Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Kembali ke asal


__ADS_3

Jalanan itu masih sama, dan masih sepi juga. Arthur *******-***** jari jemarinya dengan gelisah.


Tadi ia berangkat dari rumah bersama Yeye, Nainai dan Papinya Suryo. Mereka ke Anywhere dulu. Dimana disana Aunt Yesha, Uncle Hugh, Hazel dan beberapa orang lagi sudah menunggu.


Di Anywhere, Aunt Yesha baru memgatakan tujuan mereka meminta Arthur datang. Ternyata, sejak mereka mendengarkan cerita Arthur, mereka langsung bergerak melacak keberadaan compound, sesuai dengan gambaran yang Arthur ceritakan.


Sayangnya sampai saat ini, mereka tidak berhasil menemukannya. Karena itu, mereka bermaksud meminta Arthur untuk menunjukkan jalannya.


Sebenarnya dari pihak keluarga Wijaya, sangat tidak setuju untuk melibatkan Arthur. Namun dengan tegas Aunt Yesha mengatakan pentingnya menemukan keberadaan compound, yang bisa membantu menjadi titik terang pemberantasan jaringan daemon. Sebelum bertemu Arthur, TLC sudah mendengar rumor mengenai compound, tetapi mereka menganggapnya kabar burung saja.


Aunt Yesha sudah berkali-kali meminta untuk penyelidikan lebih lanjut, namun dari pusat TLC tidak menghiraukan. Oleh karena itu, Aunt Yesha meminta dengan sangat bantuan Arthur, sehingga dengan demikian ia bisa memberikan bukti bahwa para daemon sudah semakin bertambah kuat hingga bahkan sampai di kota kecil seperti Solo, mereka bisa mempunyai semacam markas yang tersembunyi.


Dikatakan markas yang tersembunyi, karena tidak ada satupun dari mereka termasuk Arthur sendiri yang tahu apa sebenarnya compound ini.


"Bukankah seharusnya kita menunggu esok hari? Saat matahari belum tenggelam?"kata Nainai dengan cemas.


"Tidak bisa. Lusa mereka sudah harus memulai pendidikan mereka. Tidak ada waktu lagi."


"Tapi bukankah akan berbahaya bagi Arthur?"


Nainai memandang Arthur dengan lembut, namun itu tidak menyembunyikan nada cemas dalam pertanyaanya. Betapa Arthur merasa terharu, perasaan yang hangat memenuhi hatinya.


"Kita hanya mencari keberadaan compound, setelah itu Arthur dapat kembali. Tidak akan terjadi apa apa dengannya. Tidak....tidak...." Aunt Yesha agak tersendat, " Aku tidak akan membiarkan kesalahan itu terulang."


Nainai menghampirinya dan memeluk Aunt Yesha.


"Itu bukanlah kesalahanmu. Tidak akan pernah menjadi kesalahanmu."


Aunt Yesha hanya tersenyum sedih, sementara Uncle Hugh hanya menatap kosong dan tersenyum kecut.


"Uhm..." Arthur ragu-ragu untuk mengatakannya.


"Ya Arthur?"


"Uhm... pada saat saya melarikan diri dari compound, saya tidak sadar bertransformasi sebagai kucing. Mungkin jika sekarang bertransformasi lagi, saya bisa mengingat dengan lebih baik."


Yeye menghampirinya dan menepuk bahunya.


"Arthur? Yakin mau kembali kesana dan menunjukkan jalan?"


"Uhm...Ya. Arthur ingin membantu. Lagipula Arthur ingin menyelamatkan teman Arthur."


Ia teringat R1, meskipun gadis itu sudah mengkhianatinya, namun Arthur harus menyelamatkan nya, ia sudah berjanji. Dan lebih dari itu, ia ingin R1 juga merasakan, bagaimana kehangatan kasih sebuah keluarga seperti yang ia rasakan.


Semua yang di ruangan itu memandangnya. Arthur jadi merasa jengah. Wajahnya terasa panas.


"Arthur. Kamu akan menjadi pejuang terang yang luar biasa, nak!" Uncle Hugh mengacungkan jempolnya. Arthur tidak tahu apa maksud Uncle Hugh itu. Jadi ia membalas Uncle Hugh dengan mengacungkan jempolnya juga.


"Sebentar, kita harus memodifikasi alkommu, supaya bisa tetap kau pakai, saat bertransformasi."


Arthur menyerahkan alkomnya ke Papi. Lalu Papi tampak mengutak-atiknya, butuh waktu lima belas menit untuk memodifikasinya. Lalu Papi menyerahkan kembali kepada Arthur.


