
Suryo merasakan angin menerpa helm yang dikenakannya. Belum pernah ia merasa sesenang ini seumur hidupnya. Motor hadiah ulang tahunnya melebihi segala ekspetansinya, hanya dibutuhkan satu koma lima detik untuk berakselerasi dari kecepatan nol ke seratus kilometer per jam.
Tentu saja motor ini juga dilengkapi chakra, jadi bahan bakarnya selalu terbarui. Fitur-fitur terkini juga sudah ditambahkan. Seperti kekuatan magnetnya yang mampu membuat motor itu melayang setinggi tiga meter dari tanah. Dilengkapi pula dengan kantung udara pengaman yang akan berkembang otomatis jika motor ini sampai tiba-tiba kehilangan daya magnetiknya. Meskipun sampai saat ini hal itu belum pernah terjadi.
Dipencetnya tombol pengaktif daya magnet yang terletak di sebelah kiri. Dengan mulus tanpa hentakan sedikit pun motor itu terangkat ke atas. Dibungkukan badannya dan dengan penuh semangat dipacunya motor itu. Dengan mengaktifkan daya magnetic sensasi yang dirasakannya jauh berbeda lagi. Tidak ada lagi gesekan antara roda dan jalan, hasilnya motor itu mendapat tambahan kecepatan.
Ia menikung, menukik, meliak-liuk di atas lintasan semua dilewatinya dengan mudah. Setelah menyelesaikan satu putaran, diturunkan motornya sampai menyentuh jalan lagi. Dan dipacunya sekali lagi, kali ini ia ingin menyelesaikan satu putaran secara biasa.
Aldi menunggunya di pit stop. Dengan tergesa-gesa diambilnya helm dari tangan Suryo.
"Uiiiih.. gilak Yo!"
"Tau ga berapa kecepatanmu per lap tadi?"
"Ehhh...berapa? Berapa?"
"Semenit sebelas detik!! O MY GOD!"
"Sirkuit ini panjange lima ribu dua ratus dua puluh lima meter! Dan kau selesaiin dalam waktu semenit sebelas detik!"
"Rekor dunia , bro!"
Suryo hanya cengar cengir, dibiarkannya Aldi nyerocos. Di belakang Aldi ia bisa melihat beberapa orang. Ia melihat Bapaknya Aldi dan dua orang pria lain. Mereka berbicara serius dan sesekali pandangan mereka tertuju pada Suryo.
Suryo jadi salah tingkah. Hidungnya kembang kempis karena ia merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Uhhh...coba muter lagi Yo. Tadi lupa, belun post di IG."
"Selamat malam."
Bapak Aldi dan kedua orang yang berbincang-bincang dengannya mendekati mereka. Salah seorang dari mereka menyapa Suryo. Keduanya orang asing. Satu berambut pirang dan satunya lagi berambut coklat. Warna mata mereka sama-sama ungu kemerahan.
"Suryo, perkenalkan ini temen om. Mereka dari tim balap Roaring."
Suryo semakin tak dapat menahan dirinya. Siapa yang tidak mengenal tim balap Roaring yang sudah mendunia dan banyak menjuarai kejuaraan balap baik balap motor seperti motogp dan balap mobil formula satu.
Cepat-cepat ia turun dari motornya. Dan dengan sedikit membungkuk disambutnya uluran tangan mereka.
"Halo, Suryo bukan? Perkenalkan saya Allen Schwan dari Tim Balap Roaring. Kebetulan tadi kami sedang meninjau sirkuit. Dan tak disangka kami melihat ini. Kamu benar-benar berbakat. Dan tidak usah basa-basi kami akan sangat senang jika kamu mau bergabung di tim balap kami sebagai pembalap junior kami."
Aldi ternganga dan tangannya langsung menepuk-nepuk punggung Suryo. Ia ikut merasa bahagia dan bangga untuk sahabatnya.
"Tentu saja, oh tentu saja itu akan menjadi kehormatan buat Suryo." Suryo hampir tak bisa bernafas saat menjawabnya.
