
R3 terbangun dengan perasaan was-was. Tidurnya tak nyenyak . Ia masih terbayang-bayang dengan apa yang dilihatnya kemarin. Sebentar lagi akan tiba saatnya sirine berbunyi, dan ia akan kembali ke rutinitasnya seperti biasa. Masalahnya setelah horor yang disaksikannya kemarin ia tak tahu apakah ia bisa berpura-pura dan mengikuti tindakan yang lain secara bersamaan. Karena meskipun itu sudah dilakukannya berkali-kali tetap saja hal itu membutuhkan konsentrasi tinggi.
NGUIIIING,,,,,,,,NGUIIIIIIIING....
Uh....suara sirine yang memekakkan telinga itu memecahkan keheningan. Dengan segera ia bangun, dan buru-buru berbaris mengikuti yang lain. Diikutinya mereka seperti biasa berlari menuju lapangan. Saat mereka berlari mengelilingi lapangan. Tiba-tiba ia bisa mendengar suara ribut-ribut lain yang tidak pernah ia dengar di pagi-pagi hari sebelumnya. tapi tampaknya semua anggota kelompoknya tidak menyadari adanya keributan. Ia mulai merasa ketakutan apakah keributan ini ada hubungan dengan tindakan bravadonya kemarin?
Tiba-tiba dari gedung tempat penjaga tinggal, melesat sesosok hitam kecil dan dibelakangnya tampak dua orang yang mengejar sosok itu dengan membawa tongkat yang diacung-acungkan. Untuk pertama kalinya R3 melihat penjaga. Mereka tampak seperti dirinya. Berbeda dengan sosok tinggi besar yang dilihatnya kemarin. namun pakaian yang mereka kenakan berbeda dengan pakaian yang ia kenakan. Pakaian yang R3 kenakan hanya satu menyambung dari atas tubuhnya sampe ke bawah. Sedangkan para penjaga itu memakai pakaian yang tampaknya terdiri dari dua bagian. Warna pakaian mereka hitam-hitam.
Mereka mulai berbaris di lapangan untuk bersenam pagi. Sosok hitam yang dikejar-kejar penjaga itu tampak melesat meliak-liuk melewati mereka yang sedang bersenam pagi. R3 melirik R1, ia ingin tau bagaimana reaksinya. namun pandangan R1 tetap ke depan dan wajahnya tetap tanpa ekspresi. Dengan berusaha tetap menjaga posisi kepalanya, R3 mncoba untuk melihat lebih jelas sosok hitam itu. Dan tiba tiba sosok hitam itu berhenti mendadak di depannya. R3 melihat makhluk itu. berkaki empat, badannya kurus sampai ia bisa melihat tulang-tulang rusuknya, matanya yang kuning memandang ke arahnya.
......Meow.... dan makhluk itu mengeluarkan suaranya. Ia seekor kucing, Tapi R3 tak tahu bahwa makhluk itu dinamakan kucing, karena ini adalah untuk pertama kalinya ia melihat makhluk lain yang bergerak selain manusia seperti dirinya. Dan dengan tiba-tiba pula kucing itu melesat pergi, saat kedua penjaga itu berlari mengejar di belakangnya. R3 cepat-cepat memandang ke depan dan mengosongkan ekspresinya dan terus bersenam mengikuti gerakan yang lain. Penjaga yang pertama tetap berlari mengejar kucing itu. Sementara penjaga yang kedua berhenti di depannya dan mengamatinya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah R3 dan tiba-tiba berteriak kencang di telinganya. Entah kekuatan apa yang menjaganya namun R3 berhasil untuk tidak tersentak dan tetap mempertahankan pandangan dan ekspresi kosongnya.
"Cih....."
Penjaga itu tampak kecewa, ia kemudian meludah di dekat kaki R3. Dan mulai berlari mengejar rekannya yang mengejar kucing tadi. R3 melirik R1, dan ia dapat melihat R1 menghembuskan nafas lega. Hatinya senang bukan kepalang karena ternyata R1 masih mengkhawatirkannya. Ia sudah cemas, hal lain yang menyebabkannya sulit tidur adalah rasa takut jika R1 akan marah dan mengabaikannya. Karena sepanjang malam tadi mereka sama sekali tidak bercakap-cakap lagi seperti yang biasa mereka lakukan sebelum tidur.
