
Mereka turun dari dari kapsul kaca satu persatu. Suryo yang pertama turun diikuti Arthur, untuk kemudian siap berdiri diluar kapsul tepat di samping luar pintu sambil menunggu Yeye dan Nainai. Saat Yeye melangkah turun dengan sigap Suryo mengulurkan tangannya untuk menggandeng Yeyenya. Arthur yang melihat itu, mengikutinya dengan mengulurkan tangannya menyambut Nainai. Nainai tersenyum dan menyambut uluran tangannya. Wulan yang melihat semua itu memutar bola matanya. Kemudian melangkah turun dengan hati-hati. Terakhir Rara yang turun sambil memegang tali kekang kedua anjingnya.
"Tunggu sebentar." kata Yeye.
Tak berapa lama kemudian, dua buah kendaraan seperti mobil golf tanpa atap mendekati mereka. Seperti kapsul yang tadi mereka naiki, mobil ini juga tidak ada yang mengemudikan. Masing- masing mobil golf itu memiliki empat tempat duduk. Yeye dan Nainai memilih naik di mobil golf yang kedua. Kali ini Wulan kalah cepat dari Suryo yang langsung duduk di kursi depan mobil golf yang pertama. Setelah sukses mengalahkan Wulan duduk di kursi yang terdepan itu tidak lupa Suryo menjulurkan lidahnya ke arah Wulan,
"Wulan bisa duduk di samping Suryo, Saya dan Rara bisa duduk di belakang atau di belakang Yeye dan Nainai juga tidak masalah."
"Cih... duduk di samping makhluk ini? NO WAY!"
"Woi makhluk ini kakak kembarmu woi!"
"Bodooo amat.....!" kata Wulan sambil melenggang ke kursi di belakang Yeye dan Nainai. Rara mengambil tempat duduk di belakang Suryo, ia menempatkan sheba di samping Suryo dan meminta Suryo untuk mebantunya memegangi tali kekangnya. Sementara milly ia tempatkan di sampingnya. Mau tak mau Arthur harus duduk di samping Wulan karena hanya itu kursi yang tersisa baginya. Hal itu sama sekali bukan masalah bagi Arthur. Ia tidak keberatan duduk di samping siapapun.
"Hmm.... Suryo, Wulan jaga kelakuan kalian ya."
"Wulan yang mulai!"
"Suryo yang mulai!"
Secara bersamaan,Suryo dan Wulan berteriak.
"Waaaah.... kalian kompak ya. Bisa berbicara berbarengan dengan kata-kata yang sama dan saling menunjuk satu sama lain. Apakah ini yang disebut ikatan anak kembar?" tanya Arthur dengan polosnya.
Yeye, Nainai, dan Rara serempak tertawa. Sementara Wulan masih mendelik memandang Suryo yang hanya tertawa kecut lalu membalikkan badannya untuk melihat ke depan. Lalu Yeye membuka kompartemen yang ada di depannya, mengeluarkan jaket tebal yang ia berikan pada Nainai. Ia juga menyuruh Suryo mengambil jaket yang juga sudah tersedia di dalam mobil golf yang Suryo tumpangi. Masing-masing dari mereka mendapat jaket. Meskipun heran , namun mereka menurut saja dan memakai jaket tebal yang ternyata juga empuk itu. Setelah mereka semua memakai jaket tebal itu...
"Oke, kami siap." kata Yeye lantang.
Dan secara otomatis mobil-mobil golf itu bergerak sendiri. Melewati jalan yang lebar dengan kapsul-kapsul kaca yang terparkir dengan manisnya di kiri kanannya. Ada beberapa lingkaran yang kosong tanpa kapsul yang terparkir. Rara tidak bisa menghitung ada berapa jumlah kapsul yang terparkir karena herannya untuk ukuran mobil golf, mobil ini lajunya cepat sekali. Rara hanya bisa melihat lantai dan warna rusuk baja dari kapsul-kapsul itu berbeda-beda. Ada yang lantainya bergaris-garis warna putih biru merah. Ada yang lantainya bewarna kuning, oranye dan rusuknya bewarna hitam.
Ketika hampir sampai di ujung hanggar, barulah Rara menyadari, warna dari kapsul-kapsul itu seperti warna bendera dari berbagai macam negara. Duuuh.... maklum aja ya Rara kan memang telmi alias telat mikir. Ia yakin yang lain pasti sudah menyadari sejak dari tadi.