"Ah tapi, Suryo harus minta ijin dulu dengan orang tua Suryo."
Tiba-tiba saja perasaan bahagia yang mengembang begitu besar di dadanya kempes seketika. Ia teringat Mami. Suryo tak tahu apakah Mami bakalan mengijinkannya. Mengingat Mami bahkan tak tahu mengenai hadiah motor ini.
Sebuah ide muncul di kepalanya.
"Om, Om Santo..." panggilnya ke ayah Aldi.
"Om Santo bisa ngga bantu bicarain ke Yeye tentang hal ini. Nanti biar Yeye yang bicara ka Papi Mami."
Om Santo tersenyum, ia tahu bagaimana Papi dan Mami Suryo akan selalu menurut pada apapun kata ayah dan ibu mereka.
"Ide brilliant, tenang nanti biar Om yan bicara ke Yeye. Om akan bangga sekali jika ada orang Solo yang jadi pembalap internasional."
Suryo mendengar suara anjing-anjing yang menggonggong semakin mendekat. Dilihatnya Wulan dan Rara, tampak Rara kelihatan kewalahan menahan anjing-anjing itu. Baru kali ini Suryo melihat anjing-anjing itu bertingkah demikian.
sheba, batrix dan milly adalah anjing-anjing yang sangat manis. Apalagi jika bersama Rara. Mereka anjing-anjing yang tenang, bahkan dulu ada anak burung yang jatuh dari sarangnya dan ditemukan batrix. batrix mencengkeram burung itu di mulutnya dengan lembut dan membawanya untuk kemudian ia letakan di pangkuan Rara. Semua yang melihat waktu itu begitu kagum. Bagaimana pintarnya ternyata seekor anjing itu.
Namun kini, ketiga anjingnya belari dengan menyeret Rara di belakangnya, Wulan tampak mengejar juga berusaha membantu Rara namun tampaknya ia tak bisa banyak membantu karena Suryo melihat Wulan seperti membawa sesuatu yang bewarna hitam di pelukannya. Mereka menggonggong tak henti, sesekali mereka menggeram dan memperlihatkan taring mereka.
Mereka terus berlari dan kemudian tiba-tiba berhenti di depan Suryo dan menggeram dengan menakutkan ke arah Allen Schwan dan rekannya. Tubuh mereka sedikit membungkuk, bulu-bulu di tengkuk mereka berdiri. Allen dan rekannya mundur seketika tangan mereka secara reflek terangkat melindungi wajah mereka.
Suryo malu sekali, bagaimana mungkin di saat-saat seperti anjing-anjingnya malah bertingkah. Diliriknya Rara dengan kesal. Tampak Rara terengah-engah kehabisan napas dan masih berusaha menenangkan anjing-anjingnya. Dilihatnya Wulan juga berhenti dengan terengah-engah, kedua tangannya memeluk sesuatu.
Benda dalam pelukan Wulan menganggkat kepalanya dan mengeluarkan desisan, pandangan nya juga ke arah Allen dan rekannya.
"Woa...woaaa...wooo, kenapa ini?"
"Maaf, maaf Om, ngga biasanya mereka begini. Mungkin mereka belum pernah melihat orang asing. Hahaha...." kata Rara dengan gugup.
Dari sudut matanya Suryo melihat, Allen dan rekannya berbisik-bisik. Dan Suryo terkejut, sekilas ia seperti melihat mata mereka menyala.
"Suryo, Wulan, Rara, AYO PULANG!"
Suryo, Wulan dan Rara kaget bukan kepalang. Mr. Minus tiba-tiba saja muncul dengan mobil keluarga mereka dan yang membuat mereka sangat kaget bagaimana suaranya bisa berbeda. Begitu tegas, keras dan penuh tenaga.
"Eh..tapi.."
Mr. Minus tidak mengatakan apapun, ia hanya bergegas menarik Suryo, dan membungkuk ke arah Om Santo dan Aldi.
