Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Dunia baru yang tersembunyi


__ADS_3

Arthur melongo menatap bangunan yang berdiri megah di depannya. Menjulang setinggi empat puluh dua meter dan sebanyak sepuluh tingkat. Di latar belakangnya, sebelah barat ada Gunung Sundoro-Sumbing, nama yang aneh menurut Arthur, di sebelah timur, ada Gunung Merapi dan Merbabu. Ia sudah pernah membaca dan melihat foto-foto mengenai Candi Borobudur ini, namun ia tak menyangka bahwa aslinya Candi ini jauh lebih megah dari yang dibayangkannya.


    Hari masih pagi, masih pukul lima. Namun sudah ada, turis-turis yang bersliweran. Mereka berjalan perlahan-lahan menaiki tangga berundak-undak menuju ke puncak. Arthur bingung, bagaimana di jaman dulu orang-orang itu bisa menyelesaikan pembangunan candi ini. Menurut apa yang dibacanya, dibutuhkan sekitar seratus tahun untuk menyelesaikannya. Ia masih begitu takjub , sampai tidak sadar bahawa rombongannya sudah berjalan sampai Suryo menarik tangannya.


    Diikutinya mereka berjalan memutar lalu dari sisi sebelah timur mereka mulai menaiki tangga sampai ke puncaknya. Ada stupa besar di tengah-tengah, Arthur memandangnya dengan takjub. Lalu ia membalikkan badannya, dan ia mulai mengerti, apa yang ditunggu-tunggu oleh turis-turis itu sampai rela pagi-pag butai meluangkan waktu. Dari balik Gunung Merapi dan Merbabu, semburat jingga membias di langit. Lalu bola jingga keemasan yang begitu indah terbit perlahan-lahan naik ke atas. kabut tipis masih menyelimuti kompleks candi menambahkan suasana yang mistis penuh keagungan.


    Arthur merasakan sebuah tangan melingkari bahunya. Ia mengalihkan pandangannya, dipandangnya Suryo yang merangkulnya dan memandangnya sambil tersenyum, di belakang Suryo ada Wulan dan Rara. Keduanya juga memandangnya dengan tersenyum. Senyum mereka mencapai mata mereka, Arthur dapat merasakan suatu ketulusan dalam senyum mereka. Matanya terasa pedih, dan mulai berkaca-kaca. Cepat-cepat dialihkannya pandangannya. Entah kenapa, sekarang Arthur merasa malu. Namun tak ayal sebutir air mata mengalir turun dari sudut matanya. Untuk kedua kalinya Arthur merasa terharu. Dan untuk pertama kalinya,  ia merasakan bagaimana rasanya memiliki orang-orang yang peduli padanya, ikut bahagia bersamanya. Menyaksikan bagaimana keindahan ciptaan Tuhan ,menyinari buatan tangan manusia.


"Sudah?" Tanya Yeye


    "Eh ini kita ngapain ke sini Yeye?"


    "Oh tadi Yeye memang minta waktu sebentar sama Hazel, supaya bisa melihat sunrise dulu. Rugi banget kalau sudah pas pagi-pagi kesini dan tidak melihat indahnya sunrise di Borobudur."


    "OOOO kesini cuma liat sunrise?"


Yeye terkekeh.


"Tentu tidak. Yuk Hazel?"


Hazel tersenyum dan mengangguk, memberikan isyarat untuk mengikutinya. Mereka menuruni tangga yang sama dengan tangga yang mereka naiki. Mereka sampai di undakan tingkat ke enam, lalu Hazel berbelok kekanan.


    Ada seorang Biksu yang berdiri di sudut. Baru kali ini Arthur melihat seorang yang tidak memiliki rambut. Hazel melambai-lambaikan tangannya ke arah biksu itu, dan biksu itu membalasnya dengan mengatupkan kedua tangannya dan membungkuk sedikit. Lalu biksu itu tersenyum, berdiri menyamping dan mempersilahkan Hazel untuk lewat. Hazel membungkuk balik lalu berjalan melewati biksu itu. Lalu mereka berbelok ke kanan lagi. Arthur melihat setelah mereka semua berjalan melewati biksu itu, biksu itu mengambil posisinya kembali seperti semual berdiri di tengah lorong. Sampai di sudut itu, Arthur melihat ada biksu lain yang berdiri sekitar 5 meter dari sudut tempat mereka berdiri ia berdiri di tengah-tengah lorong juga. Di sudut tepat arah tenggara itu mereka berhenti. Hazel mengulurkan tangannya ke dinding di tumpukan batu yang ke lima. Dan dari batu itu keluar sebuah sinar yang memindai tangan Hazel. Lalu tiba-tiba, dinding di sudut itu berderak-derak dan bergerak melesak ke dalam. Menyisakan sebuah ruang yang cukup untuk menampung mereka bertujuh jika berdesak-desakan.


