
Rara menjerit dengan ngeri, di bawahnya, ia melihat vila Aldi. Halaman depan vila itu sudah berantakan. Pot-pot bunga berserakan, potongan-potongan dahan dan ranting pohon ada di mana-mana. Ia juga melihat ada potongan-potongan tubuh yang tercecer dan sudah tak berbentuk. Rara tidak tahu itu adalah apa yang tersisa dari Om dan Tante Santo.
Pandangannya bolak-balik ke arah Wulan dan Suryo yang masing-masing terlihat kewalahan. Suryo tampak sudah sangat kepayahan melawan seorang pria yang dulu ikut menyerang mereka dan membunuh Mr. Minus. Sedangkan Wulan berlompatan mencoba menghindari daemon yang besar sekali dengan ekor kalajengking yang menyabet ke kiri dan kanan.
Dicengkeramnya pinggiran kursi keras-keras, dashbor eleanor sangat mulus tanpa pegangan, biasa jika sedang tegang seperti di wahana permainan, secara reflek Rara akan mencengkeram pegangan di depannya, tapi khusus di dalam eleanor, mobil itu tidak memberikan satu sudutpun untuk dapat dipegang sehingga Rara hanya bisa mencengkeram spons di jok tempat duduknya. Sheba dan milly menyalak dengan garang di belakangnya.
"Pegangan!" Kata Mami.
Rara menjerit dengan ngeri ketika dilihatnya daemon besar itu mencengkeram Wulan di lehernya dengan satu tangan dan mengangkat Wulan tinggi-tinggi.
Tidak menunggu waktu lama, Mami menginjak pedal gas kuat kuat. Sementara tangannya tetap mencengkeram kemudi mobil itu.
"Aktifne senjata!" teriak Mami.
Rara baru sadar, kemudi eleanor berbeda dengan kemudi mobil biasa. Alih-alih bundar, kemudi Eleanor berbentuk dua tuas melengkung yang dihubungkan dengan lingkaran oval kecil dengan layar sentuh digital ditengahnya. Diujung kedua tuas itu ada tombol juga.
Ketika Mami berteriak untuk mengaktifkan senjata di depan Rara, keluar dari dahsbor sebuah panel berbentuk oval seperti kemudinya tapi tanpa tuas.
"Ra! Pake panel itu buat nembak dari samping!" kata Mami sambil memencet tombol yang ada di atas kedua tuas kemudi.
"Eh...eh...piye...?" tanya Rara bingung.
Eleanor menukik tajam, dari lampu depannya keluar tembakan cahaya bewarna merah ke arah pria yang menyerang Suryo. Sebuah tembakan mengenai kakinya, membuatnya kaget dan langsung melompat menghindari tembakan berikutnya.
"Rara! Pencet panel, yang panah kanan untuk nembak dari kanan. yang kiri buat kiri!"
"I...i...iya Mi!"jawab Rara dengan gugup.
Disentuhnya panah sebelah kiri di layar, di sentuhan pertama panah itu berubah warna menjadi merah tanda senjata sudah aktif. Rara menggerakkan panel itu dilihatnya dari pintu di sebelahnya sebuah senapan mesin sudah nongol, entah tadi muncul darimana. Senapan itu bergerak sesuai dengan panel, kemana Rara menggerakkan panel, senapan itu bergerak mengikutinya.
Tanpa menunggu lama Rara mengarahkan senapan itu ke arah kaki daemon yang sedang mencengkeram Wulan. Dipencetnya panel itu berulang-ulang, tembakan cahaya-cahaya merah pendek -pendek menyembur keluar. memberondong daemon itu membuatnya mau tak mau harus meloncat menghindar. Rara melihat, Wulan memanfaatkan kesempatan itu dengan menyerang daemon itu dengan pecahan-pecahan pot dan berhasil menancapkan beberapa pecahan pot ke wajah daemon itu membuatnya meraung kesakitan dan melemparkan Wulan dengan kasar, untung Wulan sigap dan berhasil bersalto untuk kemudian mendarat di atas kedua kakinya.
