata mendapat perlakuan seperti itu, " sekali lagi aku dengar kamu memanggil ku tuan, akan aku bungkam bibir manis mu itu..." ancam Jihyo dengan tatapan tajam.


Zoya merinding mendengar kalimat Jihyo, tidak berdaya ia hanya mengangguk tanpa berkata apapun.


Jihyo melepaskan Zoya, dia tahu wanitanya ini tidak nyaman dengan apa yang dia lakukan. "ajukan pertanyaan mu." Jihyo melirik sekilas.


"apa kamu tidak takut orang-orang akan menilai mu buruk?"


Jihyo menghembuskan nafas panjang, " tidak." Tegasnya. "aku tidak takut apapun selama kamu ada bersama ku. aku mohon mengerti lah."


Meski Zoya masih tidak tahu maksud Jihyo, tapi Zoya sudah tidak berani bertanya lagi saat ini.


Zoya memilih fokus menonton film, entah berapa lama waktu yang mereka habiskan berdua disana.


Mereka sama-sama menikmati film yang terus berputar, sesekali Jihyo meminum anggur yang tersedia disana.


Sedangkan Zoya, perutnya sudah sangat kenyang jadi dia hanya menonton tanpa melakukan apapun.


Hingga kantuk menghampiri, Zoya tertidur di sandaran sofa. Terdengar nafas teratur menandakan Zoya telah jatuh ke alam mimpi.


Perlahan Jihyo menarik Zoya agar bersandar pada pundaknya. Mengusap lembut pucuk kepalanya.


Jihyo sama sekali tidak berniat membawa Zoya kedalam kamar. Sofa ini cukup luas untuk mereka.


Jihyo masih melanjutkan nonton film dan minum anggur sampai matanya tak mampu lagi menahan kantuk.


.....


Hari sudah hampir siang tapi didalam rumah mewah itu belum ada tanda-tanda kehidupan dari sang penghuni.


Zoya menggeliat, tidak seperti biasanya kali ini Zoya tidur dengan sangat nyenyak dan bangun kesiangan.


Saat membuka mata ia merasakan ada tangan yang menempel pada kepalanya. "Jihyo... ya ampun kita ketiduran disini."


Zoya menatap Jihyo yang masih tidur dengan lelapnya, Zoya sedikit tersenyum " terima kasih sudah menjaga ku, meski kita hanya berdua disini tapi kamu tidak melewati batas mu."


Mereka memang tidur di ruangan yang sama tapi di sofa yang berbeda, Jihyo hanya meletakkan tangannya diatas kepala Zoya.


"sudah jam 11 siang, aku ini tidur atau belajar mati sebenarnya, asisten tidak tahu diri." gerutu Zoya pada diri sendiri.


Setelah selesai membersihkan diri Zoya berjalan ke dapur. Lagi-lagi meja makan sudah penuh dengan makanan.


Ia baru akan membuat kopi saat suara benda jatuh terdengar.

__ADS_1


Pyaarr ....


"Jihyo..." tanpa pikir panjang ia berlari menuju asal suara.


Benar saja Jihyo menjatuhkan botol anggur hingga pecah, ia sendiri terlihat kesulitan untuk berdiri. "mari aku bantu," Zoya membantu Jihyo berdiri.


"ada apa dengan mu?" Zoya bisa merasakan suhu tubuh Jihyo yang panas.


"Zoya kelapa ku sakit sekali." Keluhnya. Zoya berusaha menuntun Jihyo masuk kedalam kamarnya.


"kamu demam Jihyo." Setelah membaringkan Jihyo di ranjang kamar, Zoya menyiapkan makanan dan obat. Beruntung di dapur dia menemukan kotak obat tadi.


Zoya juga menyiapkan air hangat untuk mengompres bosnya itu.


Saat masuk kedalam kamar, Zoya bisa mendengar Jihyo bergumam memanggil namanya dan tidak ingin dia pergi.


"aku tidak pergi Jihyo, aku disini," bisik Zoya.


Ia mulai mengompres kening Jihyo, "Jihyo, mari makan, aku akan menyuapi mu."


"aku tidak ingin makan sekarang, Zoya...." Jawabnya lirih. Jihyo meraih tangan Zoya dan memeluknya.


"jangan membuatku khawatir... " menggenggam tangan Jihyo erat, "aku mohon..."


hhmm..


"baiklah..."


Zoya mulai menyuapi, sambil sesekali mengompres kening Jihyo.


"aku benar-benar membutuhkan mu...." ucapnya Jihyo, tatapan matanya begitu dalam pada Zoya.


"jangan meracau..." Zoya melirik Jihyo sekilas. "kamu terlalu banyak minum semalam."


"aku serius."


"baiklah, ayo minum obat dan istirahat."


Selesai memberikan obat Zoya segera keluar dari kamar. Membiarkan Jihyo sendiri agar ia lekas tidur.


Zoya mengelilingi seluruh rumah, berharap bisa menemukan seseorang. Tapi tidak ada seorang pun di rumah ini.


Hanya ada Jihyo dan dirinya, lalu siapa yang membersihkan rumah dan menyiapkan makanan mereka selama ini.


Zoya mengintip kearah gerbang disana pun tidak ada security yang berjaga.


apa yang bisa aku lakukan di rumah sebesar ini... pekerjaan macam apa ini, aku hanya tidur dan makan sepanjang hari. gerutu Zoya.


...****************...

__ADS_1


Next....


__ADS_2