
Rara meletakkan tas sekolahnya di atas meja belajarnya. Dilemparkannya tubuhnya ke
atas kasurnya. Ketiga anjing-anjingnya mengikutinya ke dalam kamarnya.
Seharusnya anjing-anjing itu tidak diperbolehkan masuk kamar, tapi satu-satunya jalan agar mereka tidak berisik adalah jika mereka bersama Rara. Lagipula berada dekat mereka seperti terapi tersendiri untuk Rara, mereka membuatnya tenang.
Menginjak usia sepuluh tahun, Rara kesulitan tidur di waktu malam. Setiap malam ia diganggu berbagai macam mimpi yang sepotong potong. Fragment fragment mimpi itu membuatnya sulit tidur. Ia sama
sekali tidak mengerti apa yang dimimpikannya. Hanya kilasan kilasan berbagai macam kejadian yang berubah begitu cepat yang Rara sama sekali tidak tahu artinya. Terkadang ia seperti melihat kejadian dari tempat yang tinggi seperti dirinya sedang terbang, terkadang ia seperti melihat dari sudut pandang yang sangat dekat dengan tanah. Dan terakhir selalu mimpi yang sama dimana mimpi itu terasa begitu menakutkan. Rara merasa seperti ada sesuatu yang mengejar-ngejarnya dengan suara bisikan bisikan yang semakin lama semakin mengerikan. Ia dapat merasakan dimana dirinya berada dalam dekapan seseorang.Selain bisikan bisikan yang mengerikan ia dapat mendengar suara lembut lain yang mengatakan semuanya
baik baik saja. Sampai usia limabelas tahun ia selalu tidur bersama Wulan meskipun papi dan mami sudah menyiapkan kamar tersendiri untuknya. Setiap ia bermimpi pula, Wulan akan bangun dan memeluknya. Dan Rara tahu suara bisikan lembut yang mengatakan semuanya akan baik baik saja adalah suara Wulan. Dan begitu ia memiliki anjing, anehnya mimpi-mimpi itu dengan sendirinya berhenti.
Sejak itu Rara berani tidur di kamarnya sendiri.
Kamarnya cantik didominasi warna mint pastel. Pelapis dindingnya bergambar bunga-bunga kecil. Kamar ini dirancang oleh Mami sendiri. Begitu juga kamar Wulan dan Suryo, semua Mami yang merancangnya disesuaikan dengan kepribadian mereka masing-masing. Dan Rara sangat bersyukur untuk itu. Ia bersyukur masih ada keluarga Wijaya yang mau menerimanya bahkan mencintainya seperti anak-anak mereka sendiri. . Dan Rara tidak dapat meminta keluarga yang lebih baik lagi. Namun ada saat-saat tertentu dimana ia membayangkan bagaimana rasanya jika orang tuanya masih hidup. Apakah hidupnya akan lebih bahagia atau apakah mungkin malah ia tidak merasakan kebahagiaan itu. Diam diam Rara sering mencari-cari info soal orang tuanya.
Papi dan Mami selalu terbuka bagaimana mereka menjelaskan betapa baiknya orang tua Rara. Tetapi saat ditanya bagaimana orang tuanya meninggal baik Papi, Mami, Yeye, Nainai hanya mengatakan bahwa orang tuanya terkena wabah penyakit Covid 19 yang melanda dunia di tahun kelahirannya. Tanpa penjelasan lebih lanjut.
Anjing-anjingnya berdiri dan mengendus-endus. Rara mencium bau makanan yang sedap. Perutnya keroncongan padahal tadi di sekolah dia sudah jajan nasi goreng. Duuuhhh.... gimana bisa kurus kalo baru nyium baunya aja perut ikut keroncongan. Kalau sudah begini jika Rara tetap tidak makan ia akan merasa pusing. Itulah kenapa dietnya selalu gagal. Ia iri pada Wulan dan Suryo, iri dengan metabolisme tubuh mereka yang meskipun makan banyak masih bisa tetap mempunyai tubuh yang ideal. Ditambah lagi mereka berdua juga memiliki otak yang cemerlang. Jika Wulan selalu juara kelas maka Suryo banyak memenangkan kejuaraan olahraga. Dan lagi mereka berdua dikaruniai wajah yang rupawan, tubuh tinggi semampai. Beda dengan Rara, wajahnya bulat, rambutnya ikal mengembang dan selalu berantakan. Tubuhnya juga biasa saja dengan tinggi seratus enam puluh sentimeter dan berat badan yang selalu ia rahasiakan, Rara tahu ia tidak akan pernah lolos untuk audisi menjadi model. Duh....mau bagaimana ya? Memang bibitnya sudah beda.....ufffh....
