
Sudah hampir dua Minggu setelah insiden penyerangan.
Namun Zoya masih belum juga membuka mata, mungkin dia terlalu nyaman beristirahat atau entahlah.
Rumah sakit sudah seperti rumah kedua untuk Jihyo. Sudah dua hari ini dia harus kembali ke rutinitas sebagai idol.
Meski Jihyo sudah menolak tapi agensi tetap memaksanya untuk kembali. Ada banyak pekerjaan yang terpaksa ditunda karena Jihyo tidak bisa hadir.
Agensi juga memberikan perawatan dan pengamanan terbaik selama Jihyo tidak bisa menjaga Zoya sendiri. Terkadang member lain juga ikut membantu menjaga Zoya.
Seperti hari ini, Junho menggantikan Jihyo yang sedang sibuk diagensi untuk menjaga Zoya. Junho menawarkan diri karena hari ini dia libur dan tidak tahu harus melakukan apa, jadi dia pikir lebih baik membantu hyeongnya untuk menjaga Zoya.
Junho duduk disamping brankar Zoya, ia menatap lekat wajah wanita cantik yang masih betah memejamkan mata.
"hei nuna...apa nuna tidak lelah tidur selama ini?" mengusap-usap punggung tangan Zoya. "nuna tahu tidak Jihyo hyeong sudah seperti orang gila karena nuna terlalu lama tidur ..."
huhhh ...
"ayolah nuna, bangun dan segera lah sembuh, aku sudah rindu masakan yang nuna buat..."
Ceklek...
Junho menoleh kearah pintu.
"hyeong.... kau sudah datang?"
"hmm...semua pekerjaan hari ini sudah selesai, aku kehabisan ide untuk menyelesaikan lagu baru kita..." keluhnya, Jihyo duduk dibrankar.
"itu karena dipikiran Hyeong hanya ada nuna..."
"hmm...kau benar..." menyingkirkan tangan Junho dari Zoya.
"iishh...."
"aku ingin menemui dokter," Jihyo menunduk, "aku tidak bisa melihat Zoya terus seperti ini...."
Junho berdiri memeluk pundak hyeongnya erat, "mungkin nuna hanya sedikit lelah hyeong, sebentar lagi dia akan kembali sadar.."
"yah kau benar..." Jihyo mendekatkan wajahnya pada Zoya, "aku mohon bangunlah Zoya, berikan aku kesempatan untuk membuktikan perasaan ku pada mu..."
Tes.... bulir bening menetes dari mata Zoya.
"hyeong, nuna menangis..."
Jihyo mengusap air mata di wajah Zoya. "ini sudah sangat sering terjadi,"
"mwo? benarkah? lalu apa kata dokter hyeong, itu pasti perkembangan yang baik kan?"
Jihyo menggeleng, "Zoya tidak menunjukkan perkembangan apapun Junho, semua masih sama saja .." menghela nafas. "mungkin Zoya bisa mendengarkan kita, tapi belum ada tanda-tanda dia akan segera bangun." lirihnya.
__ADS_1
"ahh...hyeong nuna pasti akan sadar sebentar lagi, bersabarlah hyeong...."
"itu yang aku harapkan Junho ..." Jihyo bangkit dari duduknya, "aku titip Zoya sebentar ya," Junho mengangguk.
Sepeninggalnya Jihyo, Junho kembali menatap lekat wajah Zoya. Mata indah yang sudah terpejam beberapa hari ini kembali meneteskan air mata.
"hei nuna...jika nuna mendengar ku saat ini, aku mohon nuna berjuang untuk sembuh. Kau tahu nuna, hyeong ku itu sangat mencintai mu, aku belum pernah melihat hyeong mencintai wanita manapun seperti dia mencintai mu..." menghapus air mata Zoya. "apapun yang hyeong lakukan untuk nuna, itu karena hyeong menyayangi dan ingin menjaga nuna, dia ingin nuna hidup dengan bahagia..."
......................
Jihyo duduk berhadapan dengan dokter yang merawat Zoya.
"tuan...kami sudah melakukan yang terbaik, bahkan racun dalam tubuh nona Zoya telah berhasil kami keluarkan seluruhnya...."
"tapi kenapa sampai sekarang Zoya masih belum bangun dok?"
Dokter menggeleng, "jika melihat kondisi fisiknya nona Zoya seharusnya sudah bangun sejak tiga hari yang lalu, mengingat masa kritisnya pun sudah berlalu. Tapi...." dokter menggantung kalimatnya.
"tapi...?"
"sepertinya nona Zoya sendiri tidak lagi ingin bangun tuan..."
