Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Masa lalu yang kembali


__ADS_3

Wulan melihat Arthur dan Aunt Yesha, entah kenapa dalam hatinya ia merasakan ada perasaan senang dan lega meskipun keadaan di sekitarnya masih gawat. Ia melihat Aunt Yesha merentangkan tangannya dan menyibakkan daemon-daemon yang melompat kearahnya dengan mudah. Wulan jadi teringat kisah Nabi Musa yang membelah lautan.


    Di sampingnya Suryo melompat ke arah Rakhta yang mencengkeram Rara, sheba dan milly juga tidak ketinggalan, keduanya menerkam satu kaki daemon itu dan menggigitnya membuat sebagian kaki Rakhta tercabik, membuat daemon itu oleng. Ditambah dengan serangan Suryo, mau tidak mau Rakhta melepaskan cengkeramannya ke Rara untuk menangkis batu reruntuhan candi yang dilontarkan Suryo ke wajahnya. Rara terjatuh dengan keras, namun dengan cepat gadis itu berdiri, sheba dan milly langsung merapat kepadanya.


    "Suryo, Wulan, Rara! mundur di belakangku!" kata Aunt Yesha yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Wulan. Arthur sudah memapah tubuh Mami di belakangnya. berdelapan termasuk sheba dan milly tentu saja merapat membentuk benteng dengan Aunt Yesha di ujung depan. Sementara di atas mereka, Wulan melihat bagaimana benda mirip mobil mirip pesawat masih bertarung dengan dengan daemon besar yang menyemburkan api dan Derrick. Benda itu terus menembakan cahaya keemasan yang berkilau seperti cahaya tembakan dari pistol Mami.


Ini memberi ide pada Wulan, Dihampirinya Mami yang dipapah Arthur, dalam keadaan pingsan, tangan Mami masih mencengkeram erat pistol-pistolnya. Dengan susah payah Wulan menarik pistol-pistol itu.


    Kedua pistol itu ia serahkan pada Rara yang menerimanya dengan wajah bingung. Namun hanya butuh sedetik bagi Rara untuk memahaminya. Di antara mereka hanya Rara yang belum cukup kuat kemampuan telekinesisnya. Ia belum sanggup melontarkan benda dengan cukup keras untuk dapat melukai daemon apapun. Kemampuannya untuk melukai daemon bergantung pada sheba dan milly yang jangkauan serangannya tidak cukup jauh. Dengan pistol-pistol itu, Rara dapat lebih banyak membantu mereka. Rara pun tersenyum dan dari matanya Wulan tahu gadis itu berterima kasih dengan tulus padanya. Sebersit rasa bersalah timbul di hati Wulan , ia ingat bagaimana tadi ia merasa sangat jengkel dan iri pada Rara. Ia bingung bagaimana bisa perasaan itu bisa timbul di hatinya, belum pernah seumur hidupnya ia merasakan itu, apalagi pada Rara yang sangat ia sayangi.


    Suara jeritan Rakhta mengembalikan Wulan ke situasi yang dihadapinya. Di depannya dilihatnya Aunt Yesha mengangkat tangannya dan melakukan gerakan puntiran, Wulan tak bisa menyembunyikan rasa puasnya, wajahnya menyeringai dengan senang ketika dilihatnya ekor kalajengking Rakhta terpuntir untuk kemudian terputus dari tubuh daemon itu. Suryo juga melonjak senang.


    Daemon-daemon di sekitar mereka berhenti, suara riuh rendah sumpah serapa mereka lambat laun hilang. Mereka tampak waspada dan perlahan-lahan mundur. Rakhta masih berkelojotan kesakitan, cairan abu-abu keunguan sama seperti cairan yang ia berikan pada Aldi menyembur keluar dari pantatnya.


    Rara yang memegang pistol di kedua tangannya tidak tinggal diam, dengan cepat ia mengarahkan pistolnya ke Rakhta dan menembaki daemon itu menimbulkan luka bakar besar di tubuh Rakhta. Rakhta menjerit-jerit melengking.


    Wulan mendengar Arthur tertawa, tawanya dari pelan kemudian meningkat terpingkal-pingkal.


    "Arthur? Kau kenapa?" tanya Suryo dengan bingung.


    "Uhm..uhm... maaf..."kata Arthur,"Tapi entah kenapa daemon itu seperti sedang berak...itu lihat dengan cairan yang menyembur dari pantatnya........"


    Wulan ternganga....bisa-bisanya Arthur...


    Aunt Yesha terkekeh geli, Suryo juga tertawa, Rara juga. Wulan memandangi Rakhta, daemon yang begitu kejam tadi kini berkelojotan, berteriak dengan melengking dan cairan menjijikkan yang terus menyembur keluar. Mau-mau Wulan harus mengakui Arthur benar, hal ini membuatnya ikut terkekeh.


    "Bless you Arthur."kata Aunt Yesha. Suaranya begitu lembut,"Di saat genting pun kau masih bisa menemukan humor di dalamnya."