Teman sekelasnya suka menggodanya dengan memanggilnya si gendut berambut singa. Kadang-kadang teman sekelasnya bisa menjadi sangat kejam apalagi cewek-ceweknya. Rara tahu ia hanyalah pelampiasan karena sebenarnya sasaran tembak mereka sebenarnya adalah Wulan. Dulu saat masih sekelas dengan Wulan dan Suryo, tidak ada yang berani mengganggu Rara karena Wulan dan Suryo selalu ada untuk membelanya.
Rara tidak pernah menceritakan pada Wulan perlakuan teman sekelasnya, karena ia tahu Wulan akan langsung membelanya dan tidak segan-segan untuk melabrak mereka-mereka yang mengganggunya. Tapi Rara tidak mau itu. Karena tidak mau menambah rasa tidak suka mereka pada Wulan. Masalahnya dengan Wulan, ia cantik, pintar, badannya bagus, anak orang kaya tapi Wulan tidak bisa basa basi. Kalau berbicara to the point, apa yang tidak ia suka akan ia katakan terus terang. Dan Wulan sangat tidak suka pada cewek-cewek centil yang ngefans pada Suryo. Banyak teman cowok yang naksir Wulan, namun tidak satupun dari mereka yang menurut Wulan sesuai dengan kriterianya. Selain itu dia juga tidak peduli pada cowok-cowok yang menaksirnya. Jika ada yang mendekatinya, belum apa-apa akan dia tolak dengan tegas.....ehm lebih tepatnya ketus sih. Karena itu banyak yang menganggap Wulan sombong, ratu es, dan banyak lagi yang Rara tahu bahwa itu tidak benar. Hal inilah yang membuat mereka kesulitan untuk mencari anggota untuk mengikuti lomba mading antar sekolah. Sebagian teman mereka tidak menyukai Wulan dan sebagian lagi takut karena Wulan terkenal dengan perfeksionismenya yang kelewat batas. Wulan juga punya jiwa kompetitif yang tinggi. Maka dari itu jangan
tanyakan dosamu jika sampai melakukan kesalahan yang menurut Wulan akan membuat mereka kalah.
Suara Nainai memanggil mereka untuk makan memecah lamunan Rara. Dengan lambat-lambat ia turun dari ranjangnya. Semoga saja Suryo menepati janjinya untuk mencarikan beberapa orang lagi supaya mereka lolos untuk lomba mading itu. Bukannya Suryo tidak akan menepati sih tapi lebih tepatnya semoga Suryo akan secepatnya menepati apa yang dijanjikannya. Keluarga mereka memang berprinsip untuk selalu menepati janji tapi khusus Suryo, ia akan menepati janjinya tapi selalu mepet dengan batas waktu yang ada. Wulan sering ngomel tentang ini. Jika Wulan orang yang selalu tepat waktu maka Suryo meskipun membawa jam tangan segede gaban pun akan tetap selalu mepet atau bahkan terkadang telat,
Rara memasuki ruang makan diikuti ketiga anjingnya. Sebelum Nainai mengeluh ia mengeluarkan anjing-anjingnya ke taman belakang dan membiarkan mereka bermain disana. Lauk hari ini adalah lauk kesukaan Rara ada bakwan jagung dan garang asem. Suryo yang membantu membawa masuk masakan itu dan menatanya di meja makan. Suryo hobi memasak karena itu ia sering membantu Nainai di dapur dan itu merupakan salah satu sebab dari semua cucunya Suryo adalah cucu favorit Nainai selain karena seperti biasa tradisi orang keturunan Tionghoa dimana anak cowok selalu diutamakan karena yang akan menurunkan nama keluarga mereka. Selain itu seperti tradisi juga dimana pada akhirnya nanti orangtua akan selalu ikut ke anak cowok seperti Yeye dan Nainai
yang tinggal bersama mereka karena Papi anak laki-laki mereka satu-satunya.