"Maaf ada urusan mendadak. Mereka diminta pulang"
Tanpa penjelasan lebih panjang diseretnya Suryo menuju mobil. Adiknya dan Rara mengikuti di belakangnya dengan bingung. Anjing-anjing mereka mengikuti di belakang mereka sambil sesekali berbalik dan menggeram seolah-olah memberikan peringatan agar jangan mengikuti mereka.
****
Mereka sampai di rumah dalam waktu yang lebih cepat daripada waktu mereka berangkat. Entah kenapa, Suryo merasa Mr. Minus menyetir tidak seperti biasanya. Kali ini ia menyetir jauh lebih cepat.
Ngebut malah.
Suryo tidak tahu harus berpikir apa. Sepanjang perjalanan tadi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dan entah kenapa, saat Suryo mencuri pandang, ia merasa Mr. Minus jauh tampak lebih muda.
Di kursi tengah, Rara dan Wulan tampak sibuk berusaha mengobati kucing hitam yang mereka temukan. Kucing itu mengalami luka yang cukup serius di bagian samping kiri tubuhnya. Mereka mencoba membalut tubuh kucing itu dengan pengobatan seadanya yang bisa mereka temukan dari kotak p3k yang ada di dalam mobil.
Kata Wulan, saat tadi mereka sudah hampir selesai jalan-jalan, karena tidak ada orang lain di taman itu, Rara melepaskan anjing-anjing mereka dari tali kekangnya dan membiarkan mereka bebas bermain. Tak lama kemudian sheba kembali dengan seekor kucing hitam yang ia bawa di mulutnya. Pada awalnya mereka mengira kucing itu sudah mati. Namun saat Rara menggendongnya, kucing itu mengeong pelan. Membuat mereka terkejut dan memutuskan untuk cepat-cepat kembali.
Pada saat itulah, saat mereka selesai memasang tali kekang, batrix mulai menggeram-geram dan menyalak diikuti kedua anjing lain dan tiba-tiba berlari menuju sirkuit tempat Suryo berada.
Rara sebenarnya meminta untuk menurunkan ke klinik hewan langganan mereka terlebih dahulu tapi Mr. Minus hanya menjawab..
"Tidak!"
Titik.
Dan anehnya di antara mereka tidak ada yang membantah. Mungkin karena Rara dan Wulan sibuk berusaha mengobati kucing itu, sedangkan Suryo masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
Meow......meow... kucing itu mengerang pelan. Membuyarkan lamunan Suryo. Tak terasa mereka sudah sampai rumah. Lampu-lampu di rumah menyala semua. Ini aneh.....
Biasanya, mereka hanya menyalakan lampu depan, lampu belakang dan lampu-lampu di ruangan yang sedang mereka gunakan saja. Tapi ini, seluruh lampu rumah menyala. Sampai lampu gudang pun dinyalakan. Dari jauh rumah mereka tampak seperti ada festival lampu.
Mr. Minus membuka pintu gerbang otomatis lewat remote control. Setelah selesai memarkir mobil, ia turun dengan tergesa-gesa. Membuka pintu tengah...
"Bawa kucing itu ke Nainai. Dia akan tau apa yang harus dilakukan."
*****
Rara bengong.
Apa pula maksud Mr. Minus? Nainai bukan dokter hewan. Bahkan selama ini Nainai tidak terlibat sama sekali dengan perawatan anjing-anjing mereka.
Dengan hati-hati diambilnya kucing itu dari tangan Wulan. Lalu bersama-sama mereka masuk ke rumah.
"Itu serangan ketiga yang terjadi bulan ini. Sudah tak bisa diabaikan lagi, Ma."
"Wo zidhao ni hen tanxin." (aku tahu kau sangat khawatir)
Rara, Wulan dan Suryo terdiam. Orang tua dan kakek neneknya jarang berkumpul di ruang keluarga dan berbicara serius seperti ini. Tampaknya ada sesuatu yang benar-benar serius yang sedang terjadi.