Arthur memandang sekelilingnya, ada turis-turis yang bersliweran namun entah kenapa mereka seperti tidak memperdulikan mereka ataupun bagaimana sudut itu bisa bergerak. Kedua Biksu masih berdiri, berjaga-jaga di tengah lorong, satu di lorong timur satu di lorong selatan.


Hazel membungkukkan badannya dan mempersilakan mereka masuk ke ruangan kecil itu. Mereka semua masuk keculai Hazel sendiri. Terakhir sebelum pintu di depannya menutup, dan ruangan kecil itu menjadi gelap gulita, Arthur melihat Hazel ,melambaikan tangannya dan nyengir lebar.


    Sebelum mereka sempat bertanya, tiba-tiba saja ruangan yang mereka tempati melesat dengan cepat turun ke bawah membuat mereka kecuali Yeye dan Nainai berteriak terkejut, panik dan secara otomatis tiarap ke lantai. Arthur yang bisa melihat dalam gelap dapat melihat Yeye dan Nainai berpandang-pandangan sambil tersenyum geli. Melihat hal itu, ia pun merasa lega dan yakin semuanya baik-baik saja.


   Perlahan-lahan, ia memberanikan dirinya untuk berdiri meskipun dengan sedikit gemetar. Wulan yang ada disampingnya mencoba menariknya untuk tiarap kembali. Namun ia justru memegang tangan Wulan dan menarik Wulan untuk berdiri.


    Lalu secara perlahan-lahan ruangan itu melambat geraknya untuk kemudian berhenti total. Dari lantai tiba-tiba keluar segaris sinar biru yang bergerak ke atas memindai mereka semua. Lalu pintu di depan mereka terbuka.


"Selamat datang Tuan Eraser dan Nyonya Longlife. Apakah kalian yang bertanggung jawab untuk dua jaka,dua dara dan dua hewan yang dikenal dengan nama anjing  yang bersama kalian ini?"


Suara seorang wanita tanpa nada yang mengingatkan mereka akan HAIFU berkumandang memenuhi ruangan kecil itu.


" Ya, kami yang bertanggung jawab atas mereka." Kata Yeye lantang sambil merentangkan tangannya mencegah Wulan dan Arthur yang hendak melangkah keluar.


Sinar biru itu kembali muncul dan memindai mereka kembali kali ini dari atas ke bawah.


"Baiklah. Kalian aman untuk keluar." Suara wanita itu terdengar lagi.


    Yeye dan Nainai melangkah keluar terlebih dahulu diikuti oleh Arthur, Wulan, Suryo kemudian Rara dan anjing-anjingnya.  Mereka sampai di sebuah stasiun kereta api cepat bawah tanah. Arthur tercengang melihatnya.


Jangankan Arthur, Wulan, Suryo dan Rara pun tercengang-cengang melihat stasiun itu. Alih-alih penampilan modern, stasiun itu tidak begitu besarhanya ada dua peron di samping dua trek keretanya namun nampak begitu megah dengan langit-langitnya yang tinggi dan ornamen-ornamen khas seperti Candi Borobudur yang ada di atasnya. Pintu lift yang tadi mereka gunakan dari peron stasiun tempat mereka berdiri terlihat indah dengan relief-relief ukiran-ukirannya. Pelataran itu memanjang sepanjang lima puluh meter. Pilar-pilarnya berjejer-jejer terbuat dari batu andesit juga. Arthur memandang pilar-pilar yang di bagian kaki-kaki dan kepalanya juga terdapat ukiran-ukiran. Sepintas ukiran-ukiran itu mirip dengan relief yang ada di Candi Borobudur, namun setelah Arthur perhatikan dengan lebih teliti, ukiran-ukiran itu juga membentuk relief namun lebih ke bentuk orang-orang dengan berbagai macam kekuatan. Ada yang menggambarkan orang yang sedang mengarahkan tangannya ke sebuah pohon, ada relief orang yang dari tangannya mengeluarkan api dan macam-macam lagi. Namun buka itu yang membuat Arthur penasaran, ia penasaran bagaimana mungkin batu yang hanya ditumpuk-tumpuk ini bisa menyangga beban yang begitu berat di atasnya.


