Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
PROLOG :YANG PERTAMA


__ADS_3

Dunia semakin tua....


Sedikit demi sedikit dunia menuju kehancurannya. Dan hal itu ia tahu pasti akan terjadi.


Heh... ia ikut andil dalamnya, hutan yang makin hilang, hewan-hewan yang makin banyak yang punah, bencana alam yang datang silih berganti, beberapa adalah campur tangannya.


Ooouuhh...dan ia menikmatinya...


Amat sangat menikmatinya. Waktunya akan tiba, waktu dimana ia akan menuai besar-besaran. Waktu dimana rasa lapar tidak akan mengganggunya.


Well...sekarangpun ia tidak kelaparan.


Namun...


Ia benci harus berada di balik layar. Ia benci tidak ada yang mengenal hasil karyanya.


Huft......sudahlah. Untuk saat ini ia harus lebih bersabar lagi. Meskipun kesabaran bukanlah kelebihan yang ia miliki. Tapi ia punya banyak waktu, ia punya segala waktu di dunia, jadi buat apa takut...


Ehhhhh.....


Wait a minute....


Takut?


Nooooo... takut tidak ada dalam kamusnya.Takut bukan untuk dirinya. Ia sendirilah sang pembawa takut. Yang lainlah yang harus takut kepadanya.


Ia adalah THE ONE.


Ia adalah THE FIRST.


Ia adalah THE TEROR


Ia adalah THE DESTROYER


Ia adalah......


"Tuanku......"


GYAAAARHH....!!! Apa pula ini?


Ia benci saat ada yang mengganggu lamunannya, mengganggu saat-saat teduhnya. Pasti si tua bangka keparat itu. Sudah berapa lama pak tua itu mengikutinya, masih belum juga hapal kebiasaanya. Tapi ia ingat, dirinya harus bersabar , ia membutuhkan pak tua tambun itu. Siapa lagi yang mau dengan sukarela menjadi budaknya selain pak tua tambun yang kebodohannya sudah menguji level kesabaran yang dimilikinya. Mungkin ia justru harus berterima kasih pada pak tua itu karena telah melatih tingkat kesabarannya sehingga jika seperti di dalam game level kesabarannya naik seratus dua ratus level berkat pak tua itu saja.


Jika ada pentas kebodohan ia percaya si bego tua tambun ini akan menjadi juara dunia. Tapi seperti yang orang-orang katakan memelihara orang bodoh itu lebih gampang karena kesetiaan mereka itu murah.


"Tuan...."


Hadeeeeeehhhhh.......gimana sih ni orang. Harusnya dia tau, jika ia tak memberikan jawaban artinya ia tak mau diganggu oleh apapun.


"Hmmm ....? Kau tau Tuanmu ini sedang tidak ingin diganggu? Di mana otakmu? Bertahun-tahun mengikutiku seperti anjing kudis kelaparan, masih tak tahukah bagaimana Tuanmu ini?"


"Mmmaaaa...maaa....aaa...aafff, Ttttuu..tu...aaaan."


Daaan lihatlah gagapnya mulai keluar lagi.


Menjijikan..


"Tu...tuaaan....Ketua ranting kedua ingin bertemu. Dii..dii..aaa bbbb. .biii..bbii...laaang ini urusan yang pee...ppp..peen...ting dan amat sangaaaaaaat mendesak"


"Harvey....." Bisiknya. Ia tak pernah membentak, sayang energinya dibuang untuk hal sepele. Lagian bisikannya sudah cukup menakutkan apalagi cuma buat pak tua bego ini. Bisa-bisa dia ngompol di tempat lagi....


"Berapa kali harus kukatakan, Tuanmu ini tak akan pernah mau menemuinya. Siapa dia? Cuma ketua ranting kedua. Mau menemuiku? Berapa kalipun ia kemari jawaban tetap sama. Dia dapat menemui atasannya untuk menyampaikan apa keluhannya. Tuanmu ini tidak memiliki niat untuk menyelesaikan hal remeh temeh. Meskipun Tuanmu ini memiliki semua waktu di dunia."