Di ujung hanggar, ada sebuah pintu-pintu besar yang berjejer-jejer di sepanjang dinding hanggar. Kedua mobil golf itu berhenti di pintu yang berada di tengah. Pintu itu membuka, separuh bagian membuka ke atas dan separuhnya lagi membuka ke bawah. Setelah terbuka sepenuhnya, kedua mobil golf yang sekarang sudah berdampingan masuk ke dalam ruangan yang rupanya sebuah lift yang super besar yang mampu menampung empat mobil golf sekaligus.
Pintu besar itu menutup kembali begitu mereka sudah masuk didalam lift itu. Lalu dengan mulus lift itu mulai bergerak ke atas.
****
Lift itu bergerak cepat dan berhenti dengan mulus tanpa hentakan sama sekali. Alih-alih pintu tadi yang mereka masuki dari hanggar, malah pintu di depan mereka yang terbuka. Dan apa yang mereka lihat amat sangat membuat mereka terpesona.
Keluar dari lift, kedua mobil golf itu bergerak dengan cepat. Angin yang sangat dingin menerpa wajah Rara, ia menoleh ke belakang dan melihat ada banyak lift-lift lain sesuai dengan jumlah pintu yang mereka lihat di hanggar tadi. Di luar lift, mereka disambut ruang terbuka seperti alun-alun yang begitu besar. Sebuah kolam bundar yang besar sekali ada di tengah-tengah alun-alun itu. Permukaan air di kolam itu sudah mulai mengeras tanda mulai membeku.Sebuah menara yang tinggi ada di tengah-tengah kolam itu. Tampaknya menara itu yang tadi mereka lihat dari kejauhan. Di puncak menara itu datar. Di atasnya ada pancaran hologram yang berubah-rubah bentuk. Kadang menampilkan pengumuman, kadang hologram itu berbentuk seseorang yang Rara rasa pasti sangat terkenal sampai diabadikan untuk dijadikan hologram. Jalanan lebar dari paving yang cantik dengan motif melingkar-lingkar mengelilingi kolam itu. Deretan pohon dulunya yang rindang berderet di sepanjang jalan. Sekarang pohon-pohon itu gundul semua. Ada bangku-bangku di antara pohon-pohon itu. Ada banyak remaja lain yang Rara lihat tampak bersenda gurau dalam berbagai kelompok.
Alun-alun itu ramai dengan orang-orang yang bersliweran. Ada yang melayang menggunakan skateboard, Ada yang duduk di pinggiran kolam. Ada satu kelompok yang tampaknya sedang mengadakan pertunjukan menyanyi, banyak orang berkerumun mengelilingi mereka dan ikut bernyanyi sambil sesekali bersorak. Di kelompok lain, Rara melihat mereka tampak sedang berdiskusi sambil duduk melingkar beralaskan tikar pemanas. Semuanya memakai baju musim dingin.
Di sepanjang trotoar, pot-pot panjang melengkung mengikuti lengkungan jalan berisi tanaman berbunga menghiasinya. Namun tidak ada bunga yang tumbuh. Rara jadi bersemangat, ia suka musim dingin. pastilah mereka ada di bagian bumi selatan dimana musim dingin terjadi di bulan Juni sampai Agustus. Ia selalu menyukai liburan di saat musim dingin karena memberikan suasana yang sangat berbeda dengan suasana tropis di Indonesia. Mami dan Papi beberapa kali mengajak mereka saat liburan natal untuk bertamsya di negara-negara empat musim. Dan menurut Rara, musim dingin seperti membawa mereka ke negeri dongeng, seperti tempat ini.
Alun-alun dengan kolam besar ditengahnya itu begitu cantik, di musim semi dan panas juga pasti sangat cantik jika bunga-bunganya sudah bermekaran. Kolam itu rupanya merupakan perimpangan dari empat jalan yang membagi secara simetris keseluruhan alun-alun itu. Mereka dibawa menuju jalan yang mengarah ke barat. Sepanjang jalan itu mereka melewati taman yang luas di sisi kiri dan kanan. Ada beberapa anak yang sedang bermain kejar-kejaran, mereka berhenti bermain saat melihat mobil golf yang di atasnya ada anjing yang duduk, dan berteriak-teriak menunjuk ke arah sheba dan milly. Mereka mulai berlari mengejar mobil golf itu. Namun tampaknya mereka kalah cepat, dan tak lama kemudian mereka tertinggal. Rara dapat mendengar teriakan kecewa mereka, ia berbalik tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah mereka dan memberi perintah milly untuk melakukan hal yang sama. Anak-anak itu tertawa dan memekik kegirangan melihat milly berdiri di kaki belakangnya dan melambaikan satu kaki depannya. Mereka melambai-lambaikan tangannya ke arah Rara dan milly.