Ehmm...anak tunggal sih tapi ya begitulah di kebanyakan keluarga keturunan Tionghoa orangtua pada akhirnya akan tinggal bersama dengan salah satu dari anak-anak laki-lakinya.
“Ayo makan....makan!”
“Yeye mana? Ngga ikut makan?”
“Ndak Yeye keluar makan sama temen-temennya. Nainai malas ikut lebih suka makan bareng cucu-cucu aja.”
Rara tersenyum dan saling menukar pandang dengan Wulan dan Suryo. Nainai ya begitu. Jika tidak terpaksa sekali ia tidak akan pergi keluar dengan orang lain selain dari keluarga sendiri. Tidak suka untuk ngumpul arisan, atau pun kegiatan sosial lainnya dimana sebenarnya teman-teman Nainai sering mengajak. Menurut teman-teman Nainai orang-orang tua seperti mereka butuh kegiatan seperti itu untuk menghilangkan rasa bosan tapi tidak dengan Nainai. Nainai selalu dapat menemukan kesibukan. Meskipun usianya sudah menjelang delapan puluh tahun Nainai sama sekali belum pikun. Selalu ada yang dapat dikerjakan Nainai. Di waktu senggangnya Nainai suka main game. Keren kan tidak kalah dengan anak muda kata Nainai. Bahkan saat liburan sekolah mereka berempat sering menghabiskan waktu dengan main game bersama Nainai. Enaknya lagi, Mami tidak akan berani memarahi mereka jika main game terlalu lama karena Nainai juga main bersama mereka lagipula untuk game-game yang berbayar Nainai sering membelikan mereka hal-hal yang bisa membuat mereka semakin mudah untuk menjadi lebih kuat.
Hihihi... Rara geli sendiri bagaimana Mami yang tidak berani protes ke Nainai, Suryo sering menggoda Mami dengan pamer atau ngomong keras-keras bagaimana sudah waktunya tidur tapi mereka masih main game di depan Mami. Kata Papi menurut orang jawa Mami ‘kalah awu’...hahahahaa
“Yo...itu hadiah ulang tahunmu gimana? Sudah dicoba?”
“Belum..nanti baru mau nyoba. Wuih tapi keren banget Nai! Kemarin sudah Suryo lihat di garasinya Aldi.”
__ADS_1
Ugh....padahal ulang tahun Suryo dan Wulan masih dua minggu lagi. Tapi begitulah Yeye dan Nainai, termakan rayuan maut Suryo yang tidak sabar menunggu hadiahnya. Jadi tanpa sepengetahuan Papi dan Mami, Yeye dan Nainai membelikan motor impian Suryo. Motor gede model terbaru yang dipakai pembalap-pembalap terkenal. Mami menolak mentah-mentah saat Suryo meminta motor untuk hadiah ulang tahunnya. Karena menurut Mami naik motor sangat berbahaya meskipun Suryo sudah bilang berkali-kali hanya akan memakainya di sirkuit balapan. Tapi Mami juga tidak setuju katanya ngapain juga pakai di sirkuit balapan, lha memangnya Suryo mau jadi pembalap. Itu profesi yang sangat berbahaya kata Mami. Ora nyucuk dengan resiko katanya.
Tapi ya susah. Gimana ya... Suryo itu menyukai segala hal yang berbau kecepatan. Seperti lomba lari, ngebut dan segala permainan yang membutuhkan kecepatan. Jadi melarang hal tersebut dari Suryo seperti melarang Rara untuk memelihara anjing. Karena hal-hal tersebut sudah menjadi bagian dari diri mereka. Sebenarnya menurut Rara Mami pun mengerti hal itu. Tapi perasaan kuatirnya sebagai seorang ibu mengalahkan rasionalitasnya.
Rara juga curiga jangan-jangan ada penyebab lain yang membuat Mami bersikeras melarang Suryo.