Hatinya kembali terasa ringan dengan langkah tegap diikutinya kelompoknya menuju kamar mandi untuk bersiap melaksanakan rutinitas selanjutnya.
****
Sejak itu, setiap malam R3 selalu keluar dari kamarnya. Iaa sangat berhati-hati dan menunggu R1 tidur lebih dahulu. Karena ia tidak ingin membuatnya khawatir. Selain itu ia juga berpikir jika ia sampai tertangkap maka R1 akan tetap aman. Ia tak ingin hal yang buruk menimpa R1. Dari petualangan malamnya, ia mulai mengenal lingkungan tempat tinggalnya.
Bangunan tempat kamar-kamar tidur dan kamar mandi terletak di ujung barat. Di ujung selatan ada aula tempat makan, dapur umum dan disebelahnya adalah pabrik tempat R3 bertugas. . Ujung utara ada bangunan penjaga di mana ia manyaksikan kejadian horror mengerikan yang sampai sekarang tak mampu dilupakannya. Di sebelah utara itu pula di samping bangunan penjaga ada menara pengawas tinggi. Sedangkan di ujung timur adalah lahan pertanian dan rumah rumah kaca tempat R1 bertugas. Selain bangunan-bangunan itu ada bangunan-bangunan lainnya yang lebih kecil. R3 tidak tahu fungsi bangunan tersebut. Kesemua bangunan itu dibangun mengelilingi lapangan luas tempat mereka berolahraga. Dan mengelilingi semua bangunan-bangunan itu adalah tembok setinggi tiga meter. Sudah beberapa malam ini R3 berkeliling sepanjang tembok. Namun seberapa keras ia mencari ia tak dapat menemukaan satu pintu pun. Ia bingung dan bertanya-tanya apakah penjaga-penjaga yang sejak peristiwa kucing keberadaannya menjadi gampang ia sadari tidak pernah keluar dari tempat itu.
Malam itu tak terkecuali, ditunggunya semua orang yang di kamarnya tidur. Ia dapat mengetahui dari suara napas mereka yang teratur saat mereka sudah tertidur. Dengan perlahan-lahan, ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjingkat-jingkat menuju tempat tidur R1. Dilihatnya R1 sudah tertidur, dadanya naik turun dengan teratur. Setelah ia yakin akan hal itu, ia pun berjingkat-jingkat menuju pintu dan dengan perlahan dibukanya pintu itu dan dengan gesit ia menyelinap keluar. Ia tetap menjaga untuk berjalan perlahan-lahan tanpa suara dan memastikan selalu menempel pada bangunan yang dilewatinya. Kali ini ia menuju ke arah timur, untuk menuju kesana ia melewati bangunan penjaga dan menara pengawas.
R3 merasa bingung dengan apakah gunanya menara pengawas itu, karena ia tak pernah melihat adanya satupun pergerakan disana. Bangunan itu tinggi dan di puncaknya hanyalah atap datar. Hanya ada satu pintu di bawahnya.
Tiba-tiba.......
Pintu di menara itu terbuka, R3 terkejut setengah mati dengan cepat ia bersembunyi di balik bangunan penjaga. Dari pintu itu, keluarlah orang-orang yang mengunakan seragam seperti dirinya, sekitar lima puluh jumlahnya. Mereka berjalan berbaris dengan tertib, ada dua orang penjaga di belakang mereka yang membawa benda yang bercahaya. Lampu senter. R3 tidak pernah melihat lampu senter. baru kali ini ia melihat benda yang bisa mengeluarkan cahaya di malam hari. Orang-orang yang berbaris dengan tertib dan berseragam seperti dirinya, setelah ia perhatikan dengan seksama ternyata perawakan mereka jauh lebih kecil dari dirinya. R3 tidak pernah melihat cermin. ia hanya melihat pantulan dirinya dari genangan air di lantai kamar mandi saat mandi. Namun ia bisa memastikan orang-orang yang datang itu lebih kecil darinya.