    Sebelum ia sempat bertanya, tiba-tiba sebuah gerbong kereta yang keseluruhanya terbuat dari kaca melesat dan berhenti tepat di tengah-tengah peron. Gerbong itu transparan sepenuhnya dan berbentuk kapsul dimana kedua ujungnya berbentuk setengah bulatan, ada dua rusuk rangka baja  bercat putih yang melingkarinya diantara kedua rusuk itu pintu kaca otomatis membuka dengan bergeser ke kiri dan kanan begitu gerbong itu berhenti. Di dalamnya Arthur dapat melihat ada sepuluh kursi. Gerbong kereta itu tidak menempel ke treknya namun mengambang sejauh setengah meter dari trek kereta. Lantai di dalam gerbong itu datar dan mengambang dari dasar kacanya yang melengkung, dilapisi karpet tebal warna merah. Kursi-kursinya juga bewarna merah. Di kedua ujungnya ada sebuah panel layar digital yang juga berbentuk juga berbentuk lingkaran dengan sebuah tiang baja tipis bercat putih yang menyangganya. Dari rangka baja yang melingkari gerbong kaca itu keluar cahaya lembut yang menerangi seisi gerbong itu.


"Ayo masuk." Kata Nainai

__ADS_1


    Namun seperti Arthur, tampaknya Wulan, Suryo dan Rara tampak ragu-ragu menginjakkan kakinya ke lantai yang mengambang itu.


    Yeye tersenyum melihat keraguan mereka. Lalu digandengnya tangan Nainai, mereka berdua melangkah masuk ke dalam gerbong kaca itu. Lalu mengambil kursi nomor tiga dari depan. Melihat itu, mereka menjadi tidak ragu lagi. Diikuti anjing-anjing Rara, mereka melangkah masuk dan berebutan memilih untuk duduk di kursi paling depan. Pada akhirnya Wulan dan Rara yang duduk paling depan karena Suryo diingatkan Nainai bagaimana Wulan masih belum sehat betul.


    Dengan wajah kecewa yang dibuat-buat, ia melangkah ke kursi kedua dan duduk di samping Arthur yang tertawa melihatnya. Begitu Suryo duduk, sebuah sabuk pengaman meluncur keluar dari samping kanan dan kiri di masing-masing kursi mereka. Dan dengan bunyi "klik" yang nyaring sabuk pengaman itu mengunci.


    Begitu sabuk pengaman itu mengunci, kereta itu langsung melesat cepat sekali melewati terowongan yang panjang. Selama sepuluh menit mereka melewati terowongan tanpa ada pemberhentian. Semuanya diam mendengarkan Yeye yang menceritakan bagaimana mereka baru saja menggunakan portal pertemuan. Rupanya ada beberapa portal pertemuan di Indonesia. Dua di antaranya ada di Pulau jawa. Selain di Candi Borobudur, ada juga di Gereja Ayam.


Sebelum Yeye bercerita lebih lanjut, tiba-tiba Nainai memegang tangan Yeye dan memberi isyarat untuk diam.


"Lihat!" Kata Nainai sambil tersenyum dan menunjuk kedepan.


Gerbong kaca itu berhenti,


Terowongan didepannya buntu.


****


    Di belakang gerbong kereta yang mereka naiki, tiba-tiba ada pintu tebal dari beton yang perlahan-lahan menutup. dari atas kebawah. Kegelapan menyelimuti mereka.hanya lampu temaram dari rusuk besi yang melingkari gerbong kaca itu sumber cahaya satu-satunya. Tiba-tiba Wulan bisa mendengar suara yang menderu-deru semakin lama semakin keras. Dari kiri kanannya air mengalir dari celah celah beton dengan deras sekali.


    Wulan bingung, ada apakah gerangan? Dilihatnya Yeye dan Nainai yang tampak tenang saja. Ia pun jadi tenang. Pastinya Yeye dan Nainai sudah berpengalaman. Jika mereka tidak takut maka rasanya semuanya baik-baik dan aman-aman saja.


    Tiba-tiba...


    GrRADAAAKK....BRAK...


    Gerbong kaca itu jatuh dan menghantam rel di bawahnya dengan keras. Nainai berteriak kaget dan memegang tangan Yeye.


    "Ada apa ini?"


    "Nainai ini kenapa?" tanya Wulan panik.


    Nainainya tidak menjawab hanya memandang Yeye yang tampak sibuk memencet-mencet alkomnya.


    "Paraaah! Tidak ada sinyal!"


    Air di sekeliling gerbong kereta yang mereka naiki semakin naik dengan cepat. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, gerbong kereta yang mereka naiki sudah tenggelam sepenuhnya. Dan tidak berapa lama kemudian, air sudah mencapai langit-langit terowongan.


    Wulan melihat Suryo mencoba membuka sabuk pengamannya, ia pun mengikuti apa yang dilakukan kakak kembarnya. Namun sia-sia, sabuk pengaman itu tetap mengikat mereka dengan kencang di tempat duduk mereka.


    "Tolong! Tolong!" Teriak Suryo.


    Yang lain juga ikut panik dan mereka berteriak-teriak kebingungan.