"Tapi, mereka tidak perlu hidup seperti itu. Sangat berbahaya... Aku tidak akan sanggup kehilangan mereka......sobs...sobs." Mami terisak-isak.
"Sayang, pada akhirnya kau tahu hal ini tak terelakan seberapa besarpun usaha kita untuk membuatnya tak terjadi."
"Aku tahu.. aku tahu.... semuanya karena ramalan itu, jika saja..."
Saat Rara, Wulan dan Suryo memasuki ruangan tiba-tiba saja percakapan mereka terhenti. Mata Mami dan Nainai terlihat merah. Namun mereka masih menyambut mereka dengan senyum lembutnya.
"Eh Mami, Suryo bisa jelaskan koq. Itu memang Suryo yang minta kado itu. Mami jangan marah. Jangan salahkan Yeye dan Nainai juga."
Mami tersenyum mendengarnya. Namun senyuman itu terlihat begitu sedih. Rara tak tahan melihatnya. Cepat-cepat didekati Maminya dan dengan satu tangan masih merangkul kucing, dengan tangannya yang lain dipeluknya pundak Maminya. Mami balas memeluknya, dan isakan tangisnya justru bertambah keras.
"Ada apa ini, Mam? Pap?" Wulan tidak bisa menyembunyikan kebingungannya.
Dari belakang Wulan, Mr. Minus masuk.
"Mereka ada di depan."
Yeye menatapnya dengan tegang.
Nainai berdiri dengan tenang.
"Jika memang demikian, mari kita hadapi mereka."
****
Wulan tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dilihatnya Nainai, Yeye dan Mr. Minus keluar ruangan. Ia berdiri hendak mengikuti mereka, tapi Papi langsung menahannya.
Suara musik dari band kesukaan Suryo tiba-tiba memecah keheningan mereka. Dilihatnya layar handphonenya, ternyata Om Santo.
"Iya Om, Hallo?"
"Hello Suryo this is Allen. Sorry tadi kita tidak bisa berbicara lebih lanjut. Tapi kami benar-benar serius ingin merekrutmu. Boleh kita berbicara lebih lanjut. Saat ini kami berada di depan rumahmu. Bolehkah kami masuk?"
"Eh....kalian di depan rumah?"
"Eh anu Pi, td dr tim balap. Mereka sudah di depan dan mau masuk untuk bicara sama Papi Mami. Bentar...."
Belum selesai Suryo berbicara, Papi sudah merebut handphone dari tangannya.
"YOU'LL NEVER EVER.....EVER GET INSIDE MY HOUSE."
Rara melongo, seumur hidupnya belum pernah dilihatnya Papi membentak orang. Baik pada anak-anaknya, pegawai, pada Mami, pada Yeye Nainai apalagi pada orang asing yang tidak ia kenal.
Biasanya Mamilah yang lebih vokal, lebih banyak ngomel dan bawel. Tapi ini.....
Sebenaranya ada apa sih ini? Ia melemparkan pandangannya pada Wulan dan Suryo. Mereka berdua tampak sama bingungnya seperti dirinya.
"Mami, Papi sebenarnya apa yang terjadi?"
"Ada hubungannya dengan motorku?"
"Iya ini kenapa, kok tegang dan heboh banget. Wulan ngga ngerti deh."
"Sssst......" Papi berdiri dan mengambil remote tv, dihidupkannya televisi. Sekilas berita terjadi serangan yang tak dapat dijelaskan di kota mereka, korbannya ditemukan seperti habis dimakan binatang buas.
Papi menskip berita itu dan langsung mengubah ke saluran cctv rumah mereka. Dan membesarkan gambar yang memperlihatkan depan gerbang rumah mereka. Ada mobilnya Aldi disana. Tampak tiga orang turun dari mobil itu. Ada Allen dan rekannya yang mereka sudah lihat sebelumnya. Dan seorang lagi yang tidak mereka kenal.
Ketiganya berdiri tegap menghadap gerbang. Orang yang ketiga itu tinggi, rambutnya gelap dan tampan sekali. Ia mendongak, tersenyum ke arah kamera.