Mereka berbaris dan berjalan menuju ke bangunan tempat ia tidur. Diikuti oleh dua penjaga yang membawa senter tadi. Ditunggunya mereka masuk ke dalam, lalu dengan perlahan-lahan dan berjingkat-jingkat ia menuju pintu menara itu. Dibukanya pintu itu dan sesuai dugaannya pintu itu tak terkunci juga. ia pun menyelinap ke dalamnya. Di dalam menara itu ada tangga yang melingkar menuju ke atas selain itu ia tak menemukan apapun. Dengan heran ia berjalan, dan tak sengaja kakinya terantuk sesuatu. Dilihatnya ada sebuah besi melengkung yang menempel di lantai. Dan setelah diperhatikan ada sepetak lantai yang berbeda dari lantai di sekitarnya. Jika lantai yang lain berupa cor beton satu petak lantai itu tampaknya dari kayu.
Dengan penuh ingin tahu R3 membungkuk dan memegang besi itu. Ia mencoba menariknya dan tak disangkanya petak lantai itu ikut mengayun terbuka. Dibawahnya ia melihat sebuah tangga. ia ragu-ragu untuk meneruskan langkahnya. Namun pada akhrinya rasa penasaran mengalahkan keragu-raguannya. Dengan perlahan-lahan ia menuruni tangga itu dan ditutupnya petak lantai itu lagi. Sesampainya di dasar tangga ia bisa melihat suatu lorong yang besarnya cukup untuk empat orang secara bersamaan lewat bersama. Dengan hati-hati ia melangkah.
Sudah dua puluh menit ia berjalan, lorong itu kadang berbelok ke kanan kemudian berbelok kiri. Dan tiba-tiba saat ia berbelok kekanan, ia melihat sebuah tangga lagi yang menuju ke atas. tampaknya ia sudah sampai di ujung lorong. Dengan perlahan-lahan ia menaiki tangga tersebut sampai di ujung tangga ia dapat melihat pintu yang sama seperti tempat ia masuk tadi. Ditempelkannya telinganya, ia tak mendengar suara apapun, Ia mencoba mengangkat pintu itu dan ternyata pintu itupun tak dikunci. Saat melangkah keluar, ia merasakan angin malam menerpanya. Dipandangnya sekelilingnya ia melihat dirinya dikelilingi pepohonan yang asing dan baru pertama dilihatnya. Ia mencoba mencari komplek bangunan tempat ia tinggal, namun ia tak dapat melihatnya padahal ia yakin ia tidak mungkin jauh dari sana.
Dari tempatnya berdiri, di antara celah-celah pohon ia dapat melihat jalanan yang membelah pepohonan, memanjang sampai ia tak dapat melihat ujungnya. Tentu saja R3 tidak tahu bahwa apa yang dilihatnya disebut jalan. Sesekali ada benda berkecepatan tinggi yang melewati. Ada yang terus menempel dan ada yang mengambang setinggi kira-kira 3 meter di atasnya. Keduanya memiliki kesamaan bentuk, sama-sama memiliki benda bundar di bagian bawahnya. Ada yang mempunyai empat benda bundar ada yang hanya dua.
Bedanya, yang menempel di jalan, benda bundarnya berputar dengan cepat sedang yang mengambang benda bundar itu hanya diam. Ia terpesona melihatnya. Kepalanya mengikuti arah pergerakan benda-benda itu. Ke kiri, ke kanan dan tanpa sadar mulutnya ternganga. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat mobil dan motor.
Segalanya terasa begitu banyak untuk dicerna R3. Dalam semalam, ia melihat banyak hal baru yang baru pertama dilihatnya. Dan R3 tidak tahu, apa nama benda-benda itu.
Pohon, rumput, semak, jalan, mobil dan motor........