    "Tolong diam di tempat duduk. Sebentar lagi kita akan melewati perjalanan laut. Selamat menikmati pemandangan bawah laut yang menakjubkan."


    Suara datar wanita yang tadi mereka dengar di stasiun berkumandang.


    Dari rusuk-rusuk besi bercat putih itu keluar tongkat-tongkat putih melintang. Masing-masing dua di tiap rusuk besi itu. Satu di kiri dan satu di kanan. Dan kemudian tongkat-tongkat itu bergerak menekuk ke samping untuk kemudian perlahan-lahan berputar semakin lama semakin cepat.


    Dan didepan mereka perlahan-lahan pintu beton yang sama bergerak membuka perlahan-lahan ke atas dan ke bawah. Begitu pintu itu membuka sepenuhnya, gerbong kereta kaca yang mereka naiki langsung meluncur dengan cepat.

__ADS_1


    Belum pulih dari keterkagetan mereka, di belakang mereka, Yeye dan Nainai tertawa terbahak-bahak.


    "Duh... ga tega sebener e lihat muka kalian. Hahahaha.... tapi kapan lagi bisa ngerjain cucu-cucuku yang tersayang ini....wkwkwkkwwkkw!" Yeye terlihat antusias sekali dan Nainai juga tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


    Wulan jadi tahu dari mana sifat jahil Suryo berasal.


    Birunya lautan menyambut mereka. Mereka semua terdiam.


    Apa yang mereka lihat indah sekali.Terumbu karang bewarna-warni membentang di bawah mereka, ikan-ikan kecil bewarna-warni berenang hilir mudik tanpa mempedulikan keberadaan mereka.


    "Ini indah sekali....." kata Arthur lirih.


    "Ya indah sekali."


    "Apakah kalian sudah sering melihat hal seperti ini?"


    "Ini pertama kali bagi kami juga."


    "Arthur bahagia sekali bisa bangun dan sadar. Tapi saya juga sedih...."


    "Kenapa?" tanya Wulan penasaran "Kenapa sedih?"


    "Banyak anak-anak lain di compund yang tidak bisa merasakan betapa indahnya dunia. Mereka bagaikan robot. Tidak bisa merasakan hangatnya matahari pagi, tidak bisa merasakan sejuknya angin di sore hari, tidak bisa merasakan rasa makanan. Dan..... tidak bisa merasakan hangatnya kasih dari orang lain."


    SNAP!


    Nainai menjentikkan jarinya, dan kaitan sabuk pengamannya langsung terbuka. Ia berdiri dan memeluk Arthur. Wulan dan Suryo yang melihat itu langsung berusaha juga menjentikkan jari mereka namun tidak ada yang terjadi.


    "Naaiiiii...." Suryo merengek dengan manjanya membuat Wulan  mengernyitkan dahinya dan melemparkan pandangan jijik. Namun Suryo malah menjulurkan lidah ke arahnya.


    Yeye terkekeh lalu dia menjentikkan jarinya juga dan berkata " Oke mereka boleh berdiri."


    Seketika sabuk-sabuk pengaman yang dari tadi mengikat mereka dengan bunyi snap-snap yang nyaring lepas kaitanya dan terkulai ke samping kanan dan kiri kursi.


    "Baik konfirmasi perjalanan model petualangan dimatikan." kata suara datar wanita AI lagi.


    Mereka semua menoleh ke arah Yeye yang terkekeh-kekeh.


    "Oh....ayolah kapan lagi kalian kan suka naik wahana permainan."


    "Ya bedalah!" kata Wulan dengan sengit membuat Yeye semakin terkekeh-kekeh.


    "Hmmm.... tapi memang seru, sih. Menegangkan. Tapi kalo di wahana permainan kan kita tahu bahwa keamanan kita dijamin." kata Suryo namun kemudian ia pun ikut tertawa membayangkan betapa luccunya mereka tadi jika dilihat dari sudut pandang Yeye dan Nainai. Sebagai seorang yang ahli dalam menjahili orang lain, Suryo mau tak mau mengakui bahwa kali ini Yeye dan Nainai benar-benar sukses dalam mengerjain mereka.


    "Patut dicontoh....Patut dicontoh." sambil manggut-manggut dan memegang dagunya Suryo membungkuk kepada Yeye tanda mengakui hebatnya permainan mereka.


    "Patut dicontoh ndiaaazzzmuuu!' dengan sengit Wulan memukul kepala Suryo membuat Suryo mengaduh-aduh selebay-lebaynya di depan Nainai.


    "Wulan jangan pukul kakakmu."


    "Tapii... Suryo..."

__ADS_1


    "Tetep aja yang mukul duluan yang salah." Nainai dengan tegas menepis Wulan sebelum Wulan sempat protes lebih lanjut.



__ADS_2