
"kamu mabuk Jihyo, pulanglah..."
"Zoya katakan kenapa kamu menghindari ku?" Jihyo terus saja memaksa Zoya untuk bicara.
.....
Zoya menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Jihyo, tapi tiba-tiba tubuh Jihyo kehilangan keseimbangan.
Jihyo menjatuhkan kepalanya tepat dipundak Zoya, kesadarannya mulai hilang, tapi mulutnya terus saja bergumam memanggil nama Zoya.
Huufftt....
Kau sengaja membuat ku repot ya... Kenapa mabuk berat dan menghalangi jalan ku. gerutu Zoya dengan kesal.
Dengan susah payah Zoya menghentikan taksi dan terpaksa membawa Jihyo pulang ke apartemennya.
Dia tidak tahu dimana rumah Jihyo dan tidak mungkin juga dia meninggalkan pria mabuk ini di jalanan.
Jika kamu orang lain aku tidak sudi membawa mu pulang, tapi karena kamu pernah membantu ku saat aku sakit kemarin anggap saja ini sebagai balas budi ku. Zoya bicara tepat didepan wajah Jihyo Saat ia sudah berhasil membaringkannya diatas ranjang.
Zoya ingin bangun dari duduknya tapi tangannya digenggam erat oleh Jihyo.
Kenapa masih tidak melepaskan tangan ku. gumam Zoya.
Sedangkan Jihyo justru memeluk erat tangan Zoya. Membuat Zoya uring-uringan tidak jelas.
Tubuhnya sudah sangat lelah tapi kini ia direpotkan dengan pria mabuk yang tidak mau melepaskan tangannya.
Saking lamanya, Zoya yang kelelahan dan mulai mengantuk akhirnya menyandarkan kepala pada ranjang dan mulai tertidur.
.....
Sampai akhirnya kesadaran Jihyo kembali, waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.
Jihyo yang masih sedikit pusing melihat sekeliling ruangan dan menyadari jika dia tidak berada di kamarnya sendiri.
Ia melihat tangan Zoya berada didalam dekapannya. "Zoya ..."
Dengan perlahan Jihyo turun dari ranjang, agar gerakannya tidak membuat Zoya bangun. Dan segera mengangkat tubuh Zoya naik keatas ranjang.
"tubuh mu lebih ringan dari kemarin." Gumam Jihyo. Matanya berkaca-kaca menatap wajah tenang Zoya yang tertidur lelap.
__ADS_1
Jihyo mengingat-ingat bagaimana ia bisa bersama Zoya, tadi sore dia meminum anggur sangat banyak saat bersama Junho.
Lalu dia menghadang Zoya didekat perusahaan tempatnya bekerja. Jihyo tersenyum menatap Zoya. "meski kamu menghindari ku, kamu tetap membawa ku bersama mu saat aku tidak berdaya."
Bersama Zoya hati Jihyo lebih tenang dan nyaman. Sangat lama ia hanya duduk dan menatap wajah Zoya yang tertidur.
Sampai akhirnya kantuk mulai menghampirinya, Jihyo tertidur disamping ranjang Zoya.
.....
Pagi menjelang....
Zoya terbangun dari tidurnya saat ia mendengar dering ponsel.
Dan betapa terkejutnya Zoya saat ia menyadari jika ada lengan kekar melingkar diperutnya.
"Jihyo...." Matanya melebar melihat Jihyo tidur bersandar di ranjang.
"bukannya tadi malam aku yang dibawah, bagaimana sekarang dia yang di bawah.." gumam Zoya.
Ponselnya berdering lagi, dengan cepat Zoya meraih ponsel dan membuka pesan yang masuk.
Mas vino : sayang bagaimana kabar mu, aku sedang banyak pekerjaan sekarang jadi sangat sulit mencari waktu untuk menghubungi mu, terlebih berbedaan waktu semakin membuat kita jarang berkomunikasi. Aku harus lanjut bekerja sekarang, kamu semangat kerja disana ya... love you ❤️
Tanpa Zoya sadari sejak tadi Jihyo sudah bangun dan menatapnya yang sibuk dengan ponsel.