"Gunakan di lehermu. Karena akan lebih aman begitu. Talinya sudah kuganti dengan tali elastis yang akan mengikuti bentuk lehermu jika nanti mengecil saat menjadi kucing. Jangan dipakai di pergelangan tangan lagi, takutnya jatuh. Dengan memakai alkom ini, kami bisa memantau keberadaanmu."


Arthur menurut dan memakai alkomnya di leher.


"Oke, mari kita berangkat. Kalian bertiga menunggu disini." Sebelum Yeye protes, Uncle Hugh cepat-cepat melanjutkan." Kalian masih belum pulih sepenuhnya. Akan lebih mudah bagi kami untuk menjaga satu orang daripada tiga."


"Jika tak setuju, kalian bisa pulang." Aunt Yesha melanjutkan dengan tersenyum jahil.


"Yeshaaaa...." Nainai menghela napas, ia tahu jika mereka sudah mengambil keputusan, tidak akan ada yang bisa mengubahnya.


"Ayo Arthur!"


Arthur memandang Yeye dan Nainai. Papi tampak sudah sibuk duduk di balik beberapa komputer. Yeye dan Nainai mengangguk dan memberinya isyarat untuk mengikuti Aunt Yesha.


Tanpa ragu Arthur mengikuti Aunt Yesha. Dan sebelum keluar dari ruangan itu, ia melambaikan tangannya, Yeye dan Nainai membalas lambaian tangannya lalu mereka juga duduk di samping kiri dan kanan papi, menatap layar monitor komputer dengan serius


Aunt Yesha berjalan dengan cepat, dengan tergesa-gesa Arthur berusaha menyusulnya. Mereka ada di sebuah gedung bertingkat. Dari jendela Arthur bisa melihat banyak gedung serupa di depan dan samping gedung dimana ia berada sekarang. Tanaman merambat, dan pot-pot tanaman menutupi sebagian facade gedung. Tampaknya ini sisi lain dari Anywhere yang dulu belum sempat mereka lihat.


"Arthur, ayo!"


Ia membalikkan badannya, dan melihat Aunt Yesha, Uncle Hugh, Hazel dan satu orang lagi yang tidak Arthur kenal sudah menunggunya, mereka bergandengan tangan berpasang-pasangan. Aunt Yesha dengan Uncle Hugh, sementara Hazel dengan pria satunya.


Aunt Yesha mengulurkan tangannya yang lain, tanpa ragu Arthur meraih tangan itu.


"Oke, Hazel! Kita bertemu di sirkuit."

__ADS_1


Arthur melihat Hazel mengangguk selanjutnya semuanya mulai berputar cepat.


Dan ia pun kembali ke hutan di samping taman sirkuit balap itu lagi.


****


"Oke, Arthur mau bertransformasi sekarang?"


Tiba-tiba Arthur merasa gugup. Bagaimana jika ternyata ia tidak dapat menemukan compound itu lagi? Atau bagaimana jika compound itu sudah tidak ada lagi? Mengingat sudah dua minggu sejak ia lolos dari sana, mengingat kerahasiaan compound itu sendiri yang sampai sekarang, pihak TLC pun belum pernah membuktikannya.


Ia mulai ragu-ragu....


"Arthur...It's ok, jangan cemas. Jika kita tidak bisa menemukannya pun tidak masalah." Uncle menenangkannya.


Memandang balik Uncle Hugh, Arthur dapat melihat bagaimana matanya sangat ramah dan tulus. Jika Aunt Yesha membuatnya selalu merasa grogi, meskipun ia buta tapi seolah-olah mata yang buta itu bisa melihat segala kelemahannya. Sedangkan Uncle Hugh kebalikannya, ia seperti obat penenang, efek setiap perkataannya sering kali membuat Arthur merasa nyaman, tenang dan percaya diri.


Dengan menghela nafas panjang, perlahan-lahan Arthur mulai bertransformasi.


Tiba-tiba....


SEMUA MENJADI GELAP


Tidak....


Apa yang terjadi?


Toloooong....


Ia tak dapat melihat apapun.


Ada benda yang mengurungnya....


Oh..No.....no...Ia harus melepaskan diri.


"Sini...sini....tenang Arthur."


Ia pun dapat melihat lagi, bahkan ia dapat melihat lebih jelas lagi.


Uncle Hugh tampak melipat pakaiannya.


Errr....... Arthur jadi malu, kenapa jadi panik ya. Padahal ia sudah sering bertranformasi. Dan setiap melakukannya ia tahu baju yang dipakainya tidak akan ikut berubah. Baju itu yang tadi menutupinya, Berkali-kali ia selalu mengingatkan dirinya sebelum berubah, berkali-kali pula ia selalu panik ketika selesai bertransformasi.