Dipikir lagi, tampaknya ia harus menegor kepala dari ketua ranting kedua itu. Jika sampai ketua ranting kedua lolos menemuinya sendiri tanpa memberi tahu kepalanya. Apalah gunanya dia? Apa perlu ia mengganti dia? Bagaimana mungkin mereka mengira ia sendiri yang akan menyelesaikan masalah remeh seperti itu.


Oh.....ya ia tau apa masalahnya. Heeeiii...ia tau segalanya...hohoho

__ADS_1


"Tu. ttu..ttuu..aaan...dia memaksa dan mengancamku ji...jjji..ka tidak menyampaikannya pada tuan."


"Harvey....jika dia masih bersikeras, katakan Tuanmu ini bukan orang yang sabar. Ia tidak akan sungkan mengambil "anugrah" nya lagi."


Nah...itu pasti akan membuatnya kapok.


Lamat-lamat didengarnya langkah kaki Harvey menjauh.


That will do.


Ia tersenyum dan kembali larut dalam pikirannya.


Apa lagikah yang perlu diperbuatnya untuk menghancurkan dunia?


***


1: MATAHARI DAN BULAN


Hari itu panas sekali. Mungkin matahari sedang mengamuk dan ingin membakar bumi ini. Udara dalam mobil itu terasa gerah sekali. Cukup untuk menambahkan daftar hal-hal yang patut dibenci oleh Wulan.


Dia benci hari ini, dia benci kemarin, dia benci mobil yang menjemputnya. Mereka bisa saja pulang naik kereta cepat, tapi noooo.....tampaknya Mr. Minus pas ngga ada kerjaan. Mr. Minus adalah sopir keluarga mereka yang sudah bekerja puluhan tahun sejak zamannya kakek nenek Wulan. Nama aslinya Parmin. Dipanggil Pak Min. Wulan dan saudara-saudaranya yang memberi nama Mr. Minus karena lebih keren dan sesuai dengan tingkahnya yang semakin ajaib.


Seperti hari ini, tidak ada orang yang menyuruh Mr. Minus menjemput mereka karena mereka biasa pulang naik kereta dimana stasiun kereta hanya seratus meter jaraknya dari sekolah mereka. Dan Mr. Minus dengan inisiatif otak sepuhnya memutuskan untuk menjemput mereka. Dari semua hari dia memilih hari ini. Hari dimana segalanya tak berjalan sesuai kemauannya.


Pas banget udara yang panas, jalan yang super macet, semuanya bener-bener ingin membuat Wulan mendidih. Ia benci semuanya hari ini terutama orang-orang yang bersamanya dalam mobil kuno itu.


"Lan...."


Daaaaaan .......Wulan benci pemilik suara yang dimanis-maniskan ini yang notabene adalah saudara kembarnya di atas segalanya.


"OPOOO!!!" (Apa!)


"Wuediaaaan.....gualak..eeeee!!"


"Halaaaah, Laaaan.....Lan. Wong cuma ngono wae bad mood! Sesuk ulangan meneh. Kan tinggal sesuk diapikne entuk nilai satus. Nilai sing perfecto, satu-satune nilai sing ditrimo adikku sing paling ayu dewe iki"


(Halah, Laaaan.....Lan. Orang cuma begitu aja bad mood! Besok ulangan lagi. Kan tinggal dibaguskan mendapat nilai seratus. Nilai yang perfecto, satu-satunya nilai yang diterima adikku yang paling cantik sendiri ini)


"Sembilan puluh delapan..... Cuma salah satu. Bagiku itu dah bagus banget lho."


Wulan memutar bola matanya. Kenapa semua begitu menyebalkan. Kenapa mereka tidak bisa mengerti dirinya. Kesalahan yang dibuatnya sehingga tidak mendapatkan nilai seratus adalah kesalahan yang amat sangat sepele. Kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan seorang Wulan. Dua makhluk ini mana tau rasanya setelah sekian lama beruntun memperoleh nilai seratus. Sembilan puluh delapan adalah aib!


"Wes kowe wong loro meneng o wae. Ojo nambahi bad moodku!"