Jadi untuk mengelabui Mami, hadiah motor yang Yeye dan Nainai belikan tanpa sepengetahuan Papi Mami itu mereka titipkan ke bapaknya Aldi yang juga teman Yeye yang sekaligus adalah penjual dari motor itu. Dengan catatan tagihan jangan dialamatkan ke kantornya Papi tapi langsung ke Yeye aja.
“ Eh Ra nanti mau ngga ikut? Disana taman sirkuit lebih bagus lho...Gede pula, terus tertutup untuk umum lho. ”Dan diakhiri dengan lemparan senyum maut.
Duh gimana ya.... bingung juga Rara kenapa Suryo mengajaknya. kenapa ada perubahan rencana begini. Tumben....... dan tak perlu lama Rara tahu kenapa ia diajak. Dengan mengajaknya otomatis Wulan juga pasti ikut. Dan ini pasti adalah syarat dari Aldi biar Suryo bisa menggunakan sirkuit milik Bapaknya. Rara sudah heran kemarin bagaimana mungkin Aldi bisa mengosongkan sirkuit hanya untuk Suryo. Sebaik apapun sahabat Suryo ini, untuk meminjamkan seluruh sirkuit secara gratis pada Suryo hanya untuk mencoba motor barunya adalah suatu hal mencengangkan.
Ternyata ada udang dibalik bakwan.
Dan pintar sekali pada saat terakhir baru mengajukan syaratnya bahwa Wulan harus ikut. Semua orang juga tahu sudah lama Aldi pdkt terus ke Wulan. Dan Wulan juga sudah dengan cara halus dan cara ketus menolaknya. Tapi tampaknya Aldi itu pantang menyerah.
Dan Rara ..... apalagi ditambah senyum manis dan tatapan maut Suryo, mana bisa ia menolaknya. Hanya dengan pandangan matanya Suryo bisa membuatnya klepek-klepek. Tidak cuma Rara, cewek manapun kecuali Mami dan Wulan mungkin selalu dibuatnya klepek-klepek baik itu dengan mulut manisnya, senyumnya ataupun pandangan matanya. Rara tau Suryo diluar jangkauannya, ia seperti kata pepatah bagaikan pungguk merindukan bulan dan lagipula Suryo hanya menganggapnya sebagai adik tapi itu tidak menghalangi perasaan Rara untuk bisa memenuhi segala keinginan Suryo.Cuma sekarang bagaimana ini caranya untuk meyakinkan Wulan untuk mengubah rencana semula dari jalan-jalan ke taman dekat rumah jadi pergi ke sirkuit yang jauhnya hampir empat puluh lima menit.
“Ehm...coba deh kamu ajak Wulan, mau ngga ikut... Kamu bilang aja pengen liat taman disana yang katane bagus. Lagian kan dah lama ngga ajak sheba, batrix dan milly maen.”
Widih ngomong sih gampang. Padahal Suryo kan tahu bagaimana Wulan akhir-akhir ini sering bad mood. Mau ngomong gimana coba. Apalagi diajak ke sirkuit yang bakalan ada Aldi disitu. Rara mesti ngomong apa coba.
“Oke coba ya, tak ajak Wulan. Tau dewe kan dianya sedang bad mood. Nanti coba tak omong pingin tau sirkuitnya seperti apa.”
“Ho...oh bilang o kamu pingin tau. Nek kamu yang bilang dia pasti mau. Ojo aku yang bilang. Disate ngko aku.”
***
Suryo tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Sepanjang perjalanan menuju sirkuit ia tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Diliriknya bangku belakang dimana Rara terlihat sedang mengelus-elus sheba, dan pandangannya bertemu dengan Wulan. Senyum langsung menghilang dari wajahnya. Cepat-cepat dipalingkannya wajahnya. Takut bakalan ada semburan naga berapi ke arahnya. Ia masih bisa merasakan pandangan mata Wulan yang bagaikan laser ingin melubangi punggungnya. Ya biarinlah...yang penting ia bisa mencoba motor barunya.
