
Jihyo keluar dari dalam kamar Zoya saat hari sudah gelap.
Semua member duduk di sofa ruang tamu menunggu Jihyo.
Dengan langkah tidak bertenaga Jihyo menghampiri mereka.
"hyeong..." panggil Junho "jadi nuna..."
"dia sudah menikah dan punya dua anak, dia datang kemari untuk memberikan masa depan yang terjamin untuk keluarganya. Dan seperti yang kita tahu, dia dikhianati. seharusnya dari dulu aku bertindak lebih cepat sebelum Zoya mengetahui semuanya." Jihyo meremas rambutnya.
"maksud mu..." Hyun Soo tidak mengerti dengan kalimat terakhir Jihyo.
"aku sudah tahu pengkhianatan pria brengsek itu hyeong jauh sebelum Zoya mengetahuinya." akhirnya Jihyo menceritakan segalanya pada mereka.
Mereka sangat terkejut mendengar cerita Jihyo.
"tapi hyeong aku tidak tahu jika Zoya punya banyak trauma di masa lalunya." Jihyo memeluk Hyun Soo. "apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan luka-lukanya."
"kamu pasti bisa membantu Zoya," Hyun Soo menepuk pundak Jihyo.
"jika kalian lelah istirahatlah dulu, aku akan menjaga Zoya," Ia berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar Zoya lagi.
Jihyo duduk dibibir ranjang, menatap wajah Zoya yang terlihat sembab karena terus menangis.
Mata Jihyo berkaca-kaca hatinya terasa sangat sakit melihat Zoya yang seperti ini. Wanita yang dia cintai justru disakiti pria yang dia perjuangkan masa depannya.
"lepaskan dia Zoya, aku berjanji tidak akan lagi ada luka dalam hidup mu setelah ini." mengecup tangan Zoya berulang kali.
Jihyo menarik sofa mendekat kearah ranjang, Dia merebahkan tubuhnya sambil terus memegang tangan Zoya.
"Aku sudah memblokir nomor itu tapi kenapa dia masih mengirimkan video menjijikan itu. Lagi pula jika pria sialan itu masih membutuhkan uang dari Zoya, kenapa dia justru menginginkan Zoya tahu tentang perselingkuhan yang dia lakukan." batin Jihyo bertanya-tanya.
Hingga hampir dini hari Jihyo baru bisa memejamkan mata, karena dalam tidur pun Zoya beberapa kali terdengar menangis.
Sedalam itu luka yang membekas dalam hati dan pikiran Zoya.
.....
Hari berganti....
Zoya terbangun dengan tubuh yang terasa sedikit tidak baik. Dia melihat Jihyo tidur di sofa tepat disamping ranjangnya.
Ia kembali mengingat kejadian kemarin dia tersenyum getir. "akhirnya aku menumpahkan luka yang aku pendam selama ini, tapi kenapa aku bisa menceritakan semuanya pada Jihyo. " Zoya menatap pantulan dirinya pada cermin.
__ADS_1
Matanya begitu sembab wajahnya sangat berantakan. "aku harus lebih kuat dari sebelumnya, aku bukan wanita lemah." Zoya segera melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Cukup lama sampai dia menyelesaikan acara mandinya. Setelah semua selesai Zoya segera keluar kamar menuju dapur.
"apa semua member juga mendengar saat aku menangis kemarin." Zoya bertanya pada dirinya sendiri. "semoga saja tidak."
Dia memang tidak melihat kehadiran para member di kamarnya kemarin, dia hanya menangis di pelukan Jihyo tanpa memperdulikan hal lain.
Zoya hampir menyelesaikan semua pekerjaannya, sampai Jihyo datang memeluk dirinya.
"oppa..." Zoya tidak mengerti kenapa tiba-tiba Jihyo memeluknya seperti itu. "ada apa...?"
"Zoya, kenapa kamu disini, istirahatlah kamu sedang tidak ba..." Zoya menghentikan Jihyo saat bicara.
"oppa, aku baik-baik saja," dia menampilkan senyuman sebaik mungkin. "ayo kita makan, sebelum semua makanan ini dingin,"
Hati Jihyo terasa begitu nyeri melihat Zoya yang sedang berpura-pura baik-baik saja.
Interaksi antara Zoya dan Jihyo dilihat langsung oleh Hyun Soo dan Junho. "hyeong aku baru kali ini melihat wanita setegas nuna.." bisik Junho.
"kau benar Junho, jika hal kemarin terjadi pada wanita lain mungkin dia akan terus menangis sebulan lamanya." Junho mengangguk mantap.