(Sudah kalian berdua diam saja. Jangan menambah bad moodku)


"Cieeeee....yang lagi bad mood...uhuuy.. Tuan puteri mau bad mood sampai kapan? Jangan campai sore yaaaah? Yaaaa.....? Yaaaa? Pweeliiiizzzz.....cyudah janji loh kemarin...Rara aja cyudah ciap tuh"


Suara kembarannya yang dibuat-buat seperti anak kecil semakin menambah kekesalannya. Bagi orang lain mungkin cute tapi super menyebalkan bagi Wulan. Wulan heran dengan si Rara ini. Dia mau melakukan apa saja untuk Suryo kembaran Wulan. Memang sih Rara juga akan melakukan apapun untuk membantu Wulan juga. Rara juga tidak akan segan membantu orang lain yang membutuhkan. Tapi Suryo ini tampaknya berbakat untuk membuat siapapun mau melakukan keinginannya. Sehingga hanya dengan sedikit rayuan dan kata kata yang manisnya bisa bikin semut overdosis, banyak orang terpesona, bertekuk lutut dan pada akhirnya melakukan apa yang Suryo mau. Kecuali..Mami, ya cuma Mami yang kebal dari pesona kembarannya itu.


"Ayolah adikku sayang yang baik hati, cantik jelita, ramah, suka membantu, rajin, lemah lembut dan gemar menabung. Pokoknya semua yang baik ada di Wulan deh. Apalagi kalau sudah JANJI....ye kan .....ye kan?"


Duuuhh....nyesel deh Wulan. Kenapa kemarin koq ya gampang banget mau membantu Suryo. Tapi...tapi...kemarin kan belum tau nilai ulangannya.....


Hiks.....satu hal yang diajarkan dan dipegang teguh di keluarganya adalah untuk tidak gampang mengobral janji dan jika sudah berjanji jangan pernah ingkar. Bagaimana donk? Wulan merasa malas banget hari ini.


"Lan..ngga papa sih, nanti biar Rara aja yang bawa Sheba, Batrix dan Milly keluar jalan sore. Rara bisa koq."


"Ngga..lah. Kan sudah jadi komitmen kita dulu kalau minimal dua orang dari kita yang akan membawa mereka jalan SETIAP HARI. Cuman makhluk satu ini lho yang ingkar janji lupa sama komitmen awal waktu kita minta."


"Weeeh.....ora lali yoooo.. Cuman kan sirkuit e kui isone dipake gratis mung dino iki. Disilihi bapak e Aldi."


(Ehhh...tidak lupa ya. Cuma sirkuit itu bisanya dipakai gratis cuma hari ini. Dipinjami bapaknya Aldi)


"Lagian kan aku, Suryo, dah bilang besok gantian kutukari dobel."

__ADS_1


Sebenarnya sih seperti kata Rara. Rara sendirian pun bisa mengatasi untuk membawa tiga anjing mereka untuk sekedar berjalan-jalan ke taman dekat rumah. Secara resmi anjing-anjing itu milik mereka bertiga. Dua tahun lalu saat melihat mereka di pameran anjing, anak-anak anjing itu begitu lucu, menggemaskan dan amat sangat menggoda untuk dibawa pulang buat mereka untuk dipelihara. Dan dengan pe de nya mereka meminta satu anjing untuk mereka masing-masing. Waktu itu papi dan mami sebenarnya hanya akan membeli satu karena menurut mereka Wulan dan Suryo tidak akan telaten merawatnya tapi ya bagaimana kan maunya punya satu-satu donk. Dan sekarang Wulan merasa menyesal kenapa tidak nurut aja dulu. Karena ternyata tanggung jawabnya begitu besar. Wulan sayang sih sama mereka tapi tidak seperti Rara.


Rara itu bagaimana ya... Dia sangat telaten dalam merawat apapun. Kalau dipikir-pikir semua anjing itu malah paling nurut dan nempel sama Rara. Kalau bukan karena Rara, mungkin Sheba, Batrix dan Milly sudah diberikan ke orang lain oleh Mami.


Oleh karena itu, demi Rara dan demi pantang melanggar janji. Wulan harus menemani Rara jalan-jalan sore seberapa malasnya dia. Wulan sayang Rara. Dengan Rara ia merasa sangat nyaman dan bisa bercerita soal apapun. Rara adalah orang yang paling Wulan percaya di dunia ini.