Rara kaget melihatnya.....
Mata orang itu merah menyala.
****
Derrick mendongak, ia tersenyum. Rumah di depannya tergolong besar, namun tidak mewah. Bergaya zen minimalis. Disekitarnya hanya ada tanah-tanah kosong. Tampaknya ini sebuah perumahan baru yang penghuninya belum banyak.
Ia menelengkan kepalanya.
Ia penasaran siapa penghuni rumah itu. Diliriknya Allen yang menutup handphonenya.
Yah....tampaknya tidak berhasil. Mereka tak mendapat undangan masuk. Seperti biasa dan sesuai dugaannya, Allen selalu gagal. Ia ada disini dan mau bergabung dengan Allen hanya karena buruannya terakhir menunjukkan berada disekitar sini.
Alat pelacaknya tampaknya rusak karena tidak mengirimkan sinyal lagi. Jika bukan karena mereka langsung di bawah Ketua ranting seAsia, tidak mungkin Derrick sudi bekerja sama dengan mereka.
Ramone, rekan Allen tampak tak sabar, dan melangkah maju menuju ke pintu gerbang. Tangannya terjulur ke pegangannya....
Dan tiba-tiba, ia terpental.
Derrick tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin se noob ini bisa menjadi bawahan langsung Ketua Ranting Asia?
Allen kelihatan sangat terganggu.
"Woi tolol! Kau tak bisa melihat aura yang menyelimuti rumah ini? Ada yang melindungi rumah ini dan penghuninya jelas tahu tentang kita."
Ramon memandang Derrick dengan sengit. Bagaimana mungkin ketua compound rendahan ini mengguruinya. Dikibaskannya bajunya dari tanah yang menempel.
__ADS_1
Derrick terkekeh lagi. Ia menjentikkan jarinya. Dan ia mematahkan ranting pohon, lalu dijulurkannya ranting itu ke arah interkom. Dan dengan ranting itu ia menekan tombol interkomnya.
"Halo? Siapa di dalam? Begini meskipun kalian tidak mengijinkan kami masuk, kami bisa dengan mudah masuk ke rumahmu. Jadi daripada sia-sia dan nanti berantakan sudahlah biarkan kami masuk, oke?"
Hening......
Tck....tidak ada jawaban.
Derrick tidak sabar lagi. Ia bersiap-siap dipencetnya tombol di jam tangannya, tombol stopwatch. Ia ingin menghitung waktu yang diperlukannya untuk menyelesaikan masalah ini untuk kemudian bisa ia pamerkan dan sombongkan di depan yang lain. Dikeluarkan pistol dari sakunya.
Sebelum ia mulai menyerang, dari sampingnya Allen sudah langsung melakukan serangan. Ia melemparkan mobil yang tadi dikendarainya ke pintu gerbang.
Cih.... dasar amatir. Derrick geleng-geleng kepala. Tampaknya Allen dan Ramon tak rela jika sampai Derrick yang banyak berperan dan mencuri kemenangan mereka. Namun serangan mereka benar-benar amatir. Untuk apa coba harus melemparkan mobil itu. Mana mobil bagus lagi. Cukup satu tembakan kecil ke motor penggerak gerbang saja sudah cukup untuk membuka gerbang itu.
Tapi yah...maklumlah....Ya begini ini kalau mendapat kedudukan hanya karena kau kesayangan dan dijadikan oleh ketua ranting sendiri.
Mobil itu menabrak gerbang dengan keras. Gerbang yang berat itu terpental ke dalam. Sementara mobilnya masih berputar terguling-guling sejauh lima meter sebelum terhenti dengan posisi terbalik.
Di dalam gerbang itu, Derrick melihat halaman yang cukup luas. Lampu-lampu rumah itu menyala semua, menyilaukan.
Namun tidak menyakitinya. Hanya mereka yang kelas rendahan yang akan terluka oleh cahaya lampu. Bukan dirinya.
