
Sudah dua hari Zoya berada di rumah sakit, Dia juga sudah didampingi oleh psikolog.
Berangsur-angsur kesehatan Zoya mulai pulih, meski begitu dia masih harus diawasi oleh dokter.
Kini Jihyo sedang berbicara dengan dokter membicarakan trauma yang Zoya alami.
"nona Zoya memiliki ketakutan yang besar dalam hatinya tuan,"
"tapi apa yang dia takutkan dokter?"
"banyak hal, dia takut dalam segala hal, luka di masa lalunya membuat dia membatasi diri pada siapapun, dia terlihat kuat hanya agar orang lain tidak tahu dia sedang kesepian dan kesakitan. "
"lalu apa yang bisa aku lakukan untuknya..."
"Yang terbaik hanya membantunya menemukan kebahagiaan membantunya menerima semua yang sudah terjadi, luka di masa lalu itu tidak akan pernah hilang, itu akan terus ada tersimpan dalam hati dan di dalam bagian otaknya yang sangat kecil bernama amygdala," Dokter menepuk pundak Jihyo. "bantu dia semaksimal mungkin tuan, dukungan orang-orang terdekat dan cinta dari kalian lah obat terbaik untuknya."
.....
Setelah menemui dokter, Jihyo kembali ke ruang rawat Zoya. Disana ada Junho yang menemaninya.
"hyeong...lihat nuna..." Junho merebahkan diri dilantai. "nuna terus saja meminta pulang, aku lelah membujuknya hyeong..."
"aku hanya bosan disini oppa..." Zoya mencibikkan bibirnya membuat Jihyo gemas.
"kamu bosan hmmm..."
Zoya mengangguk "mari kita pulang, oppa juga seharusnya sudah mulai bekerja kan,"
"sstt...jangan pikirkan pekerjaan dulu," menutup mulut Zoya "kita memang akan pulang hari ini,"
Mata Zoya nampak berbinar "oppa serius? kita pulang..."
hmm...
Jihyo mulai mengemasi barang-barang. Ia menarik kursi roda untuk membantu Zoya sampai ke mobil.
"ayo pulang..."
"ayo..." Zoya turun dari brankar.
"duduklah,"
Kening Zoya menyerngit. "tidak oppa, aku malu..."
"kamu ini masih belum benar-benar sehat, kamu akan kelelahan jika berjalan sampai mobil," bujuk Jihyo.
"aku mohon oppa, aku masih bisa berjalan kok,"
"ehemm...baiklah jika tidak ingin duduk di kursi roda, berarti kamu tidak boleh menolak yang ini.." tanpa aba-aba Jihyo langsung mengangkat tubuh Zoya. "Junho bawa tasnya..." titahnya.
Junho hanya terkikik melihat kelakuan hyeongnya itu.
"oppaaaa...." karena tidak siap Zoya berteriak. "oppa turunkan aku, bagaimana jika penggemar mu melihat, "
"aku tidak peduli chagiya..." Jihyo mengedipkan sebelah matanya membuat Zoya bergidik.
Selama berjalan menuju mobil Zoya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jihyo.
__ADS_1
Dia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Jihyo yang berpacu dengan cepat.
"Zoya pasti bisa mendengar detak jantung ku yang seperti mau melompat keluar ini." batin Jihyo.
"oppa..."
"hmmm..."
"apa aku sangat berat?"
"tidak sama sekali, memangnya kenapa?"
"kenapa jantung mu berdetak sangat cepat seperti orang yang baru saja berlari maraton? itu pasti karena aku berat kan," tanya Zoya dengan polosnya.
Junho yang mendengar pertanyaan Zoya tertawa geli tanpa suara.
"lihat hyeong nuna, lihatlah wajahnya sudah seperti tomat matang sekarang..." teriak Junho dalam hati.
"tentu saja hyeong kelelahan menggendong mu nuna, hyeong tidak pernah olahraga..." ledek Junho.
"oppa maaf...ayo turunkan aku sekarang,"
"jangan dengarkan kata anak menyebalkan itu Zoya, kau tidak berat sama sekali," Jihyo menatap tajam Junho yang berjalan santai.
"awas saja kau ya, bocah kurang ajar!!!" batin Jihyo.
.....
Sudah didalam mobil....
Dia terus menggenggam tangan Zoya sangat erat, tidak melepaskan bahkan untuk sedetik saja.
"oppa...kita ini didalam mobil kenapa terus menggenggam tangan ku seperti akan menyebrang jalan," Zoya mengerucutkan bibirnya.