Rara senang sekali. Satu hal yang dapat ia banggakan adalah keberhasilannya melatih anjing-anjingnya. Ia tak pernah segan dan ragu untuk memamerkan kepandaian anjing-anjingnya. Sambil mendongak ke atas dipandangnya langit yang cerah. Ia berbalik dan melihat Yeye yang tersenyum padanya dan mengacungkan jempolnya. Wulan juga tampak sangat menikmati perjalanan ini, Rara tahu Wulan benci hawa yang panas. Sementara Arthur tampaknya juga sangat antusias dan terus menerus bertanya pada Wulan dan Nainai meskipun Rara tidak dapat mendengar apa yang dia tanyakan.
Sekarang mereka melewati sebuah jembatan dari batu, pilar-pilar yang menyangga jembatan itu dasanya tertutup air. Di samping kiri dan kanan jembatan itu Rara bisa melihat laut . Beberapa meter dari ujung jembatan, ada sebuah gerbang besar. Pilar-pilar dengan arsitektur gothic berjejer di samping kiri dan kanan gerbang itu. Sementara di tengah-tengahnya, ada hologram yang bertuliskan...
MENTOR VILLAGE
Memasuki gerbang itu, kedua mobil golf itu berhenti. Jalanan di depannya masih panjang dan terbuat dari batu-batu paving warna abu-abu tua menjurus ke hitam. Di kiri-kanannya berjejer bangunan-bangunan dari balok-balok kayu yang mengingatkan Rara akan gambar-gambar di kartu natal.
Yeye dan Nainai sudah turun dari mobil dan menyuruh mereka mengikutinya. Dengan tergesa-gesa Rara menurunkan milly dan meminta tali kekang sheba dari tangan Suryo. Dikejarnya Wulan dan Arthur yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
"Kita ada dimana ya ini?" tanya Rara pada Wulan.
"Anywhere." Arthur yang menjawabnya
"Dimana?" tanya Suryo sekali lagi.
"Anywhere!" jawab Wulan.
"Lha ya dimana?" tanya Suryo lagi.
"ANYWHERE!" bentak Wulan.
"Ya elaaa gualak e. Anywheree ndiiiiii?"
Wulan memutar bola matanya.
__ADS_1
"Nama tempat ini Anywhere. Itu tadi kata Yeye saat Arthur tanya."
"Hah? Kenapa Anywhere?"
"Kata Yeye karena dari sini kita bisa pergi kemana saja di dunia ini."
"Wow...menarik."
Mereka mengikuti Yeye menyusuri jalanan dengan cepat. Lalu berhenti di sebuah bangunan bertingkat dua yang kesemuanya juga terbuat dari kayu. Sebelum Yeye sempat mengetuk pintunya, pintu sudah dibukakan dari dalam. Uncle Hugh menyambut mereka dengan tersenyum.
Rara melangkah masuk pelan-pelan. Rupanya bangunan itu adalah bangunan rumah tinggal. Aunt Yesha tampak sudah duduk di sebuah kursi sofa bersandaran tinggi yang tampak nyaman. Ia tersenyum saat menyadari kedatangan mereka.
"Hai!" katanya sambil menyeringai lebar.
"Hai, Aunt Yesha, Hai, Uncle Hugh!" kata anak-anak itu bersamaan.
"Ah mereka sudah datang. Pas sekali, aku baru saja selesai membuatkan teh untuk kalian semua."
Dari balik tembok, muncul seorang laki-laki yang usianya sepantaran Uncle Hugh. Ia mengenakan sweater warna kuning pucat dipadukan celana warna khaki. Ia membawa nampan berisi teko teh dan cangkir-cangkir yang semuanya memiliki motif yang sama. Rambutnya bewarna hitam, dan matanya biru cerah sekali. Sambil tersenyum ia mempersilakan mereka duduk.
Anak-anak itu duduk berdempet-dempetan. Yeye dan Nainai tetap berdiri.
Yeye merentangkan tangannya, dan pria itu tertawa lebar dan menyambut Yeye dengan pelukan yang hangat. Kemudian ia beralih ke Nainai dan mencium kedua pipi Nainai. Lalu mereka mulai bercakap-cakap dalam bahasa inggris.
"Lama sekali kita tak berjumpa."
"Ya hampir tujuh belas tahun lamanya."
"Profesor Longlife kau tetap awet muda dan cantik."
Nainai tersipu "Jangan panggil aku profesor lagi, aku sudah bukan gurumu."
"Aah...selamanya kalian adalah guruku. Guru terbaik dan juga tergalak yang aku miliki."