    Rara masih terus menembakkan pistol-pistolnya. membakar daemon-daemon yang mencoba maju ke arah mereka. Sesekali ia mengarahkan tembakannya ke Rakhta.


    Tiba-tiba...


    Melesat dari atas dan mendarat persis di depan Rakhta, daemon besar yang bisa menyemburkan api. Dengan sayapnya, ia menutupi tubuh dan wajahnya sekaligus melindungi Rakhta dari kekuatan Aunt Yesha dan tembakan-tembakan Rara.


    Tembakan Rara mengenai sayapnya, namun hanya menimbulkan bekas hangus terbakar bewarna hitam yang dengan cepat memudar.


    Aunt Yesha menelengkan kepalanya. Diturunkannya tangannya yang terentang.


    Daemon itu berubah wujud menjadi pria tua lagi.


"Kau....."desisnya

__ADS_1


"Hallo gadis kecilku....."balas daemon itu,"Apakah kau merindukan aku?"


*******


    "Lama tak berjumpa gadis kecilku...."


    Wulan dapat melihat tangan Aunt Yesha yang gemetar. Dipandangnya lagi daemon di depan mereka. Siapakah gerangan daemon itu hingga dapat membuat Aunt Yesha gemetar....


    "Aku bukan gadis kecilmu!" kata Aunt Yesha dengan nada yang bergetar.


    Wulan memandang Aunt Yesha lagi. Ternyata ia salah.....


    Bukan karena takut Aunt Yesha gemetar, tapi lebih karena ia menahan amarahnya.


    "Hahahahhahahhaa.......Groaaakakkajahaha...." daemon itu tertawa keras, suaranya rendah, serak dan mengerikan."Selamanya kau adalah gadis kecilku. Begitukan caramu menyambut kakek buyutmu? Mana sopan santunmu? Apakah sudah hilang? Seingatku aku selalu mengajarimu bagaimana harus sopan pada yang lebih tua."


    Kakek buyut? Hah!


    Wulan berpandang-pandangan dengan yang lain, mereka juga tampak sama bingungnya.


    "Meskipun menyedihkan, tapi memang, perkenalkan anak-anak, dia memang kakek buyutku...."


    "EEEEHHH.......!!" Bersamaan Rara, Wulan dan Suryo terkesiap, hanya Arthur yang bengong karena ia tidak mengerti arti dari kakek buyut.


    "Favorit? Kau mengambil kedua bola mataku, itu yang kau bilang favorit?'


    Wulan menutup mulut dengan tangannya untuk menahan teriakan terkejutnya.


    "Hei...hei...hei.... Bukankah dengan begitu kekutanmu jadi jauh berkembang? Kau keras kepala sih, sudah kubilang jangan mengandalkan matamu, dengan  kekuatan pendengaran dan pikiranmu, matamu bisa menipu, dan kau masih saja mengandalkan matamu. Jadi ya jalan satu-satunya, mata yang jadi penghalang itu harus diambil."


    "Kau kejam sekali!" kata Suryo dengan penuh amarah.


    "Kejam? Anak kecil sepertimu jangan berani-berani mengataiku. Kejam? Kau lihat Yesha, LIHAT! Bukankah ia juga sama kejamnya? Tega sekali ia menyiksa inang pengasuhnya seperti ini." katanya sambil menunjuk Rakhta.


    Aunt Yesha tersenyum,"Aku tak peduli apa yang mau kau katakan Redroth! Kalian harus membayar atas semua yang sudah kalian lakukan padaku."


    "Ho..ho.....Tapi mampukah kau Yesha?" Redroth memandang Aunt Yesha lekat-lekat, bibirnya tersenyum mengejek. Lalu tiba-tiba dengan secepat kilat ia melompat dan berubah wujud, lalu menyemburkan api yang sangat panas ke arah mereka.


    Aunt Yesha dapat menghindari dengan mudah, tapi tidak dengan yang lain, apalagi Arthur yang masih memeluk Mami. Ia berusaha berguling ke samping, tapi ia terlambat. Semburan Api yang sangat panas membakar kaki Mami.


    Arthur berusaha memadamkan api itu dengan menepuk-nepuknya tapi api itu justru menjalar ke tangannya membuatnya menjerit kesakitan.

__ADS_1


    Suryo dan Wulan hanya bisa menatap ngeri ketika api semakin membesar melalap tubuh Mami dan Arthur. Tiba-tiba dari arah samping setumpuk tanah mengguyur tubuh Arthur dan Mami memadamkan api itu dengan cepat. Wulan menoleh dan tiba-tiba ia merasa malu sekali.


    Selama ini ia merasa kemampuannya jauh di atas Rara, dari mereka berempat, menurutnya Rara yang paling lemah dan tidak bisa diandalkan. Tapi.....