Eleanor bergerak dengan cepat ke arah Wulan, lalu berhenti tepat di depan Wulan, sementara Suryo juga sudah bergabung dengan Wulan. Mereka berdua tampak bingung memandang mobil di depannya. Uhm....dalam pikiran mereka bukan mobil sih, karena eleanor tampilannya tidak seperti mobil biasa lebih mirip ke panzer sih.
Mami membuka pintu samping sebelah Rara.
"Masuk!" teriaknya.
Suryo dan Wulan tampak kaget.
"MASUK!" kali ini Rara dan Mami berteriak berbarengan.
Langsung saja Wulan dan Suryo melompat masuk. Pintu eleanor langsung menutup.
Mami menginjak pedal gas lagi dan mengangkat tuas kemudinya, eleanor naik ke atas secara vertikal dengan cepat. Membuat Suryo dan Wulan yang masih terduduk di lantai mobil terlempar ke atas.
"Ouch!"jerit Wulan.
"ADOOOUUUW!" teriak Suryo.
"NDAK USAH MANJA!"teriak Mami,"Tunggu sampai kalian di rumah. Jangan harap Yeye atau Nainai bakalan belain kalian! Gak habis piki......''
GRADAAAAK....!
Mereka menjerit bersamaan. Sesuatu yang besar menghantam eleanor dari samping kanan. Membuat mobil itu oleng ke kiri. Lalu dari kiri, daemon yang tadi menyerang Wulan juga sudah berubah menjadi kelelawar super besar dan menghantam eleanor dari sisi kiri. Bergantian dua daemon itu dalam wujud terbang mereka menghantam eleanor.
Hantaman mereka sangat keras sehingga mereka yang didalamnya berguncang begitu keras. Bahkan di sebelah kanan, di bagian pintu sebelah pengemudi, ada bagian yang penyok melesak ke dalam akibat hantaman yang begitu kuat.
Mami tidak menghiraukan semuanya, ia tetap sekuat tenaga mengeinjak pedal gas, membelokkan eleanor ke kanan dan kiri mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kedua daemon itu.
__ADS_1
Namun tidak berhasil.
Kedua daemon itu masih mencengkeram eleanor dengan kuat. Bahkan salah satunya, Rara tidak dapat melihat yang mana karena kedua daemon itu sudah berpindah ke atap mobil, berhasil menancapkan kukunya sampai menembus atap eleanor, lalu menariknya membuat sobekan besar di atap eleanor yang terbuat dari baja itu.
Ia merobek atap baja eleanor dengan mudahnya seperti merobek kain tipis.
"SURYO! WULAN!" teriak Mami,"Duduk dan pakai sabuk pengaman!"
Suryo dan Wulan tidak membantah Mami dan langsung duduk, sabuk pengaman secara otomatis langsung mengikat tubuh mereka begitu mereka duduk.
"Lepaskan atap, eleanor!"
"Password dinggo ngeculne atap?"
Jika tidak sedang dalam keadaan genting, Rara pasti sudah ketawa ngakak melihat wajah Suryo dan Wulan yang ternganga kaget mendengar suara eleanor dalam nada robot tapi dengan bahasa jawa ngoko yang medok itu.
"Berserah!"kata Mami. Matanya tetap fokus kedepan.
Atap eleanor langsung mental begitu Mami selesai mengucapkan paswordnya. Mentalnya dengan kekuatan penuh, membuat kedua daemon yang bertengger di atasnya kaget dan tidak sempat melompat. Mereka berdua terhantam atap baja yang berat itu, tidak sempat menghindar dan ikut terlontar jauh ke belakang untuk kemudian jatuh berdebam dengan keras ke tanah. Atap eleanor menindih keduanya.
"Yesss!" teriak Rara senang. Suryo dan Wulan juga ikut bersorak.