Wulan dan Suryo boleh lahir di jam dan hari yang sama. Tapi hanya sampai disitulah persamaan mereka. Jika Suryo menganggap bahwa dunia ini indah bagaikan taman yang penuh bunga dan harum semerbak wanginya, sebaliknya bagi Wulan dunia ini bagaikan padang belantara penuh semak duri. Jika Suryo melihat gelas setengah penuh maka Wulan akan melihat gelas itu setengah kosong. Suryo cowo Wulan cewe. Kalau Wulan suka main boneka maka Suryo kesukaannya main mobil-mobilan. Pokoknya mereka itu bagaikan kutub utara dan kutub selatan.


Yin dan yang.


Sehari hidup tanpa berdebat dengan Suryo bagaikan makan sayur tanpa garam. Sedangkan Rara adalah penengah mereka. Selalu mendamaikan mereka. Wulan bersyukur sekali Rara menjadi bagian dari keluarga mereka. Sejak Wulan berusia tiga bulan Rara mulai tinggal bersama mereka. Sejak itu mereka bertiga tumbuh bersama. Di rumah yang sama, sekolah yang sama bahkan mereka selalu sekelas. Hanya setelah masuk sekolah menengah atas ini mereka beda kelas karena penjurusan yang mereka pilih.


Rara diadopsi Papi dan Mami pada saat ia berusia satu bulan dikarenakan, Mama dan Papa Rara yang merupakan teman baik mereka meninggal karena pandemi di tahun 2020.


Papi dan Mami selalu berkata mereka bertiga adalah harta mereka yang paling berharga. Bahkan kata Nainai, hadirnya Rara di keluarga mereka membawa berkat. Istilah Nainai sih bawa hoqi. Karena tidak lama setelah Rara bersama mereka Papi dan Mami berhasil menyempurnakan chakra. Sebuah alat yang mengubah dunia.


Menurut cerita Papi, pada awalnya chakra berupa alat yang gede segede rumah yang mereka tinggali . Alat ini dihubungkan dengan panel tenaga surya untuk kemudian menyimpan energi yang didapat dari sinar matahari untuk dipakai malam hari. Seiring dengan penelitian yang intensif, bahkan selain energi surya, chakra juga mampu mengubah energi gerak menjadi menjadi energi listrik. Selanjutnya mereka berhasil memperkecil besarnya alat itu. Dan di saat mereka hampir berhasil melakukan terobosan yang lebih ekstrim, orang tua Rara meninggal. Papi dan Mami tetap melanjutkan penelitian tersebut, hingga pada akhirnya chakra bahkan mampu melipat gandakan energi yang didapatnya. Sekarang enam belas tahun setelah terobosan tersebut, chakra dapat ditemukan dimana saja, di jam tangan, sepatu, mobil, peralatan olahraga, pada dasarnya di semua benda yang bisa bergerak.


Sayangnya Papi dan Mami KUNO!


Mereka tidak suka menampilkan diri. Hidupnya tetap dihabiskan di kota kecil. Mobil juga mobil kuno meskipun sudah dipasangi chakra tp bodynya masih mobil tahun 2000. Bahkan sejak sepuluh tahun yang lalu, chakra sudah dikelola oleh yayasan nirlaba. Karena Papi bilang suatu terobosan yang bisa mensejahterakan banyak orang jangan sampai dikuasai sendiri, kita harus membagikannya. Selain itu Papi bilang ia tidak mau menjadi serakah. Jadi sekarang Papi dan Mami hanya sedikit-sedikit saja memberikan masukan untuk chakra. Bahkan mereka juga melepas sepenuhnya hak mereka atas chakra.


Sekarang Papi dan Mami meneruskan usaha sabun ramah lingkungan yang didirikan oleh kakek nenek mereka. Lambat laun orang-orang pun lupa akan keberadaan penemu chakra yang sebenarnya.