"biarkan saja.."
"iisshhhh..."
"kita sudah hampir sampai rumah hyeong..." Junho menyerahkan penutup mata pada Jihyo.
"Zoya tutup mata mu..."
"tapi kenapa?" ia tampak bingung.
"percayalah pada ku Zoya..." Akhirnya Zoya menuruti kemauan Jihyo.
Kini matanya sudah ditutup dengan kain, tidak lama mesin mobil mati, menandakan mereka sudah sampai di rumah.
Lagi-lagi Jihyo menggendong Zoya masuk kedalam rumah, Dia mendudukkannya di sofa.
"Zoya, aku akan membuka penutup matanya sekarang..."
Satu....Dua...Tiga...
"surprise...." teriak semua member serempak saat Zoya membuka matanya.
Mata Zoya berkaca-kaca mendapatkan kejutan dari semua orang. Zoya berdiri dan memeluk erat Jihyo.
__ADS_1
"terima kasih oppa..." suara Zoya terdengar bergetar.
"heii... jangan menangis,"
"kalian benar-benar sangat baik pada ku, terima kasih,"
" kamu pantas mendapatkan semua ini Zoya," Hyun Soo mengusap pucuk kepalanya.
Zoya beralih memeluk Hyun Soo, "terima kasih oppa..."
"aiiihhh..." Jihyo menarik Zoya dalam dekapannya lagi, "kamu tidak boleh memeluk mereka, cukup aku saja yang mewakili." mendengar kalimat Jihyo Zoya tersenyum, memukul lengannya cukup keras.
"aahhh...." Jihyo sedikit meringis.
....
Jihyo menakup wajah Zoya menatapnya dengan sangat dalam, "Zoya... berjanjilah mulai sekarang jangan menyembunyikan apapun dari ku, semua luka mu adalah luka ku juga, dan mari kita berbahagia bersama, hmm..."
Ia tidak menyangka akan mendapatkan banyak kasih sayang dari Jihyo dan member lain, mereka memberikan semangat baru untuk Zoya.
"mari kita mulai hidup baru dengan kebahagiaan, Zoya..." Ia mengangguk menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jihyo. Dia sangat malu kenapa dia sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya kemarin.
.....
Malam itu menjadi awal dari perubahan hidup untuk Zoya.
Meski tidak akan mudah, tapi dukungan dari Jihyo menjadi kekuatan besar untuknya.
Untuk Jihyo sendiri, dia sudah bertekad akan membawa kebahagiaan untuk Zoya. Kebahagiaan yang tidak pernah wanitanya itu dapatkan di masa lalu. Segala halangan akan ia singkirkan satu persatu.
Cinta itu terkadang sangat rumit, yang satu berjuang untuk kebahagiaan cintanya meski harus pergi sejauh apapun, yang satu lagi mencintai tanpa tahu di akhir nanti dia bisa memiliki atau tidak.
Yang telah menyakiti akankah mendapatkan kesempatan lagi, atau yang sudah berjuang keras yang akan memenangkan cintanya.
Tuhan mempertemukan bukan karena kebetulan, dia ingin umatnya belajar dari setiap pertemuan. Dan perpisahan memang akan meninggalkan luka, tapi dari sana kita bisa belajar jika tidak ada yang abadi dan akan terus bersama sampai tutupnya Dunia.
Hari berlalu....
Kini semua aktivitas harus sudah dimulai seperti biasa.
Mengejar impian yang mungkin masih jauh untuk digapai.
Zoya Jihyo... Mereka memulai pagi dengan sedikit perdebatan kecil, Zoya yang kekeh ingin segera mulai bekerja dan Jihyo yang masih belum ingin Zoya ikutnya bekerja.
"ahh oppa jika aku dirumah sendirian itu akan sangat membosankan, setidaknya biarkan aku ikut bersama mu...." rengek Zoya.
"tapi kamu belum pulih benar Zoya, tubuh mu akan kelelahan nanti. Lagi pula aku hanya pergi sebentar,"
"baiklah, terserah kamu saja, biarkan aku mati bosan dirumah!!" Zoya bicara dengan ketus. Berjalan masuk kedalam kamar dengan hentakan kaki yang kuat.
"ehh..." Jihyo mengejar langkah Zoya dengan cepat. "ya sudah ayo ikut, tapi berjanjilah jangan mengerjakan pekerjaan apapun."
"oppa serius? terima kasih," mencubit pipi Jihyo dengan gemasnya.
...****************...
Next....
__ADS_1