Namun kegembiraan mereka tidak bertahan lama. Kedua daemon itu tidak membutuhkan waku yang lama untuk membebaskan diri dari atap eleanor. Dan tanpa membuang waktu mereka langsung terbang dan mengejar mereka.
****
Perasaan Arthur tidak enak, dilihatnya sekelilingnya begitu banyak penjaga manusia, mereka tidak ramah sama sekali, wajah mereka kaku tanpa ekspresi dan tanpa ragu mereka memberondong mereka dengan hujan peluru dari senjata mereka. Ini bukan masalah bagi Aunt Yesha, Uncle Hugh, Khalid ataupun Hazel, tapi masalah besar bagi Arthur. Ia kewalahan menghindar dari hujan peluru. Beberapa peluru berhasil menggores lengan dan kakinya.
Aunt yesha rupanya dapat merasakan bahwa Arthur kesulitan, ia berkata...
"CUKUP!"
Aunt Yesha menggertakkan giginya dengan jengkel. Ia mengetukkan tongkatnya ke tanah dengan keras, Arthur merasakan sebuah energi yang begitu besar keluar dari Aunt Yesha membuat Arthur kagum sekali, semua daemon, para manusia penjaga dan zombie-zombie yang tersisa terangkat semua ke udara dan mereka hanya bisa menggapai-gapai tanpa daya.
"Yesha, no!" teriak Uncle Hugh.
"Aku yang akan menanggung akibatnya, babe!" tukasnya.
Sekali lagi Aunt Yesha menggerakkan tangannya, kali ini ia melakukan gerakan memuntir, manusia-manusia penjaga seperti kehabisan napas, mereka tampak seperti tercekik. Khaleed dan Hazel tidak menyia-nyiakan kesempatan, mereka berdua bergerak dengan lincah, meliak-liuk menebas daemon-daemon yang tersisa kecuali R1.
Aunt Yesha memuntir tangannya sekali lagi. Semua manusia penjaga itu mengeluarkan suara tersenggal-senggal.
"Yesha! Cukup!"
"Why? Why babe? Tell me! Manusia-manusia seperti mereka tidak pantas untuk hidup! Hanya menghabiskan kuota oksigen dunia saja!"
"Bukan tempat kita untuk menghukum mereka. Lepaskan mereka...."
"Tck!" decak Aunt Yesha dengan jengkel, diturutinya perkataan suaminya tapi tidak dengan sepenuhnya. Ia membuat gerakan menyentak ke bawah dengan tangannya membuat para manusia penjaga itu terbanting dengan keras ke tanah. Mereka semua tergeletak diam. Khaleed mendekati mereka dan mengecek nadinya.
"Wew.......mereka hanya pingsan..." katanya sebelum Uncle Hugh bertanya.
Arthur melihat sekelebat gerakan dari sudut matanya. Dengan cepat ia melompat, ditariknya tangan R1 lalu dipitingnya R1 sampai terjatuh ke tanah.
"Nice, Arthur!"puji Khaleed dengan tersenyum. Diambil alihnya R1 dari cengkeraman Arthur.
"Kita bawa dia untuk diinterogasi. Coba Hazel dan Arthur kalian pergi ke gedung penjaga, cari apa saja yang bisa menjadi informasi bagi kita. Hugh dan Yesha biar berjaga di sini. Aku sendiri akan mencari di bangunan pabrik itu."
Arthur bertransformasi lagi menjadi kucing, ia merasa bisa bergerak dengan lebih cepat saat menjadi kucing.
__ADS_1
Tolong.....
Dengan kaget Arthur menoleh ke kanan dan kiri. Namun ia tidak melihat Rara, dengan bingung Arthur memandang sekelilingnya. Ia sangat yakin itu adalah suara Rara. Namun...
Tunggu dulu....
Tolong...siapa saja tolong......
Suara itu tidak terdengar di telinganya, tapi melintas di pikirannya.