Pintar sekali tadi bagaimana cara Rara membuat Wulan ikut. Dengan ngomong betapa inginnya Rara mengajak anjing-anjing mereka ke taman sirkuit, dan bagaimana ia juga ingin melihat aksi Suryo. Yang paling jenius adalah bagaimana Rara ngomong itu semua saat makan tadi di depan Nainai. Dengan bicara di depan Nainai, otomatis Nainai langsung mengeluarkan titahnya. Dalam keluarga mereka posisi Nainai itu seperti ibu suri..... jadi begitu Nainai mengatakan
“Ya sudah, sana pergi, Wulan temeni itu koko dan Rara!” End of discussion.
Wulan hanya bisa cemberut dan dengan muka ditekuk tujuh pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi. Rara memang selalu tahu bagaimana menghadapi Wulan. Suryo tahu adik kembarnya bukanlah orang yang gampang untuk dihadapi. Suryo tidak bisa membayangkan cowok mana yang bisa memenuhi ekspektansi Wulan, dan jelas bagi Suryo, Aldi sahabatnya tidak akan mampu menghadapi kekeras kepalaan adiknya itu. Aldi bukannya jelek. Malah tergolong tampan. Dari keluarga kaya yang juga terpandang. Kecerdasan juga di atas rata-rata. Yang naksir juga banyak. Tapi entah kenapa hal itu sama sekali tidak ada pengaruhnya buat Wulan. Herannya lagi Aldi koq ya ngga menyerah terus pdkt ke Wulan. Ya sudahlah.... Suryo sudah berusaha memberi tahu Aldi bahwa
usahanya sia-sia dan Wulan itu orangnya susah, suka ngambek, moody, cerewet, bawel, mau menang terus dan.... pokok e semua hal selain kecantikan dan kepandaiannya bagi Suryo Wulan itu a big NO NO buat dijadiin pacar . Tapi masih ngeyel...ya wes lah...
Tak terasa mereka sampai ke sirkuit. Sirkuit ini baru lima tahun berdiri. Dengan panjang lintasan yang lebih dari dari lima ribu kilometer, total tikungannya ada tujuh belas dan letaknya yang membuat pembalap dapat menikmati pemandangan kota Solo membuat sirkuit ini masuk daftar tahunan untuk seri formula satu dan motogp. Dan ini sangat membanggakan untuk warga Solo. Kemajuan kota Solo dalam lima belas tahun terakhir ini, termasuk mencengangkan. Namun bagi Wulan ya tetep aja ini kota yang kecil, membosankan.
Hari ini sirkuit tampak sepi. Tidak ada kegiatan apapun padahal biasanya selalu ada sesi latihan ataupun event-event balap kelas minor lainnya. Suryo tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia sudah lama memimpikan hal ini. Ia sangat menyukai sensasi yang ia rasakan saat mengendarai motor. Memang mobil pun bisa ngebut tapi ada sensasi tersendiri yang ia rasakan saat angin berhembus menerpa wajahnya yang tidak akan ia dapatkan dalam mengendarai mobil. Tentu saja Mami sangat menentang hal ini. Menurut Mami olahraga ini adalah olahraga dengan resiko kematian yang besar. Lagipula menurut Mami hadiah ulang tahun motor seperti ini terlalu mahal untuk anak seumurnya. Suryo sudah bisa menebak apa yang akan Mami berikan untuk ulang tahunnya. Yaitu buku tabungan dengan jumlah saldo yang bertambah dimana tabungan itu dalam kendali Mami yang Suryo tidak bisa pakai.
Lalu ada kado-kado lain yang akan mereka bawa ke panti asuhan. Jadi saat ulang tahun bukannya Suryo yang dapat kado dari Mami tapi justru Suryo harus menyisihkan uang untuk membeli sumbangan buat anak-anak panti asuhan. Tahun ini Yeye dan Nainai tidak memberi angpao karena sudah membelikan motor untuknya. Kadang Suryo gemes sendiri sama Papi dan Mami, koq bisa segitunya. Masak punya uang lebih malah banyak buat nyumbang orang lain. Nyumbang ke anak sendiri kan juga boleh, wong anak-anaknya juga membutuhkan. Kan
Suryo juga pingin bisa punya baju yang bermerk seperti punya Aldi, mobil sport yang keren, atau gadget terbaru. Padahal pendiri perusahaan paling inovatif di dunia dalam sepuluh tahun terakhir tapi handphone anak-anaknya masih handphone jadul keluaran tiga tahun lalu.
