
Jihyo meremas kertas dalam genggamannya, "Sial...." gumamnya.
Kini mereka sudah berada didalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Jihyo sibuk mengobati luka ditangan Zoya.
Cakaran yang sasaeng itu berikan cukup dalam. "tahan sebentar ini akan sedikit perih,"
Tapi wajah Zoya terlihat datar tidak berekspresi.
"kak Zoya pasti takut ya?" Ayumi terlihat khawatir.
Zoya menggeleng, "aku sudah menduga akan ada kejadian seperti ini kok," ia tersenyum kecil. "cepat atau lambat semua orang juga akan tahu masa lalu ku, kenapa aku bisa sampai ke Korea. Satu hal yang nanti akan tidak akan aku sukai, jika keluarga ku terusik karena aku banyak dikenal orang."
"Zoya..."
"tidak apa-apa oppa, ini sudah menjadi konsekuensi ku sebagai model kan," menepuk punggung tangan Jihyo.
Sepanjang perjalanan mengantar Ayumi dan Roni pulang ke apartemen, Zoya hanya diam menatap jalanan.
Bahkan hingga ia dan Jihyo sampai dirumah, tetap masih belum ada percakapan apapun. Zoya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Jihyo mencekal tangan Zoya sebelum wanita itu masuk kedalam kamarnya.
"Zoya..."
"hmm..."
"apa kamu menyesal menerima tawaran sebagai model ini," Zoya menggeleng tersenyum menatap Jihyo.
"oppa, aku tidak menyesal, aku sudah memikirkan semuanya. Jika nanti semua orang tahu aku ini pernah bekerja sebagai pegawai biasa, aku sudah menikah dan punya dua anak pun aku tidak akan menyesal. Aku sudah siap," Jihyo memejamkan matanya mendengar kalimat Zoya.
"Dan suami mu?"
Zoya mengedikkan bahu, ia tersenyum getir. "oppa, katakan pada ku..."
"apa..?"
"apa yang kita lakukan ini termasuk perselingkuhan? kita tinggal satu atap, kita pergi kemana pun berdua, kita bekerja makan dan melakukan banyak hal berdua."
Jihyo menggeleng, "bukan sama sekali, apa yang kita lakukan ini karena aku bos mu dan kamu asisten ku..."
"tapi bagaimana yang dipikirkan orang lain oppa? mereka pasti...."
"berpikir kita memiliki hubungan lebih?" sahut Jihyo.
"...."
"jikapun iya lalu kenapa?" Zoya mendongak menatap mata Jihyo dalam.
"Ck... jangan bercanda oppa jangan bicara yang bukan-bukan, sekali saja kau salah bicara itu akan berpengaruh buruk pada karir mu, jika kau bicara begitu pada wanita lajang itu tidak masalah, tapi aku sudah bersuami!! tegas Zoya.
Jihyo berdecih, menatap Zoya tidak percaya. Setelah apa yang dilakukan pria brengsek itu dia masih saja mengganggap laki-laki itu sebagai suami.
"suami?!" Jihyo tersenyum smirk. "suami macam apa yang mengkhianati istrinya yang sedang berjuang untuk keluarganya? pria sialan itu masih kamu anggap suami? beruntung sekali dia!" Wajah Jihyo terlihat memerah karena menahan amarah.
"oppa...?!" melihat Jihyo begitu kesal membuatnya sedikit takut.
"lepaskan dia, dia tidak pantas bersama mu. " tegas Jihyo.
__ADS_1
"oppa ada apa dengan mu?" memegang lengan Jihyo.
"baiklah, jika kamu tidak mau melepaskannya oke tidak masalah," Jihyo mendekatkan wajahnya pada Zoya. "mari kita balas pengkhianatan yang pria sialan itu lakukan pada mu..." mata Zoya membulat sempurna.
Cup... Jihyo mengecup bibir Zoya.
Zoya masih terdiam karena terkejut, lagi-lagi Jihyo mencium bibirnya kali ini dengan *******.
Jihyo menggigit bibir agar dia membuka mulutnya, menekan tengkuk Zoya agar ciumannya semakin dalam.
"eemhh...." Zoya mencoba melepaskan diri.
Tapi bukannya dilepaskan Jihyo justru semakin dalam ******* bibir Zoya.
"eemmpp...aahh..." Jihyo melepaskan tautan bibirnya, mengusap bibir Zoya dengan lembut.
Zoya menatap Jihyo tidak percaya, bagaimana dia bisa melakukan ini padanya.