Ia terpesona dengan itu semua. Dengan pelan, ia berjalan menuju ke jalan. Dengan berhati-hati dan sesekali bersembunyi di balik pohon ia bergerak pelan. Sesekali angin bertiup dan membuat daun-daun bergesekan dan menimbulkan suara yang membuat jantungnya hampir copot.
Sepuluh langkah ia berjalan, dan secara tiba-tiba, ia sadar. Ia memang tidak tahu apapun yang di sekitarnya, namun ia tahu pasti, bahwa ia sudah keluar dari komplek tempat ia tinggal.
Ia pun berbalik kembali ke tangga, turun....
Kembali menyusuri lorong...
Ia senang sekali sudah menemukan jalan keluar. Jantungnya berdegup kencang. Adrenalin mengalir deras, belum pernah ia merasa sebersemangat ini. Ia harus cepat-cepat kembali, menemui R1 dan menyusun rencana bagaimana mereka bisa keluar bersama karena tampaknya akan lebih susah dengan R1. Karena R1 tidak dapat melihat dalam gelap.
Ia sampai ke tangga di bawah menara pengawas. Dengan tergesa-gesa ia menaiki tangga, ia tak sabar untuk menceritakan apa yang ditemukannya pada R1. Dibukanya petak lantai yang menjadi pintu....
"Lihat apa yang kita temukan!"
Dua orang penjaga berdiri menjulang di atasnya.
R3 pun membeku.
****
Langkahnya terseok-seok. Dua penjaga itu berjalan di belakangnya. Sesekali mereka mendorongnya dengan keras sampai ia hampir terjatuh.
Kedua penjaga itu memakai seragam yang sama seperti penjaga yang dilihatnya mengejar kucing beberapa hari yang lalu. Namun entah kenapa, dua penjaga ini terasa begitu mengerikan bagi R3, bulu kuduknya berdiri hanya dengan dekat dengan mereka.
Selain perawakan mereka yang lebih besar dan lebih tinggi. Kedua penjaga ini juga memiliki kulit yang jauh lebih pucat.
Putih sekali...
Mata mereka berkilauan tajam, warna mata mereka merah dan mereka juga kuat sekali. Hanya butuh seorang dari mereka untuk menarik R3 keluar dari lubang tangga. Dan hanya butuh sekali sentakan, R3 langsung terangkat keluar, untuk kemudian dilemparkan ke lantai.
Mereka membawanya menuju bangunan tempat penjaga di sebelah menara pengawas. R3 tak tahu apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Namun ia tahu satu hal yang sedikit menghiburnya, keputusannya untuk tidak melibatkan R1 sudah tepat. Setidaknya, R1 akan tetap aman untuk sementara ini apapun yang terjadi dengan dirinya.
Dihembuskan napasnya keras-keras, apapun yang terjadi biarlah terjadi....
Ia melangkah memasuki gedung penjaga. Seperti bangunan lainnya, bangunan ini pun tidak memiliki pencahayaan. Semuanya gelap. Ada lorong yang memisahkan ruangan-ruangan di kiri dan kanan. Bangunan itu tidak sebesar gedung tempat ia tidur dan mandi. Di kiri dan kanannya berjejer pintu-pintu yang berjarak sekitar empat meter dari satu sama lain. Pintu-pintu itu berhadapan secara simetris, ia melewati tangga di sebelah kirinya. Tangga itu berada persis di tengah-tengah bangunan.
Penjaga di sebelah kanannya mendorongnya lagi. Mereka membawanya sampai ke pintu paling ujung, dan R3 tahu ia dibawa ke ruangan tempat ia menyaksikan pembantaian sebelumnya. Tenggorokannya tercekat, ia merasa takut sekali. Penjaga di sebelah kirinya membuka pintu dan mendorongnya masuk ke ruangan. R3 tersungkur, tangannya secara reflek menahan jatuhnya. Dan ia merasakan rasa sakit di pergelangan tangannya.
Saat ia mendongak, apa yang dilihatnya membuat seluruh tubuhnya lemas.