Deg .... Jihyo memegang dadanya yang terasa sangat nyeri.
"kenapa Zoya harus tidak ingin bangun?"
Jelas apa yang disampaikan oleh dokter membuat Jihyo semakin merasa frustasi. Zoya tidak ingin bangun, meski itu hanya sebuah dugaan tapi bagaimana jika yang dikatakan dokter itu benar.
Bagaimana jika Zoya memilih menyerah dan tidak lagi membuka matanya, bagaimana nanti Jihyo akan menjalani hidupnya.
Sekarang saja dia sudah seperti raga tanpa jiwa, lalu jika Zoya benar-benar menyerah apakah dia akan sanggup menghadapinya.
Jihyo keluar dari ruang dokter dengan langkah gontai. Tubuhnya sangat lemah ia seperti berjalan tidak menapakkan kaki di lantai.
Ia terduduk di kursi tidak jauh dari ruangan tempat Zoya dirawat. Menyandarkan kepala yang terasa sangat pusing.
Tidak lama Junho menghampiri dan menariknya masuk kedalam ruangan Zoya.
Didalam sana ada beberapa perawat yang sibuk memeriksa kondisi Zoya. Tidak lama dokter juga datang dengan langkah cepat.
Jihyo berubah menjadi sangat panik, saat mendengar detak jantung Zoya semakin melemah.
"Junho apa yang terjadi?" Jihyo berdiri didepan pintu kaca, matanya tak lepas dari wajah Zoya yang pucat.
"tadi saat hyeong pergi menemui dokter, nuna terus mengeluarkan air mata, bahkan semakin deras sampai tiba-tiba nuna seperti kesulitan bernafas, lalu aku memanggil perawat. Mereka bilang tekanan darah nuna menurun, detak jantungnya juga terus melemah hyeong..."
Jihyo menyandarkan tubuhnya pada tembok, "Zoya...aku mohon bertahanlah..." gumamnya lirih.
Pandangan mata Jihyo menggelap tubuhnya terasa melayang dan...
__ADS_1
Bruuk.... Jihyo jatuh pingsan.
"hyeong...." teriak Junho panik.
Dibantu dua perawat ia mengangkat tubuh Jihyo keatas brankar lalu membawanya keruangan lain.
Perawat sibuk memasang jarum infus karena Jihyo sangat lemah sekarang.
Junho sendiri berusaha menghubungi member lain untuk segera datang kerumah sakit.
......................
Jihyo mengerjapkan mata beberapa kali,
Mengucek matanya, ia sedikit terkejut dimana sekarang ia berada. Sekelilingnya hanya ada rerumputan hijau dengan udara sangat sejuk dan menenangkan.
Tidak ada siapapun disana selain dirinya. Dalam benaknya penuh dengan tanya, bagaimana dia bisa berada disini.
Kakinya melangkah tanpa tahu tujuan, dia terus berjalan menyusuri padang rumput hijau itu. Sampai ia mendengar suara tangis seorang wanita yang terdengar menyayat hati.
Jihyo mencari dimana sumber suara berasal, hingga akhirnya netranya menangkap sosok wanita yang tengah duduk memeluk kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangan.
"Zoya.... kau kah itu?" panggilnya sambil berjalan mendekat.
Wanita itu mendongak, menatap mata Jihyo dengan senyum tipis diwajahnya.
"Zoya...." Jihyo duduk dan langsung memeluknya erat. "aku merindukan mu...."
"Jihyo.... kamu disini?" membalas pelukannya.
"aku merindukan mu Zoya... tidur mu sangat lama aku hampir gila menunggu mu bangun...." menakup wajahnya. "ayo kita pulang, aku sudah berjanji akan membuat mu hidup bahagia kan, jadi berikan aku kesempatan untuk menepati janji ku," meraih tangan Zoya agar ikut berdiri.
Zoya tidak menjawab, dia hanya sedikit tersenyum lalu berjalan menjauh dari Jihyo.
"Zoya..." mencekal tangan Zoya.
"Jihyo...pulanglah, semua orang mengkhawatirkan mu ..."
"lalu kamu? apa kamu tahu aku sangat merindukanmu aku mencintaimu Zoya..."
"pulanglah Jihyo..." Setelah mengucapkan itu Zoya melangkah menjauh dari Jihyo, meski Jihyo berusaha mengejar langkah wanitanya tapi ia tetap tidak bisa.
"Zoya...." teriak Jihyo sekuat tenaga. "Zoya...aku mohon kembalilah ..." Air mata Jihyo mengalir deras.
"Zoya....."
...****************...
Next.....
__ADS_1