Anak-anak Cahaya

Anak-anak Cahaya
Dia yang berbeda


__ADS_3

Derrick terengah-engah. Mulutnya berdarah. Namun dengan cepat pulih lagi. Sebuah pukulan lain mendarat di mukanya.


Dengan menyeringai dipandangnya mereka yang memukulnya. Entah kenapa, itu tambah membuat mereka marah. Mereka tambah kesetanan memukulnya. Meskipun sebenarnya mereka demua memang daemon. Jadi mungkin istilah kesetanan kurang tepat. Ada lima daemon yang sudah lebih dari dua jam menyiksanya. Namun toh seberapa keras mereka menyiksanya, dengan cepat ia akan pulih. Meskipun rasa sakitnya masih bisa ia rasakan.


"WKWKWWKKW....CUMA SEGITU AJAA? CUIH....! GA ADA RASANYA.....WKWKKW."


Daemon di depannya mendesis, dengan kekuatan penuh, tangannya yang berkuku panjang diayunkan ke dada Derrick, merobek dadanya.


Derrick menelengkan kepalanya, dengan tersenyum dan digoyangkan kepalanya, dadanya langsung pulih kembali. Ia nyengir ke arah daemon yang melukainya. Satu persatu dipandangnya mereka. Baik-baik ia ingat wajah mereka. Suatu saat ia akan membalas mereka. Lagian mereka bisa menangkapnya dikarenakan, ia sedang kehabisan tenaga sehabis bertarung dan terbang sebegitu jauh. Jika tidak mana mungkin daeomn-daemon rendahan ini bisa menangkapnya.


Ia berada di ruangan yang gelap. Kedua tangan dan kakinya terikat dengan borgol khusus terbuat dari titanium yang dihubungkan ke pasak dari bahan titanium juga. Sinar lampu ultraviolet di arahkan ke tangan dan kakinya.. Sinar itu sama sekali tak melukainnya. Bagi daemon kelas rendahan sinar itu bisa membakar mereka. Namun tidak buat Derrick. Sebenarnya mudah baginya menghancurkan borgol-borgol itu. Tapi ia harus bersabar, ia harus berpura-pura lemas.


Di belakang daemon-daemon yang menyiksanya ia bisa melihat ada meja tulis besar. Dan ada sosok di baliknya yang sedang duduk di kursi dan membelakanginya.


"Mau sampai kapan ini? Bosan loh, cuma-cuma gini-gini aja. Apakah Ketua Ranting Yang Terhormat Sang Pembawa teror hanya punya anak buah yang cuma bisa begini? Apakah dia tidak bisa turun tangan sendiri? Oooohh...apakah mungkin dia sudah terlalu tua sehingga sekarang jadi lemah jadi harus diwakilkan ke anak bu...."


"CUKUUUUP!!!"


Dari balik meja, kursi itu berputar. Derrick melihat sesosok wanita setengah baya. Rambutnya lurus berwarna keperakan. Wanita itu kemudian berdiri. Berjalan perlahan mendekatinya.


Wanita itu mendengus-ndengus sambil menempelkan hidungnya ke muka Derrick. Membuat Derrick jijik.


"Baumu aneh....Selama seratus tahun lebih hidupku, belum pernah aku mencium bau seperti ini."


"Ya pikun kali kau....mak.."


Belum selesai Derrick bicara, ekor wanita itu tiba- tiba muncul dan menyabet mulutnya, membuatnya mulutnya sobek melebar ke samping kiri dan kanan pipinya.


Sakitnya luar biasa....


Derrick mencoba memulihkan wajahnya. Namun ia terkejut karena kulitnya tidak mau menyatu dengan cepat. Darahnya masih menetes dengan gelembung-gelembung yang mendesis-desis.


Daemon-daemon yang tadi menyiksanya bersorak dan mengejeknya. Ada yang bertepuk tangan. Satu di antara mereka, memasukkan tangan kiri dan kanannya ke luka di mulut Derrick dan menariknya ke arah kiri dan kanan membuat luka itu semakin lebar. Mereka tertawa terbahak-bahak menyaksikannya.