"Zoya kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Suara serak Jihyo membuat Zoya terlonjak dan menjatuhkan ponselnya.
"suamiku baru saja mengirimkan pesan, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya, tapi menyempatkan untuk menghubungi ku." Ucap Zoya dengan mata berbinar, terlihat jelas jika Zoya sangat senang.
Sedangkan Jihyo sebaliknya, hatinya terbakar oleh amarah.
Jihyo jelas tahu jika suami Zoya sedang bersenang-senang dengan wanita lain di sana, semua pesan manis dari suami Zoya hanyalah bulan semata.
"Jihyo, kamu sudah lebih baik sekarang, jadi pulanglah aku harus bekerja." Usir Zoya dengan halus. Bagaimana pun ia tidak ingin menyakiti Jihyo.
Tanpa menjawab Jihyo keluar dari kamar Zoya, tapi tidak pergi dari sana. Jihyo sengaja menunggu Zoya selesai bersiap dan akan mengantarnya berangkat bekerja.
Jihyo duduk di sofa dengan amarah yang masih membara dihatinya, ia ingin Zoya terus bersama. Meski tidak bisa memilikinya setidaknya Jihyo ingin terus bersama Zoya.
Tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jihyo terus berpikir sampai Zoya sudah keluar dari kamar dengan penampilan yang sangat rapi.
__ADS_1
"Jihyo, kamu masih disini. kenapa tidak pulang?"
Jihyo mengedikkan bahu, "aku hanya ingin mengantar mu,"
"apa kamu sudah gila semalaman aku terpaksa membawa mu kemari lalu kamu ingin mengantar ku?"
"apa salahnya?" ucap Jihyo tanpa rasa bersalah.
Zoya menatap Jihyo tidak percaya, "aku sudah menikah, apa kata orang jika kita seperti ini?"
"seperti apa kita?" Jihyo terus berjalan mendekati Zoya terus mendekat, selangkah Jihyo mendekat selangkah pula Zoya mundur.
Hingga akhirnya Zoya tidak bisa kemana-mana lagi, Jihyo mengungkungnya.
Zoya menundukkan wajahnya, entah kenapa ia tidak sanggup berlama-lama menatap mata Jihyo. "katakan Zoya seperti apa kita ini?" Mengangkat dagu Zoya membuatnya mendongak. Jarak mereka kini hanya beberapa Senti saja.
Mereka bisa saling merasakan deru nafas masingmasing. Perlahan Jihyo mengarahkan tangan Zoya didepan dadanya.
Namun dengan cepat Zoya mendorong pelan Jihyo menjauh. "aku harus pergi sekarang."
"Zoya...."
"terserah kamu mau disini atau pergi, tapi aku harus bekerja sekarang."
"kenapa kamu terus saja bekerja?" Jihyo menahan langkah Zoya lagi.
"karena ada kontrak kerja yang tidak bisa aku langgar." Zoya pergi tanpa memperdulikan Jihyo lagi.
Ada apa dengan pria itu, kenapa dia terus saja menganggu ku. keluh Zoya.
....
Zoya kehilangan konsentrasi saat bekerja hari ini, tentu saja semua itu terjadi karena kejadian tadi pagi.
Apa yang aku lakukan kepada Jihyo termasuk mengkhianati mas Vino, tapi aku hanya membantunya saja tidak lebih, kami bahkan tidak melakukan apapun. gumam Zoya.
Sejak dia meninggalkan apartemen, Jihyo terus saja mengirimkan pesan padanya.
Zoya memutar bola mata malas saat lagi-lagi ponselnya berdering, tertera nama Jihyo yang menghubunginya.
...****************...
__ADS_1
Next....