Hyun Soo berjalan mendekati meja makan, diikuti oleh Junho. "Zoya...apa kamu baik-baik saja?" tanya Hyun Soo khawatir.
Jihyo memalingkan wajahnya, dia tidak sanggup melihat sikap Zoya yang berusaha terlihat baik-baik saja.
Meski sarapan mereka pagi ini terasa sangat canggung tapi Zoya selalu berusaha mencairkan suasana.
....
Hari semakin siang, Zoya menghampiri Jihyo distudio pribadinya.
tok...tok...tok...
"oppa boleh aku masuk..."
"masuklah Zoya..." Jihyo memutar kursinya menghadap pintu masuk. "kamu mau kemana, rapi sekali .." Jihyo langsung bangun dari kursi menghampiri Zoya.
"oppa, bolehkah aku pergi sebentar..."
"kamu mau pergi kemana?"
"aku hanya ingin menemui Ayumi di apartemen lama ku,"
__ADS_1
"baiklah aku akan mengantar mu..."
"tidak perlu oppa, aku bisa pergi sendiri," Zoya memeluk lengan Jihyo untuk mencegahnya.
"ta...tapi..."
"oppa aku mohon sekali ini saja..."
Jihyo tampak menarik nafas dalam, lalu menakup wajah Zoya dengan kedua tangannya. "baiklah...kamu boleh pergi tapi berjanji lah jangan biarkan hal buruk terjadi pada mu dan kembalilah dengan cepat,"
Zoya tersenyum, "terima kasih oppa, aku berjanji..." spontan Zoya berpamitan dan mencium tangan Jihyo.
Aku tidak akan membiarkan mu pergi begitu saja Zoya... Jihyo segera meraih topi masker dan jaketnya. Dengan hati-hati mengikuti langkah Zoya.
.....
Zoya melangkah dengan cepat, dia butuh udara segar sekarang. Hanya berdiam diri di rumah membuatnya mengingat kejadian yang menyakiti hatinya.
Tanpa dia tahu jika Jihyo mengikuti kemanapun dia pergi.
Zoya tidak pergi ke apartemen lamanya, dia pergi ke taman dengan sedikit pengunjung.
Ia duduk di tepian danau buatan, pandangan matanya menyapu setiap sudut taman yang sangat asri.
Jihyo berdiri dibalik pohon besar tidak jauh dari Zoya duduk, cukup dekat hingga dia bisa mendengar suara Zoya.
Awalnya Zoya hanya duduk dan tidak berbuat apapun, cukup lama sampai Jihyo lelah dan hampir membawa Zoya pulang.
Tapi saat Jihyo ingin melangkah, dia melihat bahu Zoya terguncang, dia menangis sendirian.
"tuhan, aku tahu seorang anak tidak bisa memilih dari orang tua mana dia dilahirkan, tapi sekarang aku mengerti kenapa engkau memilih ku untuk lahir dari kedua orang tua yang keras, dan aku terlahir sebagai anak pertama. Aku sangat berterima kasih tuhan meski orang tua ku sangat keras pada ku tapi mereka sangat mencintai anak-anak ku, setidaknya meski tidak ada aku untuk anak-anak ku ada cinta dari kedua orang tua ku."
Zoya menarik nafas panjang, sebelum melanjutkan kalimatnya. "engkau hancurkan mental ku sejak aku masih kecil tuhan, segala hal buruk telah aku alami sejak aku masih sangat muda, engkau memberi ku pundak yang begitu kuat untuk aku bisa melanjutkan hidup hingga sekarang, aku bisa aku mampu menerima semua, tapi tuhan apa aku benar-benar tidak akan bisa merasakan bahagia, jika tidak bisa baik lah, tapi bawa aku kembali kepada mu. Dan biarkan keluarga ku hidup bahagia, biarkan anak-anak ku tumbuh tanpa luka seperti yang aku alami. Lagi pula apa gunanya ada aku jika karena mental ku yang hancur ini aku bisa membuat mereka terluka."
Mendengar semua curahan hati Zoya, Jihyo merasa sangat lemah. Bagaimana bisa Zoya menyimpan semuanya sendiri selama ini.
"tuhan.... aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup, tapi aku mohon hapuskan lah segala luka dan hal buruk dari hati dan pikiran ku, jangan biarkan aku terus kehilangan kepercayaan dan keyakinan ku, jangan biarkan luka ini mengikis terus mengikis kekuatan di hati ku. Aku sudah sangat lemah sekarang tuhan."
"aku mohon akhiri semua ini...." teriak Zoya dengan suara memilukan.
Zoya berjalan cepat, ia akan menjatuhkan diri ke danau.....
...****************...
__ADS_1
Next ....