Buuk...!!
__ADS_1
“Aw....ADUUOOOH!!! Ngopo to kowe!!!”
“Bola ne nyasar!!! Wes tekan kuwi lho! Malah ora midun!”
“Ohhhh..lha!! Sakit yoo! Ngomong wae kan isa!”
Dilihatnya adiknya itu melenggang dengan cueknya turun dari mobil tanpa minta maaf. Ah.. biarlah daripada nanti malah ngga mau turun dari mobil kan malah tambah repot.
Dari kejauhan Aldi tampak berlari-lari menyambut mereka. Tidak mengherankan saat yang disapa pertama kali adalah Wulan bukan sahabatnya yang paling baik ini. Aiiish... ngga pa pa lah... wong sudah dibantu jangan rewel.
“Lan wah kamu koq ikut datang. Kejutan banget ini....!”
Wulan hanya mengernyitkan dahinya tanpa sepatah kata melenggang pergi. Diambilnya tali kekang anjing-anjingnya dari tangan Rara dan melengos pergi. Suryo jengkel sekali kenapa sih Wulan seperti itu. Sangat ngga sopan. Bagaimanapun juga Aldi itu kan sahabat paling dekatnya. Konco kentel karo menurut Nainai. Masa ngga bisa sih menghormati sedikit. Ga suka boleh tapi ya jangan ketus ndak tau aturan kaya gitu. Pantas aja ga bisa dapat anggota buat kelompok mading. Hiiih....geregetan rasanya.
“Ehm..eh.. Aldi..eh terimakasih ya boleh bawa anjing kesini. Maaf ya kalau ngerepoti. Bener ndak papa to ini anjing-anjingnya main disini?”
“Oh Rara..!” Aldi seperti baru sadar ada Rara disitu.
“Oh iya ndak papa koq! Aku sudah ijin. Cuman tolong aja nti kalo ada kotorannya diambil yah.....”
“Iya tenang sudah bawa plastik koq. Aku jalan sendiri ya ke taman. Bener sebelah kanan ini kan?” kata Rara sambil menunjuk Wulan.
“oh..bukan tamannya di sebelah kiri sini. Yuk ta anter aja!”
“Ehm ndak usah... Bisa sendiri kamu temeni Suryo aja. Keburu malam nti dicari sama Mami.” Dan Rara buru-buru berlari mengejar Wulan sebelum Aldi menawarkan bantuan lebih lanjut.
Duuuh untung ada Rara, dia tau aja bagaimana menghindari situasi yang aneh ini. Suryo merasa beruntung sekali mempunyai Rara dalam keluarga mereka. Dia tahu saja bahwa Suryo sudah merasa
panas dengan tingkah Wulan. Aldi aja yang kadar sensitivitasnya kalo ditakar mungkin hanya seperempat sendok teh.
“Woi Bro! Yuk buruan keburu Papi Mamiku pulang nti aku dicari.”
Aldi tampak masih bengong. Pandangan matanya mengikuti ke arah Wulan dan Rara. Tampak Rara menggandeng Wulan dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengambil alih tali kekang anjing-anjingnya yang kelihatan sudah mulai menarik-narik Wulan sampai adiknya hampir nyungsep. Begitu Rara yang memegang kendali atas tali-tali kekang itu, seketika itu juga anjing-anjing itu menjadi tenang dan tidak menarik-narik tali kekang mereka. Mereka kemudian berbalik arah menuju taman luar sirkuit.
“Hebat banget ya......”
“Iya Rara memang hebat menangani....”
“Si Wulan”
“Ehhhh..? Koq Wulan?”
“Iya lihat ngga gimana ia dengan sabarnya menangani anjing-anjingmu? Caranya memegang tali kekang juga elegant banget. Liat tuh”
Suryo hanya bisa melongo memang cinta itu buta tapi ini sih .........
Dengan tak sabar ditariknya Aldi menuju tempat motornya disimpan. Sementara Aldi merelakan tubuhnya diseret Suryo matanya masih tetap mengikuti arah perginya Wulan dan Rara.
__ADS_1