Alkom di lehernya berbunyi.


"Oke...Alpha one, bravo one di sini. Semua alkom kalian berfungsi dengan baik. Semua organ vital kalian juga sudah terhubung, kami dapat memantau kalian dengan baik dari sini."


Suara papi.


" Copy bravo one. Kami berangkat"


Lalu ia melihat, semua yang bersamanya memakai kacamata khusus, yang bisa membuat mereka melihat dalam gelap. Hazel pernah menunjukkannya pada mereka saat mereka beelatih bersama di pondok Aunt Yesha.


Arthur mulai berlari, ternyata ia mengingat semuanya, beruntung sekali ingatannya kuat. Arthur tidak tahu bahwa ia memiliki photographic memory atau ingatan fotografi dimana ia bisa mengingat segala sesuatu yang dilihatnya dengan detail meskipun hanya melihat sekali.


Ia menyusuri hutan itu, sesekali ia menengok ke belakang untuk melihat apakah mereka mengikutinya. Ia heran kenapa ia tidak bisa mendengar langkah kaki mereka. Biasanya saat menjadi kucing, indera pendengarannya lebih tajam, suara lari Suryo, Wulan, Rara, apalagi anjing-anjingnya berisik sekali. Ia bahkan bisa membedakan yang mana langkah Wulan, mana langkah Suryo, mana langkah Rara.


Memang beda kemampuan pejuang terang yang sudah terbukti dengan mereka yang masih abal-abal.....


Ia sampai ke pintu yang menuju terowongan bawah tanah. Pintu itu tertutup tanah dan daun-daun kering. Tersembunyi dari pandangan mata. Namun ia tahu pintu itu ada di situ. Ia dapat mencium baunya.


Sekarang bagaimana caranya memberi tahu mereka yang mengikutinya untuk membuka pintu tersebut. Dengan bingung ia berputar-putar diatas pintu itu. Dengan kaki depannya ia mengais-ais tanah di bawahnya.


"Ada apa? Ada sesuatu di bawah sini?"


Miaow...miaow


Dengan penuh semangat Arthur mengangguk-anggukkan kepalanya.


Uncle Hugh bergerak dengan sigap. Dibantu Hazel,mereka berdua dengan cepat mengibaskan daun-daun kering dan menggali tanah yang menutupi pintu itu. Arthur melihat mereka harus sedikit menggali. Sepertinya dulu pintu itu tidak terkubur sedalam ini. Dengan mata kucingnya ia dapat melihat pintu itu mulai terlihat sedikit demi sedikit seiring dengan semakin sedikit tanah yang menutupinya. Gelang besi gagang pintu itu sudah terlihat. Namun Uncle Hugh dan Hazel tampak kebingungan.


"Ada apa?" tanya Aunt Yesha.


"Arthur, kau yakin pintu itu disini? Mengingat ceritamu kau membuka pintu dengan mudah. Ini kami sudah menggali tanah sedalam hampir setengah meter. Kecuali kau manusia super kuat seperti Khaleed ini aku tak yakin kamu dapat mengangkat tanah sebanyak ini dengan mudah."


Eh...


Arthur jadi bingung. Ia mencoba mengingat lagi bagaimana dulu ia keluar dari pintu. Ia lolos dari compound dengan menjadi kucing dan melompati tembok parameter setinggi tiga meter tapi sebelumnya kan ia menemukan pintu ini dulu. Dan ia yakin ia dulu membukanya dengan mudah. Ia memandang sekelilingnya, namun sejauh apapun ia memandang ia tak bisa menemukan tembok compound yang ia lompati dulu.

__ADS_1


Ia jadi gugup. Mungkinkah compound itu sudah tidak ada? Tapi dipandangnya gelang besi pintu itu. Tanpa ragu-ragu ia pun melompat turun dan mengais-ais gelang itu mencoba menariknya.


"Wait Arthur..."


Uncle Hugh meraih Arthur menggendongnya dan meletakkannya kembali ke tanah di sekitar pintu.


"Arthur balik jadi manusia lagi gih."


Dengan bingung Arthur memandangnya tapi ia menurut dan kembali berubah menjadi manusia lagi. Uncle Hugh mengambil baju Athur dari tas yang dibawanya dan mengembalikan pada Arthur. Hazel sudah berbalik badan memberikan Arthur sedikit privasi. Tapi Aunt Yesha tetap berdiri dan meskipun ia buta matanya seperti menghujam tajam ke Arthur membuat Arthur rikuh. Secepatnya ia berusaha memakai bajunya kembali. Lalu berbalik dan ia terkejut karena ia tidak bisa melihat pintu tadi.