__ADS_1
R1 duduk di kursi di tengah ruangan. Kepalanya tertunduk, rambut panjangnya terurai menutupi wajahnya.
****
Penjaga yang mendorongnya memasuki ruangan. Dicengkeram dan ditariknya rambut R3 sampai kepalanya tersentak, dan badannya tertarik hingga dari posisi tengkurap, menjadi posisi duduk.
Kulit kepalanya terasa sakit luar biasa.
Dengan tangan kirinya, masih mencengkeram rambut R3, tangan kanannya menepuk-nepuk pipi R3. Dari mulutnya tersungging senyuman mengejek.
"Ho..ooo kita mendapat jagoan lain kali ini."
"Ketua akan happy mendapat mainan baru."
Penjaga yang satunya memasuki ruangan. Dan sambil melangkahi kaki R3, tak lupa ia mendaratkan sebuah tendangan yang keras ke rusuk kanan R3.
R3 meringis, namun ia tak peduli itu semua. Pikirannya kalut. Ia mengkhawatirkan R1. Bagaimana bisa R1 juga ketahuan kalau sudah terbangun. Matanya melirik R1. Gadis itu masih diam tertunduk.
R3 panik luar biasa. Apa yang telah mereka lakukan terhadap R1.
Pintu ruangan menuju lorong masih terbuka, dan ia dapat melihat jendela tempatnya mengintip. Tanpa pikir panjang R3 memberontak.
Ditubruknya penjaga yang menjambak rambutnya dan kakinya disapukan ke kaki penjaga yang menendangnya.
Penjaga itu terjerambab......
Kaget tidak mengira akan adanya serangan.
"Lariiiii! LARIIIIII! R1 LARIIIII!"
Dengan sekuat tenaga tangannya ditahankan ke penjaga dan kakinya mengait memeluk pinggang penjaga yang terjatuh.
Anehnya kedua penjaga itu tidak melawan.
Melainkan....
"HAHAHHAHAHHAHA......Hahahahhaaahahh...."
"Lari? HAHAHAHAHAHAHHA.. ..."
Mereka tertawa terbahak-bahak tubuh mereka sampai terguncang-guncang.
"ADA APA INI?"
Tiba-tiba, ruangan itu menjadi terang. Ternyata lampu ruangan itu telah dinyalakan. Kedua penjaga itu serentak mengangkat tangan mereka menutupi mata mereka. Dan dengan tergesa-gesa mereka memakai kaca mata hitam
Namun orang itu memakai pakaian yang berbeda. Pakaiannya jauh lebih bagus dari para penjaga. Terlihat berlapis-lapis.
R3 mendongak dan mengamatinya. Mata orang ini, merah seperti para penjaga. Tidak seperti penjaga-penjaga itu, ia tampaknya tidak terganggu sama sekali oleh cahaya dari lampu. R3 mendongak terheran-heran. Untuk kedua kalinya ia melihat benda yang mengeluarkan cahaya di malam hari.
Para penjaga itu sudah termasuk kategori tampan. Namun orang ini tampan sekali. Hidungnya mancung dan simetris. Alisnya tebal. Ada belahan di dagu dan bibirnya. Warna bibirnya juga semerah matanya.
" Duduklah."
Orang itu mengambil kursi, menarik R3 dan mempersilakannya duduk di kursi. Kedua penjaga itu ternganga melihatnya.
"Ketua... dia mencoba melarikan dir..."
"DIAAAAAAM!"
Keduanya terlonjak, entah mengapa mereka sekarang tampak menciut.
"Kalian berdua keluar!"
Tanpa ba bi bu kedua penjaga itu langsung menuju pintu dan cepat-cepat menghilang dari pandangan mereka.
"Kau tak apa?"
Orang itu bertanya dengan ramah. Namun entah mengapa R3 bisa merasakan kengerian luar biasa di balik senyuman dan suaranya yang ramah. Kengerian yang sama yang ia rasakan malam itu.
R3 diam tak menjawab. Matanya terpaku pada R1.
Orang itu tersenyum lagi.
"Perkenalkan namaku Derrick. Aku yang bertanggung jawab atas semua fasilitas disini."