Mereka tertawa bersamaan termasuk Aunt Yesha dan Uncle Hugh.
"Ah aku belum berkenalan dengan anak-anak ini."
Uhuk-uhuk... tiba-tiba Yeye tampak sengaja batuk-batuk.
"Uhm ok, namaku Rainier. Kalian bisa memanggilku profesor R seperti murid-murid yang lain nanti. Biar kutebak, kau pasti Suryo, dan kau Wulan, kau Rara dan kau Arthur."
"Eh... iya betul."
Prof. R terkekeh.
'Jangan kaget,dan takjub begitu. Bukan talentaku untuk menebak siapa kalian. Tapi aku sudah mempelajari data dan foto kalian sebelum ini."
"Oooo......."
"Jadi langsung ke pokok masalahnya. Apa yang bisa kubantu?"
*****
Suryo menendang-nendang batu-batu kerikil hingga batu-batu itu berloncatan. Sudah hampir satu jam mereka menunggu.
Setelah mereka memperkenalkan diri, mereka disuruh menunggu keluar. Tadi di awal menunggu mereka mencoba menguping pembicaraan di dalam rumah Prof. R tapi seberapa besar usaha mereka, percakapan yang terjadi di dalam rumah itu tidak dapat mereka dengar sepatah kata pun.
Lalu mereka mulai berjalan-jalan mengitari desa itu, namun seperti tidak ada orang. Semua rumah-rumahnya tertutup. Tidak ada yang menarik. Saat mereka berjalan mengitari sebuah blok yang terdiri dari rumah-rumah yang mungil mirip seperti rumah Aunt Yesha dan Uncle Hugh.....
"HEH KALIAN SIAPA?" sebuah suara serak membentak mereka.
Dengan bingung ke empat anak itu berbalik. Seorang yang tinggi kurus, mengenakan baju setelan jas yang disetrika rapi dan sangat perlente tergesa-gesa menghampiri mereka. Saat mendekat, anak-anak agak terkejut, karena orang itu ternyata sudah tua mungkin lebih tua dari Yeye, namun langkahnya begitu tegap dan cepat sama seperti orang yang jauh lebih muda.
Wajah orang itu penuh kerut, rambutnya putih seluruhnya dan botak di bagian depan. Mulutnya mengerucut ke depan menambah kesan masam. Sambil mendekat, tangannya teracung menunjuk mereka.
"KALIAN SIAPA? KENAPA ADA DISINI? MURID TIDAK BOLEH DISINI APALAGI JAM SEGINI!!!! Pria itu menjerit, suaranya sedikit mencicit seperti tikus.
"Oh kami diminta menunggu di luar tadi oleh Prof. R, sementara kakek dan nenek kami menemui Prof R." jawab Suryo mewakili yang lain.
"Oh...ho...ho..ho...Jadi kalian yang mau meminta keistimewaan? Kalian kira karena kalian cucu dari pejuang terkenal lalu kalian bisa seenaknya......?"
"Ehmm...."
__ADS_1
"Jangan beralasan. Huh dan mencoba merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku kan? Mencoba mencari cara untuk membengkokkan peraturan untuk keuntungan kalian?"
"Aaaa... be.."
"Stop dasar anak tak tahu sopan santun. Jangan menyela jika orang sedang berbicara. Kalian mungkin bisa merayu Si Rainier. Tapi aku sudah berpuluh-puluh tahun disini. Dan aku wakil kepala sekolah disini. Semua keputusan aku yang tentukan. Jika Rainier adalah kepala di sekolah ini. aku adalah lehernya. Dan leherlah yang menggerakkan kepala...HAHA! Camkan itu!"
"Eh, maaf jika Prof R kepala dan Bapak lehernya, memang siapakah yang menjadi otaknya?" tanya Arthur dengan polos," Otak kan yang memerintah leher dan kepala. Mungkin kami perlu mencari si otak."
Suryo, Wulan dan Rara mencoba memasang wajah tanpa dosa dan sebisa mungkin tetap memasang wajah datar meskipun sebenarnya mereka kesulitan menahan tawa.
Sang wakil kepala sekolah itu memandang Arthur dengan mendelik.
"Kau pikir kau begitu pintar? HA! Aku sudah bertahun-tahun menjadi wakil kepala sekolah disini. Dan aku yang paling tua dan senior diantara semua pengajar-pengajar. Jadi jangan berani kalian macam-macam!"
"Waaah.... sudah paling senior dan paling tua tapi tetap jadi wakil, sedangkan kepala sekolahnya malah jauh lebih muda. Kenapa Bapak tidak jadi kepala sekolahnya tetapi malah jadi wakil saja?"