Ia mendorong tubuh Jihyo menjauh, lalu dengan cepat masuk kedalam kamar. Namun sebelum dia berhasil menutup pintu Jihyo menerobos masuk.
"kenapa Zoya..?" Jihyo terus berjalan mendekati Zoya.
"oppa...ini salah.."
"cinta itu tidak pernah salah Zoya..."
Deg...
Zoya mematung menatap Jihyo, "maksud mu...?"
"tidak ada yang salah jika cinta yang berbicara, jika pria seperti dia tetap kamu pertahankan kenapa kamu tidak memberi ku kesempatan untuk memiliki mu?"
"aku mencintaimu Zoya, sangat mencintai mu...." Jihyo memeluk tubuh Zoya dengan sangat erat. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher Zoya.
"oppa apa yang kamu katakan, jangan sembarang bicara," mencoba melepaskan diri. "jangan melempar diri mu ke dalam jurang yang dalam."
"kenapa yang kamu pikirkan hanya karir ku saja, tidak bisakah kamu membuka mata dan hati mu sedikit saja..." Jihyo jatuh terduduk dihadapan Zoya.
"yang oppa rasakan sekarang ini bukan cinta, oppa hanya kasihan pada ku... itu saja..."
"aku bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan mana cinta dan kasihan."
"jangan begini oppa, aku mohon ..." menarik Jihyo untuk berdiri.
"Zoya... kali ini saja aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikan cinta ini,"
"ta...tapi status ku, ini tidak mungkin tidak akan bisa oppa..."
"biarkan aku berusaha, jika aku tidak cukup layak mencintai mu kamu boleh pergi dan kembali pada pria itu." Jihyo terus berusaha meyakinkan Zoya.
Jihyo menarik nafas panjang, "istirahatlah... maaf aku sudah keterlaluan tadi..." Jihyo berjalan keluar kamar Zoya, meninggalkannya yang masih diam mematung.
Zoya terduduk menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis, kenapa semuanya menjadi serumit ini.
Jihyo pria yang baik, sangat baik. Zoya tidak mungkin membuatnya berada dalam masalah jika ia membiarkan Jihyo meneruskan perasaannya.
Bagaimana jika orang tua Jihyo tahu anaknya mencintai wanita bersuami, bagaimana jika publik menghujatnya.
__ADS_1
Jihyo sudah sangat baik padanya, dia tentu ingin melihat Jihyo bahagia.
Semalaman Zoya tidak bisa memejamkan mata, ketakutan terus menghantuinya.
Tidak jauh berbeda dengan Zoya, Jihyo pun tidak bisa tidur. Ia takut Zoya tidak bisa memberikan kesempatan padanya.
Bagaimana jika Zoya memilih pergi darinya dan kembali pada suaminya.
......................
Pagi....
Zoya menarik nafas dalam sebelum keluar kamar. Sebenarnya dia masih belum siap bertemu dengan Jihyo setelah kejadian semalam.
Tapi disini dia adalah asistennya, dia harus membantu Jihyo menyelesaikan pekerjaan, mendampinginya, dan Zoya juga yang mengatur jadwal kerja Jihyo.
Ceklek...
Zoya melebarkan mata karena Jihyo sudah berdiri didepan pintu kamarnya.
"o...oppa.."
"sudah siap? kita berangkat sekarang..." Jihyo tersenyum hangat pada Zoya.
"iya oppa..."
Jihyo menggandeng tangan Zoya berjalan beriringan.
Sudah didalam mobil....
"oppa...siang ini ada wawancara dengan media lokal, oppa tidak lupa kan?"
"aiihh...aku lupa..." menyandarkan kepalanya dipundak Zoya.
"oppa sakit?" tanya Zoya khawatir, tidak biasanya Jihyo seperti ini.
Ia menggeleng "aku hanya ingin seperti ini saja..."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Jihyo terus menyandarkan kepalanya pada Zoya.
Tidak ingin membuat Jihyo kesal, Zoya hanya diam dan terus fokus pada tabletnya.
Hari ini Jihyo hanya akan lahitan di agensi, lalu melakukan sesi wawancara, sore harinya akan ada live bersama member lain.
"kenapa terus memperhatikan tablet itu? apa aku kurang tampan untuk dilihat, hmmm...."
"eehh..."
"lihat aku Zoya..."
"kita sudah sampai oppa...ayo turun..." Zoya dengan cepat membuka pintu mobil.
"iiishhh...." Jihyo mendesis kesal. Turun dari mobil dengan langkah menghentak.
Supir Jihyo sampai menggeleng melihat tingkah kekanakannya.
...****************...
__ADS_1
Next.....