Tampak di antara kebulan debu, tiga orang berdiri.
Tiga orang tua....
Ramon terkekeh, dan langsung melesat menuju nenek tua yang menurutnya tampak paling lemah di antara ketiganya. Sambil berlari ia bertransformasi.
Dari pungunggnya keluar tanduk-tanduk, tangan dan kakinya memanjang dan membesar, kuku-kuku yang lancip dan setajam pisau berburu keluar dari ujung-ujung jarinya. Dari dahinya keluar satu tanduk lagi. Gigi taringnya memanjang. Dengan satu lompatan ia menyerbu nenek tua itu.
Mobil yang terguling tadi melesat menghantam Ramon dengan keras. Dan menindih Ramon. Seberapa kuat Ramon berusaha ia tak dapat menggerakan mobil itu.
Derrick tersenyum Seperti dugaannya, mereka bukan orang biasa. Nenek tua itu, itu memandangnya dengan tajam. Tangan kanannya masih terangkat dan ia menggerakkan mobil dari jarak jauh naik turun dihunjamkan berkali-kali ke tubuh Ramon. Derrick bisa mendengar Ramon berteriak kesakitan.
Ia terkekeh, sukurin.....Siapa suruh tolol banget. Lagian biarlah ia tersiksa sedikit toh itu tidak akan membunuh Ramon.
Allen menggeram marah. Diliriknya Derrick dengan kesal karena malah terkekeh. Ia melangkah maju dengan pelan tidak mau segegabah Ramon.
Pria tua di sebelah kiri maju ke depan. Tangan kanannya diarahkan ke pot bunga terbesar yang ada, dan dengan satu sentakan pot bunga itu meluncur cepat ke arah Allen.
Allen hanya berdecak, tubuhnya sudah berubah sepenuhnya. Jika Ramon memiliki satu tanduk di kepala, Allen mempunyai dua tanduk. Ia menggeliat dan dari punggungnya muncul lagi sepasang tangan yang besar panjang dan juga berkuku tajam dan lancip. Dengan tangan yang baru muncul itu ditahannya pot bunga itu dan dibantingnya ke tanah.
Sudah cukup main-mainnya.
"DERRICK! SAMPAI KAPAN KAU AKAN MENONTON SAJA!"
Tck... padahal ini akan jadi tontonan menarik. Derrick berencana akan membiarkan mereka saja yang bertempur. Dan Ia hanya akan mulai membantu di akhir. Namun dari sudut matanya, ia bisa melihat sebuah drone yang melayang di atas mereka.
Ada yang mengawasi mereka.
Tak ada pilihan lain. Ia menyeringai dan mulai berubah.
Ini akan menjadi pertempuran yang menarik.
****
Wulan melongo.Ia tak percaya apa yang baru mereka lihat di layar tv mereka. Dilihatnya Suryo dan Rara. Mereka tampak sangat terkejut juga. Jika rahang ini bisa copot, mungkin rahang Suryo sudah copot dan jatuh ke lantai, melihat betapa besarnya mulutnya ternganga.
Di layar tv, mereka melihat pertempuran masih berlanjut. Sesekali Wulan menahan napasnya melihat bagaimana monster-monster itu menerjang ke arah Yeye, Nainai dan Mr. Minus.
Monster yang tertahan di bawah mobil berhasil membebaskan dirinya. Nainai menggerakkan mobil itu untuk menghantam monster yang berubah terakhir yang hendak menyerbu Yeye. Monster itupun bergabung dengan rekan-rekannya.
Kecepatan mereka luar biasa, sangat sulit mengikuti pergerakan mereka. Namun luar biasanya, Yeye, Nainai dan Mr. Minus bisa mengimbangi mereka.
Hanya Mami yang tidak melihat ke layar tv. Kepalanya tertunduk dan tangannya terlipat. Mulutnya berkomat-kamit memanjatkan doa.