"Loh...eh tadi jelas saya melihat pintu itu ada disitu. Ada gelang besi yang menempel...Koq sekarang hil......ang?" suaranya semakin lirih. Ia merasa gugup. Bagaimana jika ternyata ia salah.


"Hmm.... camouflage." Aunt Yesha tersenyum."Kita memang harus belajar lebih banyak dari hewan. Pantas saja kita dan bahkan alat pendeteksi kita tidak menemukannya."


Uncle Hugh memencet-mencet alkomnya lalu mengarahkannya ke pintu yang tak terlihat. Arthur merasakan ada suatu hentakan yang membuat tanah disekitarnya berhamburan. Ada suara ledakan kecil yang tidak cukup keras untuk membuatnya kaget.


POP!


Dan tiba-tiba saja ia bisa melihat pintu itu kembali.


"Elektromagnetic blast. Bisa melumpuhkan alat elektronik apapun. Tidak semua alkom memilikinya, nanti......"


"Hugh ..nanti lah kuliahnya." potong Aunt Yesha.


Hazel meringis.


Arthur jadi ingat HAIFU.


Uncle Hugh pun tertawa.


Lalu Uncle Hugh menarik gelang besi yang menempel di pintu itu. Arthur melihat Uncle Hugh mengangguk ke arah pria disamping Hazel yang bernama Khaleed. Mereka belum sempat berkenalan tapi Arthur mendengar Uncle Hugh dan Aunt Yesha memanggil orang itu dengan nama itu.


Khaleed mengangguk, dan turun terlebih dahulu.


"Bravo one, kami akan masuk terowongan. Pintu yang diceritakan Arthur sudah kami temukan."


"Oke Alpha one. Hati-hati. Ba...ba..nyak ga...ga..gangguan statis. Tap...i...i ka..kam..i akan mencoba mengatasinya."


Suara papi agak terputus-putus.


Uncle Hugh mengulurkan tangannya ke Aunt Yesha dan membimbingnya untuk menuruni tangga besi. Disusul Hazel, Arthur kemudian ia sendiri yang terakhir.


Arthur berjalan di depan memimpin rombongannya. Ia kembali merasakan adrenalinnya yang terpompa sama seperti waktu pertama kali ia menyusuri terowongan itu.


Entah kenapa kali ini ia jauh lebih cepat daripada dulu. Baru lima menit ia sudah sampai di ujung terowongan. Tangga besi yang sama sudah menunggunya. Khaleed menahannya untuk naik.


"Biar aku dulu." katanya sambil tersenyum ramah.


Arthur mengangguk dan mundur mempersilakan Khaleed naik duluan.


Sesampainya di ujung tangga ia melihat Khaleed mendorong pintu di atasnya sedikit dan tampak mengintip. Lalu ia mendorong pintu lebih lanjut dan menarik tubuhnya keluar dari lubang tangga. Lalu memberikan isyarat dengan mengacungkan jempolnya.


Arthur jadi bingung, sebenarnya apa sih maksud angkat jempol ini. Sebelum ia bertanya, yang lain sudah mulai bergerak naik ke atas. Ia pun mengikuti mereka dengan diam.


Sekali lagi, ia menemukan dirinya di dalam menara penjaga. Khaleed berjalan menuju pintu. Membukanya pelan-pelan lalu menyelinap keluar. Sejenak kemudian, ia melongokkan kepalanya kembali dan mengacungkan jempolnya lagi.


Heee.... ada apa sih dengan jempolnya?


Namun Arthur tidak berani bertanya, ia hanya diam berjalan mengikuti rombongannya yang mulai bergerak. Kali ini ia bisa melihat gerakan mereka jauh lebih hati-hati.


Ia pun melangkah dengan hati-hati.


"Itu gedung penjaga. Gedung tempat kami tidur ada di seberang lapangan." bisiknya.


Uncle Hugh mengangguk, lalu memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Ia berjalan menempel ke dinding.


Arthur melihat compound itu sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mereka berjalan mengendap-endap, melewati gedung penjaga dan memutari lapangan dengan menjadikan tiap bangunan yang ada sebagai perlindungan dari kamera pengawas.


Saat mereka sudah setengah jalan....


NGUEEEEEEEEEEEEEENG!!!


Suara sirine yang sangat keras dan memekakkan telinga bergema.


"Hallo R3....welcome back!"


Arthur berbalik. Dan ia melihat R1 tersenyum dan berjalan menghampirinya.

__ADS_1


****


__ADS_2