Derrick baru sadar, ternyata ada racun di ekor daemon wanita tadi yang mencegah kulitnya menyatu kembali. Dengan tenaga dari dalam tubuhnya ia mencoba mengenyahkan racun itu. Perlahan-lahan lukanya pulih kembali.


"Menakjubkan......"


Daemon wanita itu bersandar ke mejanya dan memandang Derrick. Matanya yang merah terlihat menyala-nyala penuh nafsu memandang Derrick.


Dijentikannya jarinya.


"Kalian semua keluar!"


Tanpa bantahan, dan dengan cepat kelima daemon yang tadi menyiksa Derrick melangkah keluar. Tampaknya mereka juga sudah lelah selama dua jam nonstop menyiksa Derrick. Derrick mengikuti mereka dengan pandangan matanya sampai mereka keluar dari ruangan dan kemudian ia kembali menatap wanita di depannya.


"Apa maumu?"


"Hmmm.......menarik. Siapa tadi namamu?"

__ADS_1


"Aku bahkan belum menyebutkan namaku......"


"Masalahnya....kau membuat kekacauan di wilayahku. Saat si tua Harvey datang kemari dan memintaku untuk menempatkanmu sebagai ketua compound, aku sudah akan menolaknya. Saat itupun aku sudah melihat ada yang aneh dalam dirimu. Dan sekarang kau membuat Allen, kesayangan kepala bagian negara ini terbunuh. Dan membuat sebuah keluarga yang sudah kami incar masuk dalam perlindungan TLC"


Wanita itu mengulurkan jari telunjuknya ke sinar ultraviolet yang menyinari tangan dan kaki Derrick, Ia mengernyitkan dahinya, kurang dari dua puluh detik jari telunjuknya mulai mendesis dan berasap.


"Ouuch!!"


Diusapnya jarinya, kemudian dimasukkannya ke mulutnya dan memandang Derrcik dengan penuh arti.


"Hentikan sandiwaramu. Sinar lampu ini sama sekali tak melukaimu. Aku tak tahu siapa kau, tapi jelas sekali kau memiliki kekuatan yang besar. Aku juga melihat pertarunganmu. Fakta bahwa kau masih bisa hidup setelah melawan pejuang terang elit menunjukkan bahwa kau bukan sembarangan. "


Ia berjalan meliak liuk ke arah Derrick, menatap dengan genit. Ia melepaskan borgol dari tangan dan kaki Derrick.


Derrick menyeringai. Setidaknya wanita itu tidak sebodoh yang dia kira.


"Katakan padaku, kau ini apa? Baumu bercampur aduk, aku bisa mencium bau manusia di dalam dirimu."


Hati-hati....


Hati_hati Derrick, jangan sampai ada yang tahu tentang dirimu. Itulah yang selalu DIA katakan.


"Inilah adalah penyamaranku." Kata Derrick dengan lugas dan cepat.


"Oh kau juga bisa menyamar?"


Di depannya dalam hitungan detik, wanita itu berubah menjadi Derrick. Mau tak mau itu membuat Derrick terkesan. Derrick di depannya tersenyum. Kemudian kembali berubah menjadi wanita paruh baya tadi.


"Well....aku hanya menyamarkan bauku. Tidak sampai sehebat dirimu. Bagaimana mungkin, daemon dengan kemampuan sehebat dirimu hanya menjadi ketua ranting provinsi di sini?"


Wanita itu mengedikkan bahunya dan tampak kesal.


"Uh.....sepertinya memang, kepala bagian negara ini tidak menyukaiku. Ia tak pernah mengijinkanku keluar dari wilayahku. Dia yang membuatku, kau tahu kan kita tidak bisa melawan perintah mereka yang membuat kita."


Derrick mengangguk-angguk setuju.