Wulan memutar bola matanya. Bagaimana mungkin saat seperti ini, Mami malah berdoa saja. Memang dengan berdoa, monster-monster itu akan meledak dengan sendirinya....
Ia berdiri.
"Pi, kita harus melakukan sesuatu. Perlukah kita menelpon polisi untuk bala bantuan."
Papi hanya terdiam. Di layar tv, mereka melihat, Yeye, Nainai dan Mr. Minus mulai kewalahan. Bagaimanapun juga usia mereka sudah tidak muda. Dari arah belakang rumah, tiba-tiba tiga sosok melesat.
batrix, sheba dan milly.
Mereka menggonggong dan menggeram, berlari keluar dan menerjang ke arah monster-monster itu tanpa rasa takut. Mereka bertiga menerjang ke arah monster pertama yang tertindih mobil tadi saat monster itu hendak menusuk Mr. Minus dengan kukunya.
Mereka bertiga bersamaan menerkam kaki monster itu. Hingga monster itu terjatuh. Mr.Minus melompat, ditangannya ia memegang sebuah pasak, ditindihnya monster itu, dan dengan cepat dihunjamkannya pasak itu ke dada tempat jantung monster itu berada.
Suara jeritan yang mengerikan terdengar sampai ke dalam rumah. Monster itu berkelojotan, kejang-kejang dan dengan satu jeritan terakhir, monster itu menjadi kobaran api untuk kemudian menghilang.
Mr. Minus sudah melompat mundur menghindari api, begitu pula batrix, sheba dan milly. Ia tersenyum dan mengacak kepala batrix.
"Good girl..."
Ia merasakan sakit yang luar biasa di perut bawah nya. Ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir, darahnya mengucur keluar. Ia hanya mengibaskan kepalanya bergegas membantu Yeye dan Nainai dengan ketiga anjing itu berlari di sampingnya.
Monster kedua yang memiliki sepasang tangan tambahan di punggungnya menggeram keras saat ia melihat rekannya berkobar dan menghilang. Dan dari punggungnya tumbuh ekor yang memanjang seperti ekor kalajengking.
Ekor itu menyabet ke arah Nainai yang sedang sibuk menghadapi monster ketiga yang tampaknya paling kuat diantara mereka. Nainai terpaku, ia terlambat menyadari datangnya serangan itu. Dari samping nya melesat batrix. Anjing itu menerkam ekor itu dengan mulutnya. Rahangnya mengatup tidak melepaskan ekor itu sampai tubuhnya ikut terangkat ke udara ketika monster itu mengibaskan ekornya berusaha melepaskan diri dari gigitan batrix. Dengan tak sabar monster itu mengeluarkan geraman mengerikan. Dihempaskannya batrix ke tanah. Dan tanpa ampun ujung ekornya yang lancip menghunjam ke tubuh batrix. Lalu dikibaskannya tubuh anjing itu hingga menghempas tembok pos satpam.
batrix mengeluarkan dengkingan pelan dan kemudian diam tak bergerak.
"Nooo..." Rara berteriak dan tangisnya pecah. Wulan terkesiap. Sementara Suryo langsung berdiri dan mulai berlari keluar.
Papi menahannya.
"PAPI! AKU TIDAK AKAN DIAM SAJA SEMENTARA MEREKA BERUSAHA MEMBUNUH KELUARGA KITA!"
"Kamu hanya akan mengganggu, Tunggu di sini, percaya kata-kata Papi. Jangan keluar dan mengganggu konsentrasi Yeye Nainaimu."
"Papi akan menghubungi polisi?" tanya Wulan
"Polisi tidak akan bisa membantu. Mereka hanya akan menjadi korban. Tunggu disini. Papi tahu harus menghubungi siapa untuk bantuan."
Dan tanpa penjelasan lebih lanjut Papi berjalan menuju kamar Yeye dan Nainai. Di dalam kamar, Wulan bisa melihat Papinya mengambil sesuatu dari laci yang selalu terkunci selama ini.
Sebuah handphone.
__ADS_1
"Hallo....Aunt Yesha?"
****