    Disaat ia dan Suryo hanya bisa terpaku ngeri melihat Mami dan Arthur terbakar, Raralah yang berpikir dengan cepat dan dengan kekuatannya memindahkan tanah disekitar mereka untuk memadamkan api. Dilihatnya Rara yang berdiripun masih dalam keadaan sempoyongan kembali jatuh terduduk, sheba dan millie di sampingnya tetap dalam keadaan siaga.


    Cepat-cepat dihampirinya Rara dan membantunya berdiri, sementara Suryo membantu Arthur untuk memapah Mami. Aunt Yesha mengambil posisi didepan mereka.


    "Kalian mundur sampai ke gapura." Bisiknya.


    Tanpa membantah mereka mundur perlahan, menaiki undak-undakan lumayan banyak untuk sampai ke gapura. Aunt Yesha menahan daemon-daemon yang ingin mengejar mereka dengan kekuatannya. Sementara Rakhta sudah berhenti menjerit, ia sudah berubah wujud menjadi wanita tua dengan rambut keperakan, ada luka besar menganga dari punggung sampai ke pantatnya.


    "YESHAAA KAU MANUSIA LAKNAT!" jerit Rakhta penuh amarah.


    "Ssssst....!" tapi Redroth menariknya saat ia hendak menyerbu Aunt Yesha membuatnya kembali jatuh berdebam ke tanah.


    "Menarik, siapakah anak-anak ini Yesha?" matanya menyipit,"Hooooo, inikah mereka? Tujuh belas tahun yang lalu, aku gagal mendapatkan mereka. Membuat Dia Yang Agung menghukumku, menurunkan jabatanku hingga hanya menjadi ketua di negara ini. Sekarang mungkin ini waktuku untuk menebus kesalahannku itu........aaaah tapi berkat kejadian itu aku bisa mendapatkan kekuatan api ini."


    "HOIIIIII!"teriak Redroth lantang," Siapa diantara kalian anak dari wanita api itu? Menyerah sajalah, daripada kau mati menyakitkan seperti ibumu.....HAHAHAHAHAH!"


    Wulan merasa marah sekali. Dipeluknya Rara, ia dapat merasakan bagaimana tubuh Rara yang gemetar dan ia dapat mendengar Rara yang terisak sedikit. Iapun mempererat pelukannya.


    "Rara ngga pa pa, Lan." kata Rara pelan. Wulan memandangnya dan Rara membalas pandangannya lalu mengangguk kecil, mau tak mau Wulan merasa bangga pada Rara. Rara yang biasa lemah ternyata tidak mudah diintimidasi. Ia tidak bisa membayangkan jika ia yang berada di posisi Rara, dimana pembunuh orang tuanya ada di depannya, entah apakah Wulan bisa setenang Rara.


    Dari atas, mobil peawat yang sedari tadi berduel dengan Derrick rupanya berhasil menyingkirkan Derrick. Wulan tidak dapat menemukan Derrick. Mobil itu terbang merendah di atas mereka, sebuah panel di sampingnya bergeser lalu dari dalamnya, Uncle Hugh, Yeye dan Nainai melompat keluar.


    Yeye dan Nainai menoleh ke arah mereka, tersenyum lalu dengan bergandengan tangan mereka berdua berjalan dan berdiri di samping Aunt Yesha dan Uncle Hugh.


    Redroth hanya tersenyum," SERAAANG MEREKAAA!"


    Rakhta dan puluhan daemon yang masih bertahan maju bersamaan, mulai menyerang mereka.


    Aunt Yesha, Uncle Hugh, Yeye dan Nainai ternyata hebat sekali, dengan kekuatan mereka, mereka berhasil menahan daemon-daemon itu, bahkan beberapa diantaranya hancur terbakar, ada yang tertusuk pasak perak yang dilontarkan Yeye dan Nainai, ada yang terkena tembakan dari pasak yang dipegang oleh Uncle Hugh. Sementara Aunt Yesha dengan kekuatan telekinesisnya yang luar biasa menahan daemon-daemon yang berusaha mendekati mereka. Belum lagi kekuatan petir yang dikeluarkan Uncle Hugh, membuat para daemon itu seperti terpatri di tanah tak bisa bergerak.


    Wulan memandang itu semua dengan takjub, diliriknya Suryo. Mau tak mau, ia merasa gelei melihat wajah kembarannya yang melongo dan kelihatan bloon sekali.


    "Mereka hebat sakali ya?"kata Arthur dengan penuh kekaguman," Tadi waktu di compound juga."


    Wulan teringat bagaimana tadi ia merasa dirinya hebat saat Derrick pura-pura kalah, sekarang Wulan jadi merasa malu sekali.


    "Saat mereka sibuk, bagaimana kalau kita bersenang-senang sendiri?"

__ADS_1


    Di depan mereka, di tengan tangga undak-undakan menuju gapura tempat mereka berada Redroth berdiri memandang mereka dengan senyum penuh kemenangan.


__ADS_2