"Hmmm....aku tahu dia yang membuatmu. Dan ia memang daemon bebal, hanya karena ia sudah berumur lebih dari dua ratus saja ia bisa menjadi kepala negara bagian. Oh dan karena DIA yang agung saja yang membuatnya sendiri. Tapi DIA yang agung pun sudah curiga ada yang tidak beres..."


"KAU KENAL DIA YANG AGUNG?" wanita itu terpekik kegirangan.


Derrick tersenyum.


"Kau pikir siapa sebenarnya yag mengirimku kemari. Masa si tua ***** manusia rendahan Harvey itu. Lagipula bukan salahku kalau Allen sampai mati. Dia sendiri yang ******, aku bahkan tidak tahu kalau ia ingin merekrut anak itu. Aku hanya menginginkan apa yang seharusnya menjadi milikku kembali. "


Wanita itu  melompat ke arah Derrick dan menggelayutinya dengan manja. Derrick jijik sekali. Tapi apa mau dikata, ia sadar dirinya tampan, bahkan tampan sekali. Tidak tua tidak muda selalu menginginkannya. Lagipula ia membutuhkan wanita ini.


"Btw...namaku Derrick."


"Oooh....aku Rakhta."

__ADS_1


"Uhm Bu Rakhta...."


Wanita itu terkikik geli, dan mendorong bahu Derrick dengan manja.


"Uuuuhhhmm......jangan panggil bu donk." Katanya dengan manja. " Panggil aja Rakhta atau Tata."


Setelah itu, ia berubah menjadi gadis cantik berumur dua puluhan. Derrick pernah melihat gadis ini di televisi. Salah seorang idola pop dari negeri ginseng.


"Kukira kau akan lebih suka jika wujudku seperti ini. Kebetulan aku pernah bertemu dengan gadis ini. Aku menyamar menjadi salah satu pengawalnya. Jadi untuk bisa berubah wujud menjadi seperti orang itu, aku harus melihat langsung dan menyentuh orang itu terlebih dahulu."


"Impressive!" kata Derrick. Kali ini ia benar-benar memuji dengan tulus. "Darimana kau dapatkan kekuatan untuk menyamar ini?"


"Oh aku mendapatkannya ketika aku membunuh seorang pejuang terang dua puluh tahun yang lalu. Sayang sekali ia tak mau menyerah dan bergabung dengan sukarela untu menjadi daemon...Cih! Alih-alih malah akhirnya dia menjadi zombie, tapi itu cukup memuaskan karena aku senang sekali melihat ekspresi horor di wajah kedua orang tuanya saat melihat anaknya menjadi zombie...wkwkwkwkwk"


"Oke.. Rakhta, aku memerlukanmu. Aku dalam penyelidikan serius mengenai kepala bagian negara ini. Bisakah kau merahasiakan keberadaanku?"


"Aku tidak hanya akan merahasiakanmu. Tapi bantuan apapun akan kuberikan untukmu. Asalkan kau akan memberitahukan pada DIA yang agung bagaimana aku membantumu dan membuatnya memberikan anugerahnya sebagai ganti anugerahku sebelumnya kepadaku sehingga aku tidak perlu mengikuti perintah si tua bangka budukan yang membuatku."


"Deal..."


"Selain itu......" Gadis super cantik memandang Derrick dengan nakal. Perlahan-lahan tangannya mebuka kancing bajunya satu persatu dan membiarkan bajunya jatuh helai demi helai ke lantai. Kemudian duduk di meja tulis besar di tengah ruangan itu. Dibukanya kedua kakinya lebar-lebar. "Bisakah kita bekerja sambil bersenang-senang?"


Derrick memandang gadis didepannya, tubuhnya indah sekali. payudaranya kencang dan bulat. Kulitnya putih mulus sekali. Ia tertawa puas. Tidak ada yang salah untuk bersenang-senang sedikit. Sambil membuka celananya, ia berjalan mendekati gadis itu.


Wanita paruh baya yang sebelumnya membuatnya jijik sudah terhapus dari ingatannya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2