Suryo cepat-cepat menarik Arthur supaya Arthur berhenti bertanya, sementara Wulan membalikkan badannya sambil membungkuk berusaha menahan tawa. Rara pura-pura membawa anjing-anjingnya menjauh. Sementara Bapak Wakil kepala sekolah semakin mendelik dan tampaknya hampir meledak.
"KAUUUU! DAN APA ITU? TIDAK BOLEH ADA BINATANG PELIHARAAAN DISINI!!!!" jeritnya penuh amarah.
"KALIAN BELUM MULAI SEKOLAH AJA SUDAH MEMBUAT MASALAH! AKU AKAN MENOLAK MENERIMA KALIAN!!!"
"KALIAN AKAN MENYESAL JIKA SAMPAI MASUK KEMARI..! AKU AKAN MEMAS..."
"Aaah... Mr. Brenner, kau sudah bertemu dengan murid-murid baru kita?"
Dari balik pohon, Prof R berjalan mendekati mereka diikuti Yeye, Nainai, Aunt Yesha dan Uncle Hugh.
Mr. Brenner, sang wakil kepala sekolah abadi itu memandang mereka satu persatu dengan sengit.
"KAU! Dari dulu sampai sekarang sama saja. Selalu seenak sendiri!" katanya sambil menuding Yeye.
Yeye tersenyum dan menyapa, "Hai Bren, lama tak jumpa."
"Mr. Brenner kami sudah sepakat akan menerima mereka. Dan mereka akan tetap memulai dari tingkat satu."
"Ha.... Bagus Rainier kau membuat keputusan yang tepat. Aku sanga..."
"Tapi setiap bulan, alih-alih lima bulan sekali, mereka akan ditest kemampuan mereka. Jika nilai mereka memuaskan, mereka akan langsung naik ke tingkat selanjutnya."
"Apa...APA-APAAN? KENAPA BEGITU?"
"Ini adalah surat rekomendasi dari lembaga Pejuang Terang. Sekjen Park yang merekomendasikan demikian. Ini suratnya. Juga dijelaskan disitu bahwa Rara boleh membawa anjing-anjingnya sekalian untuk observasi talenta baru yang belum pernah kita temui." kata Uncle Hugh menyela sambil menyerahkan sepucuk surat.
Dengan tidak sabar, Mr. Brenner menyobek amplop surat itu. Wajahnya semakin lama semakin keunguan saat membaca surat itu.
"Terserah!" katanya kesal sambil melemparkan surat itu kembali ke Uncle Hugh,"Kau yang akan bertanggung jawab buat mereka Hugh? Hohoo... kuberi tahu ya mereka adalah masalah. Dan kau pertaruhkan pekerjaanmu buat mereka? Menarik! Kita lihat nanti berapa lama kau akan bisa mempertahankan pekerjaanmu."
Pria tua kurus itu tertawa senang, lalu melangkah pergi menuju gerbang keluar Mentor Village.
"Uncle Hugh....." Rara memegang lengan Uncle Hugh, matanya memandang Uncle Hugh dengan penuh kekhawatiran.
"Jangan khawatir, aku tahu kalian akan mampu, aku sendiri yang akan memantau dan mengajari
kalian nanti." katanya tersenyum sambil mengedipkan mata kirinya.
"Tapi Uncle Hugh, Rara bahkan tidak tahu apa talenta Rara." Rara sudah hampir menangis saat mengatakannya.
"Tenang." ditepuk-tepuknya tangan Rara dengan lembut. Senyum Uncle Hugh sangat ramah dan menenangkan." Ayo aku antar kalian kembali ke the pod."
"The Pod?"
"Kereta yang membawa kalian kemari. Tapi sebelumnya aku ada waktu untuk membawa kalian berkeliling dulu, itu jika kalian mau."
"Waaaah mau mauuuu." Suryo dan Wulan berteriak bersamaan.
Bersama-sama mereka melangkah, kedua mobil golf tadi masih menanti mereka, ditambah satu lagi mobil golf untuk Aunt Yesha dan Uncle Hugh.
Mereka naik ke mobil-mobil golf itu kecuali Prof R yang mengantar mereka hanya sampai gerbang. Ia melambaikan tangannya dengan riang.
Keempat anak itu membalas lambaian tangannya, sampai mereka tak bisa melihatnya lagi.
Dengan antusias mereka kembali menatap kedepan. Tak sabar untuk melihat seperti apa yang akan menjadi tempat tinggal mereka.
__ADS_1