Tiba-tiba R1 bergerak, ia menggeliat. Kepalanya menggeliat menyentak ke belakang hingga rambutnya tersibak ke belakang.
"R1, kau tak apa? Apa yang terjadi? Mengapa kau bisa berada di sini? Bagaimana kau bisa disini?"
Semua pertanyaan yang dari tadi menghantuinya meluncur deras dari mulutnya.
R1 memandangnya, entah kenapa tatapannya terlihat asing. Dan gadis itu tersenyum.
"Well.... begini R3. R3 begitukan kau dipanggil?"
__ADS_1
R3 mengangguk dia tak tahu pasti apa yang terjadi. Diliriknya R1 gadis itu sekarang berdiri dan meregangkan badannya.
"Berapa lama sudah kau berkeliaran tiap malam hmmm?"
"A...aaa..Saya.."
"Jujurlah saja. Lebih baik itu. Karena walaupun kau bohong which is impossible, aku akan tahu."
"Jadi begini R3, seperti kau ketahui. Kau bukanlah satu-satunya yang terbangun. Dan tidak semua yang terbangun bisa bertemu denganku."
R1 bergerak perlahan mendekati Derrick. Dan dengan tersenyum manja dilingkarkannya kedua tangannya ke leher Derrick. Namun Derrick, terlihat terganggu, ditepiskannya tangan R1 dengan kasar. Matanya menyala dan dahinya mengernyit. tangannya yang satu lagi terangkat seperti hendak memukul.
Tidak terima dengan perlakuan Derrick kepada R1, R3 berdiri dengan cepat, dan ditahannya tangan Derrick. Derrick memandangnya dengan terkejut.
"Jangan sakiti R1!R1 tak tahu apapun! Penjaga-penjaga itu salah membawanya!"
Ruangan itu menjadi hening....
Dan kemudian pecah oleh suara tawa terbahak-bahak. Derrick tertawa begitu keras, bahunya terguncang-guncang dan tak lama kemudian R1 jg ikut tertawa.
"Oooooh kurasa aku tahu apa yang membuat mereka tadi tertawa. Wkakwkakakakaa......"
"Oh...oh R3...betapa naifnya. Tapi memang kau tidak tahu apa-apa. Tapi kau hebat. Itulah yang membuatmu masih selamat sampai saat ini."
"Jadi kami biasanya tidak melakukan ini pada mereka yang terbangun. Biasanya cukup penjaga-penjaga krucuk yang bermain-main dengan mereka."
Matanya menyipit, dan dipandanginya R3 dengan seksama.
"Tapi kau beda. Dan aku rasa, kasus sepertimu belum pernah terjadi di compound lain."
"Compound?"
"Ah ya kompleks tempatmu tinggal ini kami menyebutnya compound."
"Begini R3, alasan kenapa aku menyediakan waktu untuk berbicara denganmu adalah karena tampaknya kau spesial. Kau bisa menghindari kamera pengawas kami, dan entah bagaimana caranya kamu bisa melihat dalam kegelapan."
Eh.....R3 menelengkan kepalanya. Ia tak tahu bahwa tidak semua orang bisa melihat dalam gelap seperti dirinya. Ia tahu bahwa R1 tak bisa melihat dalam gelap. Namun ia berpikir bahwa mungkin ada yang lain yang bisa melihat dalam gelap seperti dirinya.
"Oleh karena itu, untuk mereka yang berbakat khusus, aku menawarkan apakah kau mau menjadi seperti kami?"
"Oh... kau juga menawarinya? Tapi aku dulukan yang akan kau jadikan seperti kalian? Heiii.... aku sudah berbuat banyak untuk kalian, aku sudah memata-matai mereka yang terbangun dan melaporkannya pada kalian. Aku juga yang melaporkan R3 kepada kalian, kalau tidak kalian tidak akan tahu dia sudah terbangun, malam ini aku juga....."
"GADIS TOLOOOOOOL! DIAAAAAM."