Wulan selalu bingung dengan jalan pikiran Papi dan Mami, bagaimana mereka bisa melepaskan hak mereka, memilih hidup sederhana di kota kecil seperti kota Solo ini. Papi bilang mereka cinta kota Solo, meskipun bagi Wulan kota ini membosankan dan bingung apa pulak yang bisa dicintai dari kota yang membosankan ini. Duh...ngga sabar rasanya untuk segera kuliah dan meninggalkan kota ini.


Hal lain yang membuat Wulan bingung sekaligus jengkel adalah bagaimana Papi dan Mami memilihkan nama untuk anak kembarnya. Suryo dan Wulan. Bagi Suryo nama mereka adalah nama yang unik. Bagi Wulan itu nama yang jelek, nama yang ndeso!


Kata Mami, dia terinspirasi dari seorang tokoh idolanya yang kata Mami begitu berprinsip pada kebenaran dan kejujuran. Dan mereka berharap Suryo dan Wulan juga bisa begitu, berpegang teguh pada kebenaran di lingkungan manapun. Menjadi cahaya di manapun baik di waktu terang maupun gelap. Ada beberapa buku tentang tokoh itu di rumah. Wulan sama sekali tidak tertarik untuk membaca biografi. Apalagi biografi orang yang bertanggung jawab memberikan inspirasi pada Mami untuk memberikan nama yang ndeso untuk anak-anaknya.


Wulan iri dengan Rara karena menurutnya nama Rara sangat cantik. Aurora. Cantik sekali bukan. Bandingkan dengan nama Wulan, nama yang sangat njawani kata Nainai dan Yeye. Nainai dan Yeye adalah panggilan mereka untuk nenek dan kakek dalam bahasa mandarin.


Tapi meskipun mereka adalah keturunan tionghoa, Mami tetap berpegang dengan teguh dan perkasanya bersikeras bahwa nama mereka nama yang indah, unik dan lain dari yang lain. Dia tidak mau nama yang kebarat-baratan. Tidak ada yang menyamai.


Ya jelas lah ga ada yang menyamai, jelas aja di antara teman-teman mereka tidak ada yang memiliki nama yang sama lha wong nama orang desa gini. Mungkin jika di desa yang juga memakai nama seperti mereka akan banyak seabrek-abrek. Orang tua normal yang lain ngga bakal milih nama seperti ini untuk anak-anak mereka.


"Lan....piye? (lan....bagaimana?)


Lha malah ngelamun?"


"AaaaazzzZ....emboh!" (AaaaaazzzZ....entah!)


"Ayolah. Nanti nek kowe ora melu ngancani Rara. Mami iso curiga, koq cuma Rara dewean."


(Ayolah. Nanti kalau kamu ngga ikut menemani Rara. Mami bisa curiga. koq Rara sendirian)


"Yoooo....Yoooo...IYOOOOO!"


"Yaiiiy.....thanks ya adikku yang cuanteeeek setengah hidup ini."


"Haiyah cuma terpaut dua menit wae nggaya!"


"Walau cuma dua menit tapi tetep wae aku Kokomu....hohoho"


Hiiih. gayanya itu lho menyebalkan banget. Tapi ya memang bener. Cuma jengkel aja kenapa Suryo memenangkan perdebatan mereka. Masalahnya susah untuk bisa jengkel lama ke Suryo ini.


"Wes to ..tenang wae nti nek dah bok gantiin, besok gantian aku sama tugas-tugasmu sekolah juga akan ta bantu. Buat proyek mading nti juga ta cari orang. Piye...piye? Baik to aku?"


Satu hal lagi kelebihan Suryo, dia selalu tahu apa yang diinginkan orang lain dan tau kapan harus menggunakannya.


"Piye...Piye? Kokomu sing paling ngguanteng iki? Wes ngguanteng , baik hati, murah hati, ra...WOI...WOIII.....WOII.....!!!"


Dan Wulan dan Rara pun akhirnya tidak tahan. Mereka berdua lompat dan menerjang Suryo, satu memegang tangan dan yang lain memegang kaki. Kekacauan pun pecah di dalam mobil. Tinggal Mr. Minus di depan yang berteriak-teriak tanpa daya berusaha menenangkan tiga remaja yang larut dalam perang dunia mini....


__ADS_1


__ADS_2