Lalu sebuah gambaran muncul di kepalanya, ia melihat Mami di balik kemudi sebuah mobil dengan atap terbuka, dibelakangnya ada Wulan dan Suryo lalu anjing-anjing Rara. Mobil yang mereka tumpangi tampak berguncang keras. Arthur dapat melihat seekor kelelawar yang sangat besar tiba-tiba menyambar Mami, mencengkeram pundak Mami.
Miaaauw...miauuuw.....miaaauuw...Arthur berputar-putar dengan panik. Gambaran itu secepat datangnya, cepat pula perginya.
"Arthur...Arthur! Kau kenapa?" Suara cemas Uncle Hugh menyadarkannya. Ia bertransformasi balik menjadi manusia.
"Uncle Hugh...Aunt Yesha.....Tolong...Mereka semua dalam bahaya!"
Tiba-tiba dari atas mereka, Arthur melihat sebuah mobil melayang-layang semakin lama semakin merendah dan mendarat dengan pelan di atap datar gedung tempat penjaga. Pintu mobil itu terbuka.
Arthur menyipitkan matanya, karena lampu mobil itu masih menyala dan sinarnya sangat menyilaukan.
"Kalian baik-baik? Aku cemas setengah mati saat kita kehilangan kontak....." nada suara Papi bergetar, ia terlihat cemas sekali. Dengan gerakan ringan, ia melompat dari atap gedung penjaga dan berlari mendekati mereka.
Di belakang, berdiri dan menunggu ada Yeye dan Nainai.
Tanpa menunggu Papi mendekat, Arthur berteriak,"Mereka semua dalam bahaya, kita harus menyelamatkan mereka!"
"Arthur? Apa maksudmu? Siapa dalam bahaya?" Aunt Yesha bertanya dengan nada tajam.
"Rara, Mami, Suryo dan Wulan! Ada yang menyerang mereka. Ayo cepat kita harus menyelamatkan mereka."
"Arthur....mereka ada di rumah. Apa maksudmu? Tunggu dulu, alkomku sedari tadi tidak berfungsi sih, kami sudah berputar-putar lama di area ini mencari kalian. Dan alkom kami tidak berfungsi sampai sekarang. Darimana Arthur tahu kalo Mami dan yang lainnya dalam bahaya?" tanya Papi dengan heran.
"Aku melihatnya."
"Hah?"
"Tidak ada waktu...tolonglah percaya pada Arthur. Saya tak berbohong."Arthur sudah hampir putus asa, semakin lama mereka disini, Arthur tahu semakin kecil kemungkinan mereka untuk menyelamatkan Wulan dan yang lain.
"Ada Apa?" tanya Khaleed,"Kenapa kalian tidak mulai menggeledah?"
"Keadaan disini sudah aman, kita bagi dua. Khaleed, Hazel kalian kembali dulu dan bawa daemon itu bersama kalian. Aku dan Yesha akan ikut mobil mereka untuk mencari anak-anak yang lain."
Khaleed menangkap nada tegas dalam suara Uncle Hugh. Ia mengerti untuk tidak membuang waktu lagi. Ia mengangguk dan menarik R1 lalu mengangguk ke arah Hazel, Hazel balas mengangguklalu memegangi R1 juga, dalam sekejap mata mereka sudah menghilang dari hadapan Arthur.
"Akan lebih cepat dengan teleportasi, babe." kata Aunt Yesha.
" Ya, tapi kita tidak tahu harus teleport kemana."
"Penting kita keluar dulu dari tempat ini, kurasa ada gelombang elektromagnetik di sekitaran compound ini yang mengacaukan sinyal alkom kita."
"Oke..ayo cepat."
Dengan bergegas mereka berlari kembali ke arah mobil yang dibawa Papi. Tanpa menjawab pertanyaan Yeye dan Nainai, mereka masuk dan duduk berdesakan di dalam mobil itu. Papi mengaktifkan mobil dengan sidik jari dan suaranya.
Mobil itu terangkat secara vertikal dan melesat dengan cepat meninggalkan compound di belakangnya.
****
__ADS_1