Dengan sekali ayunan langkahnya, Derrick sudah berdiri di depan R1, dicekiknya leher gadis itu dan diangkatnya sampai kaki R1 menggantung dari lantai.
"Jangan sekali-kali berbicara jika aku tidak menyuruh mu berbicara."
"Lepaskan dia! Kau menyakitinya."
"Oh my....R3, kau masi mengkhawatirkannya? Luar biasa pesonanya bukan?"
Dengan enteng dilepaskannya cekikannya, dan R1 jatuh terduduk di lantai.
"Kau akan melakukan apapun untuknya bukan?"
R3 bingung dengan apa yang dilihatnya. Kata-kata R1 tadi sulit dicernanya. R1 yang melaporkannya? R1?
"Jika kau bergabung menjadi satu dengan kami, kau bisa bersamanya selalu. Ia akan menjadi milikmu. Terserah mau melakukan apapun terhadapnya."
"Maksud menjadi satu dengan kalian? Apa?"
"Kau bisa menjadi seperti kami. Kekuatan luar biasa yang belum pernah kau impikan bisa menjadi milikmu. Dan kau akan menjadi immortal alias hidup selamanya."
"Immortal...."
"Ya immortal. Dan dengan bakat dasarmu ini, kurasa kau akan mempunyai kekuatan lebih dari penjaga-penjaga tadi. Aku akan menjadikanmu tangan kananku."
"Tunggu dulu Derrick. Bagaimana dengan aku? Kau menjanjikan akan menjadikanku tangan kananmu. Kenapa sekarang kau berikan padanya. Aku yang menyerahkannya padamu. Kenapa sekarang malah dia yang akan kau jadikan tangan kananmu?"
Derrick memandangnya dengan tatapan bosan. Ia merasa marah karena untuk kedua kalinya gadis itu berbicara tanpa seijinnya. Betapa bodohnya gadis ini, mengira ia akan menjadikannya tangan kanannya. Rasa marah semakin lama menguasainya, dan ia berusaha keras menahannya.
Kata-kata R1 menyadarkan R3, bahwa Derrick tampaknya menjanjikan hal yang sama pada banyak orang. Matanya tertumbuk pada tangan Derrick, dilihatnya tangan itu berkedut-kedut, dan kuku yang runcing tajam tumbuh dari ujung-ujung jarinya.
Derrick mengikuti pandangan mata R3, dan ia tersenyum, ah tampaknya ia sudah tak bisa berpura-pura lagi. Gadis bodoh itu telah membuatnya kehilangan pengendalian dirinya.
R1 pun menyadari perubahan Derrick. Ia pun menjadi sangat ketakutan.
"Tu...tunggu Derrick. Maafkan aku. Jangan sakiti aku. Aku selama ini selalu setia membantumu. Plizzzz jangan sakiti aku. Bunuh saja dia! Dia terlalu bodoh meskipun dia punya bakat. Dia tidak akan bisa berguna banyak untukmu. Dia bahakan tak tahu kalau aku selama ini menyadari kalu dia diam-diam tiap malam menyelinap keluar. Aku aja selama ini bersabar dengan kebodohannya, dia yang paling bodoh dari semua yang terbangun yang pernah aku kenal. Aku jijik padanya."
Tak bisa percaya dengan kata-kata R1. R3 merasakan rasa sakit luar biasa yang tak terlihat di dadanya. Ia tak percaya R1 sekejam itu. Padahal ia begitu mengkhawatirkan R1.
"Cukup sandiwaranya, jadikan pengkhianatannya pengalaman pahit yang berharga untukmu......" Dengan suara mendesis, Derrick mulai berubah, tangannya memanjang dan kuku kuku lancip itu kini telah tumbuh sepenuhnya. Badannya bertambah tinggi. Dari bahunya keluar tanduk yang lancip. Dan ia bertambah besar hingga menjulang tinggi setinggi hampir dua setengah meter. Mulutnya menyeringai dan R3 bisa melihat taring putih yang berkilauan.
"Apa keputusanmu? Bergabung dengan kami atau mati